stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-13
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 13: Struktur dan Kultur Organisasi
Program Studi Manajemen • FEB

Perilaku Keorganisasian

Pertemuan 13 — Struktur dan Kultur Organisasi

Bagaimana organisasi mendesain "kerangka tubuhnya" (struktur) dan menumbuhkan "kepribadiannya" (kultur) — dua hal yang bersama-sama menentukan cara orang bekerja, berkomunikasi, dan berperilaku etis di dalamnya.

RPS MINGGU 14 • 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Pertemuan ini menghubungkan seluruh materi individu & kelompok sebelumnya dengan desain organisasional sebagai wadah tempat semua perilaku itu terjadi. Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:

Struktur Organisasi
  • Menjelaskan 6 elemen kunci desain struktur organisasi
  • Membedakan struktur mekanistik vs organik dan kapan masing-masing cocok
  • Mengenali model struktur kontemporer (tim, matriks, boundaryless, virtual)
Kultur Organisasi
  • Menjelaskan fungsi dan karakteristik kultur organisasi
  • Menganalisis bagaimana kultur diciptakan, dipertahankan, dan ditransmisikan
  • Merancang langkah menciptakan kultur etikal dan inklusif di organisasi
Bagian 1 dari 3
Elemen Kunci Desain Struktur Organisasi
Enam pertanyaan dasar yang harus dijawab manajer saat merancang "kerangka tubuh" organisasi.

Struktur Organisasi: Enam Elemen Kunci

Struktur organisasi menjelaskan bagaimana tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal (Robbins & Judge, 2015). Enam elemen yang harus diputuskan manajer:

1–2
  • Spesialisasi kerja — sejauh mana tugas dipecah jadi pekerjaan terpisah
  • Departementalisasi — dasar pengelompokan pekerjaan
3–4
  • Rantai komando — garis wewenang dari atas ke bawah
  • Rentang kendali — jumlah bawahan yang efektif diawasi
5–6
  • Sentralisasi/desentralisasi — letak titik pengambilan keputusan
  • Formalisasi — sejauh mana aturan & prosedur dibakukan

Spesialisasi Kerja

Spesialisasi kerja (division of labor) adalah sejauh mana tugas dalam organisasi dipecah menjadi pekerjaan-pekerjaan terpisah. Contoh klasik: lini produksi McDonald's atau pabrik Indofood — satu orang menggoreng, satu orang mengemas, satu orang mengantar ke rak.

Kelebihan (dosis wajar)
  • Efisiensi tinggi — karyawan cepat mahir di tugas sempit
  • Biaya pelatihan lebih rendah per posisi
  • Mudah merekrut pengganti untuk tugas sederhana
Risiko (dosis berlebihan)
  • Kebosanan, kelelahan, stres, rendahnya produktivitas
  • Ketidakpuasan kerja & turnover tinggi
  • Solusi: perluasan (job enlargement) & pengayaan kerja (job enrichment)

Departementalisasi: Dasar Pengelompokan Kerja

Setelah pekerjaan dipecah, ia harus dikelompokkan kembali supaya tugas yang serupa dapat dikoordinasikan. Lima dasar pengelompokan yang umum:

Dasar DepartementalisasiContoh PengelompokanContoh Perusahaan
FungsiProduksi, Pemasaran, Keuangan, SDMSebagian besar BUMN
ProdukDivisi Sepeda Motor vs MobilAstra International
GeografisWilayah Jawa, Sumatra, Indonesia TimurBank BRI (jaringan cabang)
ProsesUnit Pemotongan → Penjahitan → FinishingPabrik garmen ekspor
PelangganRitel vs Korporat vs UMKMBank BCA (segmen nasabah)
Organisasi besar sering memakai kombinasi beberapa dasar sekaligus — misalnya Bank BCA mengelompokkan berdasarkan fungsi di kantor pusat, tetapi geografis untuk jaringan cabang.

Rantai Komando dan Rentang Kendali

Rantai Komando (Chain of Command)
  • Garis wewenang tak terputus dari puncak organisasi ke level terbawah
  • Menjawab: "Kalau ada masalah, saya lapor ke siapa?"
  • Terkait kesatuan komando (unity of command) — idealnya satu bawahan hanya punya satu atasan langsung
Rentang Kendali (Span of Control)
  • Jumlah bawahan yang dapat diarahkan seorang manajer secara efektif
  • Rentang lebar → organisasi lebih datar, hemat biaya, butuh karyawan lebih mandiri
  • Rentang sempit → pengawasan lebih ketat, tapi struktur lebih tinggi & mahal

