Pertemuan 11 — Mary Parker Follett, Chester Barnard, dan Pencarian Integrasi Organisasional
Pasca-UTS kita bergeser dari mesin Taylor ke manusia dalam organisasi: bagaimana Follett merumuskan konflik konstruktif dan kekuasaan-bersama, dan bagaimana Barnard membingkai organisasi sebagai sistem kooperatif yang bergantung pada kesediaan manusia untuk berkontribusi.
RPS MINGGU 12 • 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu memahami bagaimana pemikiran manajemen bergeser dari fokus pada tugas mekanis menuju manusia dan organisasi sebagai sistem sosial. Secara rinci:
CAPAIAN 1 — FOLLETT
HUKUM SITUASI & INTEGRASI
Menjelaskan gagasan Mary Parker Follett tentang hukum situasi, konflik konstruktif, dan kekuasaan-bersama (power-with).
CAPAIAN 2 — BARNARD
ORGANISASI KOOPERATIF
Menjelaskan tiga elemen organisasi formal Barnard serta teori penerimaan otoritas.
CAPAIAN 3 — MENGHITUNG
KESEIMBANGAN & ZONA
Menghitung keseimbangan kontribusi-insentif organisasi dan zona kesediaan menerima perintah.
CAPAIAN 4 — REFLEKSI
RELEVANSI KONTEMPORER
Mengaitkan gagasan Follett dan Barnard dengan praktik organisasi Indonesia masa kini, sebagai jembatan menuju studi Hawthorne pekan depan.
Bagian 1 dari 3
Dari Mesin ke Manusia
Mengapa pemikiran manajemen bergerak dari efisiensi tugas Taylor menuju perhatian pada manusia dan hubungan sosial dalam organisasi?
Kritik TaylorFollettIntegrasi
Mengapa Manajemen Saintifik Tidak Cukup?
Manajemen Saintifik Taylor unggul dalam efisiensi tugas, tetapi kritik dari penerapannya di lapangan (termasuk di General Motors dan DuPont) menunjukkan satu kelemahan mendasar.
FOKUS TAYLOR
TUGAS & EFISIENSI MEKANIS
Manusia diperlakukan sebagai unit produksi yang bisa diukur, distandarkan, dan diberi insentif finansial semata — mirip pendekatan pabrik yang mengejar target kuota harian.
YANG TERABAIKAN
DIMENSI SOSIAL & RELASIONAL
Interaksi antar-karyawan, konflik kepentingan, kebutuhan psikologis, dan kesediaan untuk bekerja sama tidak pernah diperhitungkan secara serius.
Pergeseran ini melahirkan aliran pemikiran baru yang disebut pencarian integrasi organisasional — upaya menyatukan kepentingan individu dan tujuan organisasi, alih-alih menundukkan satu pihak pada pihak lain.
Mary Parker Follett: Filsuf Manajemen dari Ilmu Sosial
Berbeda dari Taylor yang berlatar teknik, Follett (1868–1933) berlatar ilmu politik dan pekerjaan sosial di Boston — sudut pandangnya tentang organisasi karenanya jauh lebih relasional.
Latar Belakang
Aktif dalam pekerjaan sosial komunitas & pusat kegiatan warga di Boston.
Memberi ceramah pada eksekutif bisnis & asosiasi manajemen 1920-an.
Karyanya baru dihargai luas belakangan — sempat kalah pamor dari Taylor.
Gagasan Inti
Organisasi = jejaring relasi manusia, bukan sekadar struktur tugas.
Konflik itu wajar — yang penting cara menyelesaikannya.
Kekuasaan seharusnya dibangun bersama, bukan dipaksakan dari atas.
Hukum Situasi (Law of the Situation)
Follett berargumen bahwa perintah seharusnya tidak datang dari posisi atasan semata, melainkan dari tuntutan objektif situasi yang dihadapi bersama.
Contoh Penerapan — Gudang Distribusi JNE
Supervisor tidak berkata "Lakukan ini karena saya atasan Anda."
