‹ Daftar slidePertemuan 8: Perilaku pembelian, penggunaan, pembuangan produk
Program Studi Manajemen • FEB
Perilaku Konsumen
Pertemuan 8 — Perilaku Pembelian, Penggunaan, Pembuangan Produk
Perjalanan konsumen tidak berhenti di kasir. Hari ini kita menelusuri tiga babak setelah niat beli terbentuk: bagaimana konsumen membeli, bagaimana mereka memakai produk sehari-hari, dan ke mana produk itu berakhir — lengkap dengan implikasi keberlanjutannya.
RPS minggu 9 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Perilaku Pembelian: Dari Niat ke Transaksi
Faktor situasional, pembelian terencana vs impulsif, dan peran suasana toko dalam keputusan akhir.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis perilaku pembelian, penggunaan, pembuangan produk, dan implikasi keberlanjutannya. Secara rinci:
CAPAIAN 1
PEMBELIAN
Membedakan tahap pra-pembelian, pembelian, dan pasca-pembelian, serta faktor situasional yang memengaruhinya.
CAPAIAN 2
IMPULSIF
Menganalisis perbedaan pembelian terencana & impulsif serta peran suasana toko (store atmospherics).
CAPAIAN 3
PENGGUNAAN
Menganalisis pola penggunaan produk — frekuensi, konteks hedonis & utilitarian, hingga ritual konsumsi.
CAPAIAN 4
KEBERLANJUTAN
Menganalisis perilaku pembuangan produk dan implikasinya bagi keberlanjutan lingkungan.
Mengapa Siklus Setelah Transaksi Ini Penting?
Bayangkan seorang mahasiswa membeli sepatu lari mahal saat promo 11.11 di Shopee. Ia bersemangat, tapi tiga bulan kemudian sepatu itu hanya dipakai dua kali dan teronggok di lemari sebelum akhirnya diberikan ke adiknya.
TAHAP 1
MENGAPA BELI?
Apa yang mendorong pembelian saat itu juga — promo, suasana toko, atau rencana matang?
TAHAP 2
BAGAIMANA DIPAKAI?
Apakah produk benar-benar dipakai sesuai janji nilai, atau justru menganggur di lemari?
TAHAP 3
BERAKHIR KE MANA?
Dibuang, dijual kembali, didaur ulang, atau diberikan — setiap pilihan punya konsekuensi.
Kesalahan pemasar paling umum: berhenti berpikir begitu transaksi selesai. Padahal loyalitas, ulasan produk, dan reputasi keberlanjutan merek lahir justru setelah titik pembelian.
Model Siklus Konsumsi: Pembelian → Penggunaan → Pembuangan
Perilaku konsumen adalah siklus berulang, bukan garis lurus yang berhenti di kasir. Setiap tahap memengaruhi tahap berikutnya, bahkan memengaruhi pembelian berikutnya.
Garis putus-putus di bawah menunjukkan umpan balik siklikal: pengalaman pembuangan (misalnya menyesal karena produk cepat rusak) memengaruhi keputusan pra-pembelian berikutnya.
Faktor Situasional dalam Keputusan Pembelian
Rencana belanja yang sudah matang bisa berubah seketika karena situasi — faktor eksternal sesaat yang tidak berkaitan dengan diri konsumen atau produknya.
WAKTU
TERGESA?
Belanja saat jam istirahat singkat membuat konsumen memilih produk tercepat diambil, bukan terbaik.
TEMPAT
LOKASI TOKO
Minimarket di dekat kos vs pusat perbelanjaan besar mengubah pilihan & jumlah barang yang dibeli.
SUASANA HATI
MOOD
Retail therapy — belanja untuk meredakan stres, sering memicu pembelian di luar rencana.
Faktor sosial (kerumunan/antrean) juga berperan: antrean panjang di kasir Alfamart bisa membuat konsumen membatalkan sebagian belanjaan yang sudah diambil.
Pembelian Terencana vs Pembelian Impulsif
Pembelian impulsif (impulse buying) adalah pembelian mendadak, tanpa rencana sebelumnya, biasanya dipicu rangsangan di tempat pembelian itu sendiri.
Aspek
Pembelian Terencana
Pembelian Impulsif
Rencana
Disusun sebelum ke toko/aplikasi
Muncul seketika di lokasi
Pemicu
Kebutuhan nyata, daftar belanja
Diskon kasir, tata letak, dorongan emosi
Contoh
Beli beras & minyak goreng bulanan
Ambil cokelat & permen di antrean kasir
Risiko Pasca-Beli
Rendah — sesuai kebutuhan
Lebih tinggi — berpotensi menyesal (post-purchase dissonance)
Bagi peritel seperti Indomaret & Alfamart, area kasir sengaja dirancang untuk memicu pembelian impulsif — strategi yang akan kita hitung dampaknya dua slide lagi.
