‹ Daftar slidePertemuan 1: Ruang Lingkup Pengantar Ilmu Ekonomi — pengertian ekonomi, munculnya masalah ekonomi (kelangkaan vs kebutuhan tak terbatas), cara berpikir ekonomi (deduktif, induktif, normatif, positif), perbedaan ekonomi mikro dan makro
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP
Pengantar Ekonomi
Pertemuan 1 — Ruang Lingkup Pengantar Ilmu Ekonomi
Apa itu ilmu ekonomi, mengapa masalah ekonomi selalu muncul (kelangkaan vs kebutuhan tak terbatas), bagaimana ekonom berpikir (deduktif, induktif, normatif, positif), dan perbedaan mendasar antara ekonomi mikro dan makro.
RPS MINGGU 1 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Pengertian Ekonomi & Munculnya Masalah Ekonomi
Mengapa ilmu ekonomi lahir sebagai jawaban atas satu kenyataan pahit: sumber daya di dunia ini terbatas, sementara keinginan manusia tidak pernah habis.
Apa Itu Ilmu Ekonomi?
Ilmu ekonomi (economics) mempelajari bagaimana individu, perusahaan, dan negara membuat pilihan dalam menggunakan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas.
Apa yang diproduksi?
Barang/jasa mana yang dibuat dari sumber daya terbatas — misalnya pabrik memilih produksi sepatu atau tas.
Bagaimana diproduksi?
Kombinasi tenaga kerja, mesin, dan teknologi yang dipakai — padat karya atau padat modal.
Untuk siapa?
Siapa yang menikmati hasil produksi — soal distribusi pendapatan dan daya beli masyarakat.
Tiga pertanyaan ini ("apa, bagaimana, untuk siapa") dijawab berbeda oleh tiap sistem ekonomi — pasar bebas, komando, maupun campuran seperti Indonesia.
Kelangkaan: Akar Semua Masalah Ekonomi
Kelangkaan (scarcity) adalah kondisi di mana sumber daya yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan manusia yang jumlahnya tidak terbatas.
Sumber daya terbatas
Lahan & sumber daya alam (tanah, air, minyak)
Tenaga kerja (jumlah & keahlian manusia)
Modal (mesin, gedung, uang investasi)
Waktu — 24 jam sehari, tidak bisa ditambah
Kebutuhan tak terbatas
Kebutuhan pokok terus bertambah seiring populasi
Keinginan berkembang mengikuti tren & teknologi
Setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru
Ekspektasi gaya hidup naik seiring pendapatan
Kebutuhan vs Keinginan Tak Terbatas
Ekonom membedakan kebutuhan (needs) — hal yang wajib dipenuhi untuk bertahan hidup layak — dari keinginan (wants) — hal yang memberi kepuasan tambahan tapi tidak esensial.
Kebutuhan (Needs)
Makanan & air bersih
Tempat tinggal
Pakaian & kesehatan dasar
Pendidikan dasar
Keinginan (Wants)
Smartphone terbaru
Langganan Netflix & Spotify
Liburan ke luar kota/negeri
Kopi kekinian setiap hari
Batas antara kebutuhan dan keinginan bersifat relatif — kuota internet dulu "keinginan", kini nyaris jadi "kebutuhan" bagi mahasiswa yang kuliah daring.
Hitung dari Nol: Biaya Peluang Kuliah
Setiap pilihan punya biaya peluang (opportunity cost) — nilai dari alternatif terbaik yang dikorbankan. Mari hitung biaya peluang seorang lulusan SMA yang memilih kuliah S1 selama 4 tahun dibanding langsung bekerja.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Biaya eksplisit kuliah (SPP + buku, per tahun Rp 15 juta × 4 tahun)
Rp 15.000.000 × 4
Rp 60.000.000
2. Biaya implisit: gaji yang hilang (UMR Rp 3 juta/bulan × 12 bulan × 4 tahun)
Rp 3.000.000 × 12 × 4
Rp 144.000.000
3. Total biaya peluang kuliah
Rp 60.000.000 + Rp 144.000.000
Rp 204.000.000
Total Biaya Peluang
Rp 204 jt
selama 4 tahun masa kuliah
Kurva Kemungkinan Produksi (PPF)
Karena sumber daya terbatas, memproduksi lebih banyak satu barang berarti mengorbankan barang lain — inilah gagasan trade-off yang divisualisasikan lewat Production Possibility Frontier.
