stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-06
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 6: Pengambilan Keputusan
Program Studi Manajemen • FEB

Pengantar Manajemen

Pertemuan 6 — Pengambilan Keputusan

Mempelajari bagaimana manajer membuat pilihan, proses rasional, batasan kognitif, dan mengapa manusia sering terjebak dalam bias menurut Daniel Kahneman.

RPS MINGGU 6 • DURASI 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti sesi ini, Anda diharapkan mampu memahami dan menganalisis proses pengambilan keputusan manajerial.

CAPAIAN 1 — PROSES
MODEL RASIONAL
Memahami langkah-langkah dalam model pengambilan keputusan rasional klasik dan asumsi yang mendasarinya.
CAPAIAN 2 — JENIS KEPUTUSAN
PROGRAM VS NON-PROGRAM
Membedakan antara keputusan yang terprogram (rutin) dan keputusan tidak terprogram (kompleks, strategis).
CAPAIAN 3 — KONDISI
RISIKO & KETIDAKPASTIAN
Mengidentifikasi kondisi kepastian, risiko, dan ketidakpastian yang dihadapi manajer saat membuat pilihan.
CAPAIAN 4 — PSIKOLOGI
BIAS KOGNITIF
Menjelaskan rasionalitas terbatas dan berbagai bentuk bias kognitif yang memicu kesalahan penilaian.

Mengapa Keputusan itu Sulit?

Bayangkan Anda adalah CEO perusahaan teknologi. Anda punya dana Rp 50 Miliar. Apa yang Anda lakukan?

PILIHAN A — STATUS QUO
Investasi pada Produk Lama
Fokus pada perbaikan produk yang sudah ada. Keuntungannya pasti, risikonya rendah, dan pasar sudah terbentuk.
PILIHAN B — INOVASI
Riset Teknologi Baru (AI)
Berinvestasi di inovasi revolusioner. Potensi keuntungan raksasa, namun risiko gagal sangat besar dan pasar belum matang.
Dilema ini memunculkan tekanan mental. Jika Anda pilih A dan pesaing meluncurkan AI, Anda hancur. Jika pilih B dan gagal, Anda dipecat besok.
Bagian 1 dari 4
Hakikat Pengambilan Keputusan
Memahami definisi, tipe, dan klasifikasi berbagai permasalahan manajerial sehari-hari.
Definisi Terprogram Tidak Terprogram

Apa Itu Pengambilan Keputusan?

Pengambilan keputusan (decision making) adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi masalah dan peluang, lalu merumuskan solusi alternatif untuk dipilih.

DUA KOMPONEN UTAMA
  • Masalah (Problem): Situasi di mana kinerja organisasi saat ini berada di bawah target yang diharapkan. (Fokus: memperbaiki kesalahan).
  • Peluang (Opportunity): Situasi di mana manajer melihat potensi pencapaian hasil yang lebih tinggi dari tujuan saat ini. (Fokus: meningkatkan kinerja).
Keputusan yang baik tidak hanya lahir saat ada krisis atau penurunan profit, melainkan juga saat perusahaan sedang berada di puncak performa untuk menangkap momentum.

Keputusan Terprogram vs Tidak Terprogram

KEPUTUSAN TERPROGRAM
RUTIN & BERULANG
Solusi sudah ditentukan oleh kebijakan, aturan, atau prosedur. Masalahnya jelas dan informasinya lengkap.

Contoh: Merekrut staf pengganti, menyetujui cuti, memesan bahan baku bulanan.
KEPUTUSAN TIDAK TERPROGRAM
UNIK & KOMPLEKS
Belum pernah terjadi sebelumnya. Membutuhkan kreativitas, intuisi, dan analisis mendalam. Aturan baku belum ada.

Contoh: Mengakuisisi perusahaan lawan, pivot bisnis saat krisis pandemi.

Kondisi Pengambilan Keputusan

Tingkat kesulitan manajer bergantung pada seberapa banyak informasi yang mereka miliki tentang hasil masa depan.

KEPASTIAN (CERTAINTY)
INFO 100% LENGKAP
Manajer mengetahui persis apa yang akan terjadi dari setiap alternatif karena data masa lalu sangat solid. Sangat langka di dunia nyata.
RISIKO (RISK)
PROBABILITAS JELAS
Hasil tidak pasti, tapi probabilitas kesuksesan setiap alternatif bisa diperkirakan dengan data statistik. Keputusan dibuat berdasarkan ekspektasi.
KETIDAKPASTIAN (UNCERTAINTY)
INFO SANGAT MINIM
Informasi yang tersedia terlalu sedikit untuk menebak peluang. Terjadi saat inovasi radikal atau gejolak ekonomi yang ekstrim.