Peran Suasana Toko (Store Atmospherics)
Store atmospherics adalah elemen desain lingkungan belanja — tata letak, musik, aroma, pencahayaan — yang sengaja dirancang memengaruhi suasana hati & perilaku beli konsumen.
TATA LETAK
LAYOUT
Produk kebutuhan pokok diletakkan di belakang toko (mis. susu) agar konsumen melewati rak lain lebih dulu.
SENSORIK
MUSIK & AROMA
Aroma roti segar di Alfamart/Circle K atau musik tempo lambat membuat konsumen berlama-lama & berbelanja lebih.
VISUAL
PENCAHAYAAN
Uniqlo & toko ritel modern memakai pencahayaan terang & hangat agar produk terlihat lebih menarik dipegang.
Semua elemen ini bekerja pada level bawah sadar — konsumen jarang menyadari bahwa keputusannya sedang dipengaruhi oleh desain lingkungan belanja.
Hitung dari Nol: Tingkat Pembelian Impulsif Minimarket
Ilustrasi minimarket "Toko Berkah" — berapa tambahan omzet harian dari pembelian impulsif di area kasir?
LANGKAH PERHITUNGAN TAMBAHAN OMZET IMPULSIF
Langkah
Perhitungan
Nilai
Pengunjung toko per hari
—
400 orang
Yang jadi pembeli (konversi 75%)
400 × 75%
300 pembeli
Proporsi mengaku beli tak terencana (survei kasir)
300 × 40%
120 pembeli impulsif
Rata-rata nilai belanja impulsif/orang
—
Rp 15.000
Tambahan omzet impulsif/hari
120 × Rp 15.000
Rp 1.800.000
TAMBAHAN OMZET HARIAN
Rp 1,8 jt
dari 120 pembeli impulsif (40% dari 300 pembeli) — murni dari rak dekat kasir
Coba Sendiri: Simulasikan Tambahan Omzet Impulsif Toko Anda
Ubah jumlah pengunjung, konversi pembeli, proporsi pembelian tak terencana, dan nilai belanja rata-rata, lalu amati tambahan omzet hariannya.
Bagian 2 dari 3
Perilaku Penggunaan Produk
Bagaimana produk yang sudah dibeli benar-benar dipakai — atau justru menganggur begitu saja.
Pola Penggunaan Produk
Setelah dibeli, produk dipakai dengan frekuensi dan konteks yang berbeda-beda — ini menentukan seberapa besar nilai yang benar-benar dirasakan konsumen.
KONSUMSI UTILITARIAN
FUNGSIONAL
Dipakai untuk menyelesaikan tugas praktis — sabun cuci piring, aplikasi transportasi Gojek untuk berangkat kerja.
KONSUMSI HEDONIS
EMOSIONAL
Dipakai untuk kesenangan & pengalaman — nonton film di bioskop, membeli kopi kekinian untuk menikmati suasana kafe.
Satu produk bisa punya kedua sisi sekaligus: kopi pagi bisa fungsional (menahan kantuk) sekaligus hedonis (ritual menikmati suasana) — pemasar perlu memahami keduanya untuk membentuk pesan yang tepat.
Konsumsi Simbolik & Ritual Konsumsi
Ritual konsumsi (consumption ritual) adalah rangkaian tindakan yang berulang & bermakna simbolik saat menggunakan produk — bukan sekadar memakainya.
RITUAL HARIAN
NGOPI PAGI
Urutan tetap menyeduh kopi sebelum bekerja — lebih dari sekadar minum, ini penanda "memulai hari".
Merekam & mengunggah proses membuka paket gawai baru ke TikTok/Instagram sebagai bagian dari pengalaman memiliki.
Merek yang memahami ritual pelanggannya bisa merancang kemasan/pengalaman yang mendukung ritual itu — bukan sekadar membungkus produk.
Ketika Produk Dibeli Tapi Jarang Dipakai
Fenomena under-usage — produk dibeli dengan antusias tinggi, tapi penggunaannya jauh di bawah ekspektasi — merugikan konsumen sekaligus mengikis loyalitas merek.
CONTOH 1
GYM MEMBERSHIP
Daftar member gym Januari penuh semangat, tapi kunjungan menurun drastis setelah bulan kedua.
CONTOH 2
BAJU DI LEMARI
Baju dibeli saat promo flash sale, hanya dipakai 1–2 kali, lalu tersimpan bertahun-tahun.
CONTOH 3
APLIKASI TAK DIBUKA
Aplikasi belajar bahasa diinstal penuh niat, dibuka beberapa kali, lalu dilupakan di ponsel.
Bagi pemasar, under-usage adalah peringatan dini churn — pelanggan yang jarang memakai produk/jasa jauh lebih mudah berhenti berlangganan atau tidak membeli ulang.
