‹ Daftar slidePertemuan 3: Elastisitas: elastisitas harga permintaan-penawaran, elastisitas silang dan pendapatan
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Pengantar Ekonomi Mikro
Pertemuan 3 — Elastisitas: Harga Permintaan-Penawaran, Silang, dan Pendapatan
Mengukur seberapa peka jumlah barang yang diminta atau ditawarkan terhadap perubahan harga, harga barang lain, dan pendapatan konsumen.
RPS MINGGU 3 • 2X50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung dan menginterpretasikan berbagai jenis elastisitas serta menerapkannya pada keputusan bisnis nyata. Secara rinci:
CAPAIAN 1
EPD & EPS
Menghitung elastisitas harga permintaan dan elastisitas harga penawaran dari data harga-kuantitas.
CAPAIAN 2
INTERPRETASI
Membedakan barang elastis, inelastis, dan uniter, serta mengaitkannya dengan penerimaan total (total revenue).
CAPAIAN 3
SILANG
Menghitung elastisitas silang untuk mengidentifikasi barang substitusi vs komplementer.
CAPAIAN 4
PENDAPATAN
Menghitung elastisitas pendapatan untuk mengklasifikasi barang normal, mewah, dan inferior.
Mengapa Reaksi Konsumen Tidak Semuanya Sama?
Bandingkan dua peristiwa kenaikan harga yang sama-sama terjadi di Indonesia:
KASUS 1 — BBM PERTALITE
+30%
Saat harga BBM bersubsidi naik signifikan, jumlah kendaraan yang mengisi BBM turun, tapi tidak drastis — orang tetap butuh bensin untuk kerja dan sekolah.
KASUS 2 — TIKET KONSER
+30%
Saat harga tiket konser luar negeri naik 30% lewat calo, banyak calon penonton membatalkan rencana — jumlah pembeli turun jauh lebih dari 30%.
Kenaikan harga persentasenya sama, tapi reaksi jumlah yang dibeli sangat berbeda. Elastisitas adalah alat ukur untuk membedakan dua situasi ini secara presisi — bukan sekadar "naik" atau "turun".
Bagian 1 dari 3
Elastisitas Harga Permintaan
Mengukur kepekaan jumlah yang diminta terhadap perubahan harga barang itu sendiri.
Elastisitas Harga Permintaan (EPD)
Elastisitas harga permintaan (Ed) mengukur persentase perubahan jumlah barang yang diminta akibat 1% perubahan harga barang tersebut, dengan asumsi faktor lain ceteris paribus (tetap).
Ed = %ΔQd ÷ %ΔP
Kenapa Selalu Negatif?
Hukum permintaan: harga naik → jumlah diminta turun. Maka Ed secara matematis selalu negatif. Dalam praktik, ekonom biasa membahas nilai mutlaknya (|Ed|) saja.
Yang Dibutuhkan untuk Menghitung
Dua titik data: harga & kuantitas sebelum dan sesudah perubahan. Contoh: harga keripik singkong sebuah UMKM di Semarang naik dari Rp 5.000 ke Rp 6.000 per bungkus.
Hitung dari Nol: Elastisitas Harga Permintaan
UMKM keripik singkong menaikkan harga dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per bungkus. Penjualan harian turun dari 200 menjadi 140 bungkus.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. %ΔQd
(140 − 200) ÷ 200 × 100
−30%
2. %ΔP
(6.000 − 5.000) ÷ 5.000 × 100
+20%
3. Ed
−30% ÷ 20%
−1,5
|Ed| KERIPIK SINGKONG
1,5
Elastis (|Ed| > 1)
Membaca Nilai |Ed|: Lima Kategori
Kategori
Nilai |Ed|
Arti & Contoh
Elastis
> 1
Reaksi kuantitas lebih besar dari harga. Contoh: tiket konser, barang mewah.
Inelastis
< 1
Reaksi kuantitas lebih kecil dari harga. Contoh: BBM, garam, obat resep.
Uniter
= 1
Reaksi kuantitas persis sama besar dengan harga.
