Mengapa masyarakat memegang uang, berapa banyak yang mereka inginkan, dan bagaimana Bank Indonesia mengendalikan jumlah uang beredar — dari teori Keynes hingga kebijakan BI Rate pasca-Covid.
RPS MINGGU 14 • SUB-CPMK 12 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis permintaan dan penawaran uang (Sub-CPMK 12). Secara rinci:
CAPAIAN 1 — FUNGSI & JENIS UANG
Menjelaskan tiga fungsi uang (medium of exchange, unit of account, store of value) dan membedakan M1, M2, M3 dengan contoh instrumen Indonesia nyata.
CAPAIAN 2 — PERMINTAAN UANG
Menghitung Md = kY − hr dan menginterpretasikan komponen transaksi vs spekulatif untuk kasus angka yang diberikan.
CAPAIAN 3 — PENCIPTAAN UANG
Menghitung money multiplier (m = 1/GWM) dan proses ekspansi kredit, termasuk efek perubahan GWM — Giro Wajib Minimum (cadangan wajib bank di BI).
CAPAIAN 4 — KEBIJAKAN MONETER
Menjelaskan tiga instrumen Bank Indonesia (OPT, GWM, BI Rate) dan mekanisme transmisi moneter ke sektor riil.
Mengapa Anda Menyimpan Uang Tunai di Dompet?
Bayangkan Anda punya Rp 1 juta. Anda bisa depositokan agar berbunga — tapi banyak orang tetap menyimpan sebagian di dompet. Kenapa?
PILIHAN A — PEGANG TUNAI
Fleksibel, langsung bisa bayar kopi, ojek online, atau keadaan darurat. Tapi tidak menghasilkan bunga — nilai tidak tumbuh.
PILIHAN B — SIMPAN DI DEPOSITO
Berbunga ~3–5% per tahun, nilai tumbuh. Tapi tidak langsung bisa dipakai — harus cair dulu, butuh waktu.
Trade-off ini adalah inti permintaan uang: masyarakat menimbang antara likuiditas (kemudahan pakai) vs imbal hasil (bunga). Suku bunga tinggi → pegang tunai makin tidak menarik → permintaan uang turun. Glos: likuiditas = kemudahan aset dikonversi tunai tanpa kehilangan nilai; imbal hasil = keuntungan/bunga dari aset finansial.
Bagian 1 dari 4
Apa Itu Uang? Fungsi & Jenis
Tiga fungsi uang sebagai fondasi, lalu klasifikasi M1, M2, M3 yang dipakai Bank Indonesia dan bank sentral seluruh dunia.
FungsiKlasifikasiLikuiditas
Tiga Fungsi Uang
FUNGSI 1 — ALAT TUKAR
Medium of Exchange
Uang menggantikan barter. Contoh: Anda membayar ojek online dengan GoPay (dompet digital PT GoPay Indonesia Raya), bukan menukar dengan beras.
FUNGSI 2 — SATUAN HITUNG
Unit of Account
Uang jadi standar nilai semua barang. Contoh: harga saham TLKM (Telkom Indonesia) Rp 3.870/lembar di BEI (Bursa Efek Indonesia); gaji Rp 5 juta/bulan.
FUNGSI 3 — PENYIMPAN NILAI
Store of Value
Uang memungkinkan penundaan daya beli ke masa depan. Nilai terjaga jika inflasi rendah. Fungsi ini paling rentan.
Peringatan: Fungsi ke-3 paling rentan — inflasi tinggi → uang buruk sebagai store of value. Inflasi Indonesia 2022 mencapai ~5,5% → daya beli rupiah menurun nyata. Glos: barter = pertukaran barang/jasa langsung tanpa uang; tidak efisien karena butuh double coincidence of wants.
Klasifikasi Uang Beredar: M1, M2, M3
Bank sentral mengklasifikasikan uang berdasarkan tingkat likuiditas — makin mudah dipakai langsung, makin masuk M1. Ingat: M1 ⊂ M2 ⊂ M3.
Kelompok
Cakupan
Likuiditas
Contoh Indonesia
M1
Uang kartal + giro
Tertinggi
Uang kertas/koin Rp; rekening giro BCA/BRI yang bisa ditarik ATM langsung
M2
M1 + tabungan + deposito ≤2 thn + uang elektronik
Menengah
Tabungan Simpedes BRI; deposito 1 bulan BNI; GoPay/OVO/Dana
M3
M2 + semua deposito & sekuritas jk pendek
Lebih luas
Deposito >2 tahun; NCD (Negotiable Certificate of Deposit); reksa dana pasar uang
BI menerbitkan data M1 & M2 setiap bulan via SEKI (Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia) di bi.go.id. M2 = ukuran utama "uang beredar" di Indonesia. Glos: uang kartal = uang fisik (kertas & logam) dikeluarkan BI; giro = rekening bank yang bisa ditarik via cek/bilyet setiap saat.
