stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-11
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 11: Modul Supply Chain Management dalam ERP: Purchasing, SRM, WMS, TMS, Manufacturing, QA
Perencanaan Sumber Daya Perusahaan · Bisnis Digital

Perencanaan Sumber Daya Perusahaan

Pertemuan 11: Modul Supply Chain Management dalam ERP

Purchasing, SRM, WMS, TMS, Manufacturing, dan QA — bagaimana enam modul ini bekerja sebagai satu rantai data dalam sistem ERP.

RPS minggu 12 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Purchasing & SRM
Titik awal rantai pasok: bagaimana perusahaan memutuskan apa yang dibeli, dari siapa, dan berapa banyak — semuanya tercatat di ERP.

Tujuan Pembelajaran & Peta Materi

Setelah pertemuan ini, Anda mampu menjelaskan fungsi enam modul SCM dalam ERP dan bagaimana data mengalir di antaranya.

Sub-CPMK
6 Modul
Mampu menjelaskan proses bisnis dan integrasi data modul Purchasing, SRM, WMS, TMS, Manufacturing, dan QA dalam satu sistem ERP.
Posisi Materi
Pertemuan 11
Kelanjutan dari modul Financial Management, Sales, dan CRM/KM — SCM adalah tulang punggung sisi operasional-fisik perusahaan.
Fokus hari ini bukan menghafal nama modul, tetapi memahami alur data end-to-end: satu pesanan pembelian bisa memicu perubahan di gudang, produksi, keuangan, dan laporan kualitas secara bersamaan.

Rantai Enam Modul SCM dalam ERP

Supply Chain Management (SCM, manajemen rantai pasok) mengatur aliran barang, informasi, dan uang dari pemasok hingga ke pelanggan. Dalam ERP, enam modul ini terhubung sebagai satu alur berkesinambungan.

PurchasingBeli bahan bakuSRMKelola pemasokWMSKelola gudangManufacturingProduksi barangQACek kualitasTMSKirim ke pelanggan
Semua modul ini berbagi satu database ERP yang sama — saat status pesanan pembelian berubah, gudang dan keuangan langsung melihat data terbaru tanpa entri ulang.

Modul Purchasing: Siklus Procure-to-Pay

Modul Purchasing mengelola seluruh proses pembelian barang/jasa, dikenal sebagai siklus Procure-to-Pay (P2P) — dari kebutuhan hingga pembayaran ke pemasok.

1. Permintaan
PR
Purchase Requisition — permintaan internal dari gudang/produksi bahwa stok perlu dibeli.
2. Penawaran
RFQ
Request for Quotation — ERP mengirim permintaan harga ke beberapa pemasok terdaftar.
3. Pemesanan
PO
Purchase Order — dokumen resmi pemesanan barang setelah pemasok dan harga disepakati.

Setelah barang diterima (Goods Receipt) dan faktur cocok dengan PO (three-way match: PO – penerimaan – faktur), ERP otomatis memicu pembayaran ke pemasok.

Hitung dari Nol: Economic Order Quantity (EOQ)

EOQ (Economic Order Quantity, kuantitas pesanan ekonomis) menentukan berapa unit sebaiknya dipesan sekaligus agar total biaya pemesanan dan penyimpanan minimum — perhitungan inti modul Purchasing.

EOQ = √(2 × D × S ÷ H)

Kasus: UD Sumber Boga (UMKM kemasan makanan) membeli botol plastik. Permintaan tahunan D = 10.000 unit, biaya pesan S = Rp100.000/pesanan, biaya simpan H = Rp2.000/unit/tahun.

LangkahPerhitunganNilai
1. Kalikan 2 × D × S2 × 10.000 × Rp100.000Rp2.000.000.000
2. Bagi dengan HRp2.000.000.000 ÷ Rp2.0001.000.000
3. Akar kuadrat√1.000.0001.000 unit
4. Jumlah pesanan/tahun10.000 ÷ 1.00010 kali/tahun
EOQ Optimal
1.000 unit
per pesanan, dipesan ulang ±10 kali setahun

Coba Sendiri: Cari Titik EOQ Optimal Anda

Geser permintaan tahunan, biaya pesan, dan biaya simpan, lalu amati bagaimana kurva total biaya menemukan titik EOQ paling rendah.

Modul SRM: Supplier Relationship Management

SRM (Supplier Relationship Management) mengelola hubungan jangka panjang dengan pemasok — bukan hanya transaksi PO, tetapi evaluasi kinerja berkelanjutan.

