‹ Daftar slidePertemuan 6: Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individu
Program Studi Manajemen • FEB
Perilaku Keorganisasian
Pertemuan 6 — Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individu
Mengapa dua orang bisa melihat kejadian yang sama tapi menyimpulkan hal yang berbeda — dan bagaimana proses itu membentuk keputusan yang kita ambil setiap hari di tempat kerja.
RPS MINGGU 6 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Persepsi: Dasar dan Faktor Pembentuk
Bagaimana otak kita menyaring, mengorganisasi, dan menafsirkan apa yang kita lihat — serta mengapa penafsiran itu bisa keliru.
Apa Itu Persepsi?
Persepsi (perception) adalah proses individu mengorganisasi dan menafsirkan kesan indrawi mereka untuk memberi makna pada lingkungan sekitar.
Poin kunci: yang kita respons bukan realitas objektif, melainkan persepsi kita atas realitas itu — dan persepsi bisa jauh berbeda dari kenyataan.
TAHAP 1
SELEKSI
Otak menyaring stimulus mana yang diperhatikan — dari ribuan rangsangan, hanya sebagian yang "masuk".
TAHAP 2
ORGANISASI
Informasi yang terpilih disusun menjadi pola yang bermakna (dikelompokkan, dibandingkan).
TAHAP 3
INTERPRETASI
Pola tadi diberi makna — inilah titik paling rawan bias, sesuai pengalaman & ekspektasi masing-masing.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Tiga kelompok faktor menentukan bagaimana kita menafsirkan sesuatu — dan mengapa dua orang bisa menafsirkan target yang sama secara berbeda.
Contoh: karyawan yang datang terlambat satu kali saat banjir (situasi) dinilai berbeda dari yang rutin terlambat (pola pemersepsi mengenali sebagai kebiasaan).
Teori Atribusi (Attribution Theory)
Saat menilai perilaku orang lain, kita mencoba menentukan apakah penyebabnya internal (dalam kendali orang itu) atau eksternal (di luar kendalinya) — berdasarkan tiga petunjuk.
Distinctiveness rendah + Consensus rendah + Consistency tinggi → cenderung disimpulkan atribusi internal (sifat orangnya).
Dua Kesalahan Umum dalam Atribusi
FUNDAMENTAL ATTRIBUTION ERROR
Kecenderungan meremehkan pengaruh faktor eksternal dan melebih-lebihkan faktor internal saat menilai perilaku orang lain.
Supervisor menilai karyawan "malas" tanpa tahu ia baru saja kehilangan anggota keluarga.
Lebih sering terjadi saat menilai orang lain, bukan diri sendiri.
SELF-SERVING BIAS
Kecenderungan mengaitkan keberhasilan diri pada faktor internal, dan kegagalan diri pada faktor eksternal.
Sales berhasil capai target → "kerja keras saya".
Sales gagal capai target → "wilayah saya memang sulit".
Jalan Pintas dalam Menilai Orang Lain
Otak memakai jalan pintas (shortcut) agar penilaian lebih cepat — tapi sering mengorbankan akurasi.
SELECTIVE PERCEPTION
MENYARING SELEKTIF
Hanya menangkap info yang cocok dengan pandangan kita sebelumnya, sisanya diabaikan.
HALO EFFECT
EFEK HALO
Satu ciri positif (mis. rapi berpakaian) membuat kita menilai semua ciri lain juga positif.
CONTRAST EFFECT
EFEK KONTRAS
Menilai seseorang dengan membandingkan pada orang lain, bukan pada standar tetap.
STEREOTYPING
STEREOTIP
Menilai seseorang berdasarkan persepsi kita atas kelompok tempat ia berasal (usia, gender, daerah asal).
PROJECTION
PROYEKSI
Mengaitkan karakteristik diri sendiri pada orang lain — menganggap semua orang berpikir seperti kita.
Aplikasi Persepsi dalam Organisasi
WAWANCARA KERJA
Pewawancara membentuk kesan dalam menit pertama — kesan awal ini sering mempengaruhi seluruh sisa wawancara (halo effect).
EKSPEKTASI KINERJA
Self-fulfilling prophecy: ekspektasi rendah/tinggi dari atasan cenderung terwujud menjadi kenyataan pada bawahan.
EVALUASI KINERJA
Penilai memakai proses persepsi subjektif — rawan halo effect & stereotip, meski memakai formulir "objektif".
Implikasi untuk manajer: sadari bias ini saat merekrut, menetapkan target, atau menilai kinerja — gunakan kriteria tertulis & terstruktur untuk menguranginya.
