stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-07
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 7: Proses pengambilan keputusan konsumen
Program Studi Manajemen • FEB

Perilaku Konsumen

Pertemuan 7 — Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Bagaimana seseorang berubah dari "merasa butuh sesuatu" menjadi "menekan tombol beli" — lima tahap, satu model hitung skor merek, dan jebakan heuristik yang sering tak disadari.

RPS MINGGU 7 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Lima Tahap Proses Keputusan Konsumen
Dari menyadari kebutuhan, mencari informasi, sampai menimbang alternatif secara sistematis — sebelum uang benar-benar berpindah tangan.

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis tahapan, heuristik, dan bias dalam pengambilan keputusan konsumen (Sub-CPMK Minggu 7). Secara rinci:

Pemahaman Konsep
  • Menjelaskan lima tahap proses keputusan & apa yang terjadi di tiap tahap
  • Membedakan tipe keputusan: rutin, terbatas, ekstensif
Wawasan Praktis
  • Menghitung skor evaluasi merek & skor kepuasan pasca-pembelian
  • Mengenali heuristik & bias yang memengaruhi keputusan konsumen sehari-hari
Pustaka acuan minggu ini: Solomon, Consumer Behavior, Bab 9–10; Kotler & Keller, Marketing Management, Bab 6.

Model Lima Tahap Pengambilan Keputusan Konsumen

Alur Proses Keputusan (Engel-Blackwell-Miniard)
Pengenalan KebutuhanAda gap keadaanPencarian InformasiInternal & eksternalEvaluasi AlternatifBandingkan kriteriaKeputusan PembelianNiat → realisasiPasca-PembelianPuas atau kecewa

Model ini adalah proses ideal/lengkap — pembelian rutin (mis. beli air mineral) sering melompati tahap tengah.

Tahap 1: Pengenalan Kebutuhan (Need Recognition)

Kebutuhan muncul saat ada gap antara keadaan aktual dan keadaan yang diinginkan — dan gap itu cukup besar untuk memicu tindakan.
Stimulus Internal

Muncul dari dalam diri: lapar, haus, atau rasa tidak puas dengan barang lama. Contoh: HP mulai lemot dan baterai boros setelah 3 tahun dipakai.

Stimulus Eksternal

Dipicu dari luar: iklan, promo flash sale Shopee, atau rekomendasi teman. Contoh: notifikasi diskon 11.11 memicu rasa "butuh" yang sebelumnya tidak disadari.

Tugas pemasar di tahap ini: membesarkan gap yang sudah ada (lewat iklan) — bukan menciptakan kebutuhan dari nol.

Tahap 2: Pencarian Informasi & Evoked Set

Pencarian Internal

Mengingat kembali pengalaman & pengetahuan yang sudah tersimpan di memori (lihat P4). Contoh: teringat merek sepatu yang dulu nyaman dipakai.

Pencarian Eksternal

Mencari info dari luar diri: ulasan Tokopedia/Shopee, rekomendasi teman, video review di YouTube/TikTok.

Evoked set (himpunan pilihan yang teringat): dari puluhan merek yang ada di pasar, konsumen biasanya hanya mempertimbangkan 3–5 merek secara serius — sisanya tak pernah "masuk radar".

Hitung dari Nol #1: Model Evaluasi Multiatribut (Kompensatori)

Konsumen membandingkan 2 merek smartphone pakai 3 atribut berbobot (skala 1–10): Harga (bobot 0,40), Kamera (0,35), Baterai (0,25).

LangkahPerhitunganNilai
1. Skor Merek A (Harga, Kamera, Baterai)Diketahui8, 6, 7
2. Skor berbobot Merek A0,40×8 + 0,35×6 + 0,25×77,05
3. Skor Merek B (Harga, Kamera, Baterai)Diketahui6, 9, 8
4. Skor berbobot Merek B0,40×6 + 0,35×9 + 0,25×87,55
5. Selisih & keputusan7,55 − 7,05B unggul 0,50 poin
Merek Terpilih
Merek B
Skor 7,55 vs 7,05 — kompensatori: kamera bagus "menutup" harga lebih mahal
Bagian 2 dari 3
Keputusan Pembelian dan Tipe-Tipenya
Dari niat membeli menjadi realisasi transaksi — dan mengapa tidak semua keputusan melewati proses berpikir sepanjang model lima tahap.