Sentralisasi, Desentralisasi, dan Formalisasi

Sentralisasi vs Desentralisasi
  • Sentralisasi: keputusan terkonsentrasi di manajemen puncak — cepat konsisten, lambat responsif ke lapangan
  • Desentralisasi: keputusan didelegasikan ke level lebih bawah — lebih cepat merespons masalah lokal, memberdayakan karyawan
Formalisasi
  • Sejauh mana pekerjaan dalam organisasi dibakukan lewat aturan & prosedur tertulis (SOP)
  • Formalisasi tinggi — sedikit ruang keleluasaan (mis. perbankan karena regulasi OJK ketat)
  • Formalisasi rendah — karyawan bebas menentukan cara kerja (mis. tim kreatif agensi digital)

Dua Model Umum: Mekanistik vs Organik

Kombinasi keenam elemen menghasilkan dua model desain yang berlawanan:

Struktur MekanistikSpesialisasi tinggi • formalisasi tinggiRentang kendali sempit • sentralisasiRantai komando panjang & kakuCocok untuk: lingkungan stabil,tugas rutin, efisiensi jadi prioritasContoh: pabrik manufaktur besar,birokrasi pemerintahanStruktur OrganikSpesialisasi rendah • formalisasi rendahRentang kendali lebar • desentralisasiJaringan komunikasi fleksibelCocok untuk: lingkungan dinamis,inovasi & adaptasi jadi prioritasContoh: start-up teknologi,tim riset & pengembangan

Model Struktur Kontemporer

Selain model tradisional (fungsional, divisional), organisasi modern mengadopsi model yang lebih fleksibel:

Struktur Tim
  • Seluruh organisasi tersusun dari tim kerja
  • Karyawan diberdayakan mengambil keputusan operasional
  • Hilangkan hambatan antardepartemen tradisional
Struktur Matriks
  • Karyawan lapor ke dua atasan: manajer fungsional & manajer proyek
  • Efisien untuk proyek lintas-fungsi (mis. agensi konsultan)
  • Kelemahan: potensi konflik wewenang ganda
Boundaryless & Virtual
  • Meminimalkan rantai komando & batas departemen/geografis
  • Organisasi virtual: inti kecil, banyak fungsi di-outsource
  • Contoh: perusahaan rintisan digital dengan tim remote lintas kota
Bagian 2 dari 3
Kultur Organisasi: "Kepribadian" Perusahaan
Bagaimana nilai bersama membentuk cara berperilaku karyawan — dan bagaimana nilai itu diwariskan dari generasi ke generasi karyawan.

Apa Itu Kultur Organisasi?

Kultur organisasi adalah sistem makna bersama yang dipegang anggota, yang membedakan satu organisasi dari organisasi lain (Robbins & Judge, 2015). Tujuh karakteristik utama yang menangkap esensi kultur:

Inovasi & risiko
Sejauh mana karyawan didorong inovatif & berani ambil risiko
Perhatian detail
Sejauh mana karyawan diharapkan presisi & analitis
Orientasi hasil
Fokus manajemen pada hasil, bukan sekadar proses

Empat karakteristik lain: orientasi orang, orientasi tim, keagresifan (kompetitif vs santai), dan stabilitas (mempertahankan status quo vs pertumbuhan).

Bagaimana Kultur Terbentuk: Dua Walkthrough

Kultur tidak muncul begitu saja — ia melalui proses bertahap. Mari kita telusuri dua jalur pembentukannya:

Walkthrough 1: Asal-Usul Kultur
  • 1. Filosofi pendiri (mis. visi Nadiem Makarim saat mendirikan Gojek: kecepatan & dampak sosial)
  • 2. Kriteria seleksi karyawan menyaring orang yang cocok dengan filosofi itu
  • 3. Manajemen puncak menetapkan norma perilaku lewat tindakan sehari-hari
  • 4. Sosialisasi membantu karyawan baru beradaptasi ke kultur yang sudah ada
Walkthrough 2: Bagaimana Karyawan Mempelajari Kultur
  • 1. Cerita — kisah pendiri/krisis masa lalu yang diwariskan (mis. cerita krisis moneter 1998 di bank lama)
  • 2. Ritual — upacara berulang yang menegaskan nilai inti (town hall, employee of the month)
  • 3. Simbol material — tata ruang kantor, fasilitas, cara berpakaian
  • 4. Bahasa — istilah/jargon internal yang menandai keanggotaan kelompok

