Pertemuan 7 — Motivasi: Teori Klasik, Kontemporer, dan Penerapannya
Pengertian motivasi, teori motivasi klasik dan kontemporer, integrasi teori kontemporer, serta penerapan model karakteristik pekerjaan, pelibatan pekerja, dan reward.
RPS MINGGU 7 • 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:
Sub-CPMK A
Definisi
Konsep dasar motivasi
Menjelaskan pengertian motivasi dan tiga elemen kuncinya: intensitas, arah, dan ketekunan usaha.
Sub-CPMK B
Teori
Klasik & kontemporer
Membandingkan teori motivasi klasik (Maslow, Herzberg, McGregor) dengan teori kontemporer (penetapan tujuan, self-efficacy, keadilan, harapan).
Sub-CPMK C
Integrasi
Model terpadu
Merangkai teori-teori kontemporer menjadi satu model integratif yang menjelaskan proses motivasi secara utuh.
Sub-CPMK D
Terapan
Desain pekerjaan & reward
Menerapkan model karakteristik pekerjaan, pelibatan pekerja, dan sistem reward untuk mendesain pekerjaan yang memotivasi.
Bagian 1 dari 4
Mengapa Motivasi Penting?
Pengertian motivasi dan mengapa topik ini menjadi salah satu yang paling dicari manajer di seluruh dunia.
Apa Itu Motivasi?
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan, khususnya tujuan organisasi.
Intensitas
Seberapa Keras
Seberapa besar usaha yang dikerahkan seseorang. Intensitas tinggi tanpa arah yang benar tidak menghasilkan kinerja baik.
Arah
Ke Mana
Usaha harus disalurkan ke arah yang menguntungkan organisasi, misalnya target penjualan, bukan sekadar sibuk.
Ketekunan
Berapa Lama
Berapa lama seseorang mampu mempertahankan usahanya sampai tujuan tercapai, bukan hanya semangat di awal saja.
Motivasi: Sifat Individu atau Situasi Kerja?
Motivasi bukan sifat pribadi yang tetap. Ia berubah sesuai interaksi antara individu dan situasi — sehingga level motivasi berbeda antarindividu dan berbeda pula pada individu yang sama di waktu berbeda.
Implikasi bagi manajer: karena situasi kerja bisa dirancang, manajer punya kendali nyata untuk meningkatkan motivasi karyawan — bukan sekadar "menunggu bakat alami" karyawan.
Bagian 2 dari 4
Teori Motivasi Klasik
Tiga teori awal (1950-an–1960-an) yang membentuk kosakata dasar motivasi — populer di kalangan praktisi, meski dukungan risetnya lemah.
Hierarki Kebutuhan Maslow
Abraham Maslow (1943) mengusulkan lima kebutuhan berjenjang: begitu satu tingkat terpenuhi cukup, kebutuhan di atasnya menjadi dominan.
Kritik: tidak ada dukungan bukti kuat bahwa kebutuhan tersusun rapi berjenjang seperti ini. Tetap populer karena logikanya mudah dipahami dan diajarkan.
Teori X-Y McGregor & Dua Faktor Herzberg
Douglas McGregor — Teori X vs Y
Teori X: asumsi karyawan tidak suka bekerja, malas, harus diawasi ketat dan dipaksa.
Teori Y: asumsi karyawan menganggap kerja alami seperti istirahat, mampu mengarahkan diri sendiri.
McGregor sendiri meyakini asumsi Teori Y lebih valid — mendasari praktik pelibatan pekerja (participative management) yang akan kita bahas di Bagian 4.
Frederick Herzberg — Teori Dua Faktor
Faktor higienis (gaji, kondisi kerja, kebijakan perusahaan): ketiadaannya bikin tidak puas, tapi kehadirannya TIDAK otomatis memotivasi.
Faktor motivator (pengakuan, tanggung jawab, pertumbuhan): sumber kepuasan dan motivasi sejati.
Implikasi: menaikkan gaji saja tidak cukup memotivasi jika pekerjaannya sendiri membosankan.
Bagian 3 dari 4
Teori Motivasi Kontemporer & Integrasinya
Empat teori dengan dukungan bukti riset lebih kuat, lalu dirangkai menjadi satu model integratif.
