‹ Daftar slidePertemuan 3: ERP dan Desain Ulang Proses Bisnis: Business Process Reengineering, Faktor Keberhasilan, Stakeholder Transformasi
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP
Perencanaan Sumber Daya Perusahaan
Pertemuan 3 — ERP dan Desain Ulang Proses Bisnis: Business Process Reengineering, Faktor Keberhasilan, Stakeholder Transformasi
Mengapa sekadar memasang software ERP tidak cukup — proses bisnis lama harus didesain ulang lebih dahulu, dan manusia di dalamnya harus dikelola perubahannya.
RPS MINGGU 3 • 2×50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan konsep desain ulang proses bisnis dan mengaitkannya dengan keberhasilan implementasi ERP. Secara rinci:
CAPAIAN 1
KONSEP BPR
Menjelaskan definisi Business Process Reengineering (BPR) dan bedanya dengan perbaikan bertahap (continuous improvement).
CAPAIAN 2
PEMETAAN PROSES
Menggambarkan proses bisnis "as-is" (saat ini) menjadi "to-be" (yang diinginkan) sebagai dasar desain ulang.
CAPAIAN 3
STAKEHOLDER
Mengidentifikasi peran dan resistensi stakeholder transformasi — manajemen, karyawan, IT, vendor.
CAPAIAN 4
FAKTOR SUKSES
Menganalisis critical success factor proyek BPR dan penyebab umum kegagalannya.
Mengapa Software Saja Tidak Cukup?
Bayangkan sebuah UMKM garmen di Bandung membeli modul ERP untuk pengelolaan gudang senilai ratusan juta rupiah. Enam bulan kemudian, stok masih sering salah catat.
Penyebabnya BUKAN sistemnya rusak — tetapi proses pencatatan lama (kertas, dua kali input manual, tanpa otorisasi jelas) dipindahkan apa adanya ke dalam ERP. Sistem baru, kebiasaan kerja lama: hasilnya tetap kacau, hanya lebih mahal.
Prinsip kunci hari ini: "Automating a mess just gives you a faster mess." — kalau proses tidak didesain ulang dahulu, ERP hanya mempercepat kesalahan, bukan menghilangkannya.
Apa Itu Business Process Reengineering (BPR)?
"Pemikiran ulang fundamental dan desain ulang radikal atas proses bisnis untuk mencapai perbaikan dramatis dalam ukuran kinerja kritis — biaya, kualitas, layanan, dan kecepatan." (Hammer & Champy, 1993)
4 Kata Kunci
Fundamental — tanya ulang "kenapa kita melakukan ini?"
Radikal — desain dari nol, bukan menambal
Dramatis — target lompatan besar, bukan 10%
Proses — fokus alur kerja lintas-fungsi, bukan per-departemen
Glosarium: proses bisnis = rangkaian aktivitas yang mengubah input (mis. pesanan pelanggan) menjadi output bernilai (mis. barang terkirim), melintasi beberapa departemen.
BPR vs Perbaikan Bertahap (Kaizen)
Dua pendekatan perbaikan proses yang sering tertukar — penting dibedakan sebelum memilih strategi.
Aspek
Business Process Reengineering
Continuous Improvement (Kaizen)
Sifat perubahan
Radikal, dari nol
Bertahap, incremental
Kecepatan hasil
Cepat, dramatis (bisa >50%)
Lambat, konsisten (~5-15%)
Risiko
Tinggi (banyak yang gagal)
Rendah
Cocok untuk
Krisis, disrupsi kompetitor, adopsi ERP baru
Operasi stabil yang sudah cukup baik
Konteks pertemuan ini: implementasi ERP hampir selalu memaksa perusahaan melakukan BPR, karena sistem ERP dibangun di atas best practice proses standar industri — bukan proses lama perusahaan yang unik.
Bagian 1 dari 3
Mengapa BPR Menjadi Fondasi ERP
Dari filosofi desain ulang, kita masuk ke metodologi konkret: bagaimana proses lama dipetakan, dianalisis, dan dirancang ulang sebelum "dikunci" ke dalam sistem.
Siklus Metodologi BPR
Lima tahap umum yang dipakai konsultan proses bisnis (mis. saat implementasi SAP di perusahaan manufaktur Indonesia).
Tahap 2 (As-Is) dan Tahap 4 (To-Be) adalah jantung BPR — inilah yang membedakannya dari sekadar "instalasi software".
