‹ Daftar slidePertemuan 8: Perdagangan Luar Negeri, Neraca Pembayaran, dan Utang Luar Negeri
RPS minggu 9 · 2x50 menit
Perdagangan Luar Negeri, Neraca Pembayaran, dan Utang Luar Negeri
Perekonomian Indonesia — Program Studi Manajemen FEB UNDIP
Bagian 1 dari 3
Mengapa Indonesia Berdagang dengan Dunia
Dari keunggulan komparatif sampai kebijakan proteksi—liberalisasi
Peta Pertemuan Hari Ini
Jam ke-1 (50 menit)
Teori dasar perdagangan internasional: keunggulan absolut & komparatif
Struktur ekspor-impor Indonesia: komoditas, mitra dagang, tren
Kebijakan perdagangan: tarif, kuota, hingga liberalisasi (RCEP, ASEAN)
Jam ke-2 (50 menit)
Anatomi Neraca Pembayaran: transaksi berjalan & transaksi modal-finansial
Membaca & menghitung defisit/surplus neraca berjalan
Utang luar negeri: jenis, rasio kesehatan, dan risiko bagi Indonesia
Kenapa Negara Berdagang? Keunggulan Komparatif
David Ricardo (1817): negara untung berdagang meski salah satu lebih efisien di semua barang — asal fokus pada barang dengan biaya oportunitas terendah (relatif), bukan hanya biaya terendah (absolut).
Hasilnya: Indonesia ekspor CPO ke Jepang, impor mesin dari Jepang — kedua negara lebih makmur dibanding kalau masing-masing memproduksi sendiri semuanya.
Struktur Ekspor Indonesia: Masih Bertumpu Komoditas
Komoditas ekspor utama ~2025
Bahan bakar mineral (batu bara) — ~13% total ekspor
Lemak & minyak nabati (CPO/turunannya) — ~10%
Besi & baja (hilirisasi nikel) — ~9%
Mesin & elektronik — porsi tumbuh tapi masih minor
Mitra dagang utama
China — mitra ekspor & impor terbesar (~20-25%)
Amerika Serikat — pasar ekspor tekstil & alas kaki
Jepang, India, Singapura — mitra tradisional besar
ASEAN — makin dalam lewat integrasi AEC
Risiko struktural: ekspor Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global — beda dengan Vietnam yang sudah bergeser ke manufaktur elektronik bernilai tambah tinggi.
Kebijakan Perdagangan: Proteksi vs Liberalisasi
Instrumen
Cara Kerja
Contoh di Indonesia
Tarif impor (bea masuk)
Pajak atas barang impor, menaikkan harga jual di pasar domestik
Bea masuk tekstil & produk tekstil (BMTP) untuk lindungi industri lokal
Kuota impor
Batas kuantitas fisik barang yang boleh masuk per periode
Kuota impor bawang putih & gula rafinasi
Subsidi ekspor
Insentif pemerintah agar produk domestik lebih kompetitif di luar negeri
Nilai ekspor dikurangi nilai impor barang & jasa periode tertentu
Interpretasi
Surplus (X > M): devisa masuk neto, tapi bisa juga tanda investasi domestik lemah
Defisit (X < M): devisa keluar neto, tekanan pada rupiah bila berlarut
Indonesia: net surplus komoditas, tapi defisit jasa (jasa transportasi & pariwisata asing)
Bagian 2 dari 3
Anatomi Neraca Pembayaran (Balance of Payments)
Satu buku besar yang mencatat SEMUA transaksi Indonesia dengan dunia
Tiga Komponen Utama Neraca Pembayaran
Hitung dari Nol: Saldo Transaksi Berjalan
Data BI hipotetis triwulan (dalam miliar USD): ekspor barang 55, impor barang 48, ekspor jasa 8, impor jasa 14, pendapatan primer neto −6, transfer berjalan neto +4.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Neraca barang
55 − 48
+7 miliar USD
Neraca jasa
8 − 14
−6 miliar USD
Subtotal barang + jasa
7 + (−6)
+1 miliar USD
Tambah pendapatan primer neto
1 + (−6)
−5 miliar USD
Tambah transfer berjalan neto
−5 + 4
−1 miliar USD
Hasil Akhir
−1
Defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) 1 miliar USD triwulan ini
Coba Sendiri: Susun Saldo Transaksi Berjalan
Ubah angka ekspor-impor barang, jasa, pendapatan primer, dan transfer, lalu amati apakah hasilnya surplus atau defisit.
Hitung dari Nol: Neraca Keseluruhan & Cadangan Devisa
Melanjutkan data sebelumnya: transaksi berjalan −1 miliar USD, transaksi modal +0,2 miliar USD, transaksi finansial neto +3,5 miliar USD (FDI masuk deras).