Fungsi Utama SRM
  • Master data pemasok terpusat (kontak, kontrak, sertifikasi)
  • Vendor scorecard: skor kinerja berkala
  • Manajemen kontrak & harga jangka panjang
  • Segmentasi pemasok strategis vs. transaksional
Kriteria Vendor Scorecard
  • Ketepatan waktu kirim (on-time delivery)
  • Kesesuaian kualitas barang diterima
  • Kompetitif harga vs. pasar
  • Responsivitas komunikasi & layanan
Data SRM inilah yang dipakai ERP untuk otomatis merekomendasikan pemasok terbaik saat RFQ baru dibuat — bukan sekadar pilih harga termurah.
Bagian 2 dari 3
WMS & TMS
Setelah barang dibeli, ke mana perginya secara fisik? Dua modul ini mengatur pergerakan barang di dalam dan di luar gudang.

Modul WMS: Warehouse Management System

WMS (Warehouse Management System, sistem manajemen gudang) mengatur seluruh pergerakan barang di dalam gudang: dari barang masuk sampai barang keluar.

InboundTerima & cek barangPutawaySimpan ke rak/slotPickingAmbil sesuai pesananPackingKemas untuk kirimOutboundSerah ke TMS
WMS juga mengatur slotting (penempatan barang di lokasi rak paling efisien) dan pencatatan stok real-time yang otomatis mengurangi inventori saat barang dipicking.

Hitung dari Nol: Produktivitas Picking Gudang

Salah satu KPI (Key Performance Indicator, indikator kinerja utama) WMS adalah produktivitas picking — berapa baris pesanan (order line) yang mampu diselesaikan tiap picker per jam.

Kasus: gudang distribusi PT Retailindo, satu shift 8 jam dengan 6 picker menyelesaikan 480 baris pesanan.

LangkahPerhitunganNilai
1. Total jam-orang tersedia6 picker × 8 jam48 jam-orang
2. Produktivitas aktual480 baris ÷ 48 jam-orang10 baris/jam/orang
3. Target industri (acuan manajemen)ditetapkan sebesar12 baris/jam/orang
4. Gap terhadap target(12 − 10) ÷ 12 × 100~16,7% di bawah target
Produktivitas Aktual
10 baris/jam
per picker — ~17% di bawah target 12

Modul TMS: Transportation Management System

TMS (Transportation Management System, sistem manajemen transportasi) mengatur perencanaan, eksekusi, dan pelacakan pengiriman barang dari gudang ke pelanggan.

Perencanaan
Routing
Menentukan rute pengiriman paling efisien — jarak, waktu tempuh, biaya bahan bakar.
Eksekusi
Carrier
Pemilihan armada sendiri atau 3PL (Third-Party Logistics, penyedia jasa logistik pihak ketiga) seperti JNE/SiCepat.
Pelacakan
Tracking
Status kirim real-time hingga POD (Proof of Delivery, bukti terima) dikonfirmasi.
TMS mengukur OTIF (On-Time In-Full, tepat waktu & lengkap) sebagai indikator utama kepuasan layanan pengiriman ke pelanggan.

Integrasi WMS – TMS – ERP

Begitu picking selesai di WMS, ERP otomatis membuat dokumen pengiriman yang menjadi input bagi TMS — tanpa perlu entri data ulang.

Sales Order (modul Sales)WMS: Picking & PackingTMS: ShipmentRouting & carrierERP: Update OtomatisStok, invoice, laporan
Tanpa integrasi ERP, gudang dan tim pengiriman sering memakai spreadsheet terpisah — risiko data stok tidak sinkron dengan status pengiriman aktual sangat tinggi.
Bagian 3 dari 3
Manufacturing & QA
Dari bahan baku menjadi produk jadi — bagaimana ERP merencanakan produksi dan memastikan setiap unit memenuhi standar kualitas.

Modul Manufacturing: MRP & BOM

Modul Manufacturing merencanakan kebutuhan produksi melalui MRP (Material Requirements Planning, perencanaan kebutuhan material) berdasarkan BOM (Bill of Material, daftar komposisi bahan).

BOM (Bill of Material)

Daftar rinci semua komponen & jumlahnya untuk membuat satu unit produk jadi. Contoh: 1 unit meja kayu butuh 2 papan kayu + 4 kaki + 20 sekrup.

MRP (Material Requirements Planning)

Mengalikan BOM dengan rencana produksi untuk menghitung total kebutuhan bahan, lalu dikurangi stok yang ada — hasilnya jadi dasar Purchase Requisition otomatis ke modul Purchasing.

Inilah titik di mana lingkaran SCM menutup kembali ke Purchasing — kebutuhan produksi memicu pembelian bahan baku baru secara otomatis.