Supervisor berkata "Paket harus disortir sebelum pukul 15.00 karena armada berangkat jam itu" — perintah lahir dari fakta situasi, bukan status jabatan.
Karyawan patuh bukan karena takut atasan, tetapi karena memahami logika kebutuhan operasional.
Implikasi: otoritas yang berbasis situasi lebih mudah diterima secara sukarela dibanding otoritas yang murni berbasis kedudukan — benih dari teori penerimaan otoritas Barnard yang akan kita bahas.
Konflik Konstruktif: Integrasi vs Kompromi vs Dominasi
Follett mengidentifikasi tiga cara menghadapi konflik — hanya satu yang benar-benar menyelesaikan akar masalah. Ikuti kasusnya tahap demi tahap.
Kasus — Perebutan Jam Kerja Kasir Indomaret
Situasi: dua kasir sama-sama ingin libur di akhir pekan yang sama.
Dominasi: manajer memutuskan sepihak — satu kasir menang, satu kalah, dendam tersisa.
Kompromi: masing-masing libur setengah hari — kedua pihak sama-sama kurang puas.
Integrasi: digali ternyata satu kasir hanya butuh Sabtu (acara keluarga), satu lagi hanya butuh Minggu (kuliah malam) — kebutuhan sebenarnya tidak bentrok setelah ditelusuri.
Pelajaran: integrasi menuntut penggalian kepentingan asli di balik posisi yang tampak bertentangan — solusi baru bisa muncul tanpa ada pihak yang mengalah.
Kekuasaan-Bersama (Power-With) vs Kekuasaan-Atas (Power-Over)
POWER-OVER
KEKUASAAN MENGUASAI
Satu pihak mengendalikan pihak lain; kepatuhan lahir dari sanksi atau imbalan sepihak. Rentan menimbulkan resistensi tersembunyi.
POWER-WITH
KEKUASAAN BERSAMA
Kekuasaan dikembangkan bersama lewat kerja sama & pengaruh timbal-balik; koordinasi antar-fungsi, bukan komando satu arah.
Contoh: pemimpin proyek startup fintech yang mengoordinasikan tim produk, tim risiko, dan tim kepatuhan lewat diskusi bersama — bukan sekadar memerintahkan tiap tim secara terpisah — menghasilkan keputusan yang lebih dipahami dan dijalankan sukarela oleh semua pihak.
Bagian 2 dari 3
Chester Barnard: Organisasi sebagai Sistem Kooperatif
Bagaimana Barnard, seorang mantan eksekutif perusahaan telepon, merumuskan organisasi formal sebagai kerja sama manusia yang disengaja.
Elemen OrganisasiOtoritasHitung Sendiri
Tiga Elemen Wajib Organisasi Formal (Barnard)
Bagi Barnard, organisasi formal hanya eksis bila tiga elemen ini hadir bersamaan — hilang satu, organisasi runtuh menjadi sekadar kumpulan orang.
ELEMEN 1
TUJUAN BERSAMA
Semua anggota memahami & menerima maksud kolektif organisasi, misalnya "melayani nasabah BCA dengan aman & cepat".
ELEMEN 2
KESEDIAAN BERKONTRIBUSI
Anggota bersedia menyumbangkan usaha & waktu — kesediaan ini tidak otomatis, harus terus dipupuk lewat insentif yang memadai.
ELEMEN 3
KOMUNIKASI
Ada saluran yang menghubungkan tujuan dengan tindakan individu — tanpa komunikasi, tujuan & kesediaan tak pernah bertemu.
Catatan penting: Barnard menegaskan organisasi adalah sistem kooperatif — ia bertahan hanya selama manusia di dalamnya bersedia menyumbangkan kontribusi, bukan karena struktur di atas kertas.
Teori Penerimaan Otoritas & Zona Kesediaan (Zone of Indifference)
Barnard membalik logika lama: otoritas tidak otomatis berasal dari posisi atasan — otoritas baru berlaku efektif ketika bawahan menerima perintah tersebut.
Empat Syarat Perintah Diterima (Walkthrough)
1—Dipahami: karyawan gudang mengerti maksud instruksi "sortir paket zona Jakarta Selatan dulu".
