stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-02
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 2: Teknologi ERP: Arsitektur, RDBMS, Normalisasi Database, SQL, Konfigurasi vs Kustomisasi, Cloud Computing
Prodi Bisnis Digital · FEB UNDIP

Perencanaan Sumber Daya Perusahaan

Teknologi ERP: Arsitektur, RDBMS, Normalisasi Database, SQL, Konfigurasi vs Kustomisasi, Cloud Computing

Fondasi teknis di balik satu sistem ERP — bagaimana data disimpan, diorganisasi, ditanya, dan dijalankan di server sendiri atau di awan.

RPS minggu 2 · 2x50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Memahami
Arsitektur
Bagaimana ERP disusun dari lapisan presentasi, aplikasi, dan basis data (3-tier), serta mengapa satu database terpusat adalah inti dari integrasi ERP.
Menguasai
RDBMS & SQL
Konsep tabel, kunci, normalisasi database, dan dasar perintah SQL (SELECT) untuk mengambil data dari database ERP.
Mengevaluasi
Konfigurasi vs Kustomisasi
Trade-off biaya, risiko, dan kecepatan implementasi antara menyetel opsi bawaan versus menulis ulang kode ERP.
Membandingkan
Cloud Computing
Model SaaS/PaaS/IaaS dan implikasinya bagi keputusan ERP on-premise vs cloud perusahaan Indonesia.

Mengapa "Di Balik Layar" ERP Penting?

Saat staf gudang input barang masuk di layar ERP, dan lima detik kemudian laporan keuangan CFO ikut berubah — apa yang sebenarnya terjadi?

Jawabannya bukan sihir. Semua modul ERP (Sales, Inventory, Finance) membaca dan menulis ke satu database yang sama. Tanpa memahami cara database ini disusun (RDBMS, normalisasi) dan cara data diambil (SQL), Anda sebagai calon manajer bisnis akan sulit menilai kualitas sistem ERP yang ditawarkan vendor, atau memahami mengapa kustomisasi berlebihan bisa "meledakkan" biaya proyek.
Kasus nyata: banyak proyek ERP di perusahaan Indonesia molor dan membengkak biaya karena tim proyek memutuskan kustomisasi besar-besaran tanpa memahami dampaknya pada struktur database dan proses upgrade di masa depan.
Bagian 1 dari 3
Arsitektur ERP & Fondasi Database
Bagaimana ERP disusun berlapis, dan mengapa satu database terpusat adalah jantung dari seluruh integrasi.

Arsitektur 3-Tier ERP

ERP modern umumnya disusun dalam tiga lapisan (tier) yang terpisah namun saling terhubung.

Presentation TierLayar/browser penggunaApplication TierLogika bisnis & prosesDatabase TierPenyimpanan data (RDBMS)Contoh: kasir Indomaret input transaksiLayar kasirHitung total, cek stokSimpan transaksi & stok baru
Pemisahan ini membuat ERP lebih mudah dipelihara: perubahan tampilan tidak mengganggu logika bisnis, dan perubahan database tidak mengganggu tampilan — selama "jembatan" antar-lapisan tetap konsisten.

Database Terpusat: Jantung Integrasi ERP

Sebelum ERP (Sistem Silo)
  • Setiap departemen punya database/file sendiri
  • Data stok gudang beda dengan data stok di sistem keuangan
  • Rekonsiliasi manual, sering telat & salah
Dengan ERP (Database Terpusat)
  • Satu Single Source of Truth (SSOT) untuk seluruh perusahaan
  • Modul Sales, Inventory, Finance baca-tulis ke tabel yang sama
  • Update di satu titik langsung terlihat di modul lain
Inilah alasan utama perusahaan investasi ERP: bukan sekadar aplikasi baru, tapi satu sumber data tunggal yang menghilangkan duplikasi dan inkonsistensi antar-departemen.

Coba Sendiri: Satu Database, Banyak Sudut Pandang

Jelajahi bagaimana modul Sales, Inventory, dan Finance melihat "sudut pandang" berbeda dari satu database fisik yang sama, mengikuti arsitektur 3-level.

RDBMS: Cara Data ERP Disimpan

RDBMS (Relational Database Management System) adalah perangkat lunak yang menyimpan data dalam bentuk tabel-tabel yang saling berelasi — mirip lemari arsip dengan banyak map, tapi map-map itu bisa saling "menunjuk" satu sama lain.

Tabel (Table)
Entitas
Contoh: tabel Pelanggan, tabel Produk, tabel Transaksi.
Baris (Row)
Record
Satu baris = satu data spesifik, mis. satu pelanggan bernama Budi.
Kolom (Column)
Atribut
Sifat dari entitas, mis. nama, alamat, no. telepon.
Contoh RDBMS populer di dunia ERP: Oracle Database, Microsoft SQL Server, PostgreSQL, dan MySQL. SAP dan Oracle ERP Cloud umumnya berjalan di atas salah satu mesin ini.

