‹ Daftar slidePertemuan 1: Kerangka Kerja Budaya dalam Pemikiran Manajemen Awal
PRODI MANAJEMEN • FEB UNDIP
Sejarah Pemikiran Manajemen
Pertemuan 1: Kerangka Kerja Budaya dalam Pemikiran Manajemen Awal
Mengapa praktik manajemen di setiap zaman selalu dibentuk oleh kekuatan ekonomi, sosial, dan politik di sekitarnya.
RPS minggu 1 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan kerangka kerja budaya yang membentuk pemikiran manajemen awal (Sub-CPMK minggu 1). Secara rinci:
CAPAIAN 1
KERANGKA
Menjelaskan tiga kekuatan budaya (ekonomi, sosial, politik) yang membentuk praktik manajemen sepanjang sejarah.
CAPAIAN 2
PRA-INDUSTRI
Mengidentifikasi ciri manajemen sebelum Revolusi Industri: peradaban kuno, sistem guild abad pertengahan.
CAPAIAN 3
TRANSISI
Menjelaskan pergeseran budaya (merkantilisme, etika kerja) yang mengantar munculnya Revolusi Industri.
CAPAIAN 4
RELEVANSI
Mengaitkan pelajaran historis ini dengan cara kita memahami tantangan manajerial masa kini.
Mengapa Belajar Sejarah Manajemen?
Bayangkan Anda ditanya: "Kenapa Taylor menciptakan Manajemen Saintifik di Amerika tahun 1900-an, bukan di Mesir 3.000 tahun sebelumnya — padahal piramida Giza jelas butuh perencanaan luar biasa?"
Jawabannya bukan soal kecerdasan orang Mesir kuno — melainkan soal kondisi budaya yang berbeda: teknologi, pasar, struktur sosial, dan sistem politik yang tersedia pada masanya.
TANPA KERANGKA
HAFALAN
Nama tokoh & tahun terasa acak, mudah lupa setelah UAS.
DENGAN KERANGKA
POLA
Anda bisa memprediksi: kondisi budaya seperti apa yang melahirkan gagasan manajemen seperti apa.
MANFAAT
MASA KINI
Anda jadi lebih kritis membaca tren manajemen hari ini — termasuk yang sedang tren di LinkedIn.
Apa Itu Manajemen? Sebuah Aktivitas Universal
Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai tujuan bersama.
SELALU ADA
UNIVERSAL
Sejak manusia hidup berkelompok — memburu bersama, bercocok tanam, membangun kuil — sudah ada bentuk pengorganisasian kerja, walau belum disebut "manajemen".
BERUBAH BENTUK
KONTEKSTUAL
Cara mengelola berubah drastis: dari otoritas tradisi/agama di era pra-industri, menuju sistem, aturan tertulis, dan ilmu terukur di era modern.
Yang berkembang bukan kebutuhan akan manajemen — melainkan kerangka budaya yang menentukan bagaimana manajemen itu dipraktikkan.
Bagian 1 dari 3
Kerangka Kerja Budaya
Tiga kekuatan yang selalu membentuk praktik manajemen di setiap zaman: ekonomi, sosial, dan politik.
Tiga Kekuatan Budaya Menurut Wren & Bedeian
Setiap era mempunyai kerangka kerja budaya (cultural framework) — kombinasi kondisi yang membatasi dan sekaligus memungkinkan bentuk manajemen tertentu.
KEKUATAN 1
EKONOMI
Cara masyarakat menghasilkan & mendistribusikan kekayaan: pertanian subsisten, perdagangan, atau pasar bebas.
KEKUATAN 2
SOSIAL
Struktur kelas, sistem kerja (perbudakan, perhambaan, buruh bebas), dan nilai yang dianut masyarakat.
KEKUATAN 3
POLITIK
Bentuk otoritas: kerajaan absolut, kekuasaan agama, atau negara-bangsa dengan hukum tertulis.
Ketiga kekuatan ini saling terkait — perubahan pada satu kekuatan (mis. teknologi produksi) sering memicu perubahan pada kekuatan lain (mis. struktur sosial buruh).
Bagaimana Kerangka Budaya Membentuk Praktik Manajemen
DIAGRAM ALUR PENGARUH BUDAYA
Contoh: sistem pasar bebas (ekonomi) + buruh bebas berkontrak (sosial) + negara-bangsa berhukum tertulis (politik) → melahirkan pabrik modern & Manajemen Saintifik.
Faktor Ekonomi: Dari Barter ke Pasar
Sistem ekonomi menentukan skala dan tujuan aktivitas yang perlu dikelola.
EKONOMI SUBSISTEN
KECIL
Produksi untuk kebutuhan sendiri/komunitas kecil (mis. desa agraris). Manajemen cukup sederhana: pembagian tugas keluarga/klan.
EKONOMI PASAR
BESAR
Produksi untuk dijual lintas wilayah (jalur rempah Nusantara, jalur sutra). Butuh koordinasi rantai pasok, pencatatan, & modal.