2—Konsisten dengan tujuan organisasi: instruksi sejalan dengan target pengiriman tepat waktu.
3—Sesuai kepentingan pribadi: tidak bertentangan dengan kepentingan karyawan itu sendiri (mis. jam istirahat).
4—Mampu dijalankan secara fisik & mental: karyawan punya kapasitas menjalankannya saat itu juga.
Bila keempat syarat terpenuhi, perintah masuk zona kesediaan (zone of indifference) — diterima tanpa mempertanyakan otoritas pemberi perintah, seperti rutinitas kerja harian pada umumnya.
Efektivitas Organisasi vs Efisiensi Organisasi
Barnard membedakan dua ukuran keberhasilan yang sering tertukar dalam praktik — keduanya harus berjalan berdampingan agar organisasi bertahan.
EFEKTIVITAS (EFFECTIVENESS)
TUJUAN ORGANISASI TERCAPAI
Diukur dari sisi organisasi: apakah tujuan bersama (mis. target penjualan bulanan toko) berhasil dicapai?
EFISIENSI (EFFICIENCY)
KEBUTUHAN INDIVIDU TERPUASKAN
Diukur dari sisi individu: apakah kontribusi karyawan mendapat imbalan & kepuasan yang memadai, sehingga ia tetap bersedia bergabung?
Jebakan klasik: organisasi bisa efektif (target tercapai) tetapi tidak efisien (karyawan kelelahan & tidak puas) — dalam jangka panjang, kesediaan berkontribusi akan menurun dan organisasi kehilangan tenaga kerja terbaiknya.
Bagian 3 dari 3
Menghitung Keseimbangan Manusia dan Organisasi
Dua latihan menghitung: keseimbangan kontribusi-insentif ala Barnard, dan besaran zona kesediaan menerima perintah.
Hitung SendiriStudi KasusRelevansi Kini
Hitung dari Nol: Keseimbangan Kontribusi-Insentif
CV Konveksi Berkah mempekerjakan 10 karyawan jahit. Mari hitung apakah insentif yang diberikan cukup menutup nilai kontribusi yang diminta — inti konsep keseimbangan Barnard.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Nilai kontribusi per karyawan/hari (8 jam × Rp30.000/jam)
8 × Rp30.000
Rp240.000
Total kontribusi diminta (10 karyawan)
10 × Rp240.000
Rp2.400.000/hari
Insentif per karyawan/hari (gaji Rp220.000 + makan Rp30.000)
Rp220.000 + Rp30.000
Rp250.000
Total insentif diberikan (10 karyawan)
10 × Rp250.000
Rp2.500.000/hari
Selisih keseimbangan
Rp2.500.000 − Rp2.400.000
+Rp100.000 (surplus)
Interpretasi: selisih positif berarti organisasi berada dalam keadaan seimbang menurut Barnard — insentif melebihi kontribusi yang diminta, sehingga karyawan tetap bersedia bertahan & berkontribusi.
Hitung dari Nol: Zona Kesediaan Menerima Perintah
Selama sebulan, supervisor gudang JNE cabang Semarang mengeluarkan 50 instruksi kerja kepada timnya. Mari hitung berapa persen yang jatuh ke dalam zona kesediaan (zone of indifference).
Langkah
Perhitungan
Nilai
Total instruksi kerja dalam sebulan
—
50 instruksi
Instruksi diterima tanpa dipertanyakan (masuk zona kesediaan)
—
42 instruksi
Instruksi dipertanyakan/ditolak (di luar zona kesediaan)
50 − 42
8 instruksi
Persentase zona kesediaan
42 ÷ 50 × 100%
84%
Persentase di luar zona
8 ÷ 50 × 100%
16%
Implikasi: 84% masih tergolong sehat, namun bila proporsi di luar zona (16%) terus naik dari bulan ke bulan, itu sinyal otoritas supervisor mulai melemah — perlu ditelusuri apakah instruksi tidak lagi memenuhi empat syarat Barnard.
