‹ Daftar slidePertemuan 6: Kependudukan, Ketenagakerjaan, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
RPS minggu 6 · 2x50 menit
Kependudukan, Ketenagakerjaan, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Perekonomian Indonesia · Prodi Manajemen FEB UNDIP
Dari jumlah penduduk ke kualitas manusia: bagaimana Indonesia mengukur, mengelola, dan memanfaatkan modal manusianya.
Bagian 1 · Jam Pertama
Dinamika Kependudukan & Bonus Demografi
Dari jumlah penduduk ke struktur usia — mengapa "siapa" penduduk Indonesia sama pentingnya dengan "berapa banyak".
Mengapa Kependudukan Penting bagi Ekonomi?
Penduduk bukan sekadar angka — ia adalah pasar (sisi permintaan) sekaligus tenaga kerja (sisi penawaran/produksi).
Indonesia = negara ke-4 terpadat dunia, ~282 juta jiwa (2024, proyeksi BPS)
Struktur usia menentukan dependency ratio (rasio ketergantungan) — beban penduduk usia tidak produktif
Kualitas penduduk (pendidikan, kesehatan) menentukan produktivitas jangka panjang, bukan sekadar jumlahnya
Populasi Indonesia 2024
~282 jt
jiwa · peringkat ke-4 dunia
Rujukan: BPS, Proyeksi Penduduk Indonesia. Angka dibulatkan (~) karena sifatnya proyeksi antar-sensus.
Struktur & Transisi Demografi
Piramida penduduk menggambarkan komposisi usia — bentuknya berubah seiring pembangunan (demographic transition, transisi demografi).
Bonus Demografi: Peluang dengan Batas Waktu
Definisi: Bonus demografi (demographic dividend) adalah periode saat rasio ketergantungan (dependency ratio) rendah — usia produktif (15–64 th) jauh lebih banyak dari usia non-produktif (<15 & >64 th).
Peringatan: Jendela bonus Indonesia diperkirakan mulai menutup sekitar 2030–2040. Tanpa penyerapan kerja berkualitas, bonus berubah jadi beban.
Syarat memanfaatkan bonus: pendidikan & kesehatan memadai (kualitas SDM), lapangan kerja cukup, produktivitas naik
Contoh sukses: Korea Selatan (1970–1990-an) — investasi pendidikan + industrialisasi ekspor
Risiko gagal: pertumbuhan angkatan kerja > pertumbuhan lapangan kerja → pengangguran struktural naik
Konsep Dasar Ketenagakerjaan: Siapa Termasuk Apa?
Angkatan Kerja (Labor Force)
Penduduk usia kerja yang bekerja atau mencari kerja (menganggur aktif)
Tidak termasuk: pelajar penuh waktu, IRT, pensiunan yang tidak mencari kerja
Istilah Terkait
TPAK: Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
TPT: Tingkat Pengangguran Terbuka
Setengah menganggur: bekerja <35 jam/minggu, ingin jam lebih banyak
Hitung dari Nol #1: TPAK & TPT Provinsi X
Data BPS (ilustratif) suatu provinsi: penduduk usia kerja 8.000.000 jiwa, angkatan kerja 5.600.000 jiwa, bekerja 5.208.000 jiwa.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Penganggur terbuka
5.600.000 − 5.208.000
392.000 jiwa
2. TPAK
5.600.000 / 8.000.000 × 100%
70%
3. TPT
392.000 / 5.600.000 × 100%
7%
4. Rasio kerja-penduduk usia kerja
5.208.000 / 8.000.000 × 100%
65,1%
Interpretasi
TPAK 70% berarti 7 dari 10 penduduk usia kerja aktif di pasar kerja. TPT 7% berarti dari 100 orang angkatan kerja, 7 orang belum bekerja.
Coba Sendiri: Hitung TPAK & TPT Provinsi Anda
Ubah angka penduduk usia kerja, angkatan kerja, dan yang bekerja, lalu amati bagaimana TPAK dan TPT bergerak.
Jenis Pengangguran: Bukan Semua Sama
Friksional
Sementara, saat berpindah kerja atau baru lulus mencari kerja pertama. Wajar dalam ekonomi sehat.
Struktural
Ketidaksesuaian skill dengan kebutuhan industri (mis. lulusan sastra vs kebutuhan data analyst).
Siklikal
Akibat resesi/kontraksi ekonomi — permintaan tenaga kerja turun bersamaan di banyak sektor.
Musiman juga ada: petani tembakau atau pekerja pariwisata Bali yang menganggur di luar musim panen/liburan.
Bagian 2 · Jam Kedua
Upah, Sektor Informal, dan Kebijakan Pasar Kerja
Dari angka statistik ke isu kebijakan yang memengaruhi bisnis Anda sehari-hari.
