‹ Daftar slidePertemuan 3: Model Perilaku Konsumen dan Faktor Psikologis-Sosial dalam Pembelian Retail
Prodi Manajemen • FEB UNDIP
Penjualan Retail
Pertemuan 3 — Model Perilaku Konsumen dan Faktor Psikologis-Sosial dalam Pembelian Retail
Mengapa satu konsumen memilih Indomaret dan yang lain memilih warung tetangga? Jawabannya ada di dalam kepala dan lingkungan sosial konsumen — bukan di rak barang.
RPS MINGGU 3 • 2X50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:
CAPAIAN 1 — MODEL PERILAKU
MENJELASKAN MODEL S-O-R
Menjelaskan model stimulus-organisme-respons sebagai kerangka dasar memahami perilaku konsumen retail.
CAPAIAN 2 — FAKTOR PSIKOLOGIS
MENGURAIKAN 5 FAKTOR DALAM DIRI
Menguraikan motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, dan kepribadian konsumen retail.
CAPAIAN 3 — FAKTOR SOSIAL
MENGURAIKAN PENGARUH LINGKUNGAN
Menguraikan pengaruh kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan budaya terhadap keputusan belanja.
CAPAIAN 4 — PENERAPAN
MENERAPKAN ANALISIS PADA KASUS RIIL
Menerapkan analisis faktor psikologis-sosial pada studi kasus retail modern Indonesia.
BAGIAN 1 DARI 3
Mengapa Memahami Konsumen adalah Fondasi Retail
Sebelum bicara strategi lokasi, harga, atau layout toko, peritel harus lebih dulu paham apa yang terjadi di dalam kepala konsumennya.
Dari Format Retail ke Perilaku Konsumen
Minggu lalu kita membahas bentuk retail. Minggu ini kita membahas alasan di balik pilihan konsumen terhadap bentuk itu.
YANG SUDAH KITA PELAJARI (PERTEMUAN 2)
Retail tradisional (pasar, warung, toko kelontong) vs retail modern (minimarket, hypermarket, e-commerce)
Setiap format punya kelebihan berbeda: kedekatan, kelengkapan, kenyamanan, harga
PERTANYAAN YANG BELUM TERJAWAB
Mengapa konsumen A memilih Indomaret meski warung lebih dekat?
Mengapa konsumen B tetap setia ke warung langganan meski harga sedikit lebih mahal?
Faktor apa yang membentuk preferensi itu — dan bisakah peritel mempengaruhinya?
Apa Itu Perilaku Konsumen dalam Konteks Retail?
Perilaku konsumen adalah seluruh proses dan aktivitas yang dilakukan seseorang saat mencari, memilih, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa.
Glosarium — Perilaku Konsumen (consumer behavior): studi tentang bagaimana individu, kelompok, atau organisasi memilih, membeli, memakai, dan mengevaluasi barang/jasa untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
SEBELUM BELI
Menyadari kebutuhan, mencari informasi, membandingkan pilihan — misalnya membandingkan promo Alfamart vs Indomaret di aplikasi.
SAAT BELI
Memutuskan gerai, memilih produk di rak, mempertimbangkan harga dan kenyamanan berbelanja.
SETELAH BELI
Mengevaluasi kepuasan, memutuskan akan kembali lagi atau tidak, bercerita ke teman dan keluarga.
Model Stimulus-Organisme-Respons (S-O-R)
Peritel bisa mengatur stimulus, tapi tidak bisa langsung mengendalikan apa yang terjadi di dalam "kotak hitam" pikiran konsumen.
Peritel merancang stimulus (promo Ramadan di Transmart, tata letak rak Alfamart), tapi respons akhirnya ditentukan proses di dalam "kotak hitam" — itulah yang akan kita bongkar di Bagian 2 dan 3.
Proses Internal Konsumen: Kognisi, Afeksi, Perilaku
Di dalam "kotak hitam", tiga komponen ini saling terkait dan membentuk keputusan akhir konsumen.
KOGNISI (BERPIKIR)
Proses berpikir dan meyakini — misalnya konsumen percaya Superindo punya sayur lebih segar daripada minimarket biasa.
AFEKSI (MERASA)
Perasaan dan emosi — misalnya konsumen merasa nyaman berbelanja di gerai ber-AC dibanding pasar tradisional yang panas.
PERILAKU (BERTINDAK)
Tindakan nyata — misalnya konsumen akhirnya rutin belanja bulanan di gerai yang sama setiap tanggal muda.
Ketiga komponen ini tidak selalu berurutan rapi — kadang konsumen bertindak dulu (coba-coba), baru merasa dan berpikir belakangan. Peritel yang jeli memanfaatkan ketiga jalur ini sekaligus.
Peta Besar: Empat Kategori Faktor Pembentuk Perilaku
Faktor psikologis dan sosial adalah dua dari empat kategori besar yang membentuk perilaku konsumen — keduanya menjadi fokus utama pertemuan ini.
FAKTOR BUDAYA
Budaya, subbudaya, kelas sosial — dibahas mendalam di Bagian 3 (Faktor Sosial).
