stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-10
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 10: Kepribadian, nilai, dan gaya hidup konsumen
Prodi Manajemen · FEB UNDIP

Perilaku Konsumen

Pertemuan 10: Kepribadian, Nilai, dan Gaya Hidup Konsumen

Mengapa dua orang dengan pendapatan sama bisa memilih merek yang sangat berbeda? Jawabannya ada pada siapa diri mereka.

RPS minggu 11 · 2x50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:

Konsep
3
Pilar Perbedaan Individu
Menjelaskan kepribadian, nilai, dan gaya hidup sebagai tiga lensa berbeda untuk memahami konsumen.
Aplikasi
2
Kerangka Analisis
Menghitung skor self-congruity (kecocokan diri-merek) dan skor segmentasi psikografik gaya hidup.

Anda juga akan mampu menganalisis mengapa merek seperti Tokopedia, Skintific, atau OVO memilih kepribadian merek tertentu untuk menjangkau segmen gaya hidup spesifik di pasar Indonesia.

Bagian 1 dari 3
Kepribadian Konsumen
Bagaimana ciri psikologis yang stabil membentuk preferensi terhadap merek tertentu.

Teori Trait: Big Five Personality

Teori trait (sifat) berasumsi kepribadian tersusun dari sejumlah dimensi sifat yang stabil. Model paling banyak dipakai adalah Big Five (OCEAN).

Keterbukaan

Openness — suka hal baru, kreatif, penasaran mencoba produk unik.

Kehati-hatian

Conscientiousness — terencana, loyal pada merek yang teruji.

Ekstraversi

Extraversion — suka bersosialisasi, tertarik merek yang tampil menonjol.

Dua dimensi lain: Agreeableness (mudah bekerja sama, memilih merek ramah lingkungan) dan Neuroticism (mudah cemas, mencari merek yang menjanjikan rasa aman).

Coba Sendiri: Petakan Kepribadian Anda ke Radar OCEAN

Geser skor kelima dimensi Big Five untuk diri Anda sendiri, lalu amati bentuk radar chart dan merek yang cocok dengan profil tersebut.

Konsep Diri (Self-Concept)

Konsep diri adalah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Perbedaan antar jenis diri ini penting bagi strategi merek:

Actual Self
Diri Aktual
Bagaimana konsumen sebenarnya melihat dirinya sekarang — apa adanya.
Ideal Self
Diri Ideal
Bagaimana konsumen ingin dilihat — sosok yang dicita-citakan.
Merek dipilih untuk memperkuat diri aktual (mis. sepatu lari lokal untuk pelari harian) atau untuk mendekati diri ideal (mis. jam tangan mewah untuk tampil "sudah sukses").

Kepribadian Merek: Kerangka Aaker

Jennifer Aaker (1997) menunjukkan bahwa merek juga memiliki "kepribadian" layaknya manusia, terangkum dalam 5 dimensi Brand Personality:

DimensiMaknaContoh Merek Indonesia
Sincerity (Ketulusan)Jujur, hangat, membumiKopi Kenangan, Sari Roti
Excitement (Semangat)Berani, energik, kekinianShopee, Red Bull
Competence (Kompetensi)Andal, cerdas, profesionalBCA, Telkomsel
Sophistication (Keanggunan)Kelas atas, mewah, halusWardah Exclusive, Kalbe
Ruggedness (Ketangguhan)Tangguh, maskulin, outdoorEiger, Kacang Dua Kelinci

Hitung dari Nol: Skor Self-Congruity

Self-congruity mengukur seberapa dekat citra diri konsumen dengan citra merek, menggunakan skala 1–10 pada beberapa sifat kunci.