Realita Indonesia: M1 & M2 dari Data BI (SEKI)
Per akhir 2023 (SEKI BI, posisi Desember 2023, dalam triliun Rp — ilustrasi besaran, verifikasi angka terkini di bi.go.id):
Komponen
Besaran (ilustrasi, ~Rp triliun)
Uang kartal (kertas & koin)
~1.100
Uang giral (giro bank umum)
~2.600
M1 = kartal + giral
~3.700
Tabungan rupiah
~2.300
Deposito ≤2 tahun
~3.000
Uang elektronik (GoPay/OVO/Dana, dll.)
~15
M2 = M1 + tabungan + deposito + e-money
~9.000
Angka di atas adalah ilustrasi besaran untuk konteks skala. Gunakan SEKI BI (Tabel 3.1.1) untuk analisis akademis. M2 Indonesia tumbuh rata-rata ~8–10%/tahun dalam 5 tahun terakhir.
Bagian 2 dari 4
Permintaan Uang: Motif Keynes
Mengapa masyarakat memegang uang, dan seberapa banyak? Keynes mengidentifikasi tiga motif yang terangkum dalam rumus Md = kY − hr.
Md = kY − hr
TransaksiBerjaga-jagaSpekulatif
Tiga Motif Memegang Uang — J.M. Keynes
MOTIF 1 — TRANSAKSI
Transactions Motive
Untuk membiayai transaksi sehari-hari. Y (pendapatan) naik → belanja naik → Lt naik. Lt = kY (hubungan positif dengan Y).
MOTIF 2 — BERJAGA-JAGA
Precautionary Motive
Untuk pengeluaran tak terduga (sakit, kerusakan mendadak). Juga naik bersama Y. Dalam praktik sering digabung dengan motif transaksi.
MOTIF 3 — SPEKULATIF
Speculative Motive
Menunggu peluang investasi. r (suku bunga) rendah → orang pegang tunai. r tinggi → orang beli obligasi. Ls = f(r) — hubungan negatif.
Kunci analitik: Motif 1 & 2 → naik bersama Y. Motif 3 → turun saat r naik. Inilah asal-usul rumus Md = kY − hr. Glos: Lt = permintaan transaksi; Ls = permintaan spekulatif; k = proporsi pendapatan yang dipegang tunai.
Permintaan Uang Transaksi: Lt = kY
Komponen pertama permintaan uang: bergantung pada pendapatan (Y), tidak bergantung suku bunga.
Lt = k × Y
Lt = permintaan uang untuk transaksi (& berjaga-jaga) |
k = koefisien propensitas memegang uang tunai (0 < k < 1; relatif stabil jk pendek) |
Y = pendapatan riil (PDB)
Contoh (k = 0,3; satuan = ratusan miliar Rp):
Y
k
Lt = k × Y
400
0,3
120
500
0,3
150
600
0,3
180
Ketika Y naik dari 500 ke 600, Lt naik dari 150 ke 180 — searah. Grafik Lt vs Y = garis lurus dengan kemiringan k.
Permintaan Uang Spekulatif: Ls = −h × r
Komponen kedua: bergantung pada suku bunga (r). Semakin tinggi r → semakin tidak menarik pegang tunai → Ls turun.
Ls = −h × r (atau: Ls = L0 − hr)
h = kepekaan (interest-elasticity) permintaan spekulatif terhadap suku bunga; h > 0 |
r = tingkat suku bunga (%) | Tanda minus: hubungan negatif.
Contoh (h = 10):
r (%)
Ls = −h × r
Interpretasi
3
−30
r rendah → Ls kecil-negatif, relatif banyak pegang tunai
5
−50
Baseline HDN-1
8
−80
r tinggi → Ls besar-negatif, orang beralih ke obligasi
Intuisi: r tinggi = biaya peluang memegang tunai makin mahal → orang pindah ke obligasi/deposito. r rendah = obligasi tidak menarik → orang lebih suka pegang tunai.
