‹ Daftar slidePertemuan 8: Manajemen Saintifik dalam Teori dan Praktik
Sejarah Pemikiran Manajemen · Prodi Manajemen FEB UNDIP
Sejarah Pemikiran Manajemen
Pertemuan 8: Manajemen Saintifik dalam Teori dan Praktik
Bagaimana sebuah gagasan tentang efisiensi kerja mengubah pabrik-pabrik Amerika — dan mengapa jejaknya masih ada di aplikasi ojek daring hari ini.
RPS minggu 9 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Lahirnya Gagasan Manajemen Saintifik
Dari kegeraman terhadap inefisiensi pabrik menjadi sebuah sistem — mengenal Frederick W. Taylor dan empat prinsipnya.
Konteks: Pabrik Amerika Akhir Abad ke-19
Setelah Revolusi Industri, pabrik-pabrik Amerika tumbuh pesat, tetapi tidak ada standar tentang berapa banyak yang seharusnya dikerjakan seorang buruh dalam sehari. Manajemen berjalan berdasarkan kebiasaan turun-temurun ("rule of thumb"), bukan analisis.
Masalah yang Taylor Amati
Soldiering — istilah Taylor untuk pekerja yang sengaja memperlambat kerja agar target tidak dinaikkan atasan
Tidak ada standar waktu kerja yang diukur secara ilmiah
Metode kerja diwariskan turun-temurun, tanpa evaluasi efisiensi
Upah borongan (piece-rate) sering dipotong sepihak bila produksi naik — memicu pekerja "mengerem" sendiri
Frederick Winslow Taylor: dari Mekanik ke "Bapak Manajemen Ilmiah"
1878 — MIDVALE STEEL
18→31
Usia saat masuk sebagai buruh mesin, hingga jadi insinyur kepala pabrik
Taylor memulai karier dari bawah, mengoperasikan mesin sendiri, sebelum naik pangkat berkat kemampuan analitisnya terhadap proses kerja.
1898 — BETHLEHEM STEEL
1911
Tahun terbit buku "The Principles of Scientific Management"
Di Bethlehem Steel, Taylor menjalankan eksperimen paling terkenalnya tentang sekop dan pig iron (akan kita bahas di Bagian 2).
Taylor bukan ekonom atau akademisi — ia insinyur mekanik yang percaya bahwa manajemen bisa dan harus dijadikan ilmu, diukur dengan stopwatch dan data, bukan intuisi mandor.
Empat Prinsip Manajemen Saintifik (Taylor, 1911)
Prinsip 1 & 2
Kembangkan ilmu untuk tiap unsur pekerjaan — ganti "rule of thumb" dengan pengukuran waktu-gerak (time and motion study)
Pilih dan latih pekerja secara ilmiah — cocokkan orang dengan tugas berdasarkan kemampuan terukur, bukan asal tunjuk
Prinsip 3 & 4
Kerja sama manajemen-pekerja — pastikan metode ilmiah benar-benar dijalankan, bukan sekadar ditetapkan lalu ditinggal
Bagi tanggung jawab secara merata — manajemen merancang & merencanakan, pekerja mengerjakan sesuai standar
Glosarium: time and motion study (studi waktu dan gerak) = pengukuran sistematis berapa lama & bagaimana gerakan tubuh paling efisien untuk menyelesaikan satu tugas.
Kontribusi Frank & Lillian Gilbreth pada Studi Gerak
Sezaman dengan Taylor, pasangan Frank Gilbreth (insinyur) dan Lillian Gilbreth (psikolog, salah satu perempuan pertama bergelar PhD dalam manajemen) memperdalam studi gerak (motion study) hingga level mikro.
FRANK GILBRETH
18
"Therblig" — 18 unit gerak dasar tangan manusia
Menganalisis pekerjaan tukang batu hingga mengurangi gerakan dari 18 menjadi 5 gerak per bata, tanpa menambah kelelahan.
Berbeda dari Taylor yang fokus efisiensi murni, Lillian menekankan kelelahan, motivasi, dan kondisi manusiawi pekerja — cikal bakal perhatian pada faktor manusia yang akan kita bahas mendalam pertemuan-pertemuan berikutnya.
Hitung dari Nol: Sistem Upah Diferensial (Differential Piece-Rate)
Taylor merancang sistem upah borongan (piece-rate = upah per unit hasil) dengan dua tarif berbeda untuk mendorong pekerja mencapai standar ilmiah yang telah diukur.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Standar keluaran harian (hasil studi waktu-gerak)
—
40 unit/hari
2. Tarif rendah (di bawah standar)
—
Rp 500/unit
3. Tarif tinggi (capai/lampaui standar)
—
Rp 750/unit
4. Upah Pekerja A (hasil 35 unit, di bawah standar)
35 × Rp500
Rp 17.500
5. Upah Pekerja B (hasil 45 unit, capai standar)
45 × Rp750
Rp 33.750
6. Selisih upah A vs B
33.750 − 17.500
Rp 16.250
INSENTIF PRODUKTIVITAS
+93%
Upah Pekerja B 93% lebih tinggi (16.250 ÷ 17.500 × 100), padahal outputnya hanya 29% lebih banyak (10 ÷ 35 × 100)
Bagian 2 dari 3
Penerapan Praktis & Bukti Empiris
Dari eksperimen pig-iron di Bethlehem Steel hingga temuan sekop optimal — dan reaksi Kongres Amerika Serikat terhadapnya.
