stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-04
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 4: Emosi dan Suasana Hati
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Perilaku Keorganisasian

Pertemuan 4 — Emosi dan Suasana Hati

Mengapa karyawan yang sama bisa ramah kepada nasabah pagi hari, lalu tampak lelah dan datar sore harinya — dan apa yang bisa dilakukan manajer terhadap hal itu.

RPS MINGGU 4 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Dasar-Dasar Emosi dan Suasana Hati
Definisi, jenis, dimensi, dan sumber-sumber emosi serta mood di tempat kerja.

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan peran emosi dan suasana hati dalam perilaku organisasional. Secara rinci:

CAPAIAN 1
BEDAKAN
Membedakan affect, emotion, dan mood, serta mengenali enam emosi dasar universal.
CAPAIAN 2
SUMBER
Mengidentifikasi sumber-sumber emosi dan mood — dari kepribadian sampai jam tidur.
CAPAIAN 3
TERAPKAN
Menjelaskan Affective Events Theory dan menghitung ilustrasi biaya emosional di tempat kerja.
CAPAIAN 4
KELOLA
Menjelaskan kecerdasan emosional dan strategi manajerial mengelola emosi di tim kerja.

Kenapa Emosi Penting Dibahas di Kelas Manajemen?

Bayangkan seorang staf customer service Bank BCA menerima nasabah yang marah karena kartu ATM-nya tertelan mesin. Ia harus tetap tersenyum dan berbicara sopan — padahal di dalam hati ia sebenarnya kesal dan lelah.

FAKTA 1
BUKAN ROBOT
Karyawan bukan mesin rasional — emosi ikut memengaruhi setiap keputusan dan pelayanan di kantor.
FAKTA 2
BERDAMPAK
Mood karyawan memengaruhi kualitas layanan, kreativitas, kerja sama tim, dan bahkan angka penjualan.
FAKTA 3
BISA DIKELOLA
Organisasi yang memahami emosi karyawannya bisa merancang kebijakan yang menekan burnout dan turnover.
Selama puluhan tahun, ilmu manajemen sempat mengabaikan emosi dan menganggap tempat kerja seharusnya "rasional dan bebas emosi" — asumsi ini terbukti keliru dan justru merugikan organisasi yang menerapkannya.

Affect, Emotion, dan Mood: Tiga Istilah yang Berbeda

Affect (afek) adalah istilah payung untuk seluruh pengalaman perasaan manusia, mencakup dua bentuk yang lebih spesifik:

EMOTION (EMOSI)
INTENS & SINGKAT
Reaksi perasaan yang kuat, muncul karena peristiwa spesifik (mis. dimarahi atasan), dan biasanya berlangsung singkat — hitungan detik/menit.
MOOD (SUASANA HATI)
RINGAN & LAMA
Perasaan yang lebih lemah, sering tanpa penyebab jelas, tetapi bisa bertahan berjam-jam bahkan seharian.
Contoh: seorang karyawan Tokopedia merasa emosi marah (intens, singkat) saat sistem tiba-tiba error di depan pelanggan — tetapi setelah itu ia bisa terbawa dalam mood murung (ringan, lama) sepanjang sisa harinya.

Enam Emosi Dasar yang Bersifat Universal

Psikolog Paul Ekman menemukan enam emosi dasar yang dikenali lintas budaya — dari Indonesia sampai Amerika — melalui ekspresi wajah yang sama.

Bahagia(Happiness)Marah(Anger)Takut(Fear)Sedih(Sadness)Jijik(Disgust)Terkejut(Surprise)
Di tempat kerja, keenam emosi ini sering muncul dalam bentuk lebih halus — misalnya "jengkel" (variasi marah) atau "kecewa" (variasi sedih) — bukan selalu dalam bentuk ekstremnya.

Dua Dimensi Utama: Affect Positif dan Negatif

Seluruh emosi dan mood bisa dipetakan pada dua dimensi utama: Positive Affect (bersemangat, gembira) dan Negative Affect (gugup, tegang) — keduanya bukan kebalikan sederhana.

Menyenangkan →← Tidak MenyenangkanAktivasi TinggiAktivasi RendahPositive AffectBersemangat, antusiasNegative AffectGugup, tegang, cemasTenangPuas, rileksLesuBosan, murung, letih
Karyawan bisa berada di kuadran "Tenang" (positif tapi tidak menggebu) atau "Lesu" (negatif tapi tidak meledak-ledak) — inilah sebabnya mood sehari-hari lebih sering tenang/lesu daripada meluap-luap.

Dari Mana Emosi dan Mood Karyawan Berasal?

Riset Robbins & Judge mengidentifikasi delapan sumber utama — sebagian di dalam kendali organisasi, sebagian sama sekali bukan.