Coba Sendiri: Hitung EMV di Pohon Keputusan

Ubah probabilitas dan payoff tiap cabang pohon keputusan, lalu amati bagaimana Expected Monetary Value (EMV) menentukan cabang mana yang paling rasional dipilih.

Bagian 2 dari 4
Model Pengambilan Keputusan
Mulai dari pendekatan Rasional Klasik yang sangat logis hingga realitas Rasionalitas Terbatas.
Model Klasik Rasionalitas Terbatas Intuisi

Model Pengambilan Keputusan Rasional

Pendekatan ini berasumsi bahwa manajer beroperasi di dunia yang sempurna, rasional, dan selalu bertujuan memaksimumkan keuntungan ekonomis.

ASUMSI MODEL RASIONAL KLASIK
  • Kejelasan Masalah: Masalah telah didefinisikan dengan tajam tanpa ambiguitas.
  • Pilihan Terbuka: Semua alternatif dan dampaknya diketahui secara utuh dan teridentifikasi.
  • Tanpa Kendala Waktu & Biaya: Manajer bebas mencari informasi sampai sempurna tanpa tekanan waktu.
  • Objektivitas Mutlak: Pembuat keputusan tidak punya bias pribadi, emosi, atau kepentingan politik, hanya murni logika.

6 Langkah Pengambilan Keputusan (Langkah 1-3)

LANGKAH 1
IDENTIFIKASI MASALAH
Mengakui adanya masalah dan mendiagnosis penyebab aslinya, bukan sekadar gejala. Contoh: Karyawan sering absen (gejala), budaya kerja toxic (akar masalah).
LANGKAH 2
KRITERIA KEPUTUSAN
Menentukan parameter apa yang penting. Apakah biaya, kecepatan penyelesaian, atau kualitas inovasi? Lalu berikan bobot pada tiap kriteria.
LANGKAH 3
KEMBANGKAN ALTERNATIF
Brainstorming sebanyak mungkin solusi potensial tanpa mengkritiknya terlebih dahulu. Menghasilkan opsi kreatif.
Langkah 1 adalah titik paling kritis. Albert Einstein berkata: "Jika saya punya 1 jam untuk menyelamatkan dunia, saya pakai 55 menit mendefinisikan masalah, dan 5 menit solusinya."

6 Langkah Pengambilan Keputusan (Langkah 4-6)

LANGKAH 4
EVALUASI ALTERNATIF
Menilai setiap alternatif pada Langkah 3 menggunakan kriteria di Langkah 2. Menghitung kelebihan dan kekurangannya secara komprehensif.
LANGKAH 5
PILIH ALTERNATIF
Membuat keputusan final dengan memilih alternatif yang mendapat skor tertinggi secara keseluruhan. Ini komitmen untuk bertindak.
LANGKAH 6
IMPLEMENTASI & EVALUASI
Mengeksekusi keputusan ke tingkat operasional, lalu memantau hasilnya. Jika tidak sesuai target, kembali ke Langkah 1.
Banyak keputusan brilian di atas kertas hancur berantakan di Langkah 6 karena eksekusi yang buruk atau penolakan dari bawahan.

Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality)

Kenyataannya, manajer memiliki keterbatasan pikiran, waktu, dan informasi. Mereka tidak selalu mencari solusi maksimal.

KONSEP SATISFICING

Diperkenalkan oleh Herbert Simon. Manajer tidak memaksimalkan solusi, tetapi melakukan Satisficing (Satisfy + Suffice). Mereka akan memilih alternatif pertama yang memenuhi kriteria minimum yang dapat diterima, alih-alih menguras waktu mencari solusi paling sempurna.

ILUSTRASI SATISFICING
Merekrut Karyawan Baru
Manajer HRD tidak akan mewawancarai seluruh pelamar di dunia untuk mencari kandidat terbaik. Saat pelamar ke-5 dirasa cukup kompeten dan baik, ia direkrut. Waktu untuk menyeleksi 100 pelamar sisanya dianggap tidak efisien.

Peran Intuisi dalam Keputusan

Keputusan intuitif bukan tebak-tebakan buta, melainkan proses bawah sadar berdasarkan pengalaman yang diakumulasi selama bertahun-tahun.