Teori Penetapan Tujuan (Goal-Setting)
Edwin Locke: tujuan yang spesifik dan menantang (sulit) menghasilkan kinerja lebih tinggi dibanding tujuan yang mudah atau sekadar imbauan "lakukan yang terbaik".
Kinerja tinggi = Tujuan Spesifik + Tujuan Menantang + Umpan Balik + Komitmen
Contoh: target sales "naikkan penjualan cabang 15% dalam 1 kuartal" lebih memotivasi daripada target "bekerja lebih giat".
Self-management goal setting: individu menetapkan tujuannya sendiri (bukan diberi atasan) — riset menunjukkan hasil yang setara atau lebih baik karena komitmen personal lebih tinggi.
Teori Efikasi Diri (Self-Efficacy)
Efikasi diri (istilah lain: teori kognitif sosial) adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu menjalankan suatu tugas. Semakin tinggi efikasi diri, semakin besar rasa percaya diri terhadap kesuksesan.
4 Cara Meningkatkan Efikasi Diri
Penguasaan aktif: pengalaman relevan sebelumnya (paling kuat).
Modeling: melihat orang lain berhasil melakukannya.
Bujukan verbal: diyakinkan bahwa diri mampu (motivasi lisan atasan).
Kondisi psikologis: tenang & bugar meningkatkan keyakinan diri.
Efek Pygmalion: harapan tinggi manajer terhadap bawahan dapat meningkatkan efikasi diri bawahan tersebut, yang lalu benar-benar meningkatkan kinerjanya nyata — "harapan menciptakan kenyataan".
Teori Keadilan Organisasional (Equity/Justice)
Karyawan membandingkan rasio input-output dirinya dengan orang lain yang relevan (rasio referen). Ketidakadilan yang dirasakan menimbulkan ketegangan yang mendorong perubahan perilaku.
Hasil Saya ÷ Usaha Saya vs Hasil Orang Lain ÷ Usaha Orang Lain
Keadilan Distributif
Kewajaran HASIL
Apakah jumlah & alokasi gaji/bonus dirasa adil dibanding rekan kerja.
Keadilan Prosedural
Kewajaran PROSES
Apakah proses penentuan keputusan (misalnya kenaikan pangkat) dirasa adil.
Keadilan Interaksional
Kewajaran PERLAKUAN
Apakah seseorang diperlakukan dengan martabat, dihormati, dan diberi informasi jujur.
Teori Harapan (Expectancy) — Victor Vroom
Kekuatan motivasi seseorang bergantung pada ekspektasi akan hasil tertentu dan daya tarik hasil tersebut baginya. Tiga hubungan berantai menentukan motivasi:
Jika salah satu hubungan lemah — misalnya karyawan yakin sekeras apa pun usahanya, penilaian atasan tetap subjektif dan tidak berdampak pada bonus (instrumentalitas rendah) — motivasi keseluruhan akan runtuh.
Model Integrasi Teori Motivasi Kontemporer
Keempat teori kontemporer bukan berdiri sendiri — mereka menjelaskan tahap berbeda dari satu alur proses motivasi yang sama.
Hitung dari Nol: Skor Motivasi Model Harapan
Model Vroom dapat disederhanakan sebagai perkalian tiga persepsi (skala 0–1): Motivasi = Ekspektansi × Instrumentalitas × Valensi. Kasus: seorang staf penjualan menilai ketiganya untuk target insentif kuartalan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Ekspektansi (yakin usaha → kinerja)
Staf yakin 80% usaha kerasnya akan tercapai target
0,80
2. Instrumentalitas (yakin kinerja → reward)
Staf yakin 70% capaian target akan dibayar insentif
0,70
3. Valensi (daya tarik reward bagi dirinya)
Insentif dinilai sangat menarik, skor 0,90 dari skala 0-1
0,90
4. Skor motivasi
0,80 × 0,70 × 0,90
0,504
Skor Motivasi
0,504
dari skala maksimum 1,0 — motivasi sedang
Karena perkalian, bila SALAH SATU dari tiga faktor mendekati nol (misalnya instrumentalitas rendah karena penilaian atasan dianggap subjektif), skor motivasi total ikut mendekati nol — walau dua faktor lain tinggi.