FAKTOR PERSONAL
  • Kepribadian — sebagian orang secara alami lebih ceria (trait positive affectivity)
  • Usia & jenis kelamin — pengalaman & regulasi emosi berbeda antarkelompok
  • Tidur & olahraga — kurang tidur meningkatkan mood negatif keesokan harinya
FAKTOR SITUASIONAL
  • Hari dalam seminggu — mood cenderung membaik menjelang akhir pekan ("Jumat effect")
  • Cuaca — efeknya lebih kecil dari yang diperkirakan orang awam
  • Stres kerja — tumpukan deadline menaikkan negative affect secara konsisten
Karena sebagian sumber (kepribadian, usia) berada di luar kendali organisasi, manajer perlu realistis: tujuannya bukan membuat semua karyawan selalu bahagia, melainkan mengelola dampak mood terhadap kinerja.
Bagian 2 dari 3
Affective Events Theory & Kecerdasan Emosional
Bagaimana peristiwa kerja memicu emosi, dan bagaimana karyawan mengelola emosinya sendiri.

Affective Events Theory (AET): Peta Rantai Emosi

Teori ini menjelaskan bahwa peristiwa kerja sehari-hari — bukan hanya karakteristik pekerjaan secara umum — adalah pemicu langsung reaksi emosional karyawan.

Lingkungan Kerja(atasan, rekan, tugas)Peristiwa Kerja(dipuji, dimarahi, ditolak)Reaksi Emosi(senang, marah, cemas)Sikap & Perilakukepuasan kerja, kinerja,perilaku menyimpang
Kepribadian & suasana hati dasar juga berperan sebagai penyaring — peristiwa yang sama bisa memicu reaksi emosi berbeda pada dua karyawan berbeda.

Emotional Labor: Ketika Emosi Menjadi Tuntutan Kerja

Emotional labor (kerja emosional) adalah situasi ketika karyawan dituntut menampilkan emosi tertentu sesuai display rules (aturan tampilan emosi) organisasi, terlepas dari perasaan aslinya.

SURFACE ACTING
TOPENG LUAR
Menampilkan emosi yang dituntut tanpa benar-benar merasakannya — mis. tersenyum pada nasabah meski hati kesal. Lebih melelahkan & memicu burnout.
DEEP ACTING
UBAH RASA
Berusaha benar-benar mengubah perasaan agar sesuai tuntutan — mis. mengingat tujuan membantu pelanggan hingga rasa kesal mereda.
Contoh nyata: pramugari maskapai domestik dilatih untuk tetap tersenyum dan sopan kepada penumpang yang komplain, meski penerbangan mengalami keterlambatan panjang — ini adalah emotional labor murni.

Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence/EI)

EI adalah kemampuan seseorang mendeteksi dan mengelola petunjuk serta informasi emosional, baik pada dirinya maupun orang lain. Daniel Goleman mengurai EI menjadi empat dimensi:

DIMENSI 1
SELF-AWARENESS
Menyadari emosi diri sendiri saat itu terjadi.
DIMENSI 2
SELF-MGMT
Mengelola emosi & impuls diri secara efektif.
DIMENSI 3
SOCIAL AWARENESS
Memahami & berempati pada emosi orang lain.
DIMENSI 4
REL. MGMT
Mengelola relasi & emosi dalam interaksi sosial.

Hitung dari Nol: Skor Kecerdasan Emosional Sederhana

Ilustrasi asesmen mandiri: setiap dimensi EI dinilai skala 1–5 (1 = sangat rendah, 5 = sangat tinggi), lalu dijumlahkan menjadi skor total.

LangkahPerhitunganNilai
Self-Awareness4
Self-Management3
Social Awareness4
Relationship Management3
Skor total (dari maks 20)4+3+4+314
SKOR EI ILUSTRATIF
14 / 20
70% dari skor maksimum — masuk kategori "cukup baik", dengan Self-Management & Relationship Management sebagai area pengembangan

EI: Alat Berguna, Tapi Bukan Tanpa Kritik

Meski populer di dunia praktik, EI juga menuai perdebatan akademik yang penting Anda ketahui sebagai calon manajer.

ARGUMEN MENDUKUNG
  • Intuitif & sejalan pengalaman — karyawan "berperasaan halus" sering lebih efektif
  • Memprediksi kinerja pada pekerjaan yang menuntut interaksi sosial tinggi
  • Bisa dilatih & dikembangkan, tidak sepenuhnya bawaan lahir
ARGUMEN KRITIK
  • Definisi EI belum sepenuhnya konsisten antarpeneliti (konsep kabur)
  • Sulit diukur secara objektif — banyak instrumen bersifat laporan-diri
  • Sebagian riset tumpang tindih dengan trait kepribadian yang sudah ada
Sikap paling bijak: gunakan EI sebagai salah satu alat memahami perilaku karyawan — bukan satu-satunya kriteria rekrutmen atau promosi.
Bagian 3 dari 3
Emosi dalam Praktik Manajerial
Display rules, biaya emosional yang tidak dikelola, dan strategi manajer sehari-hari.

