stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-12
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 12: Manajemen Persediaan Retail (EOQ, JIT) dan Peran Teknologi (RFID, IoT) dalam Distribusi
Prodi Manajemen • FEB UNDIP • Penjualan Retail

Manajemen Persediaan Retail (EOQ, JIT) dan Peran Teknologi (RFID, IoT) dalam Distribusi

Pertemuan 12

Berapa banyak barang harus dipesan, kapan harus dipesan ulang, dan bagaimana teknologi seperti RFID serta IoT membuat rak Indomaret dan Alfamart nyaris tidak pernah kosong.

RPS MINGGU 13 • 2X50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:

CAPAIAN 1 — BIAYA PERSEDIAAN
MENGENALI EMPAT JENIS BIAYA
Mengidentifikasi biaya pemesanan, penyimpanan, kehabisan stok, dan penyusutan dalam persediaan retail.
CAPAIAN 2 — EOQ & ROP
MENGHITUNG JUMLAH & TITIK PESAN OPTIMAL
Menghitung Economic Order Quantity dan Reorder Point dari data nyata.
CAPAIAN 3 — JIT
MEMAHAMI FILOSOFI JUST IN TIME
Membandingkan pendekatan JIT dengan EOQ tradisional dan tantangan penerapannya di Indonesia.
CAPAIAN 4 — TEKNOLOGI
RFID & IoT DALAM DISTRIBUSI
Menjelaskan bagaimana RFID dan IoT mempercepat & mengakuratkan pelacakan persediaan retail.

Dari Harga ke Persediaan: Mengapa Urutannya Begini?

Menetapkan harga (Pertemuan 12) tidak ada gunanya bila barangnya tidak ada di rak. Persediaan adalah "jembatan" antara keputusan harga dan pengalaman belanja nyata pelanggan.

MINGGU LALU
PENETAPAN HARGA
Berapa harga jual optimal per produk.
HARI INI
PERSEDIAAN & TEKNOLOGI
Berapa banyak dipesan, kapan, dan bagaimana melacaknya.
MINGGU DEPAN
KOMUNIKASI & SDM TOKO
Bagaimana produk yang tersedia dikomunikasikan & dilayani.
Ingat kasus BBCA yang membiayai ekspansi ritel nasabahnya: bank selalu menilai rasio perputaran persediaan sebelum mengucurkan kredit modal kerja retail — persediaan yang buruk kelolanya berarti risiko kredit yang lebih tinggi.

Empat Jenis Biaya dalam Manajemen Persediaan

Mengelola persediaan pada dasarnya adalah menyeimbangkan empat jenis biaya yang saling tarik-menarik.

BIAYA PEMESANAN (ordering cost)
Biaya administrasi, pengiriman, & pemrosesan setiap kali toko memesan barang ke pemasok.
BIAYA PENYIMPANAN (holding/carrying cost)
Sewa gudang, asuransi, modal yang "mengendap" di rak, & risiko kerusakan barang.
BIAYA KEHABISAN STOK (stockout cost)
Penjualan hilang & pelanggan kecewa saat produk yang dicari tidak tersedia di rak.
BIAYA PENYUSUTAN (shrinkage)
Kehilangan akibat pencurian, kerusakan, kedaluwarsa, atau kesalahan pencatatan stok.
Bagian 1 dari 3
Economic Order Quantity (EOQ)
Metode klasik untuk menghitung jumlah pesanan yang meminimalkan total biaya persediaan — menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.
Titik Optimal Reorder Point

Trade-off: Semakin Sering Pesan vs Semakin Banyak Pesan

EOQ mencari titik di mana biaya pemesanan (turun saat jumlah pesanan makin besar) bertemu biaya penyimpanan (naik saat jumlah pesanan makin besar).

Jumlah unit per pesanan (Q)Biaya (Rp)Biaya penyimpanan naikBiaya pemesanan turunTotal biaya persediaanEOQ (titik minimum)

Rumus & Asumsi EOQ

EOQ = √( 2 × D × S / H )
Variabel
  • D — permintaan tahunan (unit/tahun)
  • S — biaya pemesanan per pesanan (Rp)
  • H — biaya penyimpanan per unit per tahun (Rp)
Asumsi Model
  • Permintaan konstan & diketahui pasti
  • Lead time (waktu tunggu) tetap
  • Tidak ada diskon untuk pembelian besar
  • Tidak ada kehabisan stok yang diizinkan
Asumsi ini idealis — di dunia nyata permintaan retail berfluktuasi (mis. lonjakan Ramadan/Lebaran), sehingga EOQ selalu dipadukan dengan safety stock pada slide berikutnya.

Hitung dari Nol: EOQ Sebuah Minimarket

Kasus: sebuah minimarket menjual D = 8.000 unit/tahun galon air mineral, biaya pemesanan S = Rp 250.000/pesanan, biaya penyimpanan H = Rp 1.000/unit/tahun.