Hitung dari Nol: Efisiensi Waktu Proses BPR
Perusahaan distribusi FMCG di Surabaya mengukur dampak BPR pada proses order-to-cash (dari pesanan pelanggan sampai kas diterima).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Waktu proses As-Is (sebelum BPR)
Data historis tercatat
120 jam
2. Waktu proses To-Be (target setelah BPR)
Data pilot proses baru
36 jam
3. Penghematan waktu absolut
120 − 36
84 jam
4. Persentase efisiensi
84 ÷ 120 × 100
70%
EFISIENSI WAKTU PROSES
70%
Order-to-cash: 120 jam → 36 jam
Bagian 2 dari 3
Stakeholder dan Manajemen Perubahan
Metodologi saja tidak cukup — proyek BPR menyentuh manusia yang punya kepentingan, kekhawatiran, dan bahkan penolakan terhadap perubahan.
Peta Stakeholder Transformasi ERP
Setiap kelompok punya kepentingan dan kekhawatiran berbeda terhadap proyek desain ulang proses.
MANAJEMEN PUNCAK
SPONSOR
Butuh ROI jelas & dukungan visibel. Tanpa executive sponsorship, proyek kehilangan prioritas dan anggaran.
KARYAWAN OPERASIONAL
PENGGUNA
Sering merasa terancam — takut kehilangan pekerjaan atau harus belajar cara kerja baru dari nol.
TIM IT INTERNAL
TEKNIS
Menjembatani kebutuhan bisnis dengan batasan teknis sistem; sering kewalahan bila dilibatkan terlambat.
MANAJER MENENGAH
PENJAGA STATUS QUO
Kadang paling resisten — kekuasaan mereka bergantung pada proses lama (kontrol persetujuan, informasi tersentral).
VENDOR / KONSULTAN
MITRA EKSTERNAL
Membawa keahlian best-practice, tapi tidak paham budaya kerja internal — perlu kolaborasi erat dengan tim internal.
Mengapa Manusia Menolak Perubahan Proses?
Riset manajemen perubahan (change management) menemukan pola resistensi yang berulang di berbagai proyek ERP.
Sumber Resistensi Umum
Takut kehilangan pekerjaan / kewenangan
Merasa kompetensi lama jadi tidak relevan
Kurang dilibatkan sejak awal ("dipaksa", bukan "diajak")
Trauma proyek IT gagal sebelumnya
Strategi Mitigasi
Libatkan perwakilan pengguna sejak tahap As-Is
Komunikasi rutin & transparan dari sponsor
Pelatihan intensif sebelum go-live
Rayakan "quick win" di awal untuk bangun kepercayaan
Studi kasus terkenal: kegagalan implementasi ERP di beberapa BUMN Indonesia pada 2010-an sering ditelusuri ke minimnya keterlibatan pengguna lapangan, bukan kegagalan teknis sistemnya.
Walkthrough: Menangani Resistensi di Divisi Penjualan
Kasus PT Distribusi Elektronik (fiktif, pola umum) — tim sales menolak sistem CRM baru dalam paket ERP.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Gejala awal
Observasi lapangan
Sales input data seadanya, sering kosong
2. Akar masalah (5 Whys)
Wawancara tim sales
Takut atasan pantau kinerja real-time
3. Intervensi
Perbaikan komunikasi + insentif
Sales dilibatkan desain dashboard, bonus data akurat
4. Hasil setelah 3 bulan
Audit kepatuhan input
Kepatuhan input naik dari rendah menjadi tinggi
Pelajaran: resistensi biasanya bukan soal teknologi, tapi soal rasa aman & keterlibatan — dashboard yang sama bisa terasa mengawasi atau membantu, tergantung caranya diperkenalkan.
Bagian 3 dari 3
Faktor Keberhasilan & Kegagalan Proyek
Menutup pertemuan dengan sintesis: apa yang membedakan proyek BPR-ERP yang berhasil dari yang berakhir sebagai kegagalan mahal.
Realita: Tingkat Kegagalan Proyek ERP
Berbagai studi industri (Panorama Consulting, Standish Group) secara konsisten melaporkan angka kegagalan yang tinggi.
MELEBIHI ANGGARAN
~50%
Proyek ERP over-budget signifikan
MELEBIHI JADWAL
~60%
Proyek molor dari timeline awal
GAGAL TOTAL
~10-20%
Dihentikan sebelum selesai
Angka ini adalah estimasi lintas-studi (hedge ~) — bervariasi per tahun dan metodologi survei, namun pola konsisten: mayoritas kegagalan disebabkan faktor manajemen perubahan, bukan kegagalan teknis software.