Tahap 4: Dari Niat Membeli ke Keputusan Nyata

Faktor Situasional Tak Terduga
  • Stok habis saat checkout, harga tiba-tiba berubah
  • Kondisi keuangan mendadak berubah (kebutuhan mendesak lain)
  • Waktu terbatas (buru-buru, batal ke toko)
Sikap Orang Lain
  • Komentar negatif teman/keluarga saat keputusan hampir final
  • Ulasan baru muncul tepat sebelum checkout
  • Rekomendasi influencer yang mengubah preferensi mendadak
Inilah sebabnya cart abandonment (keranjang belanja ditinggal) sangat umum di e-commerce — niat kuat belum tentu jadi transaksi.

Tiga Tipe Pengambilan Keputusan Konsumen

Tingkat keterlibatan (involvement, lihat P5) menentukan seberapa panjang proses berpikirnya.

TipeCiri UtamaContoh
Rutin (habitual)Otomatis, nyaris tanpa evaluasi; risiko & harga rendahBeli air mineral, isi ulang pulsa
Terbatas (limited)Sedikit pencarian & perbandingan; keterlibatan sedangGanti merek sabun cuci, pilih restoran makan siang
Ekstensif (extended)Pencarian panjang, banyak kriteria, risiko/harga tinggiBeli motor, laptop, rumah pertama
Produk yang sama bisa berpindah tipe: laptop pertama = ekstensif; laptop pengganti dengan merek yang sudah dipercaya = terbatas atau bahkan rutin.

Tahap 5: Perilaku Pasca-Pembelian

Kepuasan (Satisfaction)

Kinerja produk memenuhi atau melampaui ekspektasi → konsumen cenderung membeli ulang & merekomendasikan (word-of-mouth positif, lihat P12).

Disonansi Kognitif

Rasa tidak nyaman/ragu setelah keputusan besar dibuat — "apa saya salah pilih?" — terutama pada keputusan ekstensif & mahal.

Disonansi lumrah terjadi pada pembelian besar (rumah, motor) — pemasar meredakannya lewat konfirmasi purnajual, garansi, dan komunikasi lanjutan.

Hitung dari Nol #2: Model Diskonfirmasi Ekspektasi

Sebelum pakai aplikasi ojek daring, konsumen berekspektasi skor layanan 8,5 (skala 1–10, dari ulasan). Setelah dipakai, kinerja aktual dirasakan 7,0.

LangkahPerhitunganNilai
1. Ekspektasi sebelum pakaiDiketahui8,5
2. Persepsi kinerja aktualDiketahui7,0
3. Skor diskonfirmasi7,0 − 8,5−1,5
4. Interpretasi tandaSkor < 0 → kinerja di bawah ekspektasiDiskonfirmasi negatif
5. Dampak pada kepuasanDiskonfirmasi negatif →Ketidakpuasan
Skor Diskonfirmasi
−1,5
Negatif → berpotensi tidak puas & beralih ke aplikasi lain

Coba Sendiri: Ukur Magnitude Disonansi Kognitif

Geser harga produk, tingkat keterlibatan, dan kemudahan membatalkan keputusan, lalu amati seberapa besar disonansi yang muncul.

Coba Sendiri: Simulasi Skor Evaluasi Multiatribut

Geser bobot atribut (Harga, Kamera, Baterai) dan skor tiap merek, lalu amati bagaimana merek pemenang bisa berubah.

Bagian 3 dari 3
Heuristik dan Bias dalam Keputusan Konsumen
Konsumen jarang menghitung skor multiatribut secara sadar — sebagian besar keputusan sehari-hari memakai jalan pintas mental yang cepat namun rawan bias.

Heuristik: Jalan Pintas Mental dalam Keputusan

Availability

Menilai berdasarkan apa yang paling mudah diingat. Contoh: merek yang paling sering muncul di iklan TikTok terasa "paling populer".

