stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-03
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 3: Revolusi Industri: Masalah dan Sudut Pandang Manajerial
Program Studi Manajemen • FEB

Sejarah Pemikiran Manajemen

Pertemuan 3 — Revolusi Industri: Masalah dan Sudut Pandang Manajerial

Bagaimana pabrik menggantikan rumah sebagai unit produksi, masalah baru apa yang muncul, dan bagaimana perintis awal mulai menjawabnya secara manajerial.

RPS MINGGU 3 • 2×50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan dampak Revolusi Industri terhadap praktik manajemen dan mengidentifikasi perintis pemikiran manajerial awal. Secara rinci:

CAPAIAN 1
PERGESERAN
Menjelaskan pergeseran dari sistem rumahan (domestic/putting-out system) ke sistem pabrik (factory system).
CAPAIAN 2
MASALAH
Mengidentifikasi masalah manajerial baru: skala, modal, disiplin waktu, dan kondisi kerja pabrik.
CAPAIAN 3
PERINTIS
Menjelaskan kontribusi awal Adam Smith, Richard Arkwright, Robert Owen, dan Charles Babbage.
CAPAIAN 4
JEMBATAN
Menghubungkan masalah era ini dengan lahirnya Manajemen Saintifik yang akan dibahas minggu depan.

Sebelum Kita Lanjut: Recap Singkat

Dua pertemuan lalu kita membahas kerangka budaya yang membentuk praktik manajemen awal, dan bagaimana manajemen bekerja pada kondisi pra-industrialisasi.

Pertemuan 1

Manajemen dipengaruhi nilai budaya (agama, etos kerja, struktur sosial) yang berbeda di tiap peradaban — Mesir, Cina, Yunani, Romawi.

Pertemuan 2

Sebelum industrialisasi, produksi terjadi dalam skala kecil: bengkel keluarga, guild (perkumpulan tukang), dan sistem putting-out — pedagang mendistribusikan bahan mentah ke rumah-rumah untuk diolah.

Ciri manajemen pra-industri: skala kecil, hubungan personal langsung, tidak ada kebutuhan hierarki formal yang rumit.

Apa Itu Revolusi Industri?

Revolusi Industri adalah transformasi cara produksi dari tenaga manusia/hewan dan kerja rumahan menjadi tenaga mesin dan kerja pabrik berskala besar, dimulai di Inggris ~pertengahan abad ke-18.

~1733Flying Shuttle(Kay)~1764Spinning Jenny(Hargreaves)~1769Mesin Uapdisempurnakan (Watt)~1780-1840Puncak SistemPabrik di Inggris
Rentang tahun bersifat ~perkiraan — Revolusi Industri adalah proses bertahap, bukan peristiwa satu hari, dan menyebar dari Inggris ke Amerika Serikat & Eropa dalam beberapa dekade berikutnya.
Bagian 1 dari 3
Dari Rumah ke Pabrik
Bagaimana unit produksi berpindah dari rumah tangga individual menjadi bangunan pabrik terpusat — dan mengapa pergeseran ini mengubah segalanya bagi manajemen.

Dua Sistem Produksi: Bandingkan

Perbedaan mendasar antara sistem rumahan (domestic/putting-out system) dan sistem pabrik (factory system) bukan hanya soal tempat, tetapi soal kendali.

SISTEM RUMAHAN (Putting-Out)- Bahan mentah didistribusikan ke rumah- Pekerja atur jam kerja sendiri- Kendali kualitas & kecepatan lemah- Modal & risiko relatif kecil- Tak ada pengawas langsungSISTEM PABRIK (Factory System)- Pekerja & mesin terpusat 1 gedung- Jam kerja diseragamkan pemilik- Pengawas (foreman) mengawasi mutu- Modal & risiko besar (mesin, gedung)- Butuh koordinasi & hierarki formal
Inti pergeseran: dari koordinasi longgar berbasis kepercayaan menjadi kendali langsung berbasis pengawasan — inilah cikal-bakal kebutuhan akan "manajemen" sebagai fungsi tersendiri.

Motor Penggerak Revolusi Industri

Dua motor utama membuat sistem pabrik mungkin secara teknis: mekanisasi tekstil dan mesin uap sebagai sumber tenaga baru.

MEKANISASI TEKSTIL
SPINNING JENNY
James Hargreaves (~1764) menciptakan alat pintal dengan banyak spindle (poros pemintal) sekaligus — satu operator bisa memintal beberapa benang bersamaan, bukan satu-satu seperti roda pintal tradisional.
SUMBER TENAGA
MESIN UAP
James Watt menyempurnakan mesin uap (~1769) sehingga pabrik tidak lagi harus dibangun di pinggir sungai (untuk kincir air) — tenaga bisa ditempatkan di mana saja, mempercepat pertumbuhan kota industri.
Implikasi manajerial: begitu mesin menggantikan tangan, output per pekerja melonjak — dan pemilik pabrik dihadapkan pada pertanyaan baru: bagaimana mengatur begitu banyak pekerja & mesin secara efisien?