Primary Key & Foreign Key: "Perekat" Antar-Tabel

Tabel PelangganID_Pelanggan (PK)NamaKotaP001BudiSemarangTabel TransaksiID_Transaksi (PK)ID_Pelanggan (FK)TotalT101P001Rp250.000
Primary Key (PK)
ID Unik
Penanda unik tiap baris dalam satu tabel, tidak boleh sama atau kosong.
Foreign Key (FK)
Penghubung
Kolom di satu tabel yang "menunjuk" ke Primary Key tabel lain — inilah relasi.

Coba Sendiri: Menyusun JOIN dari PK ke FK

Hubungkan Primary Key tabel Pelanggan dengan Foreign Key tabel Transaksi, lalu lihat bagaimana JOIN menghasilkan satu laporan gabungan.

Masalah Tanpa Normalisasi: Redundansi & Anomali

Bayangkan satu tabel besar yang mencampur data pelanggan dan transaksi tanpa dipisah:

Tabel Transaksi (Belum Ternormalisasi)
ID_TransaksiNama PelangganKotaProduk
T101BudiSemarangKemeja
T102BudiSemarangCelana
T103BudiSemarangJaket
Redundansi: nama dan kota Budi diulang 3 kali. Anomali update: kalau Budi pindah kota, staf harus mengubah data di banyak baris — kalau satu baris terlewat, data jadi tidak konsisten.

Hitung dari Nol: Normalisasi Bertahap (1NF → 3NF)

TahapAturan yang DiterapkanHasil
1NFHilangkan grup berulang; tiap sel hanya 1 nilaiTabel Transaksi flat, tanpa daftar produk dalam satu sel
2NFHilangkan dependensi parsial pada sebagian kunciPisah data Pelanggan (Nama, Kota) ke tabel Pelanggan sendiri
3NFHilangkan dependensi transitif (kolom bergantung pada kolom non-kunci lain)Pisah data Produk (Nama, Harga) ke tabel Produk sendiri
Hasil Akhir 3NF
3 Tabel
Pelanggan · Produk · Transaksi (terhubung via PK–FK)

Coba Sendiri: Normalisasi Tabel Langkah demi Langkah

Klik tombol 1NF, 2NF, lalu 3NF dan amati bagaimana satu tabel besar pecah menjadi tabel-tabel kecil yang saling berelasi.

Trade-off Normalisasi: Kapan Berhenti?

Langkah 1 — Manfaat Normalisasi
  • Mengurangi redundansi & risiko anomali
  • Data lebih konsisten & hemat ruang
  • Update cukup di satu tempat
Langkah 2 — Biaya Normalisasi Berlebihan
  • Terlalu banyak tabel → query harus "menggabungkan" (JOIN) banyak tabel
  • JOIN yang kompleks memperlambat laporan besar
  • ERP modern kadang sengaja denormalisasi sebagian untuk laporan cepat
Praktik umum: desainer database ERP menormalisasi hingga 3NF untuk data transaksional, tetapi membuat tabel ringkasan terpisah (data warehouse) yang lebih "flat" khusus untuk pelaporan dan analitik.
Bagian 2 dari 3
SQL: Bahasa untuk "Bertanya" ke Database
Dari tabel yang sudah rapi ternormalisasi, sekarang kita belajar cara mengambil informasi darinya.

SQL: Structured Query Language

SQL adalah bahasa standar untuk berkomunikasi dengan RDBMS — mengambil, menambah, mengubah, atau menghapus data. Setiap laporan yang Anda lihat di layar ERP sebenarnya adalah hasil dari perintah SQL yang dijalankan di belakang layar.

SELECT kolom FROM tabel WHERE kondisi;
SELECT
Ambil
Kolom mana yang ingin ditampilkan
FROM
Sumber
Dari tabel mana data diambil
WHERE
Saring
Kondisi/filter data yang dicari

Coba Sendiri: Susun Perintah SELECT-WHERE-ORDER BY

Ubah kondisi WHERE dan urutan ORDER BY, lalu amati bagaimana hasil baris data ikut berubah secara langsung.

Contoh: Query SQL di Tabel Transaksi

Kasus: Cari Semua Transaksi Pelanggan "Budi"
SELECT ID_Transaksi, Total
FROM Transaksi
WHERE ID_Pelanggan = 'P001';
ID_TransaksiTotal
T101Rp250.000
T102Rp180.000
Perintah JOIN dipakai saat kita perlu menggabungkan informasi dari lebih dari satu tabel — misalnya menampilkan nama Budi (dari tabel Pelanggan) bersama total transaksinya (dari tabel Transaksi) dalam satu laporan.