Congruity (%) = [1 − (Selisih Rata-rata ÷ 9)] × 100
LangkahPerhitunganNilai
1. Skor citra diri konsumen (rata-rata 3 sifat: modern, percaya diri, energik)(8 + 7 + 9) ÷ 38,0
2. Skor citra merek Shopee menurut konsumen sama(9 + 6 + 10) ÷ 38,33
3. Selisih absolut kedua skor|8,0 − 8,33|0,33
4. Congruity (skala gap maksimum 9 poin)[1 − (0,33 ÷ 9)] × 10096,3%
Interpretasi
96,3%
Kecocokan sangat tinggi → konsumen ini sangat mungkin loyal pada merek

Coba Sendiri: Hitung Self-Congruity Merek Pilihan Anda

Isi skor citra diri Anda dan citra sebuah merek pada beberapa sifat, lalu amati persentase kecocokannya.

Bagian 2 dari 3
Nilai (Values) Konsumen
Prinsip hidup yang mendasari mengapa seseorang menganggap sesuatu penting atau tidak penting.

Rokeach Value Survey (RVS)

Milton Rokeach (1973) membagi nilai manusia menjadi dua kelompok besar:

Nilai Terminal

Tujuan akhir hidup yang diinginkan.

  • Kebahagiaan (happiness)
  • Keamanan keluarga
  • Kebebasan (freedom)
Nilai Instrumental

Cara/perilaku untuk mencapai nilai terminal.

  • Jujur (honest)
  • Ambisius (ambitious)
  • Bertanggung jawab

Nilai Budaya dan List of Values (LOV)

Selain RVS, pemasar sering memakai List of Values (LOV) yang lebih ringkas dan berorientasi pemasaran, mencakup nilai seperti rasa aman, hormat diri, rasa memiliki, dan kesenangan hidup.

Nilai budaya kolektif Indonesia — kekeluargaan, gotong royong, dan religiusitas — membuat pemasaran berbasis komunitas (arisan, testimoni tetangga) lebih efektif dibanding iklan individualis ala Barat.
Contoh nyata: produk skincare Wardah membangun nilai halal & aman sebagai inti pesan, selaras dengan nilai religius mayoritas konsumen Indonesia.

Nilai dan Keputusan Pembelian

Nilai memengaruhi pembelian melalui tiga jalur utama:

Jalur PengaruhPenjelasanContoh
Filter InformasiNilai menentukan info mana yang diperhatikan konsumenKonsumen religius mencari label halal MUI lebih dulu
Kriteria EvaluasiNilai menjadi tolok ukur menilai pilihan produkKonsumen pro-lingkungan menolak kemasan plastik sekali pakai
Justifikasi Pasca-BeliNilai dipakai membenarkan pilihan setelah membeli"Saya beli produk lokal karena mendukung UMKM"
Bagian 3 dari 3
Gaya Hidup dan Psikografik
Bagaimana pola hidup sehari-hari — aktivitas, minat, opini — memetakan konsumen ke dalam segmen pasar.

Kerangka AIO: Activities, Interests, Opinions

Gaya hidup diukur lewat tiga dimensi yang diperkenalkan Joseph Plummer (1974):

Activities

Aktivitas sehari-hari — bekerja, hobi, belanja, olahraga, bersosialisasi.

Interests

Minat — keluarga, pekerjaan, komunitas, mode, makanan, teknologi.

Opinions

Opini — pandangan tentang diri sendiri, isu sosial, produk, masa depan.

Kombinasi AIO menghasilkan profil gaya hidup, misalnya "profesional muda urban yang aktif nongkrong di kafe, tertarik teknologi, dan berpendapat positif tentang work-life balance".

Segmentasi VALS (Values and Lifestyles)

VALS mengelompokkan konsumen berdasarkan motivasi utama dan sumber daya (pendapatan, energi, rasa percaya diri) yang dimiliki.

SegmenMotivasi UtamaCiri Konsumsi
InnovatorsSukses, citra diri tinggiProduk premium, teknologi terbaru
AchieversPencapaian karierMerek mapan, simbol status stabil (BCA Prioritas)
ExperiencersEkspresi diri, sensasi baruFesyen kekinian, konten media sosial
SurvivorsKeamanan, sumber daya terbatasMerek murah dan familiar

Hitung dari Nol: Skor Segmentasi Psikografik

Untuk mengklasifikasikan konsumen ke segmen gaya hidup, peneliti memberi bobot pada tiap dimensi AIO lalu menjumlah skor tertimbangnya.