KAPAN INTUISI BEKERJA BAIK?
Situasi Cepat & Kompleks
Saat data yang tersedia saling bertentangan, atau saat keputusan harus diambil dalam hitungan menit (mis. komandan militer atau trader saham), intuisi dari ahlinya jauh melampaui analisis lambat.
BAHAYA INTUISI
Terjebak Masa Lalu
Intuisi sangat rentan terhadap asumsi kuno. Jika pasar telah berubah drastis oleh teknologi baru, pengalaman 20 tahun yang lalu bisa menyesatkan dan membuat manajer sombong terhadap data.
Riset terbaru menunjukkan keputusan terbaik memadukan Rasionalitas Sistematis dengan Intuisi Terlatih secara seimbang.
Bagian 3 dari 4
Bias Kognitif & Sistem Berpikir
Menyingkap karya Daniel Kahneman: Mengapa rasionalitas kita sangat rapuh dan mudah ditipu oleh ilusi pikiran.
Sistem 1 & 2 Overconfidence Anchoring

Sistem Berpikir 1 dan 2 (Kahneman)

Buku Thinking, Fast and Slow menguraikan bahwa otak kita menggunakan dua sistem berbeda saat membuat keputusan.

SISTEM 1 (FAST)
OTOMATIS & INTUITIF
Bekerja cepat, otomatis, emosional, dan tanpa usaha sadar. Ini adalah mesin pembuat "jalan pintas" (heuristik). Berguna sehari-hari, tapi merupakan sumber utama bias.
SISTEM 2 (SLOW)
LAMBAT & LOGIS
Bekerja lambat, membutuhkan konsentrasi tinggi dan usaha logika sadar. Bertugas mengawasi dan mengoreksi Sistem 1. Masalahnya: Sistem 2 ini pemalas.
Bias manajerial terjadi ketika manajer membiarkan Sistem 1 memimpin pada keputusan kompleks yang seharusnya dianalisis dalam-dalam oleh Sistem 2.

Bias 1: Overconfidence (Terlalu Percaya Diri)

Kecenderungan manusia untuk memiliki keyakinan berlebihan yang tidak masuk akal terhadap pengetahuan, penilaian, dan prediksinya sendiri.

FENOMENA DALAM MANAJEMEN
  • Riset menunjukkan 80% pengemudi merasa kemampuannya "di atas rata-rata" (secara statistik mustahil).
  • Manajer dengan bias ini cenderung meremehkan risiko, tidak menyiapkan rencana cadangan (Plan B), dan mengabaikan pandangan ahli lain.
CONTOH KASUS
Sebuah tim memprediksi proyek IT baru akan selesai dalam 6 bulan dengan biaya 1 Miliar. Kenyataannya, proyek meleset menjadi 18 bulan dan biaya membengkak karena manajer overconfident dan mengabaikan sejarah penundaan vendor sebelumnya.

Coba Sendiri: Uji Celah Kalibrasi Diri Anda

Jawab beberapa estimasi dengan rentang keyakinan Anda sendiri, lalu lihat seberapa lebar celah antara rasa percaya diri Anda dan akurasi jawaban sebenarnya.

Bias 2: Anchoring (Jangkar)

Kecenderungan kuat pikiran untuk bergantung terlalu besar pada potongan informasi pertama yang ditawarkan (sebagai "jangkar") saat membuat keputusan.

MENGAPA TERJADI?

Sistem 1 menggunakan informasi pertama sebagai titik tolak. Semua analisis berikutnya (oleh Sistem 2) secara tidak sadar hanya bergeser sedikit di sekitar titik jangkar tersebut, tidak pernah jauh darinya.

CONTOH NEGOSIASI GAJI
Jika HRD membuka negosiasi dengan angka Rp 8 Juta, pikiran pelamar terjangkar di angka tersebut. Meskipun pelamar layak dibayar Rp 15 Juta, negosiasi akhirnya hanya berputar di kisaran Rp 8-10 Juta. Angka pertama mendikte seluruh jalannya diskusi.
Mitigasi: Dalam negosiasi, jadilah pihak pertama yang menyebutkan angka untuk memasang jangkar yang menguntungkan Anda.

Bias 3: Confirmation Bias (Bias Konfirmasi)

Kecenderungan untuk hanya mencari, menyaring, dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinan awal kita, sembari menolak bukti yang bertentangan.