Total Permintaan Uang: Md = kY − hr
Gabungkan motif transaksi dan spekulatif ke dalam satu persamaan:
Md = kY − hr
Komponen
+kY = komponen transaksi (positif): naik bersama pendapatan Y
−hr = komponen spekulatif (negatif): turun saat suku bunga r naik
k = propensitas pegang uang (0 < k < 1) | h = kepekaan suku bunga (h > 0)
Contoh: k=0,3 | Y=500 | h=10 | r=5%
Lt = 0,3 × 500 = 150
hr = 10 × 5 = 50
Md = 150 − 50 = 100
Catatan notasi: Md = kY − hr = kY + Ls = 150 + (−50) = 100. Tanda minus di rumus mencerminkan bahwa Ls adalah bilangan negatif. Md naik saat Y ↑; Md turun saat r ↑.
Hitung dari Nol — HDN-1: Permintaan Uang Md
Diketahui: k = 0,3 | Y = 500 | h = 10 | r = 5%. Hitung total Md dan interpretasikan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1 — Identifikasi
k = 0,3; Y = 500; h = 10; r = 5
—
2 — Komponen Transaksi
Lt = k × Y = 0,3 × 500
150
3 — Besaran Spekulatif (pengurang)
hr = h × r = 10 × 5
50
4 — Total Md
Md = Lt − hr = 150 − 50
Md = 100
Hasil: Md = 100. Lt = 150 menyumbang 75% dari permintaan bruto (Lt + hr = 200). 50 satuan dialihkan ke aset berbunga karena r = 5% cukup menarik.
Sensitivitas r: Jika r naik dari 5% ke 8% → hr = 10 × 8 = 80 → Md = 150 − 80 = 70 (turun 30 dari baseline 100). Kenaikan r 3 poin turunkan Md 30%.
Kurva Permintaan Uang (Md) & Pergeserannya
Grafik Md: sumbu horizontal = kuantitas uang (M), sumbu vertikal = suku bunga (r). Kurva menurun ke kanan (r naik → Md turun).
Dua Jenis Gerakan
r berubah → gerak di sepanjang kurva (tidak pindah kurva)
Y naik (ekonomi tumbuh) → kurva Md bergeser kanan
Y turun (resesi) → kurva Md bergeser kiri
Inovasi QRIS/e-money → k turun → kurva bergeser kiri
Ingat: r berubah = gerak di sepanjang kurva. Y berubah = kurva bergeser.
Situasi ekstrem: suku bunga sangat rendah (~0%) → permintaan spekulatif sangat elastis → kurva Md hampir horizontal.
Mekanisme Jebakan
r → 0% → tidak ada insentif beli obligasi
Masyarakat memegang tunai berapa pun
Ms bertambah → tidak menurunkan r lebih jauh
Kebijakan moneter ekspansif tidak efektif
Contoh: Jepang 1990-an; AS 2009–2015; Eropa 2010-an. Indonesia belum pernah masuk liquidity trap — BI Rate selalu jauh di atas 0% (minimum ~3,5% di 2021).
Bagian 3 dari 4
Penawaran Uang & Penciptaan Uang
Bagaimana Bank Indonesia menciptakan base money (uang primer) dan bagaimana sistem perbankan melipatgandakannya menjadi uang beredar yang jauh lebih besar.
ΔMs = ΔR × 1/GWM
Base MoneyMultiplierGWM
Uang Primer (Base Money) vs Uang Beredar: Dua Tingkat
UANG PRIMER / BASE MONEY (M0)
Diciptakan langsung oleh BI. Terdiri dari: (1) uang kartal beredar di masyarakat + (2) cadangan bank umum di BI. Ini adalah "bahan baku" uang beredar.
Ilustrasi: base money Indonesia ~Rp 2.000 T — jauh lebih kecil dari M2 ~Rp 9.000 T. Catatan: M0 BUKAN bagian dari deret M1 ⊂ M2; M0 adalah input yang dilipatgandakan menjadi M1/M2.
UANG BEREDAR (M1/M2)
Diciptakan oleh sistem perbankan melalui kredit berlipat. M2 bisa 4–5× lebih besar dari base money. BI mengendalikan M0 → sistem bank melipatgandakannya.
Ilustrasi: M0 ~Rp 2.000 T × multiplier ~4–5 = M2 ~Rp 8.000–10.000 T.
M = m × MB | m = 1/GWM (versi sederhana) | MB = monetary base (uang primer)
Analogi: MB seperti adonan roti; M seperti roti yang sudah mengembang. BI membuat adonan; "oven" (sistem perbankan) yang melipatgandakannya. M0 bukan "M yang lebih kecil" dari M1 — ia adalah input yang menghasilkan M1/M2.
