‹ Daftar slidePertemuan 9: Identitas diri dalam perilaku konsumsi
Program Studi Manajemen • FEB
Perilaku Konsumen
Pertemuan 9 — Identitas Diri dalam Perilaku Konsumsi
Bagaimana konsumen memakai produk dan merek sebagai bahasa untuk berkata "ini saya" — dari extended self, symbolic self-completion, sampai identitas digital di media sosial.
RPS MINGGU 10 • 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK pertemuan ke-9: menganalisis peran identitas diri sebagai sarana ekspresi dalam perilaku konsumsi. Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:
KONSEP
1
Memahami self-concept
Menjelaskan konsep diri (self-concept) dan bagaimana konsumsi menjadi cara konsumen mengekspresikan siapa dirinya.
ANALISIS
2
Menganalisis extended self
Menganalisis bagaimana barang dan merek menjadi bagian dari "extended self" — perluasan diri konsumen.
APLIKASI
3
Strategi merek berbasis identitas
Mengevaluasi strategi pemasaran yang memanfaatkan identitas diri konsumen, termasuk di ranah digital.
KRITIS
4
Sisi gelap identitas konsumsi
Mengidentifikasi risiko konsumsi berbasis identitas: gengsi berlebihan, utang konsumtif, dan tekanan media sosial.
Bagian 1 dari 4
Konsep Diri: Fondasi Identitas Konsumen
Apa itu self-concept, dan mengapa "siapa saya" menentukan apa yang saya beli?
Self-Concept: Gambaran Diri Konsumen
Self-concept (konsep diri) adalah keseluruhan pikiran dan perasaan seseorang tentang dirinya sendiri, mencakup siapa dia sekarang dan siapa yang ingin ia jadi.
Diri Aktual (Actual Self)
Bagaimana konsumen melihat dirinya saat ini, apa adanya
Contoh: "Saya mahasiswa manajemen semester 4, anak kos, hemat"
Mendorong konsumsi yang konsisten dengan realitas sehari-hari
Diri Ideal (Ideal Self)
Bagaimana konsumen ingin dilihat/menjadi di masa depan
Contoh: "Saya ingin jadi profesional muda yang percaya diri dan sukses"
Mendorong konsumsi aspirasional — membeli "menuju" identitas itu
Semakin besar jarak antara diri aktual dan diri ideal konsumen, semakin kuat dorongan membeli produk yang dianggap bisa menjembatani jarak tersebut — inilah dasar strategi iklan aspirasional.
Empat Ragam Diri yang Dikonsumsi Pemasar
Selain aktual dan ideal, ada dua dimensi tambahan yang penting: diri privat (bagaimana saya melihat diri sendiri) versus diri sosial (bagaimana saya ingin dilihat orang lain).
DIRI AKTUAL PRIVAT
A1
Gambaran jujur diri sendiri saat sendirian — pakaian rumahan, kebiasaan pribadi.
DIRI AKTUAL SOSIAL
A2
Bagaimana orang lain sungguh melihat Anda hari ini di kampus/kantor.
DIRI IDEAL PRIVAT
I1
Siapa yang ingin Anda jadi menurut standar Anda sendiri — misalnya lebih disiplin.
DIRI IDEAL SOSIAL
I2
Bagaimana Anda ingin dipandang orang lain — misalnya terlihat sukses di LinkedIn.
Bagian 2 dari 4
Extended Self: Barang sebagai Perluasan Diri
Teori Russell Belk (1988) — mengapa kehilangan ponsel terasa seperti kehilangan sebagian diri.
Extended Self: Milikku adalah Diriku
Extended self (perluasan diri) adalah gagasan bahwa konsumen memasukkan barang, tempat, dan orang di sekitarnya sebagai bagian dari identitas dirinya sendiri — bukan sekadar milik yang terpisah dari "aku".
"Kita adalah apa yang kita miliki" — Russell Belk, 1988
TINGKAT INDIVIDU
1
Tubuh, ponsel, jurnal pribadi, akun media sosial.
TINGKAT KELUARGA
2
Rumah, mobil keluarga, tradisi lebaran bersama.
TINGKAT KOMUNITAS
3
Almamater UNDIP, kampung halaman, komunitas motor.
Bagaimana Kita Tahu Barang Jadi "Bagian Diri"?