Studi Kasus: Pig-Iron di Bethlehem Steel
Pig iron = balok besi mentah (~42 kg per balok) yang harus diangkat pekerja dari tumpukan ke gerbong kereta. Taylor memilih satu pekerja — dijuluki "Schmidt" dalam catatannya — untuk diuji dengan metode kerja yang sudah dianalisis ilmiah: kapan mengangkat, kapan berjalan, kapan beristirahat.
Kunci temuan Taylor: produktivitas bukan cuma soal "kerja lebih keras", tetapi kapan tepatnya tubuh manusia perlu istirahat agar tidak kelelahan sebelum waktunya.
Hitung dari Nol: Lonjakan Produktivitas Pig-Iron
Angka berikut adalah catatan historis Taylor sendiri (~ = estimasi, banyak diperdebatkan sejarawan manajemen modern) — tetap berguna untuk melihat skala klaim yang membuat Manajemen Saintifik begitu populer di kalangan pemilik pabrik.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Produktivitas rata-rata SEBELUM studi (ton panjang/hari)
—
~12,5 ton
2. Produktivitas Schmidt SESUDAH metode terpilih
—
~47,5 ton
3. Kenaikan absolut
47,5 − 12,5
35 ton
4. Kenaikan persentase produktivitas
(35 ÷ 12,5) × 100
280%
5. Upah harian SEBELUM (ilustrasi historis)
—
Rp 115.000
6. Upah harian SESUDAH (ilustrasi historis)
(115.000 × 1,61)
Rp 185.000
PRODUKTIVITAS NAIK
3,8×
~12,5 → ~47,5 ton/hari, sementara upah harian naik ~61% — bukan 280%. Inilah yang memicu tuduhan pekerja "dieksploitasi"
Eksperimen Sekop: Menemukan Beban Optimal per Angkatan
Taylor juga menguji ukuran sekop yang berbeda-beda untuk bahan yang berbeda kepadatannya (abu ringan vs bijih besi berat), mencari beban optimal per angkatan sekop agar pekerja bisa bertahan seharian tanpa kelelahan berlebih.
Walkthrough Bertahap
1. Amati: pekerja pakai satu jenis sekop untuk semua bahan — kadang terlalu penuh (cepat lelah), kadang terlalu sedikit (buang waktu)
2. Uji: coba berbagai ukuran sekop untuk tiap jenis bahan (abu, batu bara, bijih besi)
3. Temukan titik optimal: beban ideal ~9,5 kg per angkatan sekop, berapa pun jenis bahannya
4. Standarisasi: pabrik menyediakan ~15 jenis sekop berbeda ukuran, sesuai kepadatan bahan
HASIL BETHLEHEM STEEL
~400→140
Jumlah pekerja sekop menyusut dari ~400-600 menjadi ~140 orang
Sisanya dipindah ke pekerjaan lain di pabrik — bukan diberhentikan — namun tetap memicu kekhawatiran soal pengurangan tenaga kerja secara luas di industri lain.
Reaksi: Dengar Pendapat Kongres AS 1912
Serikat pekerja menolak keras penerapan Manajemen Saintifik di berbagai pabrik, termasuk Watertown Arsenal (pabrik senjata militer) — sampai memicu pemogokan dan pemanggilan Taylor ke Kongres Amerika Serikat tahun 1912 untuk bersaksi.
TUDUHAN 1
↓
Dehumanisasi pekerja jadi "roda mesin"
TUDUHAN 2
↓
Standar waktu ditetapkan sepihak, tanpa suara pekerja
TUDUHAN 3
↓
Sebagian keuntungan efisiensi tak dibagi adil ke pekerja
Hasil dengar pendapat: Kongres AS sempat melarang penggunaan stopwatch untuk studi waktu di pabrik-pabrik milik pemerintah (1915-1949) — bukti betapa kontroversialnya metode ini pada masanya.
Bagian 3 dari 3
Warisan, Kritik, dan Relevansi Kini
Dari Taylorisme global hingga manajemen algoritmik era gig economy — apa yang bertahan, apa yang ditinggalkan.