Penciptaan Uang & Money Multiplier
Setiap rupiah simpanan baru menciptakan lebih dari satu rupiah uang beredar karena bank meminjamkan sebagian besar simpanan.
Money Multiplier (m) = 1 / GWM
Rumus ini berlaku dalam kasus ideal: semua uang selalu kembali ke bank sebagai simpanan, tanpa kebocoran ke tunai. Satu-satunya "rem" = GWM, sehingga m = 1/GWM.
ΔR = tambahan cadangan/simpanan awal ke sistem perbankan
ΔMs = total tambahan uang beredar yang tercipta
Contoh Cepat (GWM = 10%)
m = 1 / 0,10 = 10×
Simpanan awal Rp 1.000 M →
ΔMs = 1.000 × 10 = Rp 10.000 M
Ini versi sederhana (asumsi tanpa kebocoran ke tunai). Dalam praktik, multiplier riil selalu lebih rendah dari 1/GWM. Per 2023, GWM utama Bank Indonesia ~9%.
Hitung dari Nol — HDN-2: Ekspansi Kredit Berlipat Ganda
GWM = 10%. Bank X menerima simpanan awal Rp 1.000 miliar. Ikuti proses berlipat ronde per ronde.
Ronde
Bank Penerima
Simpanan Baru (Rp M)
Cadangan di BI (10%)
Kredit Baru (90%)
1
Bank X
1.000,0
100,0
900,0
2
Bank Y
900,0
90,0
810,0
3
Bank Z
810,0
81,0
729,0
4
Bank A
729,0
72,9
656,1
…
…
…
…
…
∞ (total)
Seluruh sistem
10.000
1.000
9.000
Verifikasi: ΔMs = 1.000 × (1/0,10) = 1.000 × 10 = Rp 10.000 M
GWM naik 10% → 15%: m = 1/0,15 = 6,67× → ΔMs = 1.000 × 6,67 = Rp 6.667 M (turun Rp 3.333 M dari semula Rp 10.000 M). Kenaikan GWM 5 poin → kontraksi besar!
Coba Sendiri: Geser GWM, Amati Penciptaan Uang Berlipat
Geser persentase GWM dan lihat berapa ronde ekspansi kredit terjadi serta seberapa besar total uang beredar yang tercipta.
Tiga Instrumen Kebijakan Moneter Bank Indonesia
1 — OPERASI PASAR TERBUKA (OPT)
BI membeli/menjual surat berharga di pasar. Beli → uang masuk sistem perbankan → Ms naik. Jual → uang keluar → Ms turun. Di Indonesia via SRBI (Surat Berharga BI, sejak 2023) dan SBN.
2 — GIRO WAJIB MINIMUM (GWM)
BI menetapkan persentase cadangan wajib. GWM naik → multiplier turun → Ms turun (kontraktif). GWM turun → multiplier naik → Ms naik. Per 2023: GWM utama ~9–10,5%.
3 — BI RATE (SUKU BUNGA DISKONTO)
BI menetapkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate, resmi sejak 2016). BI Rate naik → kredit mahal → investasi turun → Ms & AD turun. Instrumen paling aktif & fleksibel.
Dalam praktik Indonesia, BI Rate adalah instrumen paling dominan. OPT (via SRBI) untuk penyesuaian likuiditas harian. GWM diubah jarang — biasanya untuk reformasi besar. Glos: OPT = Operasi Pasar Terbuka; SRBI = Surat Berharga Bank Indonesia; AD = Aggregate Demand (Permintaan Agregat).
Studi Kasus Indonesia: Kebijakan Moneter Pasca-Covid
Tahun 2020–2022: siklus lengkap ekspansi lalu kontraksi moneter — bisa dibaca dengan teori hari ini.
Periode
Kebijakan BI
BI Rate
Logika Teori
2020–2021 (Pandemi)
Ekspansif: turunkan BI Rate, kurangi GWM, OPT beli SBN
5,0% → 3,5% (Feb 2021, terendah sepanjang sejarah)
Ms naik → r turun → kredit murah → mendorong ekonomi
2022 (Inflasi ~5,5%)
Kontraktif: naikkan BI Rate agresif
3,5% → 5,75% (Jan 2023; +225 bps dalam 6 bulan)
r naik → Md turun → kredit mahal → konsumsi melambat → inflasi mereda
Teori dalam aksi: BI Rate naik → r dalam Md = kY − hr meningkat → hr meningkat → Md menurun → tekanan inflasi mereda. Glos: bps = basis point; 1 bps = 0,01%; +225 bps = naik 2,25 poin persentase.