LangkahPerhitunganNilai
Data diketahuiD = 8.000; S = Rp 250.000; H = Rp 1.000
Hitung 2DS2 × 8.000 × Rp 250.000Rp 4.000.000.000
Bagi dengan HRp 4.000.000.000 ÷ Rp 1.0004.000.000
Akar kuadrat√4.000.0002.000 unit
EOQ = 2.000 unit/pesanan → toko memesan sebanyak 8.000 ÷ 2.000 = 4 kali/tahun, atau setiap ~91 hari (365 ÷ 4).

Coba Sendiri: Kalkulator & Visualisasi EOQ

Ubah permintaan tahunan (D), biaya pemesanan (S), dan biaya penyimpanan (H), lalu amati bagaimana EOQ dan kurva total biaya persediaan berubah.

Interpretasi Hasil: Mengapa 2.000 Unit Itu Optimal?

TOTAL BIAYA PEMESANAN/TAHUN
Rp 1.000.000
4 pesanan × Rp 250.000
TOTAL BIAYA PENYIMPANAN/TAHUN
Rp 1.000.000
(2.000 ÷ 2) × Rp 1.000
Pada titik EOQ, biaya pemesanan = biaya penyimpanan (keduanya Rp 1.000.000), sehingga total biaya persediaan minimum — Rp 2.000.000/tahun. Kalau minimarket memesan lebih sedikit (mis. 500 unit), biaya pemesanan naik karena lebih sering order; kalau memesan lebih banyak (mis. 4.000 unit), biaya penyimpanan naik karena gudang menampung lebih banyak barang menganggur.

Reorder Point (ROP) & Safety Stock

EOQ menjawab "berapa banyak dipesan", tetapi belum menjawab "kapan harus memesan". Di sinilah Reorder Point berperan.

ROP = (Permintaan Harian × Lead Time) + Safety Stock
Lead Time (Waktu Tunggu)

Jeda antara toko mengirim pesanan dan barang tiba dari pemasok/distributor.

Safety Stock (Stok Pengaman)

Buffer ekstra untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tak terduga atau keterlambatan pengiriman.

Tanpa safety stock, keterlambatan truk distributor sedikit saja (mis. macet di tol Semarang–Demak) bisa membuat rak toko kosong sebelum pesanan berikutnya tiba.

Hitung dari Nol: Reorder Point Minimarket yang Sama

Melanjutkan kasus galon air mineral (D = 8.000 unit/tahun): lead time pemasok = 6 hari, safety stock = 50 unit.

LangkahPerhitunganNilai
Permintaan harian rata-rata8.000 ÷ 365 hari~22 unit/hari
Permintaan selama lead time22 unit/hari × 6 hari132 unit
Tambah safety stock132 unit + 50 unit182 unit
ROP = 182 unit → begitu stok galon tersisa 182 unit, toko harus segera memesan 2.000 unit (EOQ) lagi agar pesanan baru tiba sebelum stok benar-benar habis.

Coba Sendiri: Kalkulator Open-to-Buy

EOQ dan ROP tadi menghitung persediaan per SKU dalam unit — Open-to-Buy naik satu level ke anggaran pembelian kategori dalam rupiah per periode. Atur target penjualan, stok akhir yang diinginkan, dan stok yang sudah ada, lalu lihat berapa anggaran belanja yang masih tersisa.

Bagian 2 dari 3
Just In Time (JIT)
Filosofi persediaan yang menantang logika EOQ: alih-alih menyimpan stok besar, barang tiba tepat saat dibutuhkan — meminimalkan persediaan menganggur.
Toyota Production System Zero Waste

Filosofi & Prinsip Just In Time

JIT lahir dari Toyota Production System (Taiichi Ohno, 1950-an): barang/komponen tiba tepat saat dibutuhkan, tidak lebih cepat, tidak lebih lambat.

PRINSIP 1
Produksi/pemesanan ditarik oleh permintaan aktual (pull system), bukan diperkirakan di muka (push system).
PRINSIP 2
Persediaan dianggap pemborosan (waste) yang menyembunyikan masalah kualitas & efisiensi.
PRINSIP 3
Butuh kemitraan erat & andal dengan pemasok — pengiriman sering, kecil, tepat waktu.
Contoh retail: Uniqlo & Zara (fast fashion) memakai logika mirip JIT — produksi & distribusi batch kecil yang sering, mengikuti tren yang berubah cepat, alih-alih menimbun stok musiman dalam jumlah besar.

JIT vs EOQ: Dua Filosofi yang Berbeda

AspekEOQ (Tradisional)JIT
Asumsi dasarSejumlah stok itu wajar & perlu dioptimalkanStok adalah pemborosan yang harus ditekan
Frekuensi pesanJarang, dalam jumlah besar (sesuai EOQ)Sering, dalam jumlah kecil
Ketergantungan pemasokSedang — lead time bisa ditoleransiSangat tinggi — butuh pemasok andal & dekat
Risiko utamaModal tertahan di gudangRentan gangguan rantai pasok (gagal kirim = toko kosong)
Kedua model bukan "benar-salah" melainkan trade-off: EOQ lebih tahan gangguan tetapi lebih boros modal; JIT lebih efisien modal tetapi rapuh terhadap gangguan distribusi.