Hitung dari Nol: Nilai Bahan Makanan Terbuang Rumah Tangga
Ilustrasi Keluarga Bu Sari — berapa nilai bahan makanan yang terbuang karena tidak sempat dipakai (busuk/kedaluwarsa) sebelum diolah?
LANGKAH PERHITUNGAN NILAI TERBUANG PER TAHUN
Langkah
Perhitungan
Nilai
Belanja bahan makanan per minggu
—
Rp 500.000
Proporsi terbuang (dicatat sebulan)
—
~15%
Nilai terbuang per minggu
Rp 500.000 × 15%
Rp 75.000
Nilai terbuang per bulan
Rp 75.000 × 4
Rp 300.000
Nilai terbuang per tahun
Rp 300.000 × 12
Rp 3.600.000
POTENSI TERBUANG SETAHUN
Rp 3,6 jt
setara ≈ 7 kali belanja mingguan — murni karena bahan busuk sebelum diolah
Coba Sendiri: Hitung Nilai Makanan Terbuang Keluarga Anda
Ubah belanja mingguan dan proporsi terbuang, amati bagaimana nilai kerugian per bulan dan per tahun berubah.
Bagian 3 dari 3
Perilaku Pembuangan Produk & Keberlanjutan
Ke mana produk berakhir, mengapa pilihannya penting, dan bagaimana tren keberlanjutan mengubah perilaku ini.
Opsi Pembuangan Produk (Product Disposal)
Ketika produk tidak dipakai lagi, konsumen melakukan divestment (pelepasan kepemilikan) melalui beberapa jalur, bukan hanya membuang.
JALUR 1
BUANG LANGSUNG
Ke tempat sampah — jalur termudah, tapi paling besar dampak lingkungannya.
JALUR 2
JUAL KEMBALI
Lewat Facebook Marketplace, OLX, atau lapak thrift — produk masih bernilai ekonomi.
JALUR 3
DONASI
Diberikan ke keluarga/panti asuhan — nilai emosional berpindah, bukan sekadar nilai uang.
Jalur keempat yang makin populer: daur ulang (mis. bank sampah, program trade-in elektronik) — produk dipecah kembali jadi bahan baku, bukan dibuang percuma.
Studi Kasus: Fast Fashion & Bangkitnya Thrifting di Indonesia
Fast fashion (pakaian murah, tren cepat berganti, cepat dibuang) mendorong lahirnya gerakan balik arah: thrifting (belanja pakaian bekas).
Aspek
Fast Fashion
Thrifting
Contoh Merek/Praktik
Merek pakaian tren cepat berganti musim
Pasar Senen (Jakarta), Gedebage (Bandung), akun thrift di Instagram/TikTok Shop
Motivasi Konsumen
Ikut tren terbaru dengan harga murah
Harga lebih murah & unik + kepedulian lingkungan
Dampak Pembuangan
Cepat dibuang, menumpuk jadi limbah tekstil
Memperpanjang siklus pakai produk (ekonomi sirkular)
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perilaku pembuangan generasi muda mulai bergeser — dari sekadar membuang, menuju melepas produk dengan cara yang lebih bernilai & berkelanjutan.
Semakin banyak konsumen & produsen bergerak menuju ekonomi sirkular (circular economy) — sistem yang meminimalkan produk berakhir sebagai sampah.
SISI KONSUMEN
KEPEDULIAN
Meningkatnya kesadaran lingkungan mendorong konsumen memilih jalur donasi/jual kembali/daur ulang dibanding buang langsung.
SISI PRODUSEN
EPR
Extended Producer Responsibility (tanggung jawab produsen yang diperluas) — produsen ikut bertanggung jawab atas produk pasca-pakai, mis. program tarik-kembali kemasan.
Contoh nyata: program trade-in gawai elektronik, drop-box daur ulang kemasan di gerai ritel, dan kemitraan merek dengan pengelola sampah seperti Waste4Change.
Latihan: Petakan Siklus Konsumsi Satu Produk
Kerjakan berkelompok (3–4 orang), 15 menit. Pilih satu produk yang baru-baru ini Anda beli, lalu petakan tiga tahapnya:
LANGKAH 1
PEMBELIAN
Apa yang memicu Anda membeli? Terencana atau impulsif? Situasi apa yang berperan?
LANGKAH 2
PENGGUNAAN
Seberapa sering benar-benar dipakai? Utilitarian, hedonis, atau ada unsur ritual?
LANGKAH 3
PEMBUANGAN
Kalau sudah tidak dipakai, jalur mana yang paling mungkin Anda pilih — dan mengapa?
Dua kelompok akan diminta presentasi singkat (2 menit) — kelas lain boleh bertanya "apa implikasinya bagi pemasar produk tersebut?"