Analogi masa kini: UMKM rumahan yang hanya melayani tetangga masih dekat dengan logika ekonomi subsisten; begitu ia berjualan lewat Tokopedia ke seluruh Indonesia, ia otomatis butuh manajemen rantai pasok & keuangan yang jauh lebih rumit — persis pola yang mendorong lahirnya praktik manajemen baru di masa lalu.
Faktor Sosial & Politik: Siapa Bekerja, Siapa Berkuasa
FAKTOR SOSIAL
Status tenaga kerja: budak, hamba (serf), pengrajin bebas, atau karyawan berkontrak.
Struktur kelas menentukan siapa yang boleh memerintah & siapa yang harus patuh.
Nilai yang dianut masyarakat (mis. penghormatan pada tradisi vs. penghargaan pada prestasi).
FAKTOR POLITIK
Otoritas terpusat (kerajaan/kekaisaran) vs. otoritas terdesentralisasi (kota-kota merdeka).
Ada tidaknya hukum properti yang melindungi hasil usaha & investasi.
Peran lembaga agama sebagai sumber legitimasi kekuasaan (mis. Firaun sebagai dewa hidup).
Tanpa perlindungan hukum atas hak milik & kontrak, investor tidak berani menanamkan modal besar — inilah salah satu alasan pabrik skala besar baru muncul setelah negara-bangsa modern terbentuk.
Bagian 2 dari 3
Manajemen Pra-Industri
Menerapkan kerangka kerja budaya pada peradaban kuno & sistem guild abad pertengahan Eropa.
Manajemen di Peradaban Kuno
Proyek berskala masif membuktikan bahwa perencanaan & pengorganisasian sudah ada jauh sebelum ilmu manajemen modern lahir.
MESIR KUNO
PIRAMIDA
Piramida Giza (∼2560 SM) butuh perencanaan logistik, penjadwalan tenaga kerja musiman, & rantai komando berjenjang.
TIONGKOK KUNO
TEMBOK BESAR
Dibangun bertahap selama berabad-abad, melibatkan koordinasi lintas dinasti & wilayah yang sangat luas.
ROMAWI KUNO
LEGIUN & JALAN
Struktur komando militer berjenjang (legiun) & jaringan jalan raya menunjukkan standardisasi & pengendalian terpusat.
Ciri umum: otoritas bersumber dari tradisi, agama, atau kekuasaan absolut — bukan dari sistem tertulis yang bisa dipelajari & ditiru siapa saja seperti manajemen modern.
Hitung dari Nol: Skala Tenaga Kerja Piramida Giza
Estimasi arkeologis (Mark Lehner & tim) memperkirakan skala proyek lewat konsep hari-orang (man-days) — total hari kerja seluruh pekerja digabungkan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Estimasi pekerja rata-rata bekerja bersamaan
data arkeologis (perkemahan pekerja di Giza)
∼20.000 orang
2. Hari kerja per tahun (musim banjir Nil libur kerja ladang)
dari 365 hari, aktif ∼300 hari
∼300 hari
3. Durasi pembangunan (perkiraan Herodotus & bukti arkeologi)
rentang pemerintahan Firaun Khufu
∼20 tahun
4. Total hari-orang
20.000 × 300 × 20
∼120 juta hari-orang
HASIL ESTIMASI
~120 JUTA
hari-orang kerja gabungan
Sistem Guild: Manajemen Abad Pertengahan Eropa
Guild (serikat dagang/kerajinan) adalah asosiasi pengrajin sejenis yang mengatur standar mutu, harga, & jenjang karier pekerja — mirip cikal-bakal koperasi & asosiasi profesi modern.
TAHAP 1: JENJANG KARIER
Seorang pekerja memulai sebagai magang (apprentice) — belajar keterampilan dari master selama bertahun-tahun tanpa upah penuh, mirip magang mahasiswa di UMKM keluarga.
TAHAP 2: NAIK STATUS
Setelah lulus uji keterampilan, ia jadi tukang berpengalaman (journeyman), lalu bila diakui guild, naik jadi master yang boleh membuka bengkel & menerima magang sendiri.
Guild menunjukkan bentuk manajemen berbasis otoritas tradisi & regulasi kolektif — mengendalikan mutu & persaingan tanpa negara yang campur tangan langsung.
Karakteristik Umum Manajemen Pra-Industri
SKALA
TERBATAS
Kecuali proyek negara/agama raksasa, umumnya usaha berskala kecil-menengah (bengkel keluarga, ladang, kapal dagang).
OTORITAS
TRADISI
Kepatuhan bersumber dari tradisi, agama, atau kelahiran (bangsawan) — bukan capaian kinerja terukur.
TENAGA KERJA
TERIKAT
Banyak pekerja berstatus budak, hamba tanah (serf), atau magang terikat — bukan buruh bebas berkontrak.
