stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-07
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 7: Investasi, Konsumsi, dan Pengeluaran Pemerintah
RPS minggu 7 · 2x50 menit

Investasi, Konsumsi, dan Pengeluaran Pemerintah

Tiga Komponen Penggerak Permintaan Agregat dalam Perekonomian Indonesia

Bagian 1 dari 3
Investasi (I)
Dari pabrik baru sampai suku bunga BI — apa yang mendorong dunia usaha menanam modal

Apa Itu Investasi dalam Perhitungan PDB?

Investasi (I) = pengeluaran untuk barang modal baru yang menambah kapasitas produksi — bukan jual-beli aset finansial (saham, obligasi) yang hanya memindahkan kepemilikan.

Investasi Tetap Bisnis
  • Mesin, pabrik, kendaraan operasional
  • Software & peralatan digital
  • Contoh: Indofood tambah lini produksi mi instan
Investasi Residensial
  • Pembangunan rumah & apartemen baru
  • Dicatat di sisi pembeli/pengembang
  • Contoh: proyek perumahan baru di BSD City
Perubahan Inventori
  • Selisih stok barang akhir vs awal periode
  • Bisa negatif (stok terjual habis)
  • Contoh: gudang UMKM tekstil di Solo

Faktor Penentu Investasi

Determinan Utama
  • Suku bunga riil (acuan BI7DRR) — biaya modal pinjaman
  • Ekspektasi laba & prospek permintaan
  • MEC (marginal efficiency of capital) — imbal hasil proyek marjinal
  • Kepastian regulasi & kondisi politik

Kaidah dasar: perusahaan menanam modal selama MEC > suku bunga riil.

r (%)Investasi (I)r tinggi → I rendahr rendah → I tinggi

Investasi dan Prinsip Akselerator

Sebagian investasi bersifat otonom (tak tergantung pendapatan), sebagian lagi terinduksi — mengikuti perubahan permintaan.

Prinsip akselerator: kenaikan pendapatan/permintaan (ΔY) mendorong perusahaan menambah kapasitas, sehingga ΔI = v × ΔY, dengan v = rasio modal-output.
Siklus Naik
  • Permintaan naik (mis. musim Lebaran)
  • Kapasitas pabrik hampir penuh
  • Perusahaan investasi mesin baru
  • Output & lapangan kerja naik lagi
Contoh Riil
  • Indomaret buka gerai baru saat omzet naik
  • Maskapai tambah armada saat load factor tinggi
  • Efek berantai ke sektor logam & konstruksi

Hitung dari Nol: Angka Pengganda Investasi

Kasus: MPC (marginal propensity to consume) = 0,8; kenaikan investasi ΔI = Rp100 miliar. Berapa dampak totalnya ke PDB (ΔY)?

LangkahPerhitunganNilai
1. MPC diketahuidiberikan dari data survei rumah tangga0,8
2. Hitung MPS1 − MPC = 1 − 0,80,2
3. Hitung angka pengganda (k)k = 1 / MPS = 1 / 0,25
4. Hitung ΔYΔY = k × ΔI = 5 × Rp100 miliarRp500 miliar
Dampak total ke PDB
Rp500 M
dari kenaikan investasi Rp100 miliar (k = 5)

Coba Sendiri: Geser MPC, Lihat Efek Pengganda

Ubah MPC dan besaran kenaikan investasi awal, lalu amati bagaimana angka pengganda dan dampak total ke PDB berubah.

Tren Investasi di Indonesia

Realisasi PMDN
~Rp900 T
penanaman modal dalam negeri, tren tahunan
Realisasi PMA
~Rp700 T
penanaman modal asing, data realisasi BKPM
Data resmi selalu rujuk rilis terbaru Kementerian Investasi/BKPM — angka di atas indikatif (~), bukan angka final tahun berjalan.

Studi Kasus: BI Naikkan Suku Bunga, Investasi Melambat

Alur Kejadian
  • BI menaikkan BI7DRR dari ~5,75% menjadi ~6,25% untuk meredam inflasi & jaga stabilitas rupiah
  • Bank menaikkan bunga kredit investasi & KPR mengikuti kenaikan acuan
  • Proyek dengan MEC (imbal hasil marjinal) di bawah bunga baru → ditunda/dibatalkan
  • Realisasi investasi sektor properti & konstruksi melambat triwulan berikutnya
  • Saham emiten konstruksi (mis. WIKA, PTPP) tertekan di Bursa Efek Indonesia
Bagian 2 dari 3
Konsumsi (C)
Komponen terbesar PDB Indonesia — dari fungsi konsumsi Keynes sampai perilaku belanja digital

Fungsi Konsumsi Keynes

C = a + b·Yd
  • a = konsumsi otonom (tetap ada meski Yd = 0)
  • b = MPC (marginal propensity to consume)
  • Yd = pendapatan disposabel (setelah pajak)
garis 45°a (intercept)slope = b (MPC)CYd

MPC dan MPS: Dua Sisi Mata Uang

MPC — Marginal Propensity to Consume

MPC = ΔC / ΔYd

Porsi tambahan pendapatan yang dibelanjakan.

MPS — Marginal Propensity to Save

MPS = ΔS / ΔYd

Porsi tambahan pendapatan yang ditabung.

