Menganalisis bagaimana subsidi mengubah harga yang dibayar konsumen vs diterima produsen.
CAPAIAN 3
HARGA
Membedakan harga eceran tertinggi (ceiling) dan harga dasar (floor) serta akibatnya terhadap kelangkaan/surplus.
CAPAIAN 4
DWL
Menghitung deadweight loss dari intervensi dan mengevaluasi trade-off efisiensi vs pemerataan.
Mengapa Pemerintah Turun Tangan?
Kita sudah belajar pasar bebas efisien (Pertemuan 7-10) dan bisa gagal karena eksternalitas/barang publik (Pertemuan 12). Tapi pemerintah juga campur tangan untuk alasan lain.
Alasan 1 — Pemerataan
Harga pasar bisa "adil secara ekonomi" tapi tidak adil secara sosial — mis. harga beras naik tajam saat paceklik, memberatkan rumah tangga miskin.
Alasan 2 — Penerimaan Negara
Pajak (PPN, cukai, PPh) adalah sumber utama APBN untuk membiayai jalan, sekolah, dan rumah sakit.
Alasan 3 — Stabilitas
Harga yang terlalu bergejolak (BBM, pangan pokok) mengganggu daya beli dan bisa memicu inflasi tinggi.
Kunci hari ini: setiap intervensi punya biaya — pasar akan bergeser dari titik yang paling efisien. Tugas ekonom adalah menghitung berapa besar biaya itu, bukan sekadar menolak atau mendukung kebijakan.
Tiga Alat Utama Intervensi Pasar
Semua kebijakan pemerintah terhadap harga bisa dipetakan ke tiga kategori berikut — inilah peta kuliah hari ini.
Ketiganya mengganggu titik keseimbangan pasar (E*) yang kita pelajari sejak Pertemuan 2 — hanya mekanismenya yang berbeda.
Bagian 1 dari 3
Pajak dan Insidensi Pajak
Siapa yang benar-benar membayar pajak — penjual atau pembeli? Jawabannya bukan soal hukum, tapi soal elastisitas.
Bagaimana Pajak Menggeser Pasar
Pajak spesifik (per unit) sebesar t rupiah pada penjual menggeser kurva penawaran ke kiri/atas sebesar t, karena penjual butuh harga t lebih tinggi untuk menawarkan kuantitas yang sama.
Beban pajak per unit = t = Pc − Ps
Elastisitas Menentukan Siapa Menanggung Beban
Prinsip kunci: pihak dengan elastisitas lebih rendah (lebih inelastis) menanggung beban pajak lebih besar, karena ia lebih sulit menghindar dari pasar.
Permintaan Inelastis
Contoh: rokok, BBM. Konsumen "kecanduan"/butuh, sulit berhenti membeli walau harga naik → konsumen menanggung sebagian besar pajak.
Penawaran Inelastis
Contoh: tanah, hasil panen musiman. Produsen tak bisa cepat mengurangi produksi → produsen menanggung sebagian besar pajak.
Glosarium: elastisitas = seberapa besar perubahan persentase kuantitas terhadap perubahan persentase harga (dibahas tuntas Pertemuan 3). Inelastis = kurang responsif terhadap perubahan harga.
Ubah kemiringan kurva D dan S (elastisitas) lalu amati bagaimana porsi beban pajak, atau efek price ceiling/floor, berpindah antara konsumen dan produsen.
Hitung dari Nol: Insidensi Pajak Rokok
Pasar rokok: keseimbangan awal P* = Rp 20.000/bungkus, Q* = 100 juta bungkus/bulan. Elastisitas permintaan Ed = −0,4 (inelastis), elastisitas penawaran Es = 1,2. Pemerintah kenakan cukai t = Rp 5.000/bungkus.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total elastisitas (Es − Ed)
1,2 − (−0,4)
1,6
2. Porsi beban konsumen
Es ÷ (Es − Ed) = 1,2 ÷ 1,6
75%
3. Porsi beban produsen
|Ed| ÷ (Es − Ed) = 0,4 ÷ 1,6
25%
4. Beban konsumen (rupiah)
75% × Rp 5.000
Rp 3.750/bungkus
5. Beban produsen (rupiah)
25% × Rp 5.000
Rp 1.250/bungkus
6. Harga baru dibayar konsumen (Pc)
Rp 20.000 + Rp 3.750
Rp 23.750
7. Harga baru diterima produsen (Ps)
Rp 20.000 − Rp 1.250
Rp 18.750
Cek Konsistensi
Pc − Ps = t
Rp 23.750 − Rp 18.750 = Rp 5.000 ✓
Deadweight Loss (DWL) dari Pajak
Pajak juga mengurangi kuantitas transaksi di bawah level efisien — sebagian surplus konsumen & produsen hilang sama sekali (tak berpindah ke siapa pun, termasuk pemerintah).