Elastis sempurna
→ ∞
Kurva permintaan datar horizontal (teori, jarang di praktik nyata).
Inelastis sempurna
= 0
Kurva permintaan tegak vertikal — jumlah tetap berapa pun harganya (mis. insulin bagi penderita diabetes).
Apa yang Menentukan Elastisitas Permintaan?
KETERSEDIAAN SUBSTITUSI
Banyak → Elastis
Mie Sedaap punya banyak pengganti (Indomie, Sarimi) → permintaannya elastis. Garam nyaris tanpa pengganti → inelastis.
KEBUTUHAN vs KEMEWAHAN
Pokok → Inelastis
Beras & obat = kebutuhan pokok, inelastis. Tas branded & liburan luar negeri = kemewahan, elastis.
PROPORSI PENDAPATAN
Kecil → Inelastis
Garam hanya sebagian kecil dari uang belanja — kenaikan harga tak terasa. Sewa rumah porsinya besar — sensitif.
RENTANG WAKTU
Panjang → Elastis
Jangka pendek, konsumen sulit beralih (elastisitas rendah). Jangka panjang, konsumen sempat cari alternatif (elastisitas naik).
Elastisitas dan Penerimaan Total (Total Revenue)
Penerimaan total (TR) = Harga × Kuantitas. Arah perubahan TR saat harga naik bergantung pada elastisitas:
Kondisi
Harga Naik
Efek pada TR
Elastis (|Ed| > 1)
Kuantitas turun > kenaikan harga
TR turun
Inelastis (|Ed| < 1)
Kuantitas turun < kenaikan harga
TR naik
Uniter (|Ed| = 1)
Kuantitas turun = kenaikan harga
TR tetap
Inilah sebabnya Pertamina/PLN berani menaikkan tarif barang inelastis (TR naik), sementara warung makan harus hati-hati menaikkan harga menu yang elastis (TR bisa turun).
Coba Sendiri: Uji Elastisitas dan Dampaknya ke TR
Geser titik harga sepanjang kurva permintaan dan amati bagaimana nilai elastisitas serta Total Revenue berubah.
Bagian 2 dari 3
Elastisitas Harga Penawaran
Sekarang giliran sisi produsen: seberapa peka jumlah yang ditawarkan terhadap perubahan harga?
Elastisitas Harga Penawaran (EPS)
Es = %ΔQs ÷ %ΔP
Berbeda dari permintaan, hukum penawaran membuat Es hampir selalu positif: harga naik, produsen menawarkan lebih banyak.
KAPASITAS PRODUKSI
Pabrik dengan mesin menganggur bisa cepat menambah produksi → lebih elastis.
KEMAMPUAN SIMPAN
Barang tahan lama (beras, elektronik) mudah disimpan lalu dilepas saat harga naik → lebih elastis daripada sayur segar.
RENTANG WAKTU
Petani butuh satu musim tanam untuk menambah hasil panen — jangka pendek sangat inelastis.
Hitung dari Nol: Elastisitas Harga Penawaran
Harga beras di tingkat petani naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 11.000 per kg. Jumlah beras yang ditawarkan naik dari 1.000 kg menjadi 1.150 kg per hari.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. %ΔQs
(1.150 − 1.000) ÷ 1.000 × 100
+15%
2. %ΔP
(11.000 − 10.000) ÷ 10.000 × 100
+10%
3. Es
15% ÷ 10%
1,5
Es BERAS
1,5
Elastis (Es > 1) — produsen cukup responsif
Elastisitas Penawaran: Jangka Pendek vs Jangka Panjang
Semakin panjang waktu yang tersedia, semakin elastis penawaran — produsen punya waktu menambah kapasitas, lahan, atau pabrik baru.
Contoh: petani cabai butuh satu musim tanam (jangka pendek) untuk menambah hasil, tapi butuh bertahun-tahun membuka lahan baru (jangka panjang) — itulah mengapa kurva penawaran jangka panjang jauh lebih landai.