Coba Sendiri: Utak-atik Tiga Faktor Model Harapan Vroom
Geser ekspektansi, instrumentalitas, dan valensi, lalu amati bagaimana skor motivasi total berubah secara perkalian, bukan penjumlahan.
Bagian 4 dari 4
Menerapkan Motivasi di Tempat Kerja
Model karakteristik pekerjaan, pelibatan pekerja, dan program reward — cara nyata manajer merancang motivasi.
Model Karakteristik Pekerjaan (Hackman & Oldham)
Lima dimensi inti pekerjaan menentukan seberapa memotivasi suatu pekerjaan itu sendiri, terlepas dari besarnya gaji.
1–2
Variasi
Keahlian & Identitas
Ragam keterampilan yang dipakai, dan apakah pekerjaan menghasilkan produk utuh yang bisa dikenali, bukan potongan kecil tak jelas.
3
Signifikansi
Arti Penting Tugas
Seberapa besar dampak pekerjaan terhadap hidup atau pekerjaan orang lain di dalam maupun luar organisasi.
4–5
Otonomi & Umpan Balik
Kebebasan & Informasi Hasil
Kebebasan mengatur cara kerja sendiri, dan kejelasan informasi tentang seberapa baik hasil kerjanya.
Kelima dimensi ini memengaruhi motivasi lewat tiga keadaan psikologis: pekerjaan dirasa bermakna, karyawan merasa bertanggung jawab atas hasil, dan mengetahui hasil aktual dari pekerjaannya.
Hitung dari Nol: Skor Potensi Motivasi (MPS)
Motivating Potential Score menggabungkan lima dimensi jadi satu angka. Kasus: membandingkan pekerjaan kasir swalayan biasa vs. pekerjaan barista kedai kopi lokal (skala tiap dimensi 1–7).
Proses partisipatif yang menggunakan seluruh kapasitas karyawan dan dirancang untuk mendorong komitmen yang lebih besar terhadap keberhasilan organisasi. Berakar dari Teori Y McGregor.
Manajemen Partisipatif
Bawahan berbagi kekuasaan pengambilan keputusan secara signifikan dengan atasan langsung.
Contoh: keputusan jam operasional cabang toko ritel didiskusikan bersama seluruh karyawan cabang, bukan diputuskan sepihak oleh kantor pusat.
Lingkaran Kualitas (Quality Circle)
Kelompok kecil karyawan yang bertemu rutin membahas masalah kualitas, menyelidiki sebab, dan mengusulkan solusi ke manajemen.
Populer di industri manufaktur otomotif seperti pabrik komponen Astra.
Riset menunjukkan pelibatan pekerja punya hubungan positif dengan kepuasan kerja — tetapi hubungannya dengan produktivitas cenderung sedang, bukan otomatis besar. Konteks budaya organisasi menentukan efektivitasnya.
Merancang Program Reward yang Memotivasi
Sistem reward yang efektif menghubungkan bayaran dengan kinerja — sejalan dengan instrumentalitas dalam teori harapan yang sudah kita bahas.
Gaji Berbasis Kinerja (Variable Pay)
Bonus/Piece-rate: bayaran per unit hasil, umum di pekerjaan produksi.
Bagi hasil (profit-sharing): karyawan menerima bagian dari laba organisasi.
Bagi kepemilikan (ESOP): karyawan diberi opsi saham perusahaan.
Program Pengakuan (Recognition)
Pujian publik, sertifikat "karyawan terbaik bulan ini", ucapan Terima Kasih personal dari atasan.
Berbiaya rendah tetapi terbukti efektif — terhubung dengan faktor motivator Herzberg (pengakuan, bukan sekadar gaji).
Jebakan umum: reward tunai yang dijanjikan tapi cair terlambat atau prosesnya dianggap tidak transparan justru MERUSAK instrumentalitas dan keadilan prosedural — bisa menurunkan motivasi lebih jauh dibanding tanpa program reward sama sekali.