Bagian 2 dari 3
Pengambilan Keputusan: Model dan Realita
Dari model rasional yang ideal, ke bounded rationality, intuisi, dan bias yang benar-benar terjadi di lapangan.
Model Pengambilan Keputusan Rasional
Model ideal berasumsi pengambil keputusan objektif penuh, logis, dan memaksimalkan nilai — melalui enam langkah berurutan.
Langkah
Isi
1. Definisikan masalah
Kenali kesenjangan antara kondisi saat ini & kondisi diinginkan
2. Identifikasi kriteria
Tentukan faktor apa yang relevan untuk keputusan ini
3. Timbang kriteria
Beri bobot pada tiap kriteria sesuai kepentingannya
4–5. Kembangkan & nilai alternatif
Susun opsi yang mungkin, lalu nilai tiap opsi terhadap kriteria
6. Pilih alternatif terbaik
Pilih opsi dengan nilai total tertinggi
Asumsi model ini jarang terpenuhi di dunia nyata: informasi selalu terbatas, waktu terbatas, dan kemampuan kognitif manusia terbatas.
Hitung dari Nol: Expected Value Ekspansi Usaha
Ibu Sari, pemilik UMKM katering di Semarang, mempertimbangkan membuka gerai kedua. Ia memakai expected value (nilai harapan) untuk membandingkan pilihan secara rasional.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Peluang sukses (ramai)
—
60%
Untung jika sukses
—
Rp 80.000.000
Kontribusi jika sukses
60% × Rp 80.000.000
Rp 48.000.000
Peluang gagal (sepi)
100% − 60%
40%
Rugi jika gagal
—
Rp 30.000.000
Kontribusi jika gagal
40% × Rp 30.000.000
Rp 12.000.000
EXPECTED VALUE EKSPANSI
Rp 36.000.000
Rp 48.000.000 − Rp 12.000.000 — positif, jadi secara model rasional layak dijalankan
Bounded Rationality dan Intuisi
Karena keterbatasan waktu, informasi, dan kemampuan kognitif, manusia mengambil keputusan dengan rasionalitas terbatas (Herbert Simon).
BOUNDED RATIONALITY
Membangun model masalah yang disederhanakan, lalu memilih alternatif pertama yang "cukup baik" (satisficing) — bukan opsi optimal absolut.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN INTUITIF
Proses bawah sadar yang muncul dari pengalaman yang mengendap — sering melengkapi (bukan menggantikan) analisis rasional.
Kahneman menyebutnya System 1 (cepat, intuitif, otomatis) vs System 2 (lambat, analitis, sadar) — keputusan sehari-hari didominasi System 1.
Bias dan Kesalahan Umum dalam Penilaian
OVERCONFIDENCE BIAS
Terlalu yakin pada keakuratan penilaian sendiri — sering menyebabkan tampak lebih kompeten dari kenyataan.
ANCHORING BIAS
Terpaku pada informasi awal (jangkar), lalu gagal menyesuaikan cukup jauh terhadap info baru — klasik dalam negosiasi harga.
CONFIRMATION BIAS
Mencari informasi yang menegaskan pilihan awal, mengabaikan informasi yang bertentangan.
AVAILABILITY BIAS
Menilai frekuensi kejadian berdasarkan seberapa mudah teringat — kejadian dramatis dianggap lebih sering terjadi.
Hitung dari Nol: Celah Kalibrasi Overconfidence
Seorang manajer di sebuah startup fintech mengisi kuis estimasi pasar dengan 20 soal. Kita hitung celah kalibrasi — selisih antara rasa percaya diri & akurasi sebenarnya.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Rata-rata tingkat keyakinan (self-report)
—
85%
Jumlah jawaban benar
—
11 dari 20 soal
Akurasi aktual
11 ÷ 20 × 100
55%
Celah kalibrasi
85% − 55%
30 poin persentase
KESIMPULAN
GAP 30 P.P.
Semakin besar celah, semakin kuat overconfidence — manajer ini jauh lebih yakin daripada seharusnya
Coba Sendiri: Ukur Celah Kalibrasi Overconfidence Anda
Geser tingkat keyakinan diri dan jumlah jawaban benar, lalu amati bagaimana celah kalibrasi berubah.
Escalation of Commitment: Kasus Bertahap
Kasus PT Maju Bersama menambah investasi pada proyek yang sudah menunjukkan tanda gagal — ikuti tahapan keputusannya.
