‹ Daftar slidePertemuan 8: Fondasi Perilaku Kelompok dan Tim Kerja
Program Studi Manajemen • FEB
Perilaku Keorganisasian
Pertemuan 8 — Fondasi Perilaku Kelompok dan Tim Kerja
Dari kumpulan orang menjadi kelompok yang solid: tahapan terbentuknya kelompok, peran-norma-status yang mengaturnya, dinamika pengambilan keputusan bersama, hingga langkah pertama menuju tim kerja yang efektif.
RPS MINGGU 9 • 2×50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan bagaimana kelompok terbentuk, diatur, dan mengambil keputusan bersama. Secara rinci:
CAPAIAN 1
TAHAPAN
Menjelaskan tahapan perkembangan kelompok dari kumpulan orang asing menjadi kelompok yang matang.
CAPAIAN 2
PROPERTI
Menganalisis peran, norma, status, ukuran, dan kohesivitas yang membentuk perilaku anggota kelompok.
CAPAIAN 3
KEPUTUSAN
Membandingkan keputusan kelompok vs individu, termasuk risiko groupthink dan teknik memperbaikinya.
CAPAIAN 4
TIM KERJA
Membedakan kelompok kerja biasa dari tim kerja efektif serta faktor yang membentuknya.
Mengapa Kumpulan Orang Pintar Saja Tidak Cukup?
Riset Project Aristotle Google terhadap ratusan tim internal menemukan: bukan kumpulan individu terpintar yang paling produktif, melainkan kelompok dengan norma kerja jelas dan rasa aman untuk bicara.
KASUS 1
TIM BINTANG
Lima analis terbaik dikumpulkan tanpa membangun aturan main bersama — saling menyalip, kinerja tim mengecewakan.
KASUS 2
TIM SOLID
Lima anggota rata-rata tapi punya peran dan norma jelas sejak awal — hasil kerja lebih konsisten.
HASIL
PARADOKS
Kualitas individu penting, tapi bagaimana kelompok itu berproses yang menentukan hasil akhir.
Perilaku Keorganisasian menyebut fenomena ini group dynamics — perilaku kelompok tidak sekadar penjumlahan perilaku anggotanya satu per satu.
Bagian 1 dari 3
Kelompok & Tahapan Perkembangannya
Apa itu kelompok, kenapa manusia berkelompok, dan bagaimana kelompok berkembang dari kumpulan orang asing menjadi kelompok yang matang.
Kelompok Formal vs Informal, dan Kenapa Kita Berkelompok
Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung untuk mencapai tujuan tertentu.
Kelompok Formal
Ditetapkan struktur organisasi — tugas dan anggota ditentukan perusahaan.
Kelompok komando: atasan & bawahan sesuai bagan organisasi (misal: manajer cabang BBCA & tim tellernya).
Kelompok tugas: dibentuk untuk proyek tertentu, bubar setelah selesai.
Kelompok Informal
Terbentuk alami, tidak diatur struktur organisasi.
Kelompok minat: karyawan yang sama-sama hobi lari pagi atau sama fakultas asal.
Kelompok persahabatan: terbentuk dari kedekatan personal, bukan tugas.
Kenapa manusia berkelompok: kebutuhan rasa aman, status, harga diri, afiliasi (rasa memiliki), kekuatan, dan pencapaian tujuan yang tak bisa dicapai sendirian.
Lima Tahap Perkembangan Kelompok (Model Tuckman)
Hampir semua kelompok baru melewati tahapan yang dapat diprediksi ini sebelum bekerja optimal.
Untuk kelompok temporer berbatas waktu (misal panitia acara kampus), urutannya bisa berbeda — model punctuated equilibrium: santai di awal, lalu kerja intensif menjelang tenggat.
Peran (Role) yang Dimainkan Setiap Anggota
Setiap anggota kelompok memainkan seperangkat pola perilaku yang diharapkan dari posisinya — dan ketegangan antar-peran ini sering jadi sumber gesekan.
ROLE PERCEPTION
PERSEPSI PERAN
Bagaimana saya sendiri memahami cara bertindak di posisi ini.
ROLE EXPECTATION
EKSPEKTASI PERAN
Bagaimana orang lain (atasan, rekan tim) mengharapkan saya bertindak.
ROLE CONFLICT
KONFLIK PERAN
Muncul saat beberapa ekspektasi peran bertentangan satu sama lain.
Contoh nyata: seorang team leader UMKM diharapkan bersikap tegas oleh pemilik usaha, tapi diharapkan tetap "seperti teman" oleh rekan kerja lamanya — inilah konflik peran.
Empat "aturan tak tertulis" yang diam-diam mengatur bagaimana anggota kelompok berperilaku sehari-hari.
Norma Kelompok dan Tekanan untuk Konform
Norma adalah standar perilaku yang diterima bersama dalam kelompok — sering tidak tertulis, tapi kuat mengikat.
Norma yang kuat bisa membuat individu mengabaikan penilaian objektifnya sendiri hanya demi selaras dengan kelompok.