Bergerak dari A ke arah kanan-bawah kurva berarti menambah produksi barang A dengan mengorbankan sebagian produk B — inilah biaya peluang dalam skala perekonomian.
Coba Sendiri: Geser Titik di Kurva PPF
Geser titik produksi sepanjang kurva PPF dan amati bagaimana menambah produk A memaksa Anda mengorbankan sejumlah produk B — itulah biaya peluang.
Faktor Produksi: Modal Membangun Ekonomi
Empat faktor produksi adalah sumber daya dasar yang dikombinasikan untuk menghasilkan barang dan jasa.
Sumber daya alam & tenaga kerja
Tanah/SDA — lahan sawit di Sumatra, hasil laut di Maluku
Tenaga kerja — karyawan pabrik, pengemudi ojek online, dosen
Modal & kewirausahaan
Modal — mesin, gedung, server aplikasi, uang investasi
Kewirausahaan — kemampuan menggabungkan ketiganya jadi bisnis, seperti pendiri Tokopedia
Pemilik faktor produksi mendapat balas jasa: sewa (tanah), upah (tenaga kerja), bunga (modal), dan laba (kewirausahaan).
Bagian 2 dari 3
Cara Berpikir Ekonom
Ekonomi adalah ilmu sosial yang memakai metode berpikir sistematis — deduktif, induktif, dan pemisahan tegas antara "apa yang seharusnya" dan "apa yang senyatanya".
Ekonomi sebagai Ilmu: Metode Ilmiah
Ekonom membangun pengetahuan lewat siklus: observasi → teori/model → pengujian data → revisi.
Model ekonomi memakai asumsi ceteris paribus ("faktor lain dianggap tetap") supaya bisa mengisolasi pengaruh satu variabel — mirip eksperimen terkontrol di laboratorium.
Berpikir Deduktif vs Induktif
Dua arah penalaran yang dipakai ekonom untuk membangun dan menguji teori.
Deduktif: Umum → Khusus
1) Mulai dari teori umum: "jika harga naik, permintaan turun (ceteris paribus)".
2) Terapkan ke kasus khusus: harga tiket KRL naik.
3) Simpulkan: jumlah penumpang KRL akan turun.
Induktif: Khusus → Umum
1) Amati data khusus: penjualan payung naik tiap musim hujan di beberapa kota.
2) Kumpulkan pola dari banyak observasi serupa.
3) Simpulkan teori umum: cuaca memengaruhi pola permintaan musiman.
Ekonomi Normatif vs Positif
Pernyataan positif bisa diuji benar-salah dengan fakta/data; pernyataan normatif mengandung opini atau nilai tentang apa yang "seharusnya" terjadi.
Jenis
Ciri
Contoh Pernyataan
Positif (fakta)
Bisa diverifikasi dengan data, bebas nilai
"Inflasi Indonesia bulan lalu tercatat sekitar 3% (y-o-y)."
Normatif (opini)
Mengandung kata "seharusnya/sebaiknya", tergantung nilai
"Pemerintah seharusnya menaikkan subsidi BBM."
Positif (fakta)
Bisa diverifikasi dengan data, bebas nilai
"Kenaikan UMP 5% berkorelasi dengan naiknya biaya produksi UMKM."
Normatif (opini)
Mengandung kata "seharusnya/sebaiknya", tergantung nilai
"UMP sebaiknya dinaikkan lebih tinggi demi kesejahteraan pekerja."
Hitung dari Nol: Pertumbuhan Ekonomi
Pernyataan positif butuh angka. Mari hitung pertumbuhan ekonomi — indikator makro yang akan sering muncul di bagian berikutnya — dari data PDB riil ilustratif.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Selisih PDB riil (tahun ini − tahun lalu)
Rp 1.260 triliun − Rp 1.200 triliun
Rp 60 triliun
2. Persentase pertumbuhan
(60 ÷ 1.200) × 100%
5%
3. Interpretasi (dibanding target BI ~5%)
5% ≈ target BI
Pertumbuhan sehat
Pertumbuhan Ekonomi
5%
ilustrasi PDB riil setahun
Bagian 3 dari 3
Ekonomi Mikro vs Makro
Dua "kaca mata" berbeda untuk melihat perekonomian: kaca pembesar pada satu pelaku, atau kaca mata elang melihat seluruh negara sekaligus.