Semakin elastis permintaan/penawaran (mudah menghindar dari pasar), semakin besar DWL — inilah alasan pajak sering dikenakan ke barang inelastis (rokok, BBM) agar distorsi minimal.
Bagian 2 dari 3
Subsidi: Kebalikan dari Pajak
Logika sama persis dengan pajak, hanya arahnya terbalik — siapa yang paling diuntungkan tergantung elastisitas juga.
Bagaimana Subsidi Menggeser Pasar
Subsidi per unit sebesar s rupiah menggeser kurva penawaran ke kanan/bawah. Muncul dua harga: harga yang dibayar konsumen (Pc, lebih rendah) dan harga yang diterima produsen (Ps, lebih tinggi).
Ps − Pc = s (subsidi per unit)
SIAPA MENIKMATI LEBIH BESAR?
SISI INELASTIS
Sama seperti pajak: pihak yang lebih inelastis (sulit menghindar dari pasar) menikmati porsi subsidi lebih besar.
BIAYA FISKAL
s × Q
Total subsidi yang dibayar pemerintah = subsidi per unit × kuantitas baru yang terjual (lebih besar dari Q*).
Hitung dari Nol: Subsidi Pupuk Bersubsidi
Pasar pupuk urea: P* = Rp 6.000/kg, Q* = 10 juta ton/tahun. Elastisitas permintaan petani Ed = −0,3 (sangat inelastis, pupuk = kebutuhan pokok tanam), elastisitas penawaran pabrik Es = 0,9. Subsidi pemerintah s = Rp 3.600/kg.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total elastisitas (Es − Ed)
0,9 − (−0,3)
1,2
2. Porsi manfaat konsumen (petani)
Es ÷ (Es − Ed) = 0,9 ÷ 1,2
75%
3. Porsi manfaat produsen (pabrik)
|Ed| ÷ (Es − Ed) = 0,3 ÷ 1,2
25%
4. Penurunan harga bagi petani
75% × Rp 3.600
Rp 2.700/kg
5. Kenaikan harga bersih diterima pabrik
25% × Rp 3.600
Rp 900/kg
6. Harga baru dibayar petani (Pc)
Rp 6.000 − Rp 2.700
Rp 3.300/kg
7. Harga baru diterima pabrik (Ps)
Rp 6.000 + Rp 900
Rp 6.900/kg
Cek Konsistensi
Ps − Pc = s
Rp 6.900 − Rp 3.300 = Rp 3.600 ✓
Bagian 3 dari 3
Regulasi Harga: Ceiling & Floor
Ketika pemerintah tidak mengubah biaya, tapi langsung mematok berapa harga boleh berlaku di pasar.
Harga Eceran Tertinggi (Price Ceiling)
Harga maksimum yang boleh dikenakan, ditetapkan di bawah harga keseimbangan pasar (P* ) untuk melindungi konsumen. Contoh: BBM Pertalite bersubsidi, tarif angkutan umum.
Akibat: kelangkaan (Qd > Qs) → muncul antrean panjang, jatah/rasio, atau pasar gelap dengan harga jauh di atas ceiling.
Harga Dasar (Price Floor)
Harga minimum yang boleh dikenakan, ditetapkan di atas harga keseimbangan pasar (P* ) untuk melindungi produsen. Contoh: Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah oleh Bulog, upah minimum (UMR/UMK).
Akibat: surplus (Qs > Qd) → kelebihan produksi tak terjual (pemerintah biasanya harus menyerap/membeli kelebihannya, membebani APBN).