Hitung dari Nol: Ukuran Kelompok dan Social Loafing
Kasus (mengikuti pola eksperimen tarik-tambang Ringelmann): total tenaga kelompok diukur, lalu dibagi jumlah anggota untuk melihat rata-rata kontribusi per orang dibanding baseline satu orang.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Baseline: total tenaga 1 orang menarik tambang sendirian
ditetapkan sebagai 100%
80 kg = 100%
2. Rata-rata tenaga per orang — kelompok 2 orang (total 148 kg)
148 ÷ 2
74 kg/orang
3. Persentase terhadap baseline — kelompok 2 orang
74 ÷ 80 × 100%
92,5%
4. Rata-rata tenaga per orang — kelompok 4 orang (total 240 kg)
240 ÷ 4
60 kg/orang
5. Persentase terhadap baseline — kelompok 4 orang
60 ÷ 80 × 100%
75%
6. Rata-rata tenaga per orang — kelompok 8 orang (total 352 kg)
352 ÷ 8
44 kg/orang
7. Persentase terhadap baseline — kelompok 8 orang
44 ÷ 80 × 100%
55%
SOCIAL LOAFING
100% → 55% saat kelompok membesar dari 1 ke 8 orang
Coba Sendiri: Perbesar Kelompok, Amati Social Loafing & Tahap Tim
Geser ukuran kelompok untuk melihat penurunan kontribusi per orang, dan jelajahi kelima tahap perkembangan kelompok model Tuckman.
Kohesivitas Kelompok: Bukan Selalu Baik untuk Produktivitas
Kohesivitas adalah tingkat keeratan anggota kelompok dan motivasi mereka untuk tetap bersama — dampaknya terhadap produktivitas bergantung pada norma kinerja yang berlaku.
Kohesivitas
Norma Kinerja
Dampak pada Produktivitas
Tinggi
Tinggi (kerja keras dihargai)
Produktivitas meningkat besar
Tinggi
Rendah (santai dianggap wajar)
Produktivitas menurun besar
Rendah
Tinggi
Produktivitas meningkat, tapi lebih sedikit
Rendah
Rendah
Produktivitas hampir tidak terpengaruh
Kelompok yang sangat kompak dengan norma "kerja santai asal aman" justru lebih produktif rendah daripada kelompok yang kurang akrab tapi berorientasi kinerja.
Bagian 3 dari 3
Pengambilan Keputusan Kelompok & Menuju Tim Kerja
Kapan keputusan kelompok lebih unggul dari individu, jebakan groupthink, dan langkah pertama membangun tim kerja efektif.
Keputusan Kelompok vs Keputusan Individu
Tidak ada yang selalu lebih unggul — pilihannya bergantung pada jenis masalah, waktu, dan risiko yang dihadapi.
Keunggulan Keputusan Kelompok
Informasi lebih lengkap — banyak perspektif & keahlian tergabung.
Legitimasi lebih tinggi — keputusan lebih mudah diterima & dijalankan bersama.
Akurasi lebih baik untuk masalah kompleks yang butuh berbagai sudut pandang.
Keunggulan Keputusan Individu
Lebih cepat — tidak perlu koordinasi & rapat.
Tanggung jawab jelas — tidak "menyebar" ke banyak pihak.
Cocok untuk keputusan mendesak yang tak sempat dibahas bersama.
Dua Jebakan Keputusan Kelompok: Groupthink & Groupshift
Groupthink
Tekanan untuk konsensus membungkam pandangan kritis/berbeda demi keharmonisan kelompok.
Anggota merasa kelompok "tidak mungkin salah".
Keraguan pribadi disimpan sendiri, tidak disuarakan.
Muncul ilusi bulat suara padahal tak semua sepakat.
Groupshift
Diskusi kelompok membuat posisi awal anggota jadi lebih ekstrem dari sebelum diskusi.
Kelompok yang cenderung hati-hati jadi lebih konservatif.
Kelompok yang cenderung berani jadi lebih berisiko.
Rasa tanggung jawab "menyebar", tak ada yang merasa paling salah.
Contoh: komite investasi yang sudah kompak sejak awal mengabaikan data risiko sebuah obligasi korporasi karena tidak ada anggota yang berani "merusak" kesepakatan bersama.
Hitung dari Nol: Teknik Kelompok Nominal (NGT)
Kasus: 5 anggota tim pengembangan usaha UMKM merangking diam-diam 4 ide perbaikan layanan (skor 4=prioritas tertinggi, 1=terendah) sebelum diskusi terbuka — menghindari groupthink.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total skor Ide A "Pelatihan digital marketing" (skor tiap anggota: 4,3,4,3,4)
4+3+4+3+4
18 poin
2. Total skor Ide B "Perluasan akses kredit UMKM" (3,4,3,4,2)
3+4+3+4+2
16 poin
3. Total skor Ide C "Sertifikasi produk halal/BPOM" (2,2,1,2,3)
2+2+1+2+3
10 poin
4. Total skor Ide D "Program mentoring bisnis" (1,1,2,1,1)
1+1+2+1+1
6 poin
5. Cek total (5 anggota × 10 poin rank per orang)
18+16+10+6
50 poin
6. Ide dengan skor tertinggi jadi prioritas kelompok
18 poin (tertinggi)
Ide A terpilih
KUNCI NGT
Rangking individual DULU, diskusi & pengaruh sosial BELAKANGAN
Dari Kelompok Kerja Menuju Tim Kerja
Tidak semua kelompok otomatis menjadi tim — perbedaannya terletak pada tujuan, sinergi, dan akuntabilitas.