MPC + MPS = 1

Hitung dari Nol: Konsumsi dan Tabungan

Kasus: pendapatan disposabel (Yd) naik dari Rp10 juta menjadi Rp12 juta per bulan; MPC = 0,75. Berapa tambahan konsumsi dan tabungannya?

LangkahPerhitunganNilai
1. Hitung ΔYdRp12 juta − Rp10 jutaRp2 juta
2. Hitung ΔCMPC × ΔYd = 0,75 × Rp2 jutaRp1,5 juta
3. Hitung ΔSΔYd − ΔC = Rp2 juta − Rp1,5 jutaRp0,5 juta
4. Cek konsistensi (MPS)MPS × ΔYd = 0,25 × Rp2 jutaRp0,5 juta ✓
Tambahan konsumsi
Rp1,5 juta
dari kenaikan pendapatan disposabel Rp2 juta

Faktor Non-Pendapatan Penentu Konsumsi

Kekayaan
  • Wealth effect: harga saham/properti naik → konsumsi naik
  • Contoh: IHSG rally, portofolio investor naik
Ekspektasi & Kredit
  • Optimisme masa depan mendorong belanja di muka
  • Kredit konsumsi, cicilan, & paylater mempermudah belanja
Suku Bunga & Pajak
  • Bunga tabungan tinggi → dorong menabung, bukan belanja
  • Kenaikan PPN/PPh menurunkan Yd riil

Konsumsi Rumah Tangga: Tulang Punggung PDB Indonesia

Kontribusi ke PDB
~54%
porsi konsumsi rumah tangga dalam PDB Indonesia
Pendorong Utama
  • Pertumbuhan kelas menengah & urbanisasi
  • E-commerce: Tokopedia, Shopee, TikTok Shop
  • Momen musiman: Lebaran, Harbolnas, akhir tahun
Bagian 3 dari 3
Pengeluaran Pemerintah (G)
APBN sebagai alat kebijakan fiskal — alokasi, distribusi, dan stabilisasi ekonomi

Peran Pengeluaran Pemerintah dalam PDB

G = belanja pegawai + belanja barang/jasa + belanja modal + transfer ke daerah — dibiayai lewat APBN.

Fungsi Alokasi
  • Sediakan barang publik: jalan, sekolah, rumah sakit
Fungsi Distribusi
  • Kurangi kesenjangan: subsidi, bansos, dana desa
Fungsi Stabilisasi
  • Redam siklus ekonomi lewat kebijakan fiskal

Hitung dari Nol: Defisit APBN

Kasus ilustratif: pendapatan negara Rp2.800 triliun, belanja negara Rp3.200 triliun, asumsi PDB nominal ~Rp22.000 triliun. Berapa defisit & rasionya terhadap PDB?

LangkahPerhitunganNilai
1. Hitung defisit nominalBelanja − Pendapatan = Rp3.200T − Rp2.800TRp400 T
2. Hitung rasio thd PDBRp400T / Rp22.000T × 100%~1,8%
3. Bandingkan batas UU Keuangan NegaraBatas defisit maksimal 3% PDB~1,8% < 3% (aman)
Defisit APBN
~1,8%
thd PDB — masih di bawah batas 3% UU Keuangan Negara

Kebijakan Fiskal: Ekspansif vs Kontraktif

Kasus A — Fiskal Ekspansif
  • Ekonomi melambat/resesi, pengangguran naik
  • Pemerintah naikkan belanja infrastruktur & turunkan pajak
  • Permintaan agregat (C+I+G) terdorong naik
  • PDB & lapangan kerja pulih (mis. program PEN 2020-2021)
Kasus B — Fiskal Kontraktif
  • Inflasi tinggi, ekonomi terlalu panas (overheating)
  • Pemerintah kurangi belanja & naikkan penerimaan pajak
  • Permintaan agregat mereda, tekanan harga turun
  • Inflasi terkendali, namun risiko perlambatan pertumbuhan

Sintesis: I + C + G Membentuk Permintaan Agregat

Y = C + I + G (+ NX, dibahas pertemuan berikutnya)
C — Konsumsi
~54%
porsi terbesar, paling stabil
I — Investasi
k = 5
porsi lebih kecil, paling fluktuatif
G — Pemerintah
~1,8%
defisit terkendali, alat stabilisasi

Ketiganya saling terhubung lewat angka pengganda (multiplier) yang sama — kenaikan salah satu komponen merambat ke seluruh perekonomian.

Latihan & Tugas Kelompok

Instruksi
  • Unduh data PDB pengeluaran (BPS) 4 triwulan terakhir
  • Identifikasi tren I, C, dan G — mana yang paling fluktuatif?
  • Kaitkan tren investasi dengan pergerakan suku bunga acuan BI (BI7DRR)
  • Kaitkan tren pengeluaran pemerintah dengan realisasi APBN periode yang sama
  • Presentasikan temuan kelompok (maks. 5 slide) pada pertemuan berikutnya
Kelompok 3-4 mahasiswa. Sumber data wajib resmi: BPS, Kementerian Keuangan, atau Bank Indonesia — sertakan tautan sumber di setiap slide.