Walkthrough: Efek Berantai Ceiling BBM
Studi kasus langkah-demi-langkah: pemerintah menetapkan harga eceran Pertalite di bawah harga keekonomian.
Tahap
Apa yang Terjadi
1. Kebijakan
Harga Pertalite dipatok jauh di bawah harga pasar internasional minyak mentah + biaya distribusi.
2. Sisi produsen (Pertamina)
Menjual dengan margin negatif; hanya bertahan karena menerima kompensasi subsidi dari APBN.
3. Sisi konsumen
Permintaan melonjak karena harga murah — termasuk dari kalangan mampu yang sebenarnya tak butuh subsidi (misalokasi).
4. Kelangkaan muncul
Kuota BBM subsidi terbatas → antrean di SPBU, terutama saat harga minyak dunia naik tajam.
5. Respons pasar informal
Sebagian oknum membeli dengan harga ceiling lalu menjual kembali ke sektor industri dengan harga lebih tinggi (pasar gelap/penimbunan).
Diskusi kelas: mengapa subsidi tertutup (mis. Bantuan Langsung Tunai/BLT) sering direkomendasikan ekonom sebagai alternatif yang lebih tepat sasaran dibanding ceiling harga?
Ringkasan Perbandingan Tiga Alat Intervensi
Alat
Efek pada Harga
Efek pada Kuantitas
Risiko Utama
Pajak
Naik (Pc)
Turun (di bawah Q*)
Deadweight loss + beban ke konsumen bila inelastis
Subsidi
Turun (Pc)
Naik (di atas Q*)
Beban fiskal besar + misalokasi ke pihak tak butuh
Ceiling
Dipatok rendah
Kelangkaan (Qd>Qs)
Antrean, pasar gelap, kualitas turun
Floor
Dipatok tinggi
Surplus (Qs>Qd)
Kelebihan produksi tak terserap, beban APBN
Benang merah: setiap intervensi menciptakan trade-off antara tujuan sosial (pemerataan/perlindungan) dan efisiensi pasar (deadweight loss). Ekonom yang baik menghitung besarnya trade-off ini, bukan menolaknya secara membabi-buta.
Mengapa Ini Penting bagi Manajer Bisnis?
Prodi Manajemen: pemahaman intervensi pemerintah membantu Anda membaca risiko dan peluang bisnis riil.
Perencanaan Harga
Perusahaan retail/FnB harus memperhitungkan kenaikan PPN atau cukai saat menetapkan harga jual & margin.
Rantai Pasok
Perusahaan pupuk/pangan menyesuaikan strategi produksi terhadap kebijakan HPP & subsidi pemerintah.
Manajemen SDM
Kenaikan UMK/UMR (price floor tenaga kerja) tahunan langsung memengaruhi struktur biaya perusahaan.
Analisis Kebijakan
Calon eksekutif perlu memprediksi dampak wacana kebijakan (mis. kenaikan cukai rokok/BBM) terhadap kinerja perusahaan.
Latihan Kelas
Kerjakan berpasangan (5 menit), lalu kita bahas bersama.
Soal
Pasar minyak goreng: P* = Rp 14.000/liter, Q* = 50 juta liter/bulan. Elastisitas permintaan Ed = −0,6, elastisitas penawaran Es = 0,4. Pemerintah mempertimbangkan dua opsi kebijakan untuk melindungi konsumen: (A) subsidi Rp 2.000/liter, atau (B) harga eceran tertinggi Rp 12.500/liter.
Pertanyaan: (1) Untuk opsi A, berapa porsi manfaat subsidi yang dinikmati konsumen? (2) Opsi mana yang lebih berisiko menimbulkan kelangkaan di rak minimarket? Jelaskan alasannya memakai konsep hari ini.
Petunjuk: pakai rumus porsi Es ÷ (Es − Ed) untuk soal (1); ingat definisi ceiling untuk soal (2).
Rangkuman & Pertemuan Berikutnya
Cheat Sheet Hari Ini
Insidensi pajak/subsidi ditentukan elastisitas relatif, bukan siapa yang secara hukum membayar.