Setelah Manajemen Saintifik diuji di lapangan (GM & DuPont), dua pemikir mencari jalan baru: bagaimana menyatukan kepentingan yang bertentangan dan menjelaskan mengapa orang mau tunduk pada otoritas organisasi.
RPS MINGGU 11 • 2×50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan bagaimana Follett dan Barnard mencari integrasi organisasional sebagai jawaban atas keterbatasan Manajemen Saintifik. Secara rinci:
CAPAIAN 1
INTEGRASI
Menjelaskan konsep integrasi konflik Follett dibanding dominasi dan kompromi.
CAPAIAN 2
KEKUASAAN
Membedakan power-with dari power-over serta hukum situasi (law of situation).
CAPAIAN 3
OTORITAS
Menganalisis teori penerimaan otoritas dan zona ketidakpedulian ala Barnard.
CAPAIAN 4
ORGANISASI
Menjelaskan organisasi sebagai sistem kerja sama dan fungsi eksekutif menurut Barnard.
Mengapa "Menang-Kalah" Bukan Satu-satunya Jalan?
Bayangkan rapat anggaran dua divisi PT bank swasta nasional: divisi pemasaran minta tambahan dana promosi, divisi risiko menolak karena dianggap boros. Manajer Saintifik ala Taylor tidak punya jawaban untuk konflik kepentingan semacam ini.
JALAN 1
DOMINASI
Direksi memihak satu pihak — pihak lain kalah, dendam terpendam, keputusan sering diulang lagi bulan depan.
JALAN 2
KOMPROMI
Anggaran dipotong setengah — kedua divisi sama-sama tidak puas, masalah dasar tidak selesai.
JALAN 3
INTEGRASI
Cari kepentingan sebenarnya di balik permintaan — solusi baru yang memuaskan keduanya tanpa mengorbankan satu pihak.
Follett menyebut jalan ketiga ini constructive conflict — konflik bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan sinyal berharga untuk menemukan solusi yang lebih baik.
Bagian 1 dari 3
Mary Parker Follett: Filsafat Integrasi
Siapa Follett, mengapa gagasannya berbeda dari arus utama zamannya, dan bagaimana ia membingkai ulang konflik, kekuasaan, dan situasi kerja.
Siapa Mary Parker Follett dan Mengapa Ia Berbeda
Follett (1868–1933) bukan insinyur atau pebisnis, melainkan filsuf sosial & pekerja komunitas di Boston — latar belakang yang membentuk cara pandangnya yang jauh lebih humanis dari Taylor.
Latar Belakang
Belajar filsafat & ilmu politik di Radcliffe College (afiliasi Harvard).
Bertahun-tahun bekerja di pusat komunitas Boston — mengamati bagaimana kelompok warga menyelesaikan masalah bersama.
Diundang bicara di forum manajer & eksekutif bisnis pada 1920-an.
Kenapa Pandangannya Berbeda
Taylor melihat organisasi sebagai mesin efisiensi; Follett melihatnya sebagai komunitas manusia.
Fokus pada proses sosial — bagaimana orang berinteraksi, bukan hanya struktur tugas.
Karyanya kelak jadi jembatan menuju era hubungan manusiawi (Hawthorne) yang kita bahas dua pertemuan ke depan.
Follett aktif menulis & berceramah tepat ketika kritik terhadap Manajemen Saintifik di General Motors & DuPont mulai muncul — ia menawarkan alternatif yang lebih memperhitungkan sisi manusia.
Tiga Cara Follett Menyelesaikan Konflik
Bagi Follett, konflik itu netral, bahkan berharga — masalahnya bukan ada tidaknya konflik, tapi cara kita meresponsnya.
Syarat integrasi: kedua pihak mau membuka kepentingan sebenarnya (interest), bukan hanya mempertahankan posisi (position) yang mereka nyatakan di awal.
Hitung dari Nol: Kasus Jendela Perpustakaan Follett
Contoh klasik Follett sendiri: dua orang di ruang baca perpustakaan bertengkar soal jendela — mari telusuri tahap demi tahap bagaimana integrasi ditemukan.
Langkah
Perhitungan (proses)
Nilai (hasil)
1. Posisi awal Orang A
menyatakan permintaan eksplisit
"Buka jendela, ruangan pengap"
2. Posisi awal Orang B
menyatakan permintaan eksplisit
"Tutup jendela, saya kedinginan"
3. Coba jalan dominasi
salah satu dipaksa mengalah
Solusi rapuh, konflik akan berulang
4. Coba jalan kompromi
jendela dibuka setengah
A masih pengap, B masih kedinginan
5. Gali kepentingan asli A
tanya "mengapa" di balik posisi
Kepentingan A: butuh udara segar
6. Gali kepentingan asli B
tanya "mengapa" di balik posisi
Kepentingan B: takut angin langsung
7. Solusi integratif
buka jendela di ruang sebelah
Udara segar masuk, tanpa angin ke B
KUNCI INTEGRASI
Posisi ("buka" vs "tutup") ≠ kepentingan ("segar" vs "tak masuk angin")
Circular Response & Hukum Situasi (Law of Situation)
Circular Response
Perilaku dalam organisasi bersifat timbal balik — tindakan A memengaruhi B, respons B memengaruhi A kembali, terus-menerus.
