‹ Daftar slidePertemuan 12: Eksternalitas dan Barang Publik: kegagalan pasar, eksternalitas positif-negatif
RPS minggu 12 · 2x50 menit
Eksternalitas dan Barang Publik
Kegagalan Pasar, Eksternalitas Positif-Negatif — Pengantar Ekonomi Mikro
Mengapa pasar bebas kadang gagal menghasilkan hasil terbaik untuk masyarakat — dan apa yang bisa dilakukan.
Peta Pertemuan Hari Ini
Jam ke-1 (50 menit)
Kegagalan pasar & definisi eksternalitas
Eksternalitas negatif: biaya sosial vs biaya privat
Solusi: pajak Pigovian & Teorema Coase
Jam ke-2 (50 menit)
Eksternalitas positif & subsidi optimal
Barang publik: non-rivalitas & non-eksklusi
Free-rider & tragedy of the commons
Posisi dalam alur 14 pertemuan: setelah memahami bagaimana pasar faktor produksi (P11) menentukan harga input, hari ini kita periksa KAPAN pasar gagal bekerja efisien sama sekali — bekal penting sebelum P13 membahas peran pemerintah (pajak, subsidi, regulasi harga).
Bagian 1 dari 3
Kegagalan Pasar & Eksternalitas Negatif
Ketika biaya produksi yang ditanggung masyarakat lebih besar daripada biaya yang dibayar produsen — siapa yang harus menanggung selisihnya?
Apa Itu Kegagalan Pasar?
Kegagalan pasar (market failure) terjadi ketika mekanisme harga tidak mampu mengalokasikan sumber daya secara efisien bagi masyarakat secara keseluruhan.
Syarat Pasar Efisien (Teori)
Semua biaya & manfaat tercermin di harga
Tidak ada pihak ketiga yang terdampak
Barang bersifat rival & eksklusif (bisa dijual per unit)
Dua Sumber Kegagalan Hari Ini
Eksternalitas: dampak ke pihak ketiga yang tak tercermin di harga
Barang publik: tidak rival & tidak eksklusif, sulit dijual pasar
Glos: eksternalitas = dampak samping (efek limpahan) suatu transaksi terhadap pihak yang tidak terlibat langsung dalam transaksi itu.
Eksternalitas Negatif: Biaya Privat vs Biaya Sosial
Produsen hanya memperhitungkan biaya privat marjinal (MPC); masyarakat menanggung biaya sosial marjinal (MSC) yang lebih besar.
Karena produsen tidak membayar biaya eksternal (mis. pencemaran), pasar memproduksi lebih banyak daripada tingkat yang optimal secara sosial — bagian segitiga abu-abu adalah dead-weight loss (DWL), kerugian ekonomi bersih.
Hitung dari Nol #1: Dead-Weight Loss Eksternalitas Negatif
Kasus: pabrik kertas dengan permintaan P = 100 − Q, biaya privat MPC = 20 + Q, biaya eksternal marjinal konstan Rp10 ribu/unit (limbah ke sungai). Semua nilai dalam ribuan Rupiah.
Geser besaran pajak per unit dan amati bagaimana MPC bergeser mendekati MSC serta output turun menuju titik optimal sosial.
Teorema Coase: Ketika Pasar Bisa Menyelesaikan Sendiri
Ronald Coase (1960) menunjukkan bahwa jika hak properti jelas dan biaya transaksi rendah, pihak-pihak yang terlibat bisa bernegosiasi sendiri menuju hasil efisien — tanpa campur tangan pemerintah.
Langkah 1: Tetapkan Hak Properti
Peternak ikan keramba di Waduk Jatiluhur punya hak legal atas kualitas air, ATAU pabrik tekstil di hulu punya hak membuang limbah — salah satu harus ditetapkan lebih dulu oleh hukum.
Langkah 2: Negosiasi Kompensasi
Jika peternak punya hak, pabrik harus membayar kompensasi agar boleh membuang limbah sebagian. Jika pabrik punya hak, peternak yang membayar pabrik agar mengurangi limbah. Hasil akhirnya SAMA secara efisiensi — hanya distribusi kesejahteraan yang berbeda.
Syarat ideal Coase (biaya transaksi nol, jumlah pihak sedikit) jarang terpenuhi persis di dunia nyata — karena itu pajak Pigovian & regulasi tetap dibutuhkan untuk kasus polusi berskala luas (banyak pihak terdampak).
Bagian 2 dari 3
Eksternalitas Positif
Ketika manfaat suatu aktivitas yang dinikmati masyarakat lebih besar daripada manfaat yang dihitung oleh individu — pasar justru MENGHASILKAN TERLALU SEDIKIT.
Manfaat Privat vs Manfaat Sosial
Individu memperhitungkan manfaat privat marjinal (MPB); masyarakat menikmati manfaat sosial marjinal (MSB) yang lebih besar.
Contoh: vaksinasi, pendidikan, riset & pengembangan, restorasi bangunan cagar budaya — semua menciptakan manfaat limpahan bagi pihak yang tidak membayar langsung.
Hitung dari Nol #2: Subsidi Optimal Eksternalitas Positif
Kasus: vaksinasi flu di Puskesmas dengan permintaan privat MPB = 100 − Q, biaya penyediaan MC = 20 + Q, manfaat eksternal marjinal konstan Rp20 ribu/dosis (perlindungan komunitas). Semua nilai dalam ribuan Rupiah.
Ketika suatu barang tidak bisa dijual per-unit dan tidak berkurang walau dipakai banyak orang — siapa yang mau membayar untuk menyediakannya?
Klasifikasi Barang: Rivalitas x Eksklusivitas
Dua sifat menentukan jenis barang: rivalitas (konsumsi seseorang mengurangi ketersediaan bagi orang lain) dan eksklusivitas (bisa mencegah orang yang tak membayar untuk mengonsumsi).