Aspek
Kelompok Kerja
Tim Kerja
Tujuan
Berbagi informasi, tiap anggota mengejar target sendiri
Kinerja kolektif, satu tujuan bersama
Sinergi
Netral, kadang negatif (saling menghambat)
Positif — hasil bersama > jumlah usaha individu
Akuntabilitas
Individual saja
Individual dan bersama (kolektif)
Keterampilan
Acak, tidak dirancang saling melengkapi
Sengaja dirancang saling melengkapi
Semua tim adalah kelompok, tapi tidak semua kelompok adalah tim — mengubah kelompok jadi tim butuh tujuan bersama yang jelas dan akuntabilitas kolektif yang disepakati.
Jenis-Jenis Tim Kerja & Faktor Efektivitasnya
PROBLEM-SOLVING
TIM PEMECAH MASALAH
5-12 orang dari departemen sama, bertemu berkala membahas cara memperbaiki proses/kualitas.
SELF-MANAGED
TIM SWAKELOLA
10-15 orang, mengambil alih tugas yang dulu jadi tanggung jawab supervisor.
CROSS-FUNCTIONAL
TIM LINTAS FUNGSI
Anggota dari berbagai departemen (produksi, pemasaran, keuangan) untuk satu proyek bersama.
VIRTUAL
TIM VIRTUAL
Terhubung teknologi (video call, kolaborasi daring), lokasi fisik terpisah.
Tim efektif = konteks yang mendukung (sumber daya, kepemimpinan) + komposisi anggota yang tepat + proses kerja yang sehat (tujuan jelas, kepercayaan, minim konflik disfungsional).
Latihan: Diagnosis Tahapan & Properti Kelompok
Kerjakan berkelompok (10 menit), lalu 3 kelompok akan diminta presentasi singkat ke kelas.
Kasus Singkat
Divisi baru "Layanan Digital UMKM" di sebuah bank daerah baru dibentuk 6 minggu lalu, beranggotakan 7 orang dari latar belakang berbeda (IT, kredit, pemasaran). Rapat mingguan sering diwarnai perdebatan soal siapa yang berwenang memutuskan fitur aplikasi, dan dua anggota mulai jarang bicara di rapat karena pendapatnya kerap dipatahkan anggota senior.
PERTANYAAN 1
Tim ini sedang berada di tahap Tuckman apa? Sebutkan tanda-tanda yang mendukung jawaban Anda.
PERTANYAAN 2
Properti kelompok apa (peran/norma/status) yang perlu dibenahi agar dua anggota itu berani bicara lagi?
Rangkuman: Fondasi Perilaku Kelompok dan Tim Kerja
Topik
Inti yang Perlu Diingat
Tahapan kelompok
Forming → Storming → Norming → Performing → (Adjourning); kelompok temporer ikuti pola punctuated equilibrium
Peran
Persepsi & ekspektasi peran yang tidak sejalan memicu konflik peran
Norma & status
Norma mengikat kuat (efek konformitas Asch); status memengaruhi siapa lebih didengar
Ukuran & kohesivitas
Kelompok besar rentan social loafing; kohesivitas hanya baik bila norma kinerjanya juga baik
Keputusan kelompok
Waspadai groupthink & groupshift; teknik NGT memisahkan rangking individual dari diskusi
Kelompok vs tim
Tim butuh tujuan bersama, sinergi positif, dan akuntabilitas kolektif — tidak otomatis terbentuk sendiri
Satu kalimat kunci: kelompok tidak otomatis menjadi tim — dibutuhkan tahapan yang dilalui dengan sehat, norma yang dirancang sengaja, dan proses keputusan yang menjaga ruang bagi suara berbeda.
Sebelum Pertemuan Berikutnya
Minggu Depan (Pertemuan 9)
Kita masuk topik Komunikasi — fungsi, proses, saluran, dan hambatan komunikasi dalam organisasi, melanjutkan fondasi kelompok yang kita bahas hari ini.
TUGAS SEBELUM MINGGU DEPAN
1 HALAMAN
Tuliskan refleksi singkat: tahap Tuckman apa yang dialami kelompok tugas kuliah Anda saat ini, dan satu norma yang perlu diperbaiki agar kelompok lebih produktif.
Bawa refleksi ini ke pertemuan berikutnya — akan dikaitkan dengan pembahasan hambatan komunikasi dalam kelompok.