Dilema Etis: Efisiensi vs Dehumanisasi Pekerja
Argumen Pendukung
Produktivitas naik tajam → harga barang bisa turun untuk konsumen
Standar kerja jelas → mengurangi favoritisme & kesewenangan mandor
Pelatihan sistematis → pekerja baru lebih cepat kompeten
Argumen Kritik
Pekerja direduksi jadi "sepasang tangan", bukan manusia utuh
Tidak ada ruang kreativitas atau masukan dari pekerja
Pembagian keuntungan efisiensi sering tidak proporsional
Pelajaran kunci: Taylor benar bahwa pengukuran ilmiah penting, tetapi salah mengabaikan dimensi manusia — celah inilah yang akan diisi Follett, Barnard, dan studi Hawthorne beberapa pertemuan mendatang.
Manajemen Saintifik vs Manajemen Tradisional
Aspek
Manajemen Tradisional
Manajemen Saintifik (Taylor)
Penetapan standar kerja
Kebiasaan turun-temurun ("rule of thumb")
Diukur ilmiah (time & motion study)
Seleksi pekerja
Asal tunjuk / senioritas
Dicocokkan berdasarkan kemampuan terukur
Sistem upah
Tarif tetap, tidak terkait output
Piece-rate diferensial berbasis standar
Peran manajemen
Mengawasi saja
Merencanakan & melatih bersama pekerja
Penyebaran Global Awal: Taylorisme di Luar Amerika
PRANCIS
1910-an
Diadopsi di pabrik senjata & otomotif (mis. Renault)
UNI SOVIET
1920-an
Lenin memuji efisiensi Taylorisme untuk industrialisasi sosialis, meski mengkritik sisi kapitalismenya
JEPANG
1910-an
Diperkenalkan lewat terjemahan buku Taylor, memengaruhi budaya kaizen kelak
Ironisnya, gagasan yang lahir dari sistem kapitalis Amerika ini justru diadopsi antusias oleh pemerintahan sosialis Uni Soviet — menunjukkan bahwa efisiensi kerja dianggap "netral secara ideologi" pada masanya.
Warisan Modern: Lean Manufacturing & Six Sigma
Prinsip inti Taylor — ukur, standarkan, perbaiki terus-menerus — hidup kembali dalam Lean Manufacturing (minimalkan pemborosan) dan Six Sigma (minimalkan cacat produksi lewat data statistik), dua pendekatan operasi paling dipakai perusahaan manufaktur global hari ini, termasuk pabrik otomotif di Indonesia.
Relevansi Kontemporer: Manajemen Algoritmik Era Gig Economy
Konsep inti Taylor — mengukur setiap gerakan kerja untuk mengoptimalkan efisiensi — hidup kembali dalam bentuk digital lewat manajemen algoritmik (algorithmic management): sistem otomatis yang mengatur, menilai, dan memberi insentif pekerja tanpa pengawas manusia langsung.
Contoh di Indonesia
Aplikasi ojek/kurir daring (mis. Gojek, Grab) mengukur waktu tempuh, rating, & jumlah order per jam
Insentif bonus mirip differential piece-rate: makin banyak & makin cepat, makin besar bonus per poin
Gudang e-commerce menggunakan sistem pemindaian untuk mengukur kecepatan packing per pekerja
Kritik yang sama muncul kembali: mitra pengemudi/kurir mengeluhkan algoritma yang tidak transparan dalam menetapkan target — mirip keluhan pekerja pabrik terhadap Taylor lebih dari satu abad lalu.
Latihan Diskusi Kelas
Instruksi
Berpasangan (2 orang), diskusikan selama 10 menit, lalu satu pasangan diminta menyampaikan hasil ke kelas:
1. Sebutkan satu contoh nyata di Indonesia (pabrik, gudang, aplikasi daring, atau kampus Anda) yang menerapkan prinsip mirip Manajemen Saintifik — sebutkan standar/ukurannya.
2. Menurut kelompok Anda, apakah penerapan tersebut lebih dekat ke "efisiensi yang adil" atau "eksploitasi terselubung"? Jelaskan alasannya dengan mengaitkan ke kritik Kongres AS 1912.
3. Apa satu perbaikan yang bisa diusulkan agar sistem tersebut tetap efisien tetapi lebih manusiawi?
Rangkuman & Menuju Pertemuan Berikutnya
Cheat Sheet Pertemuan 8
Manajemen Saintifik lahir dari kritik Taylor atas "soldiering" & kebiasaan tanpa standar
4 prinsip: ilmu untuk tiap tugas, seleksi ilmiah, kerja sama, pembagian tanggung jawab
Kritik: dehumanisasi & ketimpangan bagi hasil → Dengar Pendapat Kongres 1912
Warisan hidup di Lean, Six Sigma, hingga manajemen algoritmik gig economy
MINGGU DEPAN — PERTEMUAN 9
Fayol & Weber
Teori Proses Manajemen & Teori Organisasi Klasik
Jika Taylor melihat dari lantai pabrik, Henri Fayol melihat dari kursi direktur — lima fungsi manajemen. Max Weber menambahkan teori birokrasi rasional-legal. Bacalah Wren & Bedeian bab terkait sebelum kelas.