Hitung dari Nol: Lonjakan Produktivitas Pemintalan

Mari kita hitung ~ilustrasi lonjakan produktivitas saat pemintal manual beralih ke spinning jenny 8-spindle (versi awal Hargreaves).

LangkahPerhitunganNilai
1. Output pemintal manual (roda pintal) per mingguAsumsi baseline historis ~1 unit1 kg benang
2. Potensi output dengan jenny 8-spindle1 kg × 8 spindle8 kg benang
3. Output riil (efisiensi operator ~75%)8 kg × 75%6 kg benang
4. Kenaikan produktivitas(6 − 1) ÷ 1 × 100%500%
HASIL AKHIR
~500%
Kenaikan estimasi produktivitas pemintal per orang
Angka ini ilustrasi berdasarkan estimasi historis (jumlah spindle awal jenny Hargreaves & asumsi efisiensi) — versi jenny belakangan mencapai 80–120 spindle, sehingga lonjakan riil bisa jauh lebih besar.
Bagian 2 dari 3
Masalah Manajerial yang Muncul
Skala besar, modal besar, dan ratusan pekerja di bawah satu atap melahirkan masalah yang belum pernah ada solusinya — inilah panggilan lahirnya manajemen sebagai disiplin.

Masalah Skala: Modal, Koordinasi, Rantai Pasok

Pabrik menuntut investasi & koordinasi yang jauh lebih besar daripada usaha rumahan.

MODAL
Mesin uap & gedung pabrik butuh modal besar di muka — pemilik kini menanggung risiko finansial yang jauh lebih besar dari sistem putting-out.
KOORDINASI
Ratusan pekerja, puluhan mesin, dan aliran bahan baku harus disinkronkan agar tidak ada mesin menganggur atau bahan menumpuk.
RANTAI PASOK
Bahan mentah (kapas) harus didatangkan dari jauh (mis. impor kapas dari koloni), lalu produk jadi didistribusikan ke pasar yang makin luas.
Ketiga masalah ini butuh perencanaan sistematis — sesuatu yang belum dibutuhkan saat produksi masih tersebar di rumah-rumah kecil.

Disiplin Waktu: Dari Ritme Alam ke Jam Pabrik

Salah satu perubahan paling mendasar (dan paling terasa oleh pekerja) adalah pergeseran dari ritme kerja alami ke disiplin jam kerja pabrik.

Sebelum: Ritme Rumahan
  • Kerja mengikuti terang-gelap hari & musim tanam
  • Istirahat kapan saja sesuai kebutuhan pribadi
  • Tidak ada "jam masuk" yang seragam
Sesudah: Disiplin Pabrik
  • Lonceng/peluit pabrik menandai jam masuk-pulang
  • Keterlambatan & absen dikenai denda upah
  • Waktu menjadi "milik" pemilik pabrik, bukan pekerja
Sejarawan menyebut ini "time discipline" — pekerja harus belajar ulang cara hidup berdasarkan jam mekanik, bukan alam, sebuah adaptasi budaya yang tidak mudah bagi generasi pertama buruh pabrik.

Kondisi Kerja: Sisi Gelap Awal Industrialisasi

Di balik lonjakan produktivitas, kondisi kerja awal pabrik jauh dari layak — masalah ini yang kelak memicu regulasi pertama.

JAM KERJA
Umum berlangsung ~12–14 jam/hari, 6 hari/minggu, termasuk untuk pekerja anak.
BURUH ANAK
Anak usia 6–9 tahun dipekerjakan karena tubuh kecil mereka pas untuk membersihkan mesin yang sempit.
PENGAWASAN
Foreman (pengawas) mengontrol ketat dengan sanksi upah — cikal-bakal fungsi supervisi lini pertama dalam manajemen modern.
Tekanan publik atas kondisi ini melahirkan Factory Act (regulasi ketenagakerjaan) di Inggris — pemerintah mulai ikut campur mengatur hubungan kerja, sesuatu yang belum pernah terjadi di era rumahan.

Hitung dari Nol: Dampak Factory Act terhadap Jam Kerja

Mari kita hitung ~ilustrasi penurunan jam kerja anak setelah Factory Act 1833 mulai membatasi jam kerja di pabrik tekstil Inggris.

LangkahPerhitunganNilai
1. Estimasi jam kerja anak sebelum regulasi~14 jam/hari × 6 hari84 jam/minggu
2. Batas maksimal Factory Act 1833 (usia 9–13 th)8 jam/hari × 6 hari48 jam/minggu
3. Penurunan jam kerja84 − 4836 jam/minggu
4. Persentase penurunan36 ÷ 84 × 100%~43%
HASIL AKHIR
~43%
Estimasi penurunan jam kerja anak pasca-regulasi
Angka jam kerja "sebelum regulasi" bervariasi antar-pabrik & sumber sejarah (~12–16 jam) — perlakukan sebagai estimasi ilustratif, bukan data sensus presisi.
Bagian 3 dari 3
Sudut Pandang Manajerial Perintis
Empat tokoh yang mulai merespons masalah revolusi industri secara sistematis — jauh sebelum "manajemen" menjadi disiplin akademik formal.