EFEK BURUKNYA
  • Manajer secara selektif mengingat hal-hal yang membenarkan keputusannya.
  • Menghasilkan ruang gema (echo chamber) di rapat direksi, di mana tidak ada yang berani menentang proyek favorit atasan meski data menunjukkan potensi rugi.
CONTOH KASUS
Manajer sangat menyukai sebuah ide produk desain baru. Ia melakukan riset pasar, dan hanya mempresentasikan testimoni dari 10 pelanggan yang suka, sembari sengaja menyembunyikan laporan dari 50 pelanggan lain yang membenci desain tersebut.

Bias 4: Availability Heuristic (Ketersediaan)

Menilai kemungkinan terjadinya suatu peristiwa berdasarkan seberapa mudah hal itu muncul dalam memori (karena traumatis, dramatis, atau baru terjadi).

MENGAPA TERJADI?

Media dan emosi mendistorsi memori. Sesuatu yang heboh secara pemberitaan dianggap lebih sering terjadi daripada ancaman mematikan yang sifatnya senyap (mis. pembengkakan biaya pelan-pelan vs kasus korupsi heboh).

CONTOH MANAJERIAL
Manajer baru saja membaca berita peretasan siber perusahaan saingan. Akibat panik (memori masih segar), ia menganggarkan dana darurat IT miliaran rupiah, padahal data menunjukkan risiko internal (kecurian barang fisik) 10x lipat lebih tinggi namun diabaikan.

Escalation of Commitment (Eskalasi Komitmen)

Kecenderungan untuk tetap bertahan atau bahkan menambah investasi pada keputusan masa lalu yang terbukti gagal, karena enggan mengakui kesalahan.

SUNK COST FALLACY (Kesesatan Biaya Hangus)

Akar penyebabnya adalah perasaan tidak rela kehilangan waktu dan uang yang sudah dihabiskan (sunk cost). Manajer merasa "kita sudah terlanjur basah, sayang kalau berhenti sekarang," sehingga mereka menggali lubang kegagalan semakin dalam.

CONTOH KLASIK
Perusahaan membangun proyek perangkat lunak miliaran rupiah. Setelah berjalan 2 tahun, terbukti software-nya lambat dan tertinggal zaman. Bukannya menghentikan proyek, manajemen malah menyuntikkan dana baru dengan harapan bisa diselamatkan (dan untuk melindungi gengsi pribadi).

Mengatasi Bias dalam Keputusan Kelompok

Agar tidak jatuh pada bias kognitif atau Groupthink (pemikiran buta kelompok yang mengejar harmoni semu), gunakan teknik-teknik ini:

DEVIL'S ADVOCACY
ADVOKAT IBLIS
Secara resmi menugaskan satu anggota tim untuk bertindak sebagai kritikus keras, menyerang dan membongkar kelemahan setiap alternatif pilihan demi memicu evaluasi mendalam.
PRE-MORTEM
BAYANGKAN KEGAGALAN
Sebelum eksekusi, tim membayangkan berada di masa depan dan proyeknya terbukti gagal total. Lalu mereka menulis mundur apa saja skenario penyebab kegagalan tersebut untuk dicegah sedari awal.
EVIDENCE-BASED
DATA SEBAGAI RAJA
Menggeser budaya "insting bos selalu benar" menjadi "apa kata data objektif?". Membiasakan mengukur variabel dengan metrik sebelum mengambil kesimpulan.

Ringkasan & Penutup

  • Proses vs Hasil: Pengambilan keputusan adalah proses sistematis (6 langkah). Keputusan yang dibuat secara rasional tetap bisa berakhir buruk karena probabilitas, namun proses yang benar meminimalkan risiko jangka panjang.
  • Model Terbatas: Manajer tidak memiliki informasi dan kapasitas otak tak terbatas, sehingga mereka menggunakan intuisi dan Satisficing.
  • Bahaya Bias Kognitif: Mengandalkan heuristik Sistem 1 membawa kita ke dalam bias berbahaya seperti Overconfidence, Anchoring, Confirmation Bias, dan Escalation of Commitment.
  • Solusi: Kenali titik buta (blind spots) kognitif kita, pelihara perdebatan konstruktif, dan pertanyakan asumsi kita setiap saat sebelum mengetuk palu keputusan akhir.

Terima Kasih!

Sampai jumpa minggu depan dengan topik: Desain dan Struktur Organisasi.