Coba Sendiri: Agregasi Data dengan GROUP BY

Kelompokkan data transaksi berdasarkan kota atau produk, lalu lihat bagaimana SUM/COUNT menghasilkan satu baris ringkasan per kelompok.

Hitung dari Nol: Dampak Kustomisasi pada Waktu Implementasi

Sebuah UMKM naik kelas mengimplementasi ERP dasar dengan estimasi awal 100 hari kerja. Setiap modul yang dikustomisasi menambah 15% waktu dari estimasi dasar.

LangkahPerhitunganNilai
Estimasi dasar (konfigurasi murni)Diberikan100 hari
Tambahan akibat kustomisasi 2 modul2 × 15% × 10030 hari
Total estimasi waktu implementasi100 + 30130 hari
Kenaikan waktu terhadap rencana awal30 / 100 × 100%30%
Kesimpulan
+30% Waktu
Kustomisasi 2 modul memperpanjang proyek ~sepertiga dari rencana awal
Bagian 3 dari 3
Konfigurasi vs Kustomisasi, dan Cloud Computing
Dua keputusan strategis: seberapa jauh mengubah ERP, dan di mana ERP itu dijalankan.

Konfigurasi vs Kustomisasi

Konfigurasi (Configuration)
  • Menyetel opsi/parameter yang sudah disediakan vendor
  • Tidak mengubah kode program inti
  • Contoh: atur mata uang Rupiah, format tanggal, alur approval
  • Risiko rendah, mudah di-upgrade
Kustomisasi (Customization)
  • Menulis kode baru untuk mengubah fungsi inti ERP
  • Contoh: bikin modul khusus pelaporan pajak daerah
  • Biaya & waktu tinggi, sulit di-upgrade
  • Risiko: "vendor lock-in" pada konsultan tertentu
Prinsip umum vendor ERP: "konfigurasi sebisa mungkin, kustomisasi seperlunya" — karena tiap baris kode kustom harus diuji ulang setiap kali ERP di-upgrade ke versi baru.

Cloud Computing: Tiga Model Layanan

IaaS
Infrastruktur
Sewa server, storage, jaringan. Perusahaan install & kelola ERP sendiri di atasnya.
PaaS
Platform
Sewa lingkungan pengembangan siap pakai untuk membangun/menyesuaikan aplikasi ERP.
SaaS
Software
Sewa aplikasi ERP jadi, siap pakai lewat browser. Vendor kelola semua infrastruktur & update.
Mayoritas ERP untuk UMKM naik kelas di Indonesia (mis. Accurate Online, Jurnal by Mekari) memakai model SaaS — biaya berlangganan bulanan, tanpa perlu tim TI internal mengurus server.

On-Premise vs Cloud: Mana yang Dipilih?

AspekOn-PremiseCloud (SaaS)
Investasi awal (CAPEX)Tinggi (beli server, lisensi)Rendah (langsung pakai)
Biaya berjalan (OPEX)Tim TI internal, perawatan serverBiaya langganan bulanan/tahunan
Kontrol dataPenuh, data di server sendiriBergantung kebijakan & lokasi server vendor
Kecepatan implementasiLebih lama (bangun infrastruktur)Lebih cepat (tinggal aktivasi akun)
SkalabilitasTerbatas kapasitas server fisikMudah, tinggal upgrade paket
Perusahaan dengan regulasi data ketat (mis. bank, BUMN strategis) sering tetap memilih on-premise atau private cloud demi kontrol penuh, sementara UMKM dan startup umumnya memilih SaaS demi kecepatan & biaya awal rendah.

Coba Sendiri: Bandingkan TCO On-Premise vs Cloud

Ubah skala perusahaan dan horizon waktu, lalu amati titik impas antara biaya on-premise (CAPEX besar di depan) dan cloud (OPEX berlangganan).

Rangkuman & Persiapan Minggu Depan

Cheat Sheet Hari Ini
  • Arsitektur 3-tier: presentasi, aplikasi, database
  • RDBMS: tabel + PK/FK sebagai perekat relasi
  • Normalisasi 1NF→3NF: kurangi redundansi & anomali
  • SQL: SELECT–FROM–WHERE untuk "bertanya" ke database
  • Konfigurasi murah & aman; kustomisasi mahal & berisiko
  • Cloud (IaaS/PaaS/SaaS) vs on-premise: trade-off kontrol vs kepraktisan
Minggu Depan
Pertemuan 3
Business Process Reengineering & Process Mapping — bagaimana proses bisnis didesain ulang sebelum diintegrasikan ke ERP. Baca ulang materi arsitektur & normalisasi minggu ini sebagai bekal.