Belk mengidentifikasi beberapa tanda perilaku yang menunjukkan barang telah menyatu dengan identitas konsumen:
Tanda Perilaku
Personalisasi — memberi nama, stiker, atau ubahan unik pada barang (custom case HP, modifikasi motor)
Rasa kehilangan mendalam — sedih berlebihan saat barang rusak/hilang, melebihi nilai uangnya
Enggan meminjamkan/menjual — barang "bersejarah" tidak dijual walau ditawar mahal
Contoh Indonesia
Mahasiswa yang menyimpan jaket almamater UNDIP bertahun-tahun setelah wisuda
Pengguna yang tetap memakai case ponsel lecet karena "kenangan"
Kolektor sepatu yang menolak menjual sepasang sneakers edisi terbatas
Implikasi pemasaran: strategi personalisasi (nama di kemasan Coca-Cola, custom AirPods) sengaja memperkuat ikatan extended self antara konsumen dan produk.
Hitung dari Nol: Memetakan Extended Self Sebuah Produk
Karena topik ini konseptual (bukan angka), kita gunakan walkthrough bertahap — langkah menganalisis sebuah kasus nyata: mengapa jersey Timnas Indonesia menjadi extended self banyak suporter.
Langkah
Analisis
Kesimpulan
1. Identifikasi objek
Jersey Timnas Indonesia (Garuda) yang dipakai suporter saat nonton bareng
Objek konsumsi
2. Cek personalisasi
Nama & nomor punggung pemain favorit dicetak khusus di jersey pribadi
Tanda personalisasi kuat
3. Cek rasa kehilangan
Suporter merasa "berduka" bila jersey rusak/hilang menjelang laga penting
Ikatan emosional tinggi
4. Cek makna sosial
Memakai jersey di ruang publik menyatakan identitas "saya pendukung Garuda"
Fungsi ekspresi identitas
5. Simpulkan tingkat
Objek merepresentasikan identitas komunitas (bangsa), bukan cuma individu
Extended self tingkat komunitas/bangsa
Coba Sendiri: Petakan Extended Self Sebuah Produk Pilihan
Pilih objek pribadi lalu centang indikator personalisasi, rasa kehilangan, dan makna sosial yang berlaku, amati bagaimana tingkat extended self-nya berubah.
Bagian 3 dari 4
Self-Completion Simbolik & Identitas Digital
Ketika konsumen "membeli" identitas yang belum sepenuhnya mereka miliki — dan bagaimana media sosial mengubah permainan ini.
Symbolic Self-Completion: Membeli untuk Menutup Kekurangan
Symbolic self-completion (penyempurnaan diri simbolik) adalah teori bahwa ketika seseorang merasa identitasnya belum lengkap di suatu bidang, ia cenderung membeli simbol-simbol yang menegaskan identitas tersebut untuk menutupi kekurangan itu.
CONTOH 1
💼
Fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja membeli setelan jas mahal dan tas kerja branded untuk "terlihat" profesional saat wawancara.
CONTOH 2
📈
Investor pemula di BEI yang belum berpengalaman memakai banyak istilah teknis & aplikasi trading premium untuk merasa "sudah jadi" investor sungguhan.
Sisi gelap: semakin besar rasa "belum lengkap", semakin rentan konsumen terjebak belanja berlebihan (over-konsumsi) demi validasi identitas — ini akar dari banyak kasus utang konsumtif paylater di kalangan muda.
Identitas Digital: Extended Self di Media Sosial
Media sosial menciptakan ruang baru bagi extended self: identitas digital (digital self) — versi diri yang dikurasi dan dipertunjukkan lewat unggahan, foto, dan interaksi daring.
Kurasi Diri
Feed Instagram dipilih & diedit agar sesuai citra yang diinginkan
"Highlight reel" bukan gambaran utuh kehidupan sehari-hari
Validasi Sosial
Like & komentar sebagai bentuk konfirmasi identitas
Produk dibeli agar "layak" dipamerkan (Instagrammable)
Tekanan & Risiko
Perbandingan sosial memicu kecemasan & belanja impulsif
FOMO (fear of missing out) mendorong konsumsi tren cepat
Hitung dari Nol: Menilai Risiko Konsumsi Identitas Digital
Walkthrough kedua: langkah menilai apakah pola belanja seorang konsumen sudah masuk kategori "konsumsi berbasis validasi digital yang berisiko" — memakai kasus mahasiswa pengguna paylater untuk gaya hidup kafe.
Langkah
Pertanyaan Diagnostik
Indikasi
1. Motif pembelian
Apakah beli kopi kekinian demi rasa, atau demi konten untuk diunggah?
Motif sosial > fungsional
2. Sumber dana
Dibayar tunai/tabungan, atau pakai paylater/utang berulang?
Tanda risiko finansial
3. Frekuensi & pemicu
Dipicu kebutuhan, atau dipicu unggahan teman/influencer sesaat sebelumnya?