FAKTOR SOSIAL (FOKUS HARI INI)
Kelompok referensi, keluarga, peran & status — dibahas di Bagian 3.
FAKTOR PRIBADI
Usia, pekerjaan, kondisi ekonomi, gaya hidup — disinggung ringkas, diperdalam saat membahas STP (Pertemuan 5).
FAKTOR PSIKOLOGIS (FOKUS HARI INI)
Motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, kepribadian — dibahas di Bagian 2.
BAGIAN 2 DARI 3
Faktor Psikologis dalam Diri Konsumen
Motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, dan kepribadian — lima kekuatan tak terlihat yang menentukan pilihan gerai dan produk.
Motivasi Konsumen: Hierarki Kebutuhan Maslow di Rak Retail
Motivasi adalah dorongan yang membuat konsumen bertindak untuk memenuhi kebutuhan — teori Maslow membantu peritel memahami kebutuhan mana yang sedang "aktif".
Beli beras & galon air di warung terdekat → motivasi fisiologis.
Belanja di mal branded seperti Uniqlo untuk terlihat “kekinian” → motivasi penghargaan.
Persepsi: Menyaring Ribuan Stimulus di Dalam Toko
Setiap hari konsumen terpapar ribuan stimulus, tapi otak hanya menyaring sebagian kecil — itulah sebabnya tata letak dan komunikasi visual di gerai sangat menentukan.
PERHATIAN SELEKTIF
Konsumen hanya memperhatikan sebagian rak — label diskon merah mencolok di Indomaret dirancang agar tertangkap mata.
DISTORSI SELEKTIF
Konsumen menafsirkan informasi sesuai keyakinan awal — yang percaya produk lokal berkualitas akan menilai UMKM lebih positif.
RETENSI SELEKTIF
Konsumen hanya mengingat sebagian info — jingle iklan Indomie lebih mudah diingat daripada daftar bahan di kemasannya.
Implikasi retail: planogram (tata letak rak), pencahayaan, dan label promosi dirancang untuk memenangkan perhatian selektif konsumen di tengah persaingan visual yang padat.
Pembelajaran & Memori: Membentuk Kebiasaan Belanja
Pembelajaran adalah perubahan perilaku akibat pengalaman — inilah dasar dari loyalitas dan kebiasaan belanja berulang.
PEMBELAJARAN ASOSIATIF (KLASIKAL)
Merek dikaitkan dengan perasaan positif melalui pengulangan — jingle & warna khas Indomaret terus diasosiasikan dengan "murah & dekat".
Musik & aroma toko (mis. aroma roti di Alfamart) memicu asosiasi kenyamanan tanpa disadari konsumen.
PEMBELAJARAN OPERAN (PENGUATAN)
Perilaku diperkuat oleh hasil — poin loyalitas member Indomaret/Alfamart memperkuat kebiasaan belanja berulang di gerai yang sama.
Pengalaman buruk (antre lama, kasir tidak ramah) menghukum perilaku → konsumen belajar menghindari gerai tersebut.
Model sikap multiatribut Fishbein menghitung skor sikap (Ao) konsumen terhadap sebuah gerai berdasarkan keyakinan (b) dan tingkat kepentingan (e) atas beberapa atribut.
Sikap cukup positif terhadap gerai — mendekati ambang loyalitas, tapi atribut kelengkapan produk (skor terendah) perlu diperbaiki.
Coba Sendiri: Kalkulator Skor Sikap Fishbein
Geser nilai keyakinan (b) dan kepentingan (e) tiap atribut gerai, lalu amati bagaimana skor sikap total (Ao) dan indeks relatifnya berubah.
Kepribadian & Konsep Diri: Retail sebagai Cerminan Identitas
Konsumen sering memilih gerai dan produk yang mencerminkan citra diri mereka, bukan semata-mata karena kebutuhan fungsional.
KONSEP DIRI AKTUAL
Bagaimana konsumen memandang dirinya saat ini — mahasiswa hemat memilih belanja di pasar tradisional atau minimarket diskon.
KONSEP DIRI IDEAL
Bagaimana konsumen ingin dipandang — belanja di Uniqlo atau Zara untuk memproyeksikan citra "kekinian" dan mengikuti tren.
Implikasi retail: peritel yang memahami kepribadian target pasarnya bisa merancang brand personality gerai (mis. minimarket "hemat & cepat" vs department store "gaya hidup") yang selaras dengan konsep diri konsumen sasaran.
BAGIAN 3 DARI 3
Faktor Sosial di Sekitar Konsumen
Tidak ada konsumen yang memutuskan sendirian — keluarga, teman, kelas sosial, dan budaya ikut membentuk setiap keputusan belanja.
Kelompok Referensi & Keluarga: Pengaruh Sosial Terdekat
Keputusan belanja jarang dibuat sendirian — keluarga dan kelompok pertemanan sering menjadi "penyaring" pertama sebelum keputusan final.
KELOMPOK REFERENSI
Kelompok keanggotaan (teman kuliah, rekan kerja) — mempengaruhi merek yang dianggap "layak dipakai".
Kelompok aspirasi (influencer, komunitas idola) — mendorong konsumen meniru gaya belanja tokoh yang dikagumi.