Display Rules: Aturan Tampilan Emosi di Organisasi

Display rules adalah norma tidak tertulis (kadang tertulis dalam SOP) tentang emosi apa yang "boleh" ditampilkan karyawan dalam situasi kerja tertentu.

CONTOH 1
RAMAH WAJIB
Call center BPJS Kesehatan — agen dituntut tetap sopan meski nasabah membentak di telepon.
CONTOH 2
SERIUS WAJIB
Notaris/pengacara — ekspresi tenang & serius dituntut meski klien panik atau menangis.
Ketika display rules bertentangan terus-menerus dengan perasaan asli karyawan (butuh surface acting terus-menerus), risiko kelelahan emosional (emotional exhaustion) meningkat tajam — ini adalah cikal bakal burnout.

Hitung dari Nol: Biaya Turnover Akibat Kelelahan Emosional

Ilustrasi kasus: call center layanan pelanggan sebuah e-commerce di Indonesia dengan 200 agen, di mana sebagian mengundurkan diri karena kelelahan emosional (emotional exhaustion) akibat display rules yang berat.

LangkahPerhitunganNilai
Jumlah agen call center200 orang
Turnover rate akibat burnout200 × 15%30 orang/tahun
Biaya rekrutmen + pelatihan penggantiRp 12.000.000/orang
Total biaya penggantian per tahun30 × Rp 12.000.000Rp 360.000.000
Biaya per agen tersisa (170 orang)Rp 360.000.000 ÷ 170≈ Rp 2.117.647
BIAYA TAHUNAN AKIBAT BURNOUT
Rp 360 jt
dari 30 agen (15% dari 200) yang keluar karena kelelahan emosional — belum termasuk hilangnya produktivitas selama masa transisi

Strategi Manajer Mengelola Emosi Tim

Berdasarkan seluruh konsep di atas, berikut strategi konkret yang bisa diterapkan manajer sehari-hari.

STRATEGI 1
SELEKSI EI
Pertimbangkan EI saat rekrutmen posisi yang menuntut interaksi pelanggan tinggi — bukan satu-satunya kriteria.
STRATEGI 2
LATIH DEEP ACTING
Latih karyawan mengubah perspektif (deep acting), bukan sekadar menuntut senyum (surface acting).
STRATEGI 3
RUANG PEMULIHAN
Sediakan jeda istirahat & dukungan psikologis setelah interaksi pelanggan yang emosional berat.
Manajer yang menunjukkan positive affect secara konsisten cenderung "menular" ke timnya (efek emotional contagion) — sikap tenang pemimpin meredam kepanikan tim saat krisis.

Latihan Kelas: Analisis Kasus Emosi di Tempat Kerja

Bentuk kelompok kecil (3–4 orang) dan analisis kasus berikut menggunakan konsep hari ini.

KASUS
Seorang teller bank BUMN di cabang daerah harus melayani seratus lebih nasabah setiap hari, banyak di antaranya mengeluh soal antrean panjang dan sistem yang lambat. Dalam tiga bulan terakhir, dua rekan tellernya mengundurkan diri.
PERTANYAAN 1
Identifikasi display rules yang berlaku pada teller ini, dan apakah ia lebih mungkin melakukan surface acting atau deep acting.
PERTANYAAN 2
Gunakan kerangka Affective Events Theory untuk menjelaskan mengapa dua rekannya bisa sampai mengundurkan diri.
Siapkan jawaban kelompok Anda dalam 10 menit — setiap kelompok akan diminta presentasi singkat 2 menit di depan kelas.

Ringkasan Pertemuan 4 & Persiapan Minggu Depan

RINGKASAN INTI
KonsepInti
Affect, Emotion, MoodPayung, intens/singkat, ringan/lama
AETPeristiwa kerja → emosi → sikap/perilaku
Emotional LaborSurface acting vs deep acting
EI4 dimensi Goleman — berguna tapi diperdebatkan
MINGGU DEPAN (P5)
Kepribadian dan Nilai — melanjutkan pemahaman perbedaan individu ke arah trait kepribadian yang lebih stabil dan nilai kerja global.
TUGAS
RESUME KASUS
Kumpulkan jawaban latihan kelompok & ringkasan 1 halaman sebelum pertemuan berikutnya.