Walkthrough: Logika Netting MRP

Bagaimana MRP menentukan berapa yang harus dibeli? Ikuti logika "netting" (pengurangan kebutuhan kotor dengan stok tersedia) berikut, tahap demi tahap.

Kasus: Pabrik Meja Kayu — Pesanan Produksi 100 Unit
  • Tahap 1 — Kebutuhan kotor: BOM menyatakan 1 meja = 2 papan kayu → 100 unit butuh 200 papan kayu.
  • Tahap 2 — Cek stok tersedia: ERP mengecek gudang, tersisa 50 papan kayu dari pembelian sebelumnya.
  • Tahap 3 — Netting (kebutuhan bersih): 200 dikurangi 50 = 150 papan kayu masih harus dibeli.
  • Tahap 4 — Aksi otomatis: ERP membuat Purchase Requisition 150 papan kayu, dikirim ke modul Purchasing untuk diproses jadi RFQ & PO.

Coba Sendiri: Jalankan Logika Netting MRP

Ubah jumlah pesanan produksi dan stok yang tersedia di tiap level BOM, lalu ikuti bagaimana kebutuhan bersih dihitung mundur tahap demi tahap.

Modul QA: Quality Assurance

QA (Quality Assurance, penjaminan kualitas) memastikan barang — baik bahan baku masuk maupun produk jadi keluar — memenuhi standar sebelum diteruskan ke tahap berikutnya.

Incoming QC
01
Cek kualitas bahan baku dari pemasok saat barang diterima (inbound WMS).
In-Process QC
02
Cek kualitas selama proses produksi berlangsung, mendeteksi cacat lebih awal.
Final QC
03
Cek kualitas produk jadi sebelum masuk gudang barang jadi & dikirim (outbound TMS).
Setiap pemeriksaan tercatat sebagai Inspection Lot di ERP — barang yang gagal QC otomatis diblokir dari stok yang bisa dijual (quality hold).

Integrasi End-to-End: Lingkaran Tertutup SCM

Enam modul yang kita bahas hari ini bukan rantai linear, melainkan lingkaran tertutup yang terus berulang mengikuti permintaan pasar.

PurchasingSRMWMSManufacturingQATMSSatu databaseERP terpusat

Studi Kasus: SCM ERP di Industri Indonesia

Bagaimana perusahaan Indonesia menerapkan enam modul ini dalam praktik nyata?

Industri Manufaktur — Contoh: Produsen FMCG
  • MRP menghitung kebutuhan bahan baku dari ribuan SKU produk
  • QA ketat pada bahan baku pangan (sertifikasi halal, BPOM)
  • WMS mengelola gudang distribusi multi-lokasi antar-pulau
Industri E-commerce & Logistik
  • WMS menangani puncak pesanan saat Harbolnas (9.9, 11.11, 12.12)
  • TMS mengoordinasikan banyak 3PL (JNE, SiCepat, GoSend) sekaligus
  • SRM mengevaluasi seller/mitra logistik secara berkala
Pola yang sama berlaku di semua sektor: integrasi data lintas-modul adalah pembeda utama antara perusahaan yang efisien dan yang masih bekerja secara manual/terfragmentasi.

Latihan Diskusi Kelas

Kerjakan berkelompok (3–4 orang), waktu diskusi 10 menit, lalu presentasikan singkat.

Kasus Diskusi

Sebuah UMKM konveksi di Semarang mulai menggunakan ERP sederhana. Mereka sering kehabisan kain tertentu di tengah produksi, dan beberapa produk jadi dikirim ke pelanggan sebelum sempat dicek kualitasnya.

  • Modul mana yang seharusnya mencegah kehabisan bahan di tengah produksi? Mengapa?
  • Modul mana yang seharusnya mencegah produk cacat terkirim ke pelanggan?
  • Data apa saja yang harus terhubung antar-modul agar kedua masalah ini tidak terulang?

Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya

Rangkuman Enam Modul SCM
  • Purchasing: siklus P2P (PR → RFQ → PO → pembayaran)
  • SRM: evaluasi & manajemen hubungan pemasok jangka panjang
  • WMS: inbound → putaway → picking → packing → outbound
  • TMS: routing, carrier/3PL, tracking, OTIF
  • Manufacturing: BOM + MRP (netting kebutuhan bersih)
  • QA: incoming, in-process, final QC — quality hold
Tugas & Minggu Depan
Modul HCM
Baca materi Human Capital Management sebelum pertemuan 12. Tugas: petakan siklus P2P dan MRP untuk 1 perusahaan pilihan Anda (maks. 1 halaman), kumpulkan sebelum sesi berikutnya.