Word of mouth: rekomendasi teman soal gerai/produk sering lebih dipercaya daripada iklan resmi.
KELUARGA SEBAGAI UNIT KEPUTUSAN
Ibu sering berperan sebagai gatekeeper belanja bulanan rumah tangga.
Anak berperan sebagai influencer untuk produk tertentu (jajanan, mainan) saat belanja di hypermarket.
Keputusan besar (mis. elektronik) sering dibuat bersama melalui diskusi keluarga.
Kelas Sosial, Peran, dan Status: Segmentasi Tak Tertulis
Tanpa disadari, kelas sosial dan status membentuk gerai mana yang dianggap "pantas" untuk dikunjungi seseorang.
KELAS MENENGAH-BAWAH
Cenderung sensitif harga — memilih minimarket diskon, pasar tradisional, atau toko grosir seperti Lotte Grosir.
KELAS MENENGAH
Menyeimbangkan harga & kenyamanan — menjadi target utama Indomaret, Alfamart, dan Superindo.
KELAS MENENGAH-ATAS
Mengutamakan pengalaman & prestise — berbelanja di department store atau mal premium seperti Plaza Indonesia.
Peran & status juga berlaku situasional: seorang manajer bisa berbelanja di pasar tradisional saat akhir pekan santai, tapi memilih supermarket premium saat menjamu klien — peran sosial yang sedang dijalankan ikut menentukan gerai yang dipilih.
Budaya & Subbudaya: Konteks Retail Indonesia yang Majemuk
Indonesia memiliki keragaman budaya, agama, dan kedaerahan yang sangat mempengaruhi pola dan momen belanja retail.
WALKTHROUGH 1 — MOMEN RAMADAN & LEBARAN
Langkah 1: Menjelang Ramadan, kebutuhan bahan pokok (kurma, sirup, tepung) melonjak drastis di seluruh gerai.
Langkah 2: Minimarket & hypermarket menata rak khusus "paket Ramadan" beberapa minggu sebelumnya.
Langkah 3: Mendekati Lebaran, permintaan bergeser ke pakaian baru dan parsel — department store & mal ramai dikunjungi.
Langkah 4: Peritel yang memahami pola budaya ini menyesuaikan stok & promosi sesuai kalender keagamaan.
WALKTHROUGH 2 — SUBBUDAYA KEDAERAHAN
Langkah 1: Preferensi rasa & produk berbeda antarwilayah — misalnya kecenderungan rasa lebih manis di Jawa Tengah/Yogyakarta.
Langkah 2: Gerai retail nasional (Indomaret, Alfamart) menyesuaikan varian produk lokal per wilayah.
Langkah 3: Label halal menjadi pertimbangan krusial di mayoritas wilayah Indonesia untuk produk makanan & kosmetik.
Langkah 4: Peritel yang mengabaikan subbudaya lokal berisiko kalah bersaing dengan toko/UMKM yang lebih memahami selera setempat.
Mengukur Efek Sosial dari Sikap Positif: Net Promoter Score
Sikap psikologis yang positif sering "menular" secara sosial lewat rekomendasi — Net Promoter Score (NPS) mengukur seberapa besar efek ini.
NPS = % Promoter − % Detractor
Langkah
Perhitungan
Nilai
Survei 50 pelanggan gerai, skor 0–10 kemungkinan merekomendasikan
n = 50
50 responden
Jumlah Promoter (skor 9–10)
28 dari 50
28
Jumlah Detractor (skor 0–6)
8 dari 50
8
Persentase Promoter
28 / 50 × 100
56%
Persentase Detractor
8 / 50 × 100
16%
Net Promoter Score (NPS)
56% − 16%
40
HASIL
NPS = 40
Kategori baik (di atas 30) — menunjukkan sikap positif konsumen berpotensi menyebar lewat word of mouth ke kelompok referensinya.
Coba Sendiri: Kalkulator Net Promoter Score
Ubah jumlah promoter dan detractor dari total responden, lalu amati bagaimana skor NPS dan kategorinya (baik/sangat baik/kelas dunia) berubah.
Latihan Kelompok: Memetakan Faktor Psikologis-Sosial Konsumen Retail
Kerjakan dalam kelompok kecil (3–4 orang), waktu 15 menit, lalu presentasikan singkat.
INSTRUKSI TUGAS
Pilih satu gerai retail nyata yang pernah Anda kunjungi (mis. Indomaret, Alfamart, Superindo, Transmart, atau Tokopedia).
Identifikasi minimal 2 faktor psikologis (motivasi/persepsi/pembelajaran/sikap/kepribadian) yang mempengaruhi keputusan Anda berbelanja di sana.
Identifikasi minimal 2 faktor sosial (kelompok referensi/keluarga/kelas sosial/budaya) yang turut berperan.
Rumuskan satu rekomendasi strategi bagi peritel tersebut berdasarkan temuan kelompok Anda.
Minggu depan (Pertemuan 4) kita akan lanjutkan ke proses pengambilan keputusan pembelian secara bertahap — faktor-faktor hari ini akan menjadi input pada setiap tahap keputusan tersebut.