‹ Daftar slidePertemuan 5: Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
RPS minggu 5 · 2x50 menit
Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
Perekonomian Indonesia — Program Studi Manajemen, FEB UNDIP
Peta Pertemuan Hari Ini
Jam ke-1 (50 menit)
Konsep distribusi pendapatan & mengapa penting diukur
Kurva Lorenz & Koefisien Gini — menghitung dari data desil
Ukuran alternatif: rasio 40% kelompok termiskin (Bank Dunia)
Jam ke-2 (50 menit)
Mengukur kemiskinan: garis kemiskinan BPS & Head Count Index
Indeks kedalaman & keparahan kemiskinan (P1, P2)
Kurva Kuznet & kebijakan redistribusi di Indonesia
Posisi dalam alur 14 pertemuan: setelah pendapatan nasional & pertumbuhan (P3), sebelum kependudukan-ketenagakerjaan & IPM (P6) — dua pertemuan ini bersama-sama menjawab pertanyaan "pertumbuhan untuk siapa".
Bagian 1
Mengukur Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Diskusi kelas: jika ekonomi Indonesia tumbuh 5% tahun ini, apakah itu otomatis berarti semua kelompok masyarakat menjadi lebih sejahtera secara merata?
Distribusi Pendapatan: Konsep Dasar & Mengapa Penting
Distribusi pendapatan menggambarkan bagaimana total pendapatan nasional terbagi di antara kelompok-kelompok masyarakat — bukan seberapa besar kue ekonominya, melainkan bagaimana kue itu dipotong.
Mengapa Bukan Cuma Pertumbuhan yang Penting
Pertumbuhan tinggi bisa disertai ketimpangan yang melebar (contoh: boom komoditas 2010-an)
Ketimpangan tinggi berisiko menahan mobilitas sosial & stabilitas politik
Investor & analis (termasuk di BEI) memperhatikan daya beli kelas menengah, bukan hanya PDB agregat
Dua Alat Ukur Utama Hari Ini
Kurva Lorenz: representasi visual ketimpangan
Koefisien Gini: ringkasan Kurva Lorenz jadi satu angka (0-1)
Keduanya bersumber dari data desil/kuintil pendapatan Susenas BPS
Kurva Lorenz: Cara Membacanya
Semakin jauh Kurva Lorenz melengkung menjauhi garis diagonal (garis kemerataan sempurna), semakin tinggi ketimpangan distribusi pendapatan.
Hitung dari Nol: Menyusun Titik Kurva Lorenz dari Data Desil
Data ilustrasi: penduduk dibagi 10 desil (masing-masing 10% populasi), dengan pangsa pendapatan desil 1 (termiskin) hingga desil 10 (terkaya): 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 10%, 13%, 17%, 27%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Populasi kumulatif desil 1-3
10% + 10% + 10%
30%
2. Pendapatan kumulatif desil 1-3
3% + 4% + 5%
12%
3. Populasi kumulatif desil 1-6
30% + 10% + 10% + 10%
60%
4. Pendapatan kumulatif desil 1-6
3+4+5+6+7+8
33%
5. Titik Lorenz pada 60% populasi
bandingkan (60%,33%) vs garis merata (60%,60%)
gap 27 poin
Titik pada Kurva
60% penduduk berpendapatan terendah hanya menikmati 33% dari total pendapatan → inilah yang membuat kurva melengkung ke bawah garis kemerataan
Hitung dari Nol: Koefisien Gini dari Kurva Lorenz
Koefisien Gini = Luas area antara garis kemerataan & Kurva Lorenz (A) dibagi luas total di bawah garis kemerataan (A+B). Estimasi trapesium: G = 1 − Σ(X⁵ − X⁵₃₁)(Y⁵ + Y⁵₃₁).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Jumlah (Y⁵+Y⁵₃₁) sepanjang 10 desil
0,03+0,10+0,19+0,30+0,43+0,58+0,76+0,99+1,29+1,73
6,40
2. Kalikan lebar interval populasi (0,1)
6,40 × 0,1
0,640
3. Luas di bawah Kurva Lorenz (B)
hasil langkah 2
0,640
4. Luas antara garis kemerataan & Lorenz (A)
1 − 0,640
0,360
5. Koefisien Gini = A ÷ (A+B)
0,360 ÷ (0,360+0,640)
0,36
Koefisien Gini (data ilustrasi kelas)
0,36
Skala 0 (merata sempurna) hingga 1 (timpang sempurna) — nilai ini berada di kategori ketimpangan "sedang"
Interpretasi & Kategori Koefisien Gini
Rendah
< 0,30
Ketimpangan rendah — mendekati beberapa negara Skandinavia
Sedang
0,30–0,50
Ketimpangan sedang — kategori Indonesia saat ini
Tinggi
> 0,50
Ketimpangan tinggi — banyak dijumpai di sebagian negara Amerika Latin & Afrika Selatan
Gini rasio Indonesia versi BPS berada di kisaran ~0,38–0,39 dalam beberapa tahun terakhir — relatif stabil, namun masih di atas rata-rata negara ASEAN dengan struktur ekonomi setara.