Skor Gaya Hidup = ∑(Bobot Dimensi × Skor Responden)
LangkahPerhitunganNilai
1. Activities (bobot 40%) × skor responden 8/100,40 × 83,2
2. Interests (bobot 35%) × skor responden 9/100,35 × 93,15
3. Opinions (bobot 25%) × skor responden 7/100,25 × 71,75
4. Total skor gaya hidup (maks 10)3,2 + 3,15 + 1,758,1
Klasifikasi
8,1 / 10
> 7,5 → masuk segmen "Experiencers" (aktif, berminat tinggi, cukup ekspresif)

Studi Kasus: Gaya Hidup Digital Indonesia

Bagaimana merek Indonesia memetakan gaya hidup digital konsumennya:

Dompet Digital: OVO & GoPay

Menyasar gaya hidup cashless — aktivitas mobile tinggi, minat pada kepraktisan, opini positif terhadap teknologi finansial.

Skincare Lokal: Skintific

Menyasar gaya hidup self-care generasi Z — aktif di TikTok, minat sains kecantikan, opini "rawat diri = investasi diri".

Kedua merek ini tidak menjual produk semata, tetapi menjual kecocokan gaya hidup — inilah inti pemasaran berbasis psikografik.

Model Terintegrasi: Kepribadian × Nilai × Gaya Hidup

Ketiga konsep saling memengaruhi membentuk perilaku pembelian yang koheren:

KepribadianCiri psikologis stabilNilai (Values)Prinsip hidup mendasarGaya HidupPola aktivitas nyata (AIO)Pilihan Merek Konsumen

Kepribadian menjawab "bagaimana", nilai menjawab "mengapa", gaya hidup menjawab "apa yang benar-benar dilakukan" — ketiganya bertemu di pilihan merek.

Implikasi untuk Strategi Pemasaran

Tahap StrategiPemanfaatan Kepribadian/Nilai/Gaya Hidup
SegmentasiMembagi pasar berdasarkan segmen VALS atau profil AIO, bukan hanya demografi
TargetingMemilih segmen gaya hidup yang paling menguntungkan dan dapat dijangkau
PositioningMembangun kepribadian merek (Aaker) yang selaras dengan nilai target pasar
Komunikasi IklanNada & visual iklan disesuaikan dengan kepribadian & gaya hidup segmen
Kesalahan umum: memakai kepribadian merek yang tidak konsisten antar-kampanye membuat konsumen bingung dan kepercayaan menurun.

Latihan Kelompok: Analisis Kepribadian Merek

Bentuk kelompok berisi 4–5 mahasiswa. Pilih satu merek Indonesia yang Anda gunakan sehari-hari (mis. Indomie, Gojek, Erigo, Mie Gacoan).

Instruksi Tugas
  • Tentukan dimensi Brand Personality Aaker yang paling dominan pada merek pilihan Anda, sertakan alasan.
  • Identifikasi nilai (values) apa yang coba disentuh merek tersebut dalam komunikasinya.
  • Deskripsikan profil AIO (Activities, Interests, Opinions) target konsumennya.
  • Presentasikan singkat (3 menit per kelompok) di sisa waktu kelas.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya

KonsepInti Pembelajaran
KepribadianCiri stabil konsumen; merek juga punya kepribadian (5 dimensi Aaker)
NilaiPrinsip hidup mendasar (Rokeach: terminal & instrumental) yang menyaring & mengevaluasi pilihan
Gaya HidupPola AIO nyata sehari-hari; dasar segmentasi VALS & psikografik
Pertemuan 11 (Minggu 12)

Identitas Sosial, Keluarga, Generasi, dan Budaya — melanjutkan dari kepribadian individu ke pengaruh kelompok.

Tugas
Baca
Materi Pertemuan 11 di portal
Kumpulkan laporan singkat hasil analisis kelompok hari ini sebelum kelas berikutnya.