Sintesis dari literatur implementasi ERP (Umble et al.; Somers & Nelson) — enam faktor yang paling sering muncul.
Faktor
Mengapa Penting
Dukungan manajemen puncak
Menjamin sumber daya & prioritas tetap terjaga sepanjang proyek
Keterlibatan pengguna sejak awal
Desain proses lebih realistis, resistensi menurun
Business Process Reengineering dahulu
Mencegah "menyalin" proses lama yang buruk ke sistem baru
Manajemen perubahan & pelatihan
Pengguna siap & mau memakai sistem secara benar
Tim proyek lintas-fungsi yang kompeten
Menjembatani kebutuhan bisnis & batasan teknis
Data bersih & migrasi terencana
Sistem baru tidak berguna kalau datanya berantakan
Hitung dari Nol: Skor Kesiapan Proyek BPR-ERP
Konsultan sering memakai skor sederhana (bobot 0-100) untuk menilai kesiapan organisasi sebelum proyek dimulai. Contoh perusahaan manufaktur di Cikarang.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Skor dukungan manajemen (bobot 30%)
80 × 30%
24 poin
2. Skor kesiapan pengguna (bobot 30%)
60 × 30%
18 poin
3. Skor kematangan proses (bobot 20%)
50 × 20%
10 poin
4. Skor kualitas data (bobot 20%)
70 × 20%
14 poin
5. Total skor kesiapan
24 + 18 + 10 + 14
66 / 100
SKOR KESIAPAN TOTAL
66/100
Kategori "Cukup Siap" — perlu perkuat kesiapan pengguna & kematangan proses sebelum go-live
Coba Sendiri: Skor Kesiapan Proyek Anda Sendiri
Geser keempat skor faktor (dukungan manajemen, kesiapan pengguna, kematangan proses, kualitas data) dan amati bagaimana skor total serta kategori kesiapan berubah.
Trade-off: Ubah Proses vs Kustomisasi Sistem
Ketika proses lama tidak cocok dengan standar ERP, organisasi punya dua pilihan — masing-masing berkonsekuensi.
PILIHAN A
UBAH PROSES
Ikuti best practice bawaan ERP (BPR sejati). Lebih murah jangka panjang, upgrade sistem lebih mudah, tapi butuh manajemen perubahan kuat.
PILIHAN B
KUSTOMISASI SISTEM
Ubah software mengikuti proses lama. Terasa "aman" jangka pendek, tapi mahal, rumit di-upgrade, dan sering menyimpan masalah proses lama.
Prinsip yang dipegang kebanyakan konsultan ERP: "vanilla implementation" (minim kustomisasi) lebih disukai — kustomisasi berlebihan justru sering jadi gejala BPR yang belum tuntas dilakukan.
Latihan Kelas: Diagnosis Kasus
Kasus: Sebuah perusahaan ritel fashion online (mirip pola bisnis Zalora/Shopee seller besar) baru saja mengimplementasikan modul ERP untuk manajemen inventori. Tiga bulan setelah go-live, staf gudang masih mencatat stok manual di Excel sebagai "cadangan", karena tidak percaya data di sistem baru akurat. Manajer gudang mengaku tidak pernah diajak diskusi saat proses baru dirancang.
DISKUSI 1
Faktor keberhasilan apa yang paling jelas terlewat di kasus ini? Kaitkan dengan tabel Critical Success Factors.
DISKUSI 2
Sebagai konsultan, langkah manajemen perubahan apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memperbaiki situasi ini?
Rangkuman Pertemuan Ini
Konsep Inti
BPR = desain ulang fundamental & radikal proses bisnis, bukan tambal sulam
Kita akan bahas fondasi teknis di balik ERP: arsitektur sistem, konsep RDBMS (database relasional), dan bagaimana data mengalir lintas modul.
Pertanyaan pemantik: kalau proses sudah didesain ulang seperti hari ini, bagaimana sebenarnya data disimpan supaya semua modul ERP bisa "berbicara" satu sama lain?
TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 4
PETA PROSES
Pilih satu proses sederhana di sekitar Anda (mis. proses pendaftaran ulang kampus atau proses order makanan online). Gambarkan versi As-Is dan usulkan versi To-Be-nya.