Bagian 4 dari 4
Transmisi Moneter & Keseimbangan Pasar Uang
Bagaimana keputusan BI di rapat Dewan Gubernur akhirnya sampai memengaruhi harga di pasar dan lapangan kerja — jalur transmisi lengkap.
BI Rate→Suku Bunga Pasar→Kredit→AD & Inflasi
Mekanisme Transmisi Moneter: Dari BI Rate ke Ekonomi Riil
BI Rate → ... → Inflasi & PDB. Setiap panah adalah satu tahap transmisi.
Lag Transmisi
Dari BI Rate berubah hingga inflasi mereda biasanya butuh 6–18 bulan karena tiap tahap butuh waktu penyesuaian.
BI harus bersifat forward-looking — mengantisipasi kondisi 12 bulan ke depan, bukan hanya bereaksi data hari ini.
Jalur Nilai Tukar
BI Rate naik → aset rupiah menarik bagi investor asing → Rupiah menguat → barang impor lebih murah → inflasi impor turun.
Keseimbangan Pasar Uang: Md = Ms
Seperti pasar barang, pasar uang juga memiliki titik keseimbangan — di mana permintaan dan penawaran uang bertemu menghasilkan suku bunga r*.
Tiga Skenario
BI perluas Ms (Ms bergeser kanan) → r* turun → pinjaman lebih murah → AD naik
BI kontraksi Ms (Ms bergeser kiri) → r* naik → pinjaman mahal → AD turun
Y naik (ekonomi tumbuh) → Md bergeser kanan → r* naik (tekanan ke atas; BI mungkin perlu intervensi)
Harga obligasi & suku bunga berlawanan: obligasi kupon Rp 5/Rp 100 (yield 5%). Jika r pasar naik ke 8% → harga obligasi lama turun ke ~Rp 62,5 agar yield = 5/62,5 = 8%. Harga ↑ ⇒ yield ↓.
Analisis: Inflasi 2022 & Respons Kebijakan BI
Gunakan kerangka Md–Ms untuk menganalisis apa yang terjadi di Indonesia 2022:
#
Tahap
Uraian
1
Shock
Harga komoditas global naik (energi, pangan pasca perang Rusia-Ukraina) + likuiditas ekspansi 2020–2021 → inflasi sisi penawaran (cost-push)
2
Dampak pada Md
Y tidak turun drastis (ekonomi tumbuh ~5%) → Md stabil/sedikit naik. Inflasi mendorong ekspektasi harga lebih tinggi
3
Respons BI
Naikkan BI Rate dari 3,5% → 5,75% (+225 bps dalam 6 bulan). Pengetatan Ms — r naik
4
Efek
r naik → hr naik → Md turun → tekanan konsumsi berkurang → IHK Des 2023 ≈ 2,61% (BPS) — mendekati target 2,5±1%
Teorema Keynes terbukti: BI Rate naik → r dalam Md = kY − hr meningkat → hr meningkat → Md menurun → tekanan inflasi mereda. Glos: cost-push inflation = inflasi didorong naiknya biaya produksi; IHK = Indeks Harga Konsumen (BPS).
Peta Konsep: Permintaan & Penawaran Uang
Latihan & Persiapan UAS
LATIHAN 1 — HITUNG Md
Diketahui: k = 0,25; Y = 800; h = 15; r = 4%. Hitung Md. Interpretasikan komponen transaksi vs spekulatif dan nyatakan berapa persen komponen transaksi dari Md total.
LATIHAN 2 — MONEY MULTIPLIER
GWM = 8%; Simpanan awal Rp 500 M. Hitung: (a) multiplier, (b) total ΔMs, (c) ΔMs jika GWM naik ke 12%. Berapa penurunan Ms akibat kenaikan GWM?
Persiapan UAS: Pertemuan 13 ini menutup siklus analisis makro. Review gabungan: Model AD-AS (P10–11) + Kebijakan Moneter (P13) + Kebijakan Fiskal (P12) — tiga kerangka ini sering muncul dalam soal analisis kasus UAS.
Selamat! Anda telah menyelesaikan materi inti Pengantar Ekonomi Makro. Pertanyaan? Konsultasi: jam kantor atau email sebelum UAS.