Ekonomi Mikro: Kaca Pembesar
Ekonomi mikro mempelajari perilaku pelaku ekonomi individual — rumah tangga, perusahaan, dan pasar untuk satu jenis barang/jasa tertentu.
Unit Analisis
Satu rumah tangga (keputusan konsumsi)
Satu perusahaan (keputusan produksi & harga)
Satu pasar (misalnya pasar kopi, pasar tenaga kerja tukang ojek)
Contoh Pertanyaan
Mengapa harga cabai naik saat Ramadan?
Berapa harga optimal kopi kekinian di kedai Anda?
Bagaimana Gojek menetapkan tarif per kilometer?
Ekonomi Makro: Kaca Mata Elang
Ekonomi makro mempelajari perekonomian secara agregat/keseluruhan — total output, tingkat harga umum, dan kondisi tenaga kerja satu negara.
Unit Analisis
Pendapatan nasional (PDB) seluruh Indonesia
Tingkat inflasi & pengangguran nasional
Kebijakan fiskal (APBN) & moneter (BI)
Contoh Pertanyaan
Mengapa Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan?
Berapa target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini?
Bagaimana pajak memengaruhi daya beli nasional?
Mikro vs Makro: Perbandingan Berdampingan
Mikro dan makro saling terkait: jutaan keputusan mikro (rumah tangga & perusahaan) terakumulasi menjadi angka makro seperti PDB nasional.
Studi Kasus: Kenaikan Harga BBM
Satu peristiwa, dua sudut pandang analisis — mari telusuri langkah demi langkah bagaimana ekonom mikro dan makro membaca kenaikan harga BBM bersubsidi.
Sudut Pandang Mikro
1) Harga BBM naik → biaya operasional ojek online naik.
2) Pengemudi menaikkan tarif per kilometer ke penumpang.
3) Sebagian pelanggan beralih ke transportasi umum (perubahan permintaan di 1 pasar).
Sudut Pandang Makro
1) Harga BBM naik → biaya distribusi logistik nasional naik.
2) Tingkat harga umum (inflasi) naik di seluruh negeri.
3) Bank Indonesia mempertimbangkan menaikkan suku bunga acuan.
Latihan: Uji Cara Berpikir Ekonomi Anda
Kerjakan di kertas selama 5 menit, lalu kita bahas bersama.
Instruksi
Tulis 1 contoh pernyataan positif dan 1 contoh pernyataan normatif tentang kenaikan tarif parkir kampus.
Tentukan apakah pertanyaan "berapa harga optimal nasi kotak untuk acara kampus?" termasuk ranah mikro atau makro — jelaskan alasannya.
Hitung biaya peluang Anda memilih hadir kuliah ini selama 2 jam dibanding bekerja paruh waktu dengan upah Rp 25.000/jam.
Kumpulkan jawaban singkat lewat Google Form/LMS sebelum kuliah berakhir — akan dibahas sekilas di awal Pertemuan 2.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 2
Yang Sudah Kita Pelajari
Ilmu ekonomi = studi pilihan atas sumber daya terbatas
Masalah ekonomi lahir dari kelangkaan vs kebutuhan tak terbatas
Biaya peluang & PPF menggambarkan trade-off pilihan
Cara berpikir: deduktif/induktif, positif/normatif
Ekonomi mikro (satu pelaku) vs makro (agregat negara)
Menuju Pertemuan 2
Fondasi mikro: permintaan & penawaran
Bagaimana harga pasar terbentuk (ekuilibrium)
Baca RPS bagian permintaan-penawaran sebelum kelas
Ingat: mata kuliah ini akan bergerak dari fondasi mikro (minggu 2–7) menuju pengukuran & kebijakan makro (minggu 8–14) — semua berakar dari konsep kelangkaan hari ini.