Bukan hubungan sebab-akibat satu arah (atasan → bawahan saja).
Setiap interaksi mengubah kedua pihak, bukan hanya penerima perintah.
Hukum Situasi
Perintah seharusnya muncul dari fakta/tuntutan situasi, bukan dari kehendak pribadi atasan.
Mengurangi kesan "diperintah orang" → jadi "mengikuti tuntutan pekerjaan".
Contoh: petugas SPBU tidak melayani pembeli setelah jam tutup bukan karena "kata atasan", tapi karena aturan operasional.
Follett: otoritas paling diterima adalah otoritas yang terasa berasal dari situasi/fungsi pekerjaan, bukan dari kekuasaan pribadi seseorang.
Power-With vs Power-Over
Follett membedakan dua bentuk kekuasaan yang sering tertukar dalam praktik manajemen.
POWER-OVER
KEKUASAAN ATAS
Satu pihak mengendalikan pihak lain — hubungan koersif, hierarkis, cenderung memicu resistensi diam-diam.
POWER-WITH
KEKUASAAN BERSAMA
Kekuasaan dikembangkan bersama lewat kerja sama — hasil dari kelompok yang bergerak menuju tujuan yang sama.
Follett: tugas manajer sejati bukan mengumpulkan power-over sebanyak-banyaknya, tapi membangun power-with lewat koordinasi & partisipasi bersama.
Bagian 2 dari 3
Chester Barnard: Organisasi Sebagai Sistem Kerja Sama
Mengapa orang mau bekerja sama, mengapa mereka menerima perintah atasan, dan apa sebenarnya tugas seorang eksekutif.
Organisasi Formal Sebagai Sistem Kerja Sama
Barnard mendefinisikan organisasi formal sebagai sistem aktivitas atau kekuatan yang dikoordinasikan secara sadar dari dua orang atau lebih — hanya bertahan jika tiga elemen ini terpenuhi.
Hilangkan salah satu elemen — misalnya karyawan tak lagi bersedia bekerja sama meski gaji tetap dibayar — dan organisasi, di mata Barnard, berhenti benar-benar hidup meski struktur formalnya masih ada di atas kertas.
Teori Penerimaan Otoritas & Zona Ketidakpedulian
Bagi Barnard, otoritas bukan datang dari posisi atasan, melainkan dari penerimaan bawahan. Sebuah perintah diterima jika memenuhi empat syarat sekaligus.
Empat Syarat Penerimaan Perintah
1. Perintah dipahami dengan jelas.
2. Dinilai sejalan dengan tujuan organisasi.
3. Dinilai sesuai (tidak bertentangan) dengan kepentingan pribadi.
4. Karyawan mampu secara fisik & mental melaksanakannya.
Zona Ketidakpedulian
Rentang perintah yang diterima otomatis tanpa dipertanyakan — karyawan "tidak peduli" untuk menentang karena wajar/rutin.
Zona lebar → otoritas manajer kuat & luwes.
Zona sempit → otoritas rapuh, sering ditentang.
Hitung dari Nol: Menguji Zona Ketidakpedulian Karyawan
Kasus: seorang staf operasional bank menerima empat perintah berbeda — uji setiap perintah dengan empat syarat penerimaan otoritas Barnard.
Langkah
Perhitungan (cek 4 syarat)
Nilai
1. Perintah A: "Pindahkan meja kerja ke ruang sebelah"
dipahami+sejalan tujuan+sesuai kepentingan+mampu
4 dari 4 syarat terpenuhi
2. Kesimpulan Perintah A
seluruh syarat lolos, tergolong rutin
Diterima — masuk zona ketidakpedulian
3. Perintah B: "Lembur tanpa batas waktu & tanpa insentif tiap hari"
dipahami+sejalan tujuan+mampu, TAPI tidak sesuai kepentingan pribadi
3 dari 4 syarat terpenuhi
4. Kesimpulan Perintah B
satu syarat gagal (kepentingan pribadi)
Berpotensi ditolak — di luar zona
5. Perintah C: "Manipulasi angka laporan ke OJK"
dipahami+mampu, TAPI tidak sejalan tujuan & melanggar etik
2 dari 4 syarat terpenuhi
6. Kesimpulan Perintah C
dua syarat gagal sekaligus
Ditolak tegas — jauh di luar zona
POLA HASIL
Makin banyak syarat gagal → makin rapuh otoritas atasan
Tiga Fungsi Inti Seorang Eksekutif
Barnard — sendiri seorang eksekutif puncak perusahaan telepon — merumuskan tugas utama pemimpin organisasi bukan sekadar "memerintah", tapi menjaga sistem kerja sama tetap hidup.
FUNGSI 1
KOMUNIKASI
Membangun & menjaga sistem komunikasi yang menghubungkan seluruh bagian organisasi.