Langkah
Perhitungan
Nilai
Transaksi berjalan
(dari slide sebelumnya)
−1 miliar USD
Tambah transaksi modal
−1 + 0,2
−0,8 miliar USD
Tambah transaksi finansial
−0,8 + 3,5
+2,7 miliar USD
Neraca keseluruhan (overall balance)
= akumulasi di atas
+2,7 miliar USD
Efek pada Cadangan Devisa
+2,7
Cadangan devisa BI naik ~2,7 miliar USD triwulan ini — rupiah cenderung stabil/menguat
Selisih suku bunga BI-rate lebih menarik dibanding The Fed
Sentimen positif rating kredit Indonesia (Moody's/S&P)
Faktor Pelemah Rupiah
Defisit transaksi berjalan berlarut-larut
Capital outflow saat The Fed menaikkan suku bunga AS
Ketidakpastian global (harga minyak, geopolitik)
BI menganut sistem kurs mengambang terkendali (managed floating) — pasar menentukan kurs, BI intervensi via cadangan devisa hanya untuk meredam volatilitas ekstrem.
Bagian 3 dari 3
Utang Luar Negeri Indonesia
Kenapa negara berutang, dan bagaimana menilai apakah utang itu sehat
Ekspansi usaha, refinancing; wajib lindung nilai (hedging) sebagian sesuai aturan BI
ULN Perbankan
Bank umum
Danai kredit valas, biasanya jangka lebih pendek
Sejak krisis 1998, otoritas ketat soal utang valas swasta jangka pendek tanpa hedging — ini pemicu utama krisis saat rupiah anjlok drastis.
Menilai Kesehatan Utang: Rasio-Rasio Kunci
ULN/PDB
~30%
Total utang luar negeri dibagi PDB — Indonesia relatif moderat dibanding negara berkembang lain (~30% vs batas waspada IMF ~60%)
Debt Service Ratio
~20%
Pembayaran pokok+bunga dibagi penerimaan ekspor — makin tinggi, makin berat beban membayar dari devisa ekspor
Cadangan/Impor
~6-7 bln
Cadangan devisa dibagi rata-rata impor bulanan — standar aman internasional minimal 3 bulan impor
Studi Kasus: Krisis 1998 vs Taper Tantrum 2013
Krisis 1998
Utang swasta valas jangka pendek tanpa hedging membludak
Rupiah anjlok dari ~Rp2.500 ke ~Rp15.000/USD
Banyak korporasi gagal bayar, sistem perbankan runtuh
Taper Tantrum 2013
The Fed sinyal kurangi stimulus → capital outflow masif dari negara berkembang
Rupiah melemah tajam, tapi terkendali (regulasi hedging & rasio utang lebih sehat)
BI & Kemenkeu respons cepat: naikkan BI-rate, perkuat cadangan devisa
Pelajaran: regulasi pasca-1998 (kewajiban hedging, rasio likuiditas ULN) membuat Indonesia jauh lebih tahan banting menghadapi guncangan global 2013 dan sesudahnya.
Merangkai Tiga Pilar: Dari Dagang ke Utang
Rantai sebab-akibat ini menjelaskan mengapa kebijakan hilirisasi & substitusi impor (mengurangi M) bukan sekadar isu industri, tapi juga strategi menjaga stabilitas makro jangka panjang.
Cek Pemahaman: Benar atau Salah?
Pernyataan
1. Surplus neraca perdagangan selalu berarti ekonomi sehat
2. Defisit transaksi berjalan pasti melemahkan rupiah
3. Utang luar negeri otomatis buruk bagi perekonomian
Jawaban & Alasan Singkat
Salah — bisa jadi tanda ekspor komoditas mentah tanpa nilai tambah
Salah — bisa ditutup surplus transaksi finansial (FDI/portofolio)
Salah — tergantung penggunaan & rasio kesehatan (ULN/PDB, DSR)
Latihan Terapan: Analisis Data BI/BPS
Tugas kelompok (dikerjakan 15 menit, dibahas bersama):
Buka data Neraca Pembayaran Indonesia (BI) atau Statistik Ekspor-Impor (BPS) triwulan terbaru.
Identifikasi: apakah transaksi berjalan surplus atau defisit? Berapa nilainya?
Cari komponen apa (barang/jasa/pendapatan primer/transfer) yang paling mempengaruhi angka tersebut.
Diskusikan: kaitkan temuan Anda dengan pergerakan rupiah pada periode yang sama.
Sumber data: bi.go.id (Statistik Ekonomi & Keuangan Indonesia) dan bps.go.id (Statistik Perdagangan Luar Negeri).
Ringkasan Pertemuan 8
Yang Sudah Anda Pelajari
Keunggulan komparatif menjelaskan pola dagang Indonesia-dunia