Studi Kasus: Merancang Ulang Tim Customer Service E-Commerce
Sebuah perusahaan e-commerce lokal mendapati tim layanan pelanggannya turnover tinggi dan skor kepuasan pelanggan rendah, meski gaji sudah sesuai standar UMR daerah.
Kondisi awal: tugas dibagi sepotong-sepotong (hanya menjawab template), tidak tahu hasil akhir keluhan pelanggan, tidak dilibatkan dalam evaluasi proses kerja, bonus dibagi rata tanpa kaitan kinerja individu.
Intervensi: setiap agen menangani kasus dari awal sampai tuntas (identitas tugas naik), diberi dashboard hasil real-time (umpan balik naik), dilibatkan rapat mingguan usulan perbaikan (pelibatan pekerja), bonus dikaitkan skor kepuasan pelanggan individu (instrumentalitas naik).
Diskusikan dalam kelompok kecil (5 menit): teori motivasi mana saja yang mendasari tiap langkah intervensi di atas? Siapkan satu juru bicara per kelompok.
Kuis Cepat: Uji Pemahaman Anda
Pertanyaan 1
Seorang karyawan sangat yakin usahanya akan menghasilkan kinerja bagus (ekspektansi tinggi), tapi ia sudah lama tahu bahwa promosi di kantornya selalu ditentukan kedekatan personal, bukan hasil kerja. Elemen teori harapan mana yang RENDAH pada kasus ini?
Pertanyaan 2
Sebuah pekerjaan diberi otonomi tinggi dan umpan balik jelas, tetapi variasi keahlian, identitas tugas, dan signifikansi tugasnya sangat rendah (skor rata-rata mendekati 0). Apa yang terjadi pada skor MPS-nya, dan mengapa?
Tuliskan jawaban singkat Anda, lalu kita bahas bersama sebelum lanjut ke rangkuman.
Rangkuman: Peta Teori Motivasi
Teori
Fokus Utama
Status Bukti Riset
Hierarki Kebutuhan Maslow
Kebutuhan berjenjang lima tingkat
Lemah — populer tapi kurang didukung riset
Teori X-Y McGregor
Asumsi dasar manajer tentang sifat karyawan
Konseptual — sulit diuji langsung
Dua Faktor Herzberg
Higienis (tak puas) vs motivator (puas)
Sedang — metodologi awal dikritik
Penetapan Tujuan (Locke)
Tujuan spesifik & menantang
Kuat — salah satu teori paling didukung
Efikasi Diri (Bandura)
Keyakinan mampu menjalankan tugas
Kuat
Keadilan Organisasional
Perbandingan rasio input-hasil dengan orang lain
Kuat
Harapan (Vroom)
Ekspektansi × Instrumentalitas × Valensi
Kuat
Rangkuman: Dari Teori ke Praktik Manajerial
Desain Pekerjaan
MPS
Perkaya variasi, identitas, signifikansi, otonomi, dan umpan balik tugas — bukan hanya menaikkan gaji.
Pelibatan Pekerja
Teori Y
Bagi wewenang keputusan dan bentuk lingkaran kualitas — mendorong komitmen, meski efek produktivitas sedang.
Reward
Instrumentalitas
Kaitkan bayaran dengan kinerja secara jelas dan tepat waktu — jaga keadilan prosedural saat mencairkannya.
Benang merah: manajer tidak menciptakan motivasi secara langsung — manajer merancang SITUASI (pekerjaan, keterlibatan, reward) yang memungkinkan motivasi individu tumbuh.
Menutup Pertemuan 7
Persiapan UTS (Minggu 8)
UTS mencakup Pertemuan 1–7: konsep dasar, diversitas, sikap & kepuasan kerja, emosi, kepribadian, persepsi, dan motivasi.
Fokus belajar: definisi kunci, perbandingan antarteori, dan kemampuan menghubungkan teori dengan kasus.
Tugas
Individu
Analisis kasus motivasi
Pilih satu tempat kerja yang Anda kenal (magang, kerja paruh waktu, usaha keluarga) dan analisis MPS-nya secara ringkas, dikumpulkan sebelum UTS.
Setelah UTS, kita beralih ke level kelompok dan organisasi: fondasi perilaku kelompok dan dinamika tim kerja (Pertemuan 9).