Coba Sendiri: Uji Keseimbangan Organisasi ala Barnard
Geser besaran insentif dan kontribusi yang diminta, lalu proporsi instruksi yang diterima, untuk melihat kapan organisasi berada dalam kondisi seimbang & sehat menurut Barnard.
Studi Kasus: Follett & Barnard di Organisasi Indonesia
Gagasan integrasi Follett dan keseimbangan kooperatif Barnard bukan teori usang — keduanya tampak dalam praktik organisasi Indonesia masa kini.
Follett di Praktik
Musyawarah mufakat BUMDes — mencari solusi yang mengakomodasi semua warga, bukan voting menang-kalah.
Cross-functional squad di startup fintech — keputusan produk lahir dari diskusi lintas tim, bukan perintah satu arah.
Barnard di Praktik
Program kesejahteraan karyawan BUMN (BPJS, tunjangan, jenjang karier) — menjaga insentif tetap melebihi kontribusi diminta.
Buku Pedoman Perusahaan & SOP di korporasi besar — saluran komunikasi formal yang menopang tujuan bersama.
Perbandingan: Taylor, Follett, dan Barnard
Aspek
Taylor
Follett
Barnard
Fokus Utama
Tugas & efisiensi individual
Relasi & konflik antar-manusia
Organisasi sebagai sistem kooperatif
Sumber Otoritas
Jabatan & aturan formal
Hukum situasi (fakta objektif)
Penerimaan bawahan (acceptance theory)
Cara Kelola Konflik
Distandarkan agar konflik tak muncul
Integrasi — menggali kepentingan asli
Menjaga keseimbangan insentif-kontribusi
Pandangan tentang Manusia
Unit produksi yang diukur & distandarkan
Mitra relasional dengan kepentingan sah
Kontributor sukarela sistem kooperatif
Latihan Diskusi Kelas
Bentuk kelompok kecil (3–4 orang) dan diskusikan kasus berikut selama 10 menit, lalu satu perwakilan kelompok mempresentasikan hasilnya.
Kasus Diskusi
Sebuah kedai kopi lokal di Semarang memiliki dua barista senior yang selalu berselisih soal jadwal shift akhir pekan. Pemilik kedai (yang juga manajer) selama ini menyelesaikannya dengan memutuskan sendiri secara bergiliran.
Identifikasi: apakah cara pemilik kedai selama ini termasuk dominasi, kompromi, atau integrasi menurut Follett?
Rancang: bagaimana pendekatan integrasi bisa diterapkan pada kasus ini — pertanyaan apa yang perlu digali dari kedua barista?
Kaitkan: bila jadwal baru disepakati, syarat apa (menurut Barnard) yang membuat kedua barista bersedia menerimanya tanpa mempertanyakan otoritas pemilik?
Rangkuman Pertemuan 11
FOLLETT
Konflik diselesaikan lewat integrasi (bukan dominasi/kompromi); otoritas berbasis hukum situasi; kekuasaan idealnya power-with.
BARNARD
Organisasi formal butuh tujuan bersama, kesediaan berkontribusi, komunikasi; otoritas berlaku bila diterima; keseimbangan insentif ≥ kontribusi menjaga organisasi tetap hidup.
Benang merah: keduanya menggeser fokus dari mengendalikan manusia (ala Taylor) menuju memahami & melibatkan manusia sebagai fondasi organisasi yang bertahan lama.
Referensi & Pratinjau Pertemuan Berikutnya
Rujukan Utama
Wren, D. A., & Bedeian, A. G. The Evolution of Management Thought — bab tentang Follett, Barnard, dan pencarian integrasi organisasional.
Follett, M. P. Dynamic Administration (kumpulan ceramah & tulisan).
Barnard, C. I. The Functions of the Executive (1938).
Pertemuan 12: kita melanjutkan ke dinamika manusia dan organisasi secara lebih luas, sebagai jembatan menuju studi Hawthorne dan pendekatan hubungan manusiawi — siapkan diri Anda memahami bagaimana eksperimen di pabrik Hawthorne mengubah cara manajemen memandang produktivitas.