CATATAN
LISAN/TERBATAS
Pencatatan & pembukuan masih sederhana; belum ada standar akuntansi atau laporan keuangan formal.
Bagian 3 dari 3
Menjelang Revolusi Industri
Pergeseran budaya — merkantilisme, pembagian kerja, dan etika kerja baru — yang membuka jalan bagi era pabrik modern.
Merkantilisme & Kapitalisme Awal
Merkantilisme (abad ke-16–18): kebijakan ekonomi negara Eropa yang menekankan akumulasi emas/perak lewat ekspor sebesar-besarnya & impor seminim mungkin.
DAMPAK EKONOMI
PERDAGANGAN
Muncul perusahaan dagang besar (mis. VOC Belanda, East India Company Inggris) yang butuh manajemen skala internasional.
DAMPAK SOSIAL
HAK MILIK
Hukum properti & kontrak mulai diperkuat negara — investor lebih berani menanamkan modal jangka panjang.
Konteks Indonesia: VOC beroperasi di Nusantara pada era merkantilisme ini — salah satu perusahaan dagang pertama yang menerapkan struktur manajemen korporat berlapis (dewan direksi, cabang regional) jauh sebelum istilah "korporasi modern" ada.
Hitung dari Nol: Pembagian Kerja Adam Smith (1776)
Dalam The Wealth of Nations, Adam Smith mengilustrasikan pabrik peniti untuk menunjukkan dahsyatnya pembagian kerja (division of labor) — memecah pekerjaan jadi tugas-tugas kecil terspesialisasi.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Produksi 1 pekerja tanpa spesialisasi (mengerjakan seluruh 18 tahap sendirian)
estimasi Smith
∼20 peniti/hari
2. Produksi 10 pekerja dengan spesialisasi (tiap orang 1–2 tahap saja)
data Smith, Wealth of Nations
∼48.000 peniti/hari
3. Produktivitas per pekerja (dengan spesialisasi)
48.000 ÷ 10
4.800 peniti/pekerja/hari
4. Kelipatan kenaikan produktivitas per pekerja
4.800 ÷ 20
240 kali lipat
KESIMPULAN SMITH
240x
lebih produktif berkat spesialisasi kerja
Coba Sendiri: Bandingkan Kerja Tunggal vs Kerja Terspesialisasi
Geser jumlah pekerja dan tahap spesialisasi untuk melihat bagaimana produktivitas per pekerja melonjak seperti temuan Adam Smith di pabrik peniti.
Etika Kerja Baru: Persiapan Budaya Revolusi Industri
Selain perubahan ekonomi, ada pergeseran nilai sosial yang membuat masyarakat Eropa Barat siap menerima kerja keras & akumulasi kekayaan sebagai sesuatu yang terhormat.
SEBELUMNYA
TRADISI FEODAL
Kerja keras & kekayaan besar sering dipandang mencurigakan; status sosial ditentukan kelahiran, bukan usaha.
BERGESER MENJADI
ETIKA PROTESTAN
Menurut sosiolog Max Weber, ajaran Protestan (Calvinisme) memandang kerja keras & hemat sebagai tanda keselamatan – mendorong akumulasi modal untuk investasi, bukan konsumsi mewah.
Kombinasi hukum properti (politik) + nilai kerja keras (sosial) + pasar yang meluas (ekonomi) → tiga kekuatan budaya bertemu, membuka jalan bagi pabrik modern.
Latihan Kelas: Analisis Kerangka Budaya
Kerjakan berpasangan (5 menit), lalu satu pasangan akan diminta menjawab di depan kelas.
INSTRUKSI
Pilih satu praktik manajemen zaman sekarang yang Anda kenal (mis. sistem gig economy ojek online, manajemen warehouse Tokopedia, atau struktur BUMN).
Identifikasi: kekuatan ekonomi apa yang mendukungnya? Kekuatan sosial apa? Kekuatan politik/hukum apa?
Bandingkan: mengapa praktik ini tidak mungkin ada di era pra-industri yang baru kita pelajari?
Tujuan latihan: melatih Anda memakai kerangka kerja budaya sebagai alat analisis aktif, bukan sekadar teori yang dihafal.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
CHEAT SHEET HARI INI
Kerangka budaya = ekonomi + sosial + politik, saling terkait.
Manajemen pra-industri: skala terbatas, otoritas tradisi, tenaga kerja terikat (piramida, guild).
Menjelang Revolusi Industri: merkantilisme, pembagian kerja Smith (240x produktivitas), etika kerja Protestan.
MINGGU DEPAN
P2: KONDISI PRA-INDUSTRI
Kita perdalam kondisi manajemen sebelum industrialisasi, sebagai jembatan menuju pembahasan Revolusi Industri Inggris & Amerika.
Tugas persiapan: baca Wren & Bedeian bab tentang latar pra-industri, dan siapkan 1 contoh praktik manajemen tradisional dari daerah asal Anda (mis. sistem gotong royong, subak di Bali, atau serikat dagang lokal) untuk didiskusikan.