FUNGSI 2
KONTRIBUSI
Memastikan usaha vital dari anggota tersedia — menjaga keseimbangan insentif vs kontribusi.
FUNGSI 3
TUJUAN
Merumuskan & menegaskan tujuan bersama organisasi secara jelas & terus-menerus.
Keseimbangan inducements (insentif) vs contributions (kontribusi): karyawan bertahan selama insentif yang diterima ≥ kontribusi yang diberikan — menurut penilaian karyawan itu sendiri.
Organisasi Formal vs Organisasi Informal
Barnard adalah salah satu pemikir pertama yang secara eksplisit mengakui bahwa organisasi informal selalu ada di dalam organisasi formal mana pun — dan keduanya saling memengaruhi.
Organisasi Formal
Struktur & hierarki yang dirancang sengaja di atas kertas (bagan organisasi).
Tujuan, aturan, dan saluran komunikasi ditetapkan resmi.
Contoh: struktur cabang & kantor pusat sebuah bank umum.
Organisasi Informal
Terbentuk alami dari interaksi sosial sehari-hari — tidak tertulis di bagan mana pun.
Membangun norma, sikap, komunikasi bayangan yang memengaruhi kerja nyata.
Bisa mendukung atau justru menghambat tujuan formal organisasi.
Barnard: organisasi informal bukan ancaman yang harus dihilangkan, melainkan bagian tak terpisahkan yang perlu dipahami & diselaraskan dengan tujuan formal.
Bagian 3 dari 3
Follett & Barnard: Warisan, Keterkaitan, dan Keterbatasan
Bagaimana kedua pemikiran ini saling melengkapi, di mana batasannya, dan bagaimana keduanya menjadi jembatan ke era hubungan manusiawi.
Follett vs Barnard: Beda Fokus, Satu Semangat
Keduanya menolak pandangan organisasi sebagai mesin murni ala Manajemen Saintifik, tapi menyerang masalah itu dari sudut yang berbeda.
Mary Parker Follett
Fokus: proses sosial & konflik antarindividu/kelompok.
Latar belakang: filsuf sosial, pekerja komunitas.
Konsep kunci: integrasi, power-with, hukum situasi.
Chester Barnard
Fokus: struktur & legitimasi otoritas dalam sistem kerja sama.
Latar belakang: eksekutif puncak korporasi besar.
Konsep kunci: teori penerimaan, zona ketidakpedulian, fungsi eksekutif.
Benang merah keduanya: legitimasi & kerja sama tidak bisa dipaksakan dari atas — harus dibangun lewat proses sosial yang diterima anggota organisasi.
Kritik & Keterbatasan Pemikiran Follett & Barnard
Keterbatasan Follett
Integrasi butuh waktu & kematangan kedua pihak — tidak selalu memungkinkan saat keputusan mendesak.
Tidak semua konflik punya solusi integratif yang benar-benar memuaskan semua pihak.
Keterbatasan Barnard
Teori penerimaan otoritas mengasumsikan karyawan punya pilihan bebas — realitanya banyak karyawan bergantung penuh pada satu pekerjaan (sulit menolak).
Kurang membahas ketimpangan kekuasaan struktural antara pemilik modal dan pekerja.
Refleksi kritis: teori historis harus dibaca sesuai konteks zamannya (Amerika 1920–1940-an) — bukan diterapkan mentah-mentah tanpa menimbang konteks Indonesia hari ini.
Latihan Kelompok: Analisis Kasus Konflik & Otoritas
Kerjakan dalam kelompok kecil (3–4 orang), waktu diskusi 15 menit, presentasikan hasil singkat.
Instruksi Tugas
1. Pilih satu kasus konflik nyata (organisasi kampus, tempat magang, atau berita bisnis) yang pernah/sedang Anda amati.
2. Identifikasi apakah konflik itu diselesaikan lewat dominasi, kompromi, atau integrasi — jelaskan indikatornya.
3. Rancang satu solusi integratif alternatif ala Follett, gali dulu kepentingan asli tiap pihak.
4. Terapkan empat syarat penerimaan otoritas Barnard pada satu instruksi/kebijakan dalam kasus Anda — apakah masuk zona ketidakpedulian?
Setiap kelompok presentasi maksimal 2 menit — fokus pada solusi integratif yang diusulkan, bukan sekadar menceritakan ulang kasusnya.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan Berikutnya
Poin Kunci Hari Ini
Follett: konflik diselesaikan lewat integrasi, bukan dominasi/kompromi; kekuasaan bersama (power-with) lebih produktif.
Barnard: otoritas hanya berlaku jika diterima bawahan lewat empat syarat & zona ketidakpedulian.
Organisasi = sistem kerja sama hidup, bukan sekadar struktur di atas kertas.
Menuju Pertemuan 11
Kita akan masuk topik dinamika manusia dan organisasi secara lebih luas.
Follett & Barnard adalah jembatan konseptual menuju studi Hawthorne yang akan mengguncang pandangan manajemen tentang faktor manusia.
Bawa pertanyaan: apa yang sebenarnya memotivasi produktivitas pekerja jika bukan sekadar insentif finansial?