Tantangan Menerapkan JIT di Retail Indonesia

Kendala Infrastruktur
  • Kemacetan & jarak antarpulau memperpanjang & membuat lead time tidak pasti
  • Kualitas jalan & pelabuhan belum merata di luar Jawa
Kendala Bisnis & Perilaku
  • UMKM pemasok belum punya sistem informasi terintegrasi dengan peritel besar
  • Pola belanja musiman ekstrem (Ramadan, Lebaran, Harbolnas) sulit diikuti pengiriman "sekecil-kecilnya"
Solusi praktis: banyak peritel Indonesia memakai JIT parsial — kombinasi stok pengaman EOQ untuk produk kebutuhan pokok, dengan prinsip JIT untuk produk cepat basi/tren cepat berubah (mis. roti segar, pakaian musim tertentu). Layanan logistik seperti Gojek/Grab instant courier membantu mempercepat pengiriman jarak dekat gaya JIT antar-toko.
Bagian 3 dari 3
Teknologi RFID & IoT dalam Distribusi
Bagaimana peritel modern menjalankan EOQ, ROP, dan JIT secara otomatis & real-time menggunakan teknologi identifikasi dan sensor.
RFID Internet of Things

RFID: Melacak Setiap Unit Barang Otomatis

RFID (Radio Frequency Identification) — tag kecil berisi chip & antena yang mengirim data identitas produk lewat gelombang radio, dibaca tanpa kontak langsung/garis pandang (beda dari barcode).

Tag RFIDpada produkReader RFID(gerbang gudang/toko)Sistem ManajemenPersediaan (real-time)
Baca ratusan tag sekaligus dalam hitungan detik, tanpa harus scan satu per satu seperti barcode.
Contoh nyata: Uniqlo memasang RFID di setiap label pakaian sehingga stok opname toko yang biasanya berjam-jam selesai dalam hitungan menit.

Internet of Things (IoT) dalam Distribusi Retail

IoT — jaringan sensor & perangkat yang saling terhubung internet, mengirim data kondisi & lokasi barang secara terus-menerus sepanjang rantai distribusi.

SMART SHELF
Rak pintar dengan sensor berat/tekanan mendeteksi stok menipis & otomatis memicu reorder point.
SENSOR GUDANG
Memantau suhu & kelembapan gudang — krusial untuk produk segar & obat-obatan.
GPS TRACKING TRUK
Melacak posisi armada distribusi real-time, memperkirakan waktu tiba (lead time) lebih akurat.
Dampak ke rumus tadi: sensor IoT mengubah ROP dari perhitungan manual periodik (seperti yang kita hitung di slide 11) menjadi pemicu otomatis real-time begitu stok fisik menyentuh angka ambang batas.

Studi Kasus: EOQ + JIT + RFID/IoT Bekerja Bersama

Sebuah minimarket modern mengintegrasikan seluruh konsep hari ini dalam satu alur kerja harian.

Langkah 1 — Deteksi
Smart shelf ber-sensor IoT mendeteksi stok galon air mineral menyentuh 182 unit (ROP) yang kita hitung tadi.
Langkah 2 — Pemicu Otomatis
Sistem otomatis membuat purchase order sebesar EOQ (2.000 unit) ke distributor tanpa menunggu pengecekan manual.
Langkah 3 — Pengiriman Gaya JIT
Untuk produk segar (roti, susu), pengiriman dipecah lebih sering & lebih kecil mengikuti prinsip JIT, dibanding galon air yang tetap ikut pola EOQ.
Langkah 4 — Verifikasi RFID
Saat truk tiba, seluruh tag RFID di kardus terbaca otomatis di gerbang gudang — stok tercatat real-time tanpa hitung manual.

Latihan Mandiri & Rekap Pertemuan

Tugas Individu (dikumpulkan minggu depan)

Sebuah toko elektronik menjual D = 4.500 unit/tahun kabel charger, biaya pemesanan S = Rp 300.000/pesanan, biaya penyimpanan H = Rp 900/unit/tahun, lead time pemasok 10 hari, dan safety stock 40 unit.

  • Hitung EOQ toko tersebut (tunjukkan langkah 2DS → bagi H → akar kuadrat)
  • Hitung Reorder Point-nya (permintaan harian × lead time + safety stock)
  • Usulkan satu teknologi (RFID atau IoT) yang relevan diterapkan toko ini — jelaskan alasannya
EOQ
Jumlah pesanan optimal yang menyeimbangkan biaya pemesanan & penyimpanan.
JIT
Filosofi menekan stok menganggur, barang tiba tepat saat dibutuhkan.
RFID/IoT
Teknologi yang mengotomatiskan & mempercepat eksekusi EOQ, ROP, dan JIT secara real-time.