Geser pangsa pendapatan tiap kelompok dan amati bagaimana Kurva Lorenz melengkung serta Koefisien Gini berubah secara langsung.
Hitung dari Nol: Rasio Bank Dunia (Pangsa 40% Termiskin)
Bank Dunia mengukur ketimpangan lewat pangsa pendapatan yang dinikmati 40% penduduk berpendapatan terendah — ambang: <12% timpang tinggi, 12–17% sedang, >17% rendah.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Pangsa pendapatan desil 1 (termiskin)
dari data desil ilustrasi
3%
2. Jumlahkan pangsa desil 1-4 (=40% penduduk)
3% + 4% + 5% + 6%
18%
3. Bandingkan dengan ambang Bank Dunia
18% vs kategori >17%
kategori "rendah"
4. Bandingkan dengan hasil Koefisien Gini
Gini 0,36 = "sedang" vs rasio ini = "rendah"
dua ukuran berbeda sudut pandang
Kedua ukuran bisa berbeda kategori karena Gini sensitif terhadap seluruh distribusi (termasuk puncak), sementara rasio 40% termiskin fokus hanya pada dasar distribusi.
Bagian 2
Mengukur Kemiskinan
Diskusi kelas: apakah "miskin" itu berarti sama di Jakarta dan di pedesaan Nusa Tenggara Timur, atau standarnya berbeda?
Garis Kemiskinan BPS: Makanan + Non-Makanan
Garis Kemiskinan (GK) = Garis Kemiskinan Makanan (GKM) + Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM) — nilai rupiah pengeluaran minimum per kapita per bulan agar terpenuhi kebutuhan dasar.
GKM (Garis Kemiskinan Makanan)
Setara 2.100 kkal/kapita/hari
Dihitung dari harga paket komoditas makanan pokok representatif
Bobot terbesar dalam Garis Kemiskinan total (~70-80%)
Dihitung terpisah untuk wilayah perkotaan & perdesaan
Bobot lebih kecil, tapi menyesuaikan biaya hidup lokal
Karena komponen ini dihitung per provinsi & per wilayah kota-desa, garis kemiskinan nominal berbeda antar daerah — wilayah perkotaan seperti Jakarta memiliki GK jauh lebih tinggi dibanding perdesaan NTT.
Hitung dari Nol: Head Count Index (P0)
Head Count Index (P0) = proporsi penduduk yang pengeluarannya berada di bawah Garis Kemiskinan — ukuran kemiskinan paling dasar & paling sering dikutip media.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total rumah tangga tersurvei (ilustrasi)
sampel Susenas ilustratif
1.000 RT
2. Ambang Garis Kemiskinan (ilustrasi)
pengeluaran per kapita per bulan
~Rp 550.000
3. RT dengan pengeluaran di bawah ambang
hasil sensus lapangan ilustratif
92 RT
4. Head Count Index (P0)
92 ÷ 1.000 × 100
9,2%
5. Bandingkan dengan angka nasional BPS
9,2% vs ~9% (kisaran angka kemiskinan nasional BPS terkini)
mendekati
Head Count Index
9,2%
Menunjukkan proporsi penduduk miskin, TAPI tidak menunjukkan seberapa "dalam" kemiskinan mereka
Kerangka Foster-Greer-Thorbecke (FGT) menambahkan dimensi "seberapa jauh" & "seberapa timpang" kemiskinan di bawah Head Count Index P0.