Tahap
Kejadian
1. Investasi awal
PT Maju Bersama menanamkan Rp 2 miliar untuk sistem IT baru
2. Tanda peringatan
Setelah 6 bulan, sistem baru lambat, biaya membengkak 30%
3. Keputusan salah
Direksi menambah Rp 1,5 miliar lagi — alasan: "sudah terlanjur banyak dikeluarkan"
4. Hasil
Proyek tetap gagal 8 bulan kemudian — total kerugian Rp 3,5 miliar, bukan Rp 2 miliar
Kekeliruan direksi: menganggap biaya yang sudah dikeluarkan (sunk cost) sebagai alasan valid untuk terus melanjutkan — padahal biaya itu tidak bisa kembali apa pun keputusan berikutnya.
Bagian 3 dari 3
Perbedaan Individu, Etika, dan Kreativitas dalam Keputusan
Mengapa orang berbeda memutuskan hal yang sama secara berbeda, bagaimana menilai keputusan secara etis, dan bagaimana kreativitas ikut berperan.
Perbedaan Individu & Batasan Organisasional
PERBEDAAN INDIVIDU
Kepribadian: orang teliti (conscientiousness tinggi) cenderung lebih rentan pada escalation of commitment.
Gender: perempuan cenderung menganalisis keputusan lebih lama & reflektif.
Kemampuan mental: kecerdasan tinggi berkorelasi dengan kecepatan & akurasi keputusan.
Budaya: budaya kolektif (mis. Indonesia) cenderung mengutamakan konsensus kelompok.
BATASAN ORGANISASIONAL
Evaluasi kinerja: keputusan diarahkan oleh kriteria yang dipakai atasan menilai kita.
Sistem imbalan: apa yang dihargai organisasi membentuk apa yang "rasional" dipilih.
Regulasi baku (SOP): mengurangi pilihan individu demi konsistensi.
Tekanan waktu: tenggat ketat memaksa keputusan cepat, bukan optimal.
Etika dalam Pengambilan Keputusan
Tiga kriteria untuk menilai apakah sebuah keputusan etis — keputusan yang menguntungkan secara bisnis belum tentu etis.
KRITERIA 1
UTILITARIAN
Keputusan dinilai dari hasil/konsekuensinya — manfaat terbesar bagi jumlah orang terbanyak.
KRITERIA 2
HAK (RIGHTS)
Keputusan menghormati hak dasar semua pihak — privasi, kebebasan bicara, proses yang adil.
KRITERIA 3
KEADILAN (JUSTICE)
Keputusan membagi manfaat & beban secara adil — sesuai aturan yang berlaku merata.
Contoh dilema: PHK 50 karyawan untuk menyelamatkan 200 pekerjaan lain — utilitarian mendukung (manfaat lebih besar), tapi hak 50 karyawan yang di-PHK perlu tetap dihormati (pesangon, proses transparan).
Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Kreativitas memungkinkan kita menghasilkan ide baru & berguna — penting saat masalah tidak bisa diselesaikan hanya dengan prosedur baku.
1. KEAHLIAN (EXPERTISE)
Dasar dari setiap karya kreatif — pengetahuan teknis & pengalaman di bidang tertentu.
2. KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF
Kelenturan kognitif, kemampuan melihat masalah dari sudut pandang berbeda.
3. MOTIVASI INTRINSIK TUGAS
Keinginan menyelesaikan tugas karena menarik, menantang, memuaskan diri sendiri — bukan sekadar imbalan eksternal.
Contoh: Gojek menciptakan solusi "ojek daring" — menggabungkan keahlian transportasi lokal dengan cara berpikir baru soal aplikasi mobile, didorong motivasi menyelesaikan masalah kemacetan Jakarta.
Latihan Kelas & Rangkuman
Kerjakan berpasangan, 10 menit: ceritakan satu keputusan penting yang pernah Anda ambil (kuliah, kerja paruh waktu, keuangan pribadi), lalu identifikasi bersama pasangan Anda:
1
Bias/jalan pintas persepsi apa yang mungkin mempengaruhi keputusan itu?
2
Apakah keputusan itu lebih dekat ke model rasional, atau ke intuisi/satisficing?
3
Kalau bisa diulang, kriteria etis apa yang perlu lebih diperhatikan?
CHEAT SHEET — PERTEMUAN 6
Topik
Inti
Persepsi
Seleksi → organisasi → interpretasi; dipengaruhi pemersepsi, target, situasi
Atribusi
Internal vs eksternal; rawan fundamental attribution error & self-serving bias