Bagian 3 dari 3
Elastisitas Silang & Elastisitas Pendapatan
Dua jenis elastisitas yang melibatkan harga barang LAIN dan pendapatan konsumen — bukan harga barang itu sendiri.
Elastisitas Silang (Cross-Price Elasticity)
Exy = %ΔQx ÷ %ΔPy
Mengukur reaksi permintaan barang X saat harga barang Y berubah. Tandanya menentukan hubungan kedua barang:
SUBSTITUSI (PENGGANTI)
Exy > 0
Harga Mie Sedaap naik 10% → permintaan Indomie naik 10% (Exy = +1,0). Konsumen berpindah ke pengganti.
KOMPLEMENTER (PELENGKAP)
Exy < 0
Harga gula pasir naik tajam → permintaan teh celup ikut turun (Exy negatif). Kedua barang dikonsumsi bersama.
Nilai Exy ≈ 0 berarti dua barang tidak berkaitan — misalnya harga sabun mandi naik tidak memengaruhi permintaan bensin.
Elastisitas Pendapatan (Income Elasticity)
Ei = %ΔQd ÷ %ΔPendapatan
Mengukur reaksi permintaan saat pendapatan konsumen berubah, bukan harga. Contoh: pendapatan naik dari Rp 5 juta ke Rp 6 juta per bulan (+20%), frekuensi makan di restoran naik dari 4x ke 6x per bulan (+50%) → Ei = 50% ÷ 20% = 2,5.
Kategori Barang
Nilai Ei
Contoh
Normal — mewah
Ei > 1
Makan di restoran, liburan, mobil baru (naik lebih cepat dari pendapatan)
Normal — pokok
0 < Ei < 1
Beras, listrik rumah tangga (naik lebih lambat dari pendapatan)
Inferior
Ei < 0
Mi instan, angkutan umum kelas ekonomi (permintaan justru turun saat makin kaya)
Aplikasi: Strategi Harga Toko Online
Sebuah toko di Tokopedia menjual dua produk: casing HP generik (banyak pesaing) dan obat generik resep dokter (tak ada pengganti).
Casing HP Generik — Elastis
Banyak toko lain jual barang serupa. Kalau harga dinaikkan 10%, banyak pembeli pindah ke toko sebelah.
Strategi tepat: harga kompetitif, andalkan volume penjualan besar.
Obat Resep — Inelastis
Tidak ada pengganti, pembeli tetap butuh sesuai resep dokter meski harga naik sedikit.
Strategi tepat: margin lebih tinggi dapat diterapkan, TR ikut naik.
Prinsip yang sama dipakai BBCA saat menetapkan biaya admin kartu (inelastis, nasabah jarang pindah bank) vs promo bunga deposito (elastis, nasabah gampang pindah ke bank pesaing).
Latihan Kelas: Hitung dan Klasifikasikan
Kerjakan berpasangan (5 menit), lalu kita bahas bersama:
Soal
1. Harga bensin non-subsidi naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 13.200 per liter (+10%). Konsumsi turun dari 1.000 liter menjadi 950 liter per hari (−5%) di sebuah SPBU. Hitung |Ed| dan klasifikasikan (elastis/inelastis).
2. Harga teh celup naik 15%, permintaan gula pasir turun 6%. Hitung Exy dan tentukan: substitusi atau komplementer?
3. Diskusikan: mengapa PT KAI (kereta ekonomi) cenderung inelastis, sementara maskapai penerbangan LCC (low-cost carrier) cenderung elastis?
Ingat: |Ed| > 1 elastis, TR turun saat harga naik. |Ed| < 1 inelastis, TR naik saat harga naik. Ini prinsip penetapan harga paling praktis dari kuliah hari ini.
Penutup & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Minggu Depan: Perilaku Konsumen
Kita akan masuk ke teori utilitas, kurva indiferen, dan garis anggaran — menjelaskan mengapa kurva permintaan berbentuk menurun dari sisi pilihan rasional konsumen.
TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 4
HITUNG 3 KASUS
Cari data harga-kuantitas nyata (mis. harga BBM, tiket transportasi online, sembako) dan hitung |Ed|-nya sendiri.