Langkah 1–2: Rumah Tangga A vs B (di bawah GK)
RT A: pengeluaran Rp 500.000, hanya Rp 50.000 di bawah GK (~Rp 550.000)
RT B: pengeluaran Rp 300.000, jauh Rp 250.000 di bawah GK
P0 menganggap A dan B "sama-sama miskin" — padahal jaraknya sangat berbeda
Langkah 3–4: P1 (Kedalaman) & P2 (Keparahan)
P1 memberi bobot pada besar jarak (poverty gap) — RT B menyumbang gap lebih besar dari RT A
P2 mengkuadratkan jarak — RT B (jarak jauh) berkontribusi jauh lebih besar dari RT A
Implikasi kebijakan: P2 tinggi → prioritaskan bantuan pada rumah tangga paling parah, bukan rata
P• = (1/n) Σ [(GK − yⁱ)/GK]• untuk setiap rumah tangga di bawah GK
Studi Kasus: Ketimpangan & Kemiskinan Jawa vs Luar Jawa
Data ilustratif berdasarkan pola umum yang konsisten dengan rilis BPS beberapa tahun terakhir: konsentrasi penduduk miskin lebih tinggi di sebagian wilayah timur Indonesia.
Indikator
Jawa (ilustrasi)
Sebagian Wilayah Timur (ilustrasi)
Head Count Index (P0)
~7-8%
~20-26%
Koefisien Gini
~0,36-0,38
~0,33-0,37
Struktur ekonomi dominan
Manufaktur, jasa, perdagangan
Pertanian subsisten, tambang enklave
Akses infrastruktur dasar
Relatif merata
Timpang antar-kabupaten
Catatan penting: Gini yang mirip antar wilayah TIDAK berarti kondisi kemiskinan setara — Head Count Index menunjukkan sebagian wilayah timur memiliki proporsi penduduk miskin jauh lebih tinggi meski ketimpangan relatifnya tidak jauh berbeda.
Bagian 3
Kurva Kuznet & Kebijakan Redistribusi
Diskusi kelas: apakah ketimpangan adalah "harga yang harus dibayar" untuk mengejar pertumbuhan di tahap awal pembangunan, ataukah bisa dihindari?
Kurva Kuznet: Hipotesis "U-Terbalik"
Hipotesis Kuznets (1955): ketimpangan naik pada tahap awal industrialisasi, mencapai puncak di negara berpendapatan menengah, lalu menurun setelah negara mencapai kematangan ekonomi.
Kebijakan Redistribusi: Pajak Progresif & Transfer Sosial
PPh Badan flat 22% — redistribusi terjadi lebih banyak lewat sisi belanja negara
PPN efektif ~11% (PMK 131/2024) bersifat regresif relatif terhadap kelompok bawah
Sisi Belanja: Transfer Sosial
Program Keluarga Harapan (PKH): bantuan tunai bersyarat untuk RT sangat miskin
Kartu Sembako/BPNT: bantuan pangan non-tunai
Bantuan Langsung Tunai (BLT): respons cepat saat guncangan ekonomi
Prinsip redistribusi: pajak progresif menarik kontribusi lebih besar dari kelompok mampu, sementara transfer sosial menyalurkannya ke kelompok rentan — bekerja pada sisi Kurva Lorenz yang berbeda.
Sintesis: Tiga Pertanyaan Kunci Manajer & Analis
Ketimpangan
Berapa Koefisien Gini wilayah pasar saya, dan apakah daya beli terkonsentrasi di segmen tertentu?
Kemiskinan
Bukan hanya berapa persen penduduk miskin (P0), tapi seberapa dalam & parah kondisinya (P1, P2)?
Kebijakan
Bagaimana pajak & transfer sosial pemerintah memengaruhi daya beli segmen yang saya sasar?
Analisis Pasar yang Utuh = Pertumbuhan Agregat × Distribusinya × Kedalaman Kemiskinan di Dasarnya
Latihan Individu & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Latihan (15 menit, kerjakan sebelum sesi berikutnya): Gunakan data 5 kuintil pendapatan berikut (pangsa pendapatan kuintil 1 hingga 5, dari termiskin ke terkaya): 8%, 12%, 16%, 22%, 42%. (1) Hitung persentase kumulatif penduduk & pendapatan untuk kelima titik Kurva Lorenz. (2) Perkirakan Koefisien Gini dengan metode trapesium seperti contoh di kelas. (3) Bandingkan dengan hasil kelas (Gini 0,36) — apakah data ini lebih atau kurang timpang?
Pertemuan 6: Kependudukan, Ketenagakerjaan & IPM
Selesaikan latihan hitung Gini kuintil di atas — siap didiskusikan
Baca sekilas rilis terbaru BPS tentang tingkat pengangguran terbuka (TPT) di provinsi Anda
Bawa satu contoh nyata program bantuan sosial (PKH/Kartu Sembako/BLT) yang Anda ketahui dari lingkungan sekitar
Pertemuan 6 akan memperdalam sisi ketenagakerjaan & kualitas manusia dari distribusi pendapatan yang baru kita bahas — IPM sebagai pelengkap Gini & Head Count Index.