Pola FOMO
4. Reaksi setelah posting
Apakah suasana hati bergantung pada jumlah like/komentar yang didapat?
Ketergantungan validasi
5. Simpulan
Tiga dari empat indikator di atas terpenuhi pada kasus ini
Konsumsi identitas digital berisiko tinggi
Coba Sendiri: Skor Risiko Konsumsi Identitas Digital Anda
Isi jawaban diagnostik motif, sumber dana, pemicu, dan reaksi setelah posting, amati skor risikonya berubah.
Bagian 4 dari 4
Strategi Pemasaran Berbasis Identitas
Bagaimana merek merancang produk & komunikasi yang menyasar "siapa saya" konsumen — dan tanggung jawab etisnya.
Tiga Strategi Merek Berbasis Identitas
1. Self-Congruity
Merek diposisikan agar cocok dengan citra diri target konsumen
Contoh: Uniqlo untuk citra "simpel & fungsional"
2. Personalisasi Massal
Produk bisa dikustom nama/desain agar terasa "milik pribadi"
Contoh: NIKE By You, custom case Tokopedia
3. Storytelling Identitas
Kampanye menceritakan "jadilah versi terbaik dirimu"
Contoh: kampanye UMKM lokal "bangga buatan Indonesia"
Prinsip umum: konsumen tidak membeli produk, mereka membeli versi diri yang dijanjikan produk itu. Riset self-congruity menunjukkan makin cocok citra merek dengan citra diri konsumen (aktual atau ideal), makin tinggi preferensi & loyalitas merek.
Peta Lapisan Extended Self Konsumen
Diagram berikut merangkum lapisan extended self dari inti diri sampai identitas kelompok terluas.
Sisi Gelap: Ketika Identitas Dieksploitasi
Strategi berbasis identitas sangat efektif, tetapi berisiko dieksploitasi secara tidak etis bila menyasar kerentanan psikologis konsumen, terutama kalangan muda.
Risiko bagi konsumen: gengsi berlebihan mendorong utang konsumtif (paylater/pinjol), konsumsi kompulsif demi validasi sosial, kecemasan akibat perbandingan diri di media sosial.
Risiko bagi merek: tuduhan "identity-washing" (klaim inklusif tanpa substansi), krisis reputasi bila dianggap mengeksploitasi insecurity konsumen (mis. iklan yang mempermalukan bentuk tubuh).
Sebagai calon manajer pemasaran, tanggung jawab Anda: gunakan wawasan identitas untuk menciptakan nilai tulus bagi konsumen, bukan memanipulasi kerentanan mereka demi penjualan jangka pendek.
Latihan Diskusi Kelompok (15 menit)
Bentuk kelompok kecil (3-4 orang). Pilih satu merek yang sering Anda pakai (misalnya Tokopedia, BCA, Indomie, Nike, atau produk lokal UMKM), lalu jawab pertanyaan berikut secara tertulis:
Instruksi Kerja
Identifikasi: extended self tingkat mana yang disasar merek ini (individu/keluarga/komunitas)?
Cari bukti personalisasi/rasa kepemilikan yang ditunjukkan pengguna merek tersebut
Analisis: apakah kampanye merek ini menyasar diri aktual atau diri ideal konsumennya?
Refleksi kritis: apakah ada indikasi eksploitasi kerentanan identitas dalam strategi merek ini?
Setiap kelompok mempresentasikan temuannya secara singkat (2 menit) di akhir sesi diskusi.
Rangkuman: Identitas Diri dalam Konsumsi
Konsep
Inti Gagasan
Contoh Kunci
Self-concept
Gambaran diri aktual vs ideal yang membentuk pilihan konsumsi
Iklan aspirasional skincare
Extended self
Barang & tempat menjadi perluasan identitas diri
Jersey Timnas Garuda
Symbolic self-completion
Membeli simbol untuk menutup rasa identitas belum lengkap
Kepribadian, nilai, dan gaya hidup konsumen — kita akan lanjutkan tema identitas dengan melihat bagaimana trait kepribadian (mis. Big Five), sistem nilai personal, dan gaya hidup (AIO: activity, interest, opinion) memengaruhi pilihan merek.
TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 10
📝
Kumpulkan hasil diskusi kelompok hari ini (1 halaman) via portal e-learning paling lambat H-1 sebelum kuliah berikutnya.
Renungkan: coba amati satu keputusan belanja Anda minggu ini — apakah itu didorong kebutuhan fungsional, atau dorongan menegaskan "siapa saya"?