Adam Smith: Kekuatan Pembagian Kerja

Dalam The Wealth of Nations (1776), Adam Smith menjelaskan bagaimana pembagian kerja (division of labor) melipatgandakan produktivitas — memakai contoh terkenal: pabrik peniti (pin).

Contoh Pabrik Peniti (Ilustrasi Smith)

Satu pekerja mengerjakan seluruh proses pembuatan peniti sendirian → hasil sangat sedikit per hari. Tetapi kalau proses dipecah jadi 18 tahap khusus (menarik kawat, meluruskan, memotong, meruncingkan, dst.) dan tiap pekerja fokus 1 tahap → output per orang melonjak drastis.

Inilah prinsip manajemen paling awal yang bertahan sampai sekarang: spesialisasi tugas meningkatkan efisiensi — nanti akan menjadi fondasi utama Manajemen Saintifik Taylor.

Richard Arkwright: Pengorganisir Pabrik Pertama

Richard Arkwright (1732–1792) sering disebut bapak sistem pabrik modern — bukan karena penemuan mesinnya, melainkan karena kepiawaiannya mengorganisasi manusia, modal, dan mesin dalam satu sistem terpadu.

INOVASI TEKNIS
Mengembangkan water frame (mesin pintal bertenaga air) dan mendirikan pabrik pemintalan besar pertama di Cromford, Inggris (~1771).
INOVASI MANAJERIAL
Menerapkan jadwal kerja shift 24 jam, aturan disiplin tertulis, dan sistem penggajian terstruktur — praktik organisasi yang jauh mendahului zamannya.
Kontribusi terbesar Arkwright bukan mesinnya, tapi bukti bahwa pabrik besar bisa dikelola secara sistematis — inilah cikal-bakal fungsi manajemen operasional.

Robert Owen: Eksperimen Kesejahteraan Pekerja

Robert Owen (1771–1858), pemilik pabrik tekstil New Lanark di Skotlandia, adalah salah satu perintis paling awal gagasan bahwa pekerja yang sejahtera = pekerja yang produktif.

Praktik di New Lanark
  • Membatasi jam kerja & melarang anak di bawah 10 tahun bekerja
  • Membangun perumahan layak & sekolah untuk anak pekerja
  • Menolak sistem denda ekstrem terhadap pekerja
Hasil & Pengaruh

Pabriknya tetap menguntungkan, membuktikan kesejahteraan pekerja tidak harus mengorbankan laba. Owen dianggap perintis manajemen personalia (personnel management).

Charles Babbage: Ekonomi Mekanisasi

Charles Babbage (1791–1871), dalam bukunya On the Economy of Machinery and Manufactures (1832), adalah orang pertama yang menganalisis pabrik secara matematis dan analitis.

Prinsip Babbage: Pekerjaan kompleks → pecah jadi sub-tugas → upah tiap sub-tugas sesuai tingkat keterampilan yang dibutuhkan (bukan upah rata (flat) untuk semua tugas)
Contoh: kalau membuat peniti butuh tugas sulit (meruncingkan) dan tugas mudah (mengemas), Babbage berargumen jangan membayar upah pekerja terampil penuh untuk tugas mudah — pekerjakan pekerja kurang terampil (upah lebih rendah) khusus untuk tugas mudah itu.
Ini adalah cikal-bakal analisis biaya tenaga kerja (cost accounting) dalam manajemen operasi — jauh mendahului era Taylor.

Rangkuman: Dari Revolusi ke Pemikiran Sistematis

Cheat sheet hari ini — hubungkan masalah dengan tokoh yang mulai menjawabnya.

Masalah Revolusi IndustriTokoh PerintisKontribusi Kunci
Efisiensi produksi rendahAdam SmithPembagian kerja (division of labor)
Pabrik besar sulit dikelolaRichard ArkwrightOrganisasi sistematis pabrik (shift, disiplin)
Kondisi kerja burukRobert OwenKesejahteraan pekerja = produktivitas
Biaya tenaga kerja tak efisienCharles BabbageAnalisis biaya berbasis keterampilan
Empat kontribusi ini adalah fondasi langsung bagi Manajemen Saintifik Frederick Taylor yang akan kita bahas dua pertemuan lagi.

Penutup: Minggu Depan & Tugas

Preview Pertemuan 4

Kita akan bahas lahirnya Manajemen Saintifik ala Frederick Taylor dan peran faktor manusia dalam industrialisasi awal — jawaban paling sistematis atas masalah-masalah hari ini.

TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 4
Baca ringkasan Bab terkait Taylor & Manajemen Saintifik pada Wren & Bedeian (The Evolution of Management Thought), lalu siapkan satu contoh pekerjaan di sekitar Anda yang bisa dipecah menjadi sub-tugas seperti pabrik peniti Adam Smith.
Pertanyaan reflektif untuk didiskusikan: Apakah "time discipline" pabrik era 1800-an masih relevan di tempat kerja modern (misalnya sistem absensi kantor atau target KPI harian)?