Representativeness

Menilai produk dari kemiripan stereotip. Contoh: kemasan mirip produk mahal dianggap otomatis berkualitas tinggi.

Anchoring

Terpaku pada angka pertama yang dilihat. Contoh: harga coret "Rp 500.000 → Rp 199.000" membuat Rp 199.000 terasa sangat murah.

Heuristik bukan berarti konsumen "bodoh" — ini adaptasi wajar otak agar tidak kelelahan menghitung setiap keputusan kecil secara detail.

Bias Kognitif Umum dalam Konsumsi

Framing Effect
90%
vs "10% gagal"
"Sukses 90%" terasa lebih meyakinkan daripada "gagal 10%" — walau maknanya identik.
Status Quo Bias
Tetap
Enggan berubah
Konsumen cenderung bertahan pada merek/paket lama meski pilihan baru objektif lebih baik.
Choice Overload
Terlalu Banyak
Pilihan berlebih
Terlalu banyak varian (mis. 50 jenis mi instan) justru membuat konsumen menunda/batal beli.

Implikasi bagi Strategi Pemasaran di Tiap Tahap

Tahap KeputusanPeluang Intervensi Pemasar
Pengenalan kebutuhanIklan yang menyoroti gap nyata (bukan manipulatif)
Pencarian informasiSEO, ulasan positif, konten edukatif — agar masuk evoked set
Evaluasi alternatifTabel perbandingan fitur, sorot atribut unggulan (kompensatori)
Keputusan pembelianKurangi friksi checkout, atasi kekhawatiran situasional (garansi, gratis ongkir)
Pasca-pembelianKonfirmasi pembelian, layanan purnajual — redakan disonansi

Studi Kasus: Perjalanan Keputusan Beli di Shopee

Sebelum Flash Sale
  • Notifikasi push "Flash Sale 12.12" memicu pengenalan kebutuhan
  • Konsumen buka aplikasi, cek ulasan & rating penjual (pencarian eksternal)
  • Bandingkan 3–4 toko dengan produk serupa (evoked set)
Saat & Setelah Checkout
  • Hitung mundur waktu (urgensi) & stok terbatas → percepat keputusan
  • Gratis ongkir & ShopeePay cashback → kurangi friksi checkout
  • Fitur "Beri Ulasan" pasca-terima barang → kelola pasca-pembelian
Perhatikan: hampir seluruh lima tahap model kita hadir secara eksplisit dalam desain UX satu aplikasi e-commerce.

Latihan: Diskusi Kelompok Kecil (10 Menit)

Instruksi
  • Berkelompok 3–4 orang. Pilih satu produk yang baru-baru ini dibeli salah satu anggota kelompok.
  • Petakan pembelian tersebut ke lima tahap model keputusan — identifikasi apa yang terjadi di tiap tahap.
  • Diskusikan: apakah ada heuristik atau bias (availability, anchoring, framing, dll.) yang memengaruhi keputusan itu?
  • Siap-siap 1 kelompok akan diminta presentasi singkat 2 menit.
Fokus latihan: melatih kemampuan menganalisis proses keputusan nyata, bukan menghakimi pilihan teman.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan 8

Rangkuman Hari Ini
  • Lima tahap: pengenalan kebutuhan → pencarian informasi → evaluasi alternatif → keputusan pembelian → pasca-pembelian
  • Model multiatribut kompensatori menghitung skor merek secara sistematis
  • Tipe keputusan (rutin/terbatas/ekstensif) tergantung tingkat keterlibatan
  • Heuristik & bias (availability, anchoring, framing, status quo) sering menyimpangkan keputusan "rasional"
Minggu Depan (P8)
Pasca-Beli
Pembelian, Penggunaan, Pembuangan Produk
Tugas: catat 1 pengalaman pasca-pembelian Anda sendiri (puas/kecewa) untuk bahan diskusi minggu depan.

📖 Baca juga: Dcf Valuation — penjelasan mendalam dan contoh numerik.