Upah Minimum: Mekanisme & Perdebatan
Upah Minimum Provinsi/Kabupaten-Kota (UMP/UMK) ditetapkan tiap tahun berdasarkan formula yang mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi & inflasi (PP Pengupahan turunan UU Cipta Kerja).
Tujuan: jaring pengaman sosial (social safety net) minimum layak hidup
Argumen pro: melindungi pekerja dari eksploitasi upah
Argumen kontra: bisa menekan penyerapan tenaga kerja di UMKM padat karya bila naik terlalu agresif
Dilema kebijakan: UMK terlalu rendah → pekerja tak sejahtera. UMK terlalu tinggi & cepat → UMKM garmen/tekstil padat karya berpotensi mengurangi rekrutmen atau otomatisasi.
Sektor Informal: Realitas Pasar Kerja Indonesia
Lebih dari separuh pekerja Indonesia berada di sektor informal — bekerja tanpa kontrak formal, jaminan sosial, atau perlindungan hukum penuh.
Sektor informal menyerap tenaga kerja saat formal tak cukup — tapi produktivitasnya umumnya lebih rendah.
Bagian 3
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
PDB per kapita tinggi ≠ otomatis rakyat sejahtera. Amartya Sen & Mahbub ul Haq (1990) mengusulkan ukuran pembangunan berbasis kapabilitas manusia — UNDP mengoperasionalkannya menjadi HDI, di Indonesia disebut IPM.
Tiga Dimensi Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Ketiga dimensi digabung jadi satu indeks komposit, skala 0–100.
Interpretasi Level IPM
Kategori
Rentang IPM
Contoh Ilustratif
Sangat Tinggi
≥ 80
DKI Jakarta (~~81)
Tinggi
70 – 79,99
Jawa Tengah, Jawa Barat (~72–73)
Sedang
60 – 69,99
Sebagian provinsi Indonesia Timur
Rendah
< 60
Papua Pegunungan (provinsi termuda)
IPM Indonesia nasional ~74 (2023, kategori Tinggi) — namun kesenjangan antarprovinsi masih lebar (Jakarta vs Papua Pegunungan bisa berbeda >20 poin).
Hitung dari Nol #2: Menyusun IPM Sederhana
Metode UNDP: tiap dimensi dinormalisasi jadi indeks 0–1 memakai nilai minimum-maksimum global, lalu digabung rata-rata geometrik.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Indeks Kesehatan (AHH=72, min=20, maks=85)
(72−20) / (85−20)
0,80
2. Indeks Pendidikan (rata sekolah=8,5, min=0, maks=15)
IPM 68,4 masuk kategori Sedang (60–69,99) — mendekati batas ambang "Tinggi".
Coba Sendiri: Susun IPM dari Tiga Dimensi
Geser angka harapan hidup, lama sekolah, dan pengeluaran per kapita, lalu lihat bagaimana rata-rata geometrik menggabungkannya menjadi satu angka IPM.
Mengapa Rata-rata Geometrik, Bukan Rata-rata Biasa?
Rata-rata aritmetik (lama, sebelum 2010): dimensi lemah bisa "ditutupi" dimensi kuat. Provinsi kaya sumber daya alam tapi pendidikan buruk tetap tampak baik.
Rata-rata geometrik (metode baru UNDP sejak 2010): menghukum ketimpangan antar-dimensi — satu dimensi sangat rendah akan menarik turun indeks keseluruhan secara signifikan.
Analogi: nilai rapor tak bisa "ditutupi" — siswa nilai Matematika 100 tapi Bahasa Indonesia 20, rata-rata geometrik akan jauh lebih rendah dari rata-rata biasa (60).
IPM sebagai Alat Kebijakan & Bisnis
Bagi Pemerintah
Dasar alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) & evaluasi kinerja daerah
Target RPJMN/RPJMD — indikator keberhasilan pembangunan
Basis penentuan prioritas intervensi (kesehatan vs pendidikan vs ekonomi)
Bagi Pelaku Bisnis
Proxy kualitas SDM lokal saat ekspansi pabrik/cabang baru
Indikator daya beli & potensi pasar konsumen daerah
Panduan lokasi CSR/program keberlanjutan perusahaan (mis. PROPER)
Studi Kasus: Migrasi & Urbanisasi
Ketimpangan IPM antarwilayah mendorong migrasi tenaga kerja — fenomena yang membentuk pasar kerja kota besar.
Urbanisasi: perpindahan penduduk desa → kota mencari peluang kerja & pendidikan lebih baik
Jakarta, Surabaya, Semarang jadi magnet karena IPM & lapangan kerja formal lebih tinggi