Barang Privat (Rival + Eksklusif)
Nasi Padang, sepatu, tiket bioskop XXI — habis dipakai satu orang, dan penjual bisa menolak yang tak membayar.
Sumber Daya Bersama (Rival, Tak Eksklusif)
Ikan di laut lepas, air tanah — siapa pun bisa ambil, tapi ketersediaan berkurang (rawan "tragedy of the commons").
Barang Klub (Tak Rival, Eksklusif)
TV kabel berlangganan, jalan tol berbayar — bisa dicegah bagi yang tak bayar, tapi pemakaian tak mengurangi kapasitas (sampai batas tertentu).
Barang Publik (Tak Rival, Tak Eksklusif)
Pertahanan negara, lampu jalan, udara bersih — semua orang menikmati, tak bisa dicegah, dan tak berkurang oleh pemakaian.
Masalah Free-Rider
Karena barang publik tidak bisa mencegah orang yang tak membayar untuk ikut menikmati, muncul insentif untuk "menumpang gratis" (free-riding) — dan pasar swasta gagal menyediakannya secara memadai.
Langkah 1: Setiap Individu Berpikir Rasional
Warga RT berpikir: "Kalau tetangga saya patungan pasang lampu jalan, saya tetap bisa menikmati terangnya tanpa ikut bayar." Setiap orang berpikir sama.
Langkah 2: Hasil Agregat Merugikan Semua
Kalau SEMUA warga berpikir demikian, tidak ada yang mau membayar, sehingga lampu jalan TIDAK PERNAH terpasang — walau setiap warga sebenarnya bersedia membayar Rp50 ribu demi keamanan.
Inilah sebabnya barang publik murni hampir selalu disediakan pemerintah lewat pajak wajib — bukan sumbangan sukarela — karena sumbangan sukarela selalu di bawah tingkat optimal akibat free-riding.
Tragedy of the Commons: Sumber Daya Bersama
Berbeda dari barang publik murni, sumber daya bersama bersifat rival (bisa habis) tapi tak eksklusif — memicu eksploitasi berlebihan.
Kasus Nyata
Perikanan tangkap di Laut Natuna & Arafura
Air tanah Jakarta (eksploitasi berlebihan)
Hutan adat tanpa kepemilikan jelas
Solusi Kebijakan
Kuota tangkap (TAC) — KKP
Hak milik/konsesi yang jelas
Pajak/retribusi penggunaan sumber daya
Logikanya mirip eksternalitas negatif: setiap nelayan hanya menghitung biaya privatnya sendiri, bukan biaya bagi populasi ikan secara keseluruhan — solusinya pun serupa, yaitu regulasi kuota atau hak milik yang jelas.
Latihan Kelas: Identifikasi Kasus
Diskusikan berpasangan (5 menit), lalu tunjuk 3 pasangan untuk presentasi singkat.
Kasus A
Warung UMKM di Yogyakarta membakar sampah plastik setiap sore, asapnya mengganggu pernapasan tetangga sekitar. Jenis kegagalan pasar apa ini? Solusi apa yang paling tepat?
Kasus B
Pemerintah Kota Semarang membangun taman kota gratis yang bisa diakses siapa saja tanpa tiket masuk. Termasuk jenis barang apa ini? Mengapa swasta enggan membangunnya?
Panduan diskusi: identifikasi dulu (1) siapa yang terdampak, (2) apakah biaya/manfaat itu tercermin di harga pasar, (3) solusi kebijakan yang paling realistis untuk konteks Indonesia.
Rangkuman: Kegagalan Pasar & Solusinya
Jenis Kegagalan
Ciri Utama
Solusi Kebijakan
Eksternalitas negatif
MSC > MPC, overproduksi
Pajak Pigovian, regulasi, Coase
Eksternalitas positif
MSB > MPB, underproduksi
Subsidi, mandat, penyediaan publik
Barang publik
Tak rival + tak eksklusif
Pajak wajib + penyediaan pemerintah
Sumber daya bersama
Rival + tak eksklusif
Kuota, hak milik, retribusi
Benang merah: setiap kali harga pasar TIDAK mencerminkan biaya/manfaat penuh bagi masyarakat, hasil pasar menyimpang dari efisiensi sosial — pemerintah punya peran mengoreksinya.
Mengapa Ini Penting untuk Manajer & Pembuat Kebijakan
BAGI PERUSAHAAN
ESG
Tanggung jawab eksternalitas
Perusahaan modern (mis. produsen sawit, tekstil) makin dituntut menginternalisasi biaya eksternal lewat sertifikasi ISPO, PROPER KLHK, dan pelaporan keberlanjutan — bukan sekadar kepatuhan hukum.
BAGI PEMERINTAH
APBN
Instrumen fiskal koreksi pasar
Pajak karbon, cukai, dan subsidi pendidikan/kesehatan dalam APBN Indonesia adalah aplikasi langsung dari teori eksternalitas yang baru Anda pelajari — bukan kebijakan yang dibuat sembarangan.
Penutup & Persiapan Minggu Depan
Minggu Depan: Peran Pemerintah
Pajak & insidensi pajak (siapa yang benar-benar menanggung)
Subsidi & dampaknya ke keseimbangan pasar
Regulasi harga: batas atas & batas bawah
TUGAS SEBELUM P13
1 Kasus
Cari & analisis 1 berita eksternalitas/barang publik Indonesia
Identifikasi jenis kegagalan pasarnya, hitung estimasi dead-weight loss sederhana jika data tersedia, dan usulkan solusi kebijakan. Kumpulkan sebelum pertemuan berikutnya.