Kultur Kuat vs Lemah, dan Fungsinya

Kultur Kuat
  • Nilai inti dipegang secara intens & dianut luas oleh anggota
  • Pengaruh besar pada perilaku — karyawan tahu cara bersikap tanpa perlu SOP tertulis
  • Menurunkan turnover karena keselarasan tujuan tinggi
Fungsi Kultur bagi Organisasi
  • Menentukan batas & identitas yang membedakan dari organisasi lain
  • Membangun rasa memiliki (sense of belonging)
  • Meningkatkan stabilitas sistem sosial & menjadi mekanisme pemberi makna
  • Sebagai mekanisme kontrol yang membentuk sikap & perilaku karyawan
Sisi gelap: kultur yang terlalu kuat bisa menjadi penghalang perubahan jika lingkungan bisnis bergeser cepat — misalnya perusahaan ritel tradisional yang lambat beradaptasi ke e-commerce.

Siklus Penciptaan dan Pemeliharaan Kultur

FilosofiPendiriKriteriaSeleksiManajemenPuncakSosialisasiKaryawan BaruProses berulang setiap ada karyawan baru — kultur bertahan lintas generasi

Menciptakan Kultur Organisasi yang Etikal

Kultur yang paling mendukung standar etika tinggi memiliki toleransi risiko tinggi, agresivitas rendah, dan fokus pada cara (means) sekaligus hasil (ends). Langkah manajer membangun kultur etikal:

LangkahContoh PenerapanTujuan
1. Jadi teladan yang tampakPimpinan menolak suap proyek pengadaanMenunjukkan konsistensi kata & tindakan
2. Komunikasikan ekspektasi etisKode etik tertulis & disosialisasikan rutinMengurangi ambiguitas moral
3. Sediakan pelatihan etikaWorkshop dilema etis tahunanMembangun kapasitas pengambilan keputusan
4. Beri penghargaan & sanksi jelasWhistleblower dilindungi, pelanggar ditindakMenegakkan konsekuensi nyata
5. Sediakan mekanisme perlindunganSaluran pelaporan rahasia (whistleblowing system)Mendorong keberanian melapor
Bagian 3 dari 3
Kultur Inklusif & Studi Kasus Indonesia
Bagaimana struktur dan kultur bekerja bersama-sama di organisasi Indonesia yang Anda kenal.

Kultur yang Mendukung Diversitas & Inklusi

Mengingat kembali Pertemuan 2 tentang diversitas — kultur organisasi berperan besar menentukan apakah keberagaman menjadi kekuatan atau justru sumber konflik tersembunyi. Ciri kultur inklusif:

Praktik yang Mendukung
  • Kepemimpinan yang beragam & representatif di semua level
  • Struktur seleksi & promosi berbasis kompetensi, bebas bias
  • Kebijakan kerja fleksibel (mis. jam kerja untuk karyawan dengan anak kecil)
Contoh Konteks Indonesia
  • Perbankan syariah mengakomodasi nilai keagamaan dalam kultur kerja
  • Perusahaan multinasional di Indonesia menyesuaikan kultur global dengan norma lokal
  • UMKM keluarga bertransformasi kultur saat generasi kedua mengambil alih manajemen

Latihan: Diagnosis Struktur & Kultur Organisasi

Kerjakan secara berkelompok (4–5 orang), waktu 15 menit, lalu presentasikan singkat.

Instruksi
  • Pilih satu organisasi yang Anda kenal (kampus, tempat magang, bisnis keluarga, atau perusahaan publik seperti BCA/Gojek/Indofood)
  • Petakan enam elemen struktur organisasinya (spesialisasi, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi, formalisasi)
  • Identifikasi tiga karakteristik kultur yang paling menonjol dari tujuh karakteristik yang sudah dipelajari
  • Simpulkan: apakah struktur & kultur organisasi tersebut sudah saling mendukung, atau justru bertentangan? Berikan alasan
Siapkan satu juru bicara per kelompok untuk presentasi 2 menit di depan kelas.

Ringkasan & Menuju Pertemuan Berikutnya

Poin Kunci Hari Ini
  • Struktur = enam elemen desain formal yang harus diputuskan manajer
  • Kultur = sistem makna bersama yang membentuk perilaku tanpa aturan tertulis
  • Keduanya harus selaras dengan strategi & lingkungan bisnis organisasi
  • Kultur etikal & inklusif dibangun lewat teladan & mekanisme konsisten, bukan slogan
Menuju Pertemuan 14
  • Topik: Perubahan Organisasi dan Manajemen Stres
  • Struktur & kultur yang kita pelajari hari ini adalah objek utama yang berubah saat organisasi bertransformasi
  • Baca ulang catatan Pertemuan 10 (Kepemimpinan) sebagai jembatan ke topik perubahan