stdsquare²
Kelas
stdsquare / Kelas / Pengantar Ekonomi Makro / Pertemuan 13: Permintaan & Penawaran …
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
Program Studi Manajemen • FEB

Pengantar Ekonomi Makro

Pertemuan 13 — Permintaan & Penawaran Uang

Mengapa masyarakat memegang uang, berapa banyak yang mereka inginkan, dan bagaimana Bank Indonesia mengendalikan jumlah uang beredar — dari teori Keynes hingga kebijakan BI Rate pasca-Covid.

RPS MINGGU 14 • SUB-CPMK 12 • DURASI 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis permintaan dan penawaran uang (Sub-CPMK 12). Secara rinci:

CAPAIAN 1 — FUNGSI & JENIS UANG
Menjelaskan tiga fungsi uang (medium of exchange, unit of account, store of value) dan membedakan M1, M2, M3 dengan contoh instrumen Indonesia nyata.
CAPAIAN 2 — PERMINTAAN UANG
Menghitung Md = kY − hr dan menginterpretasikan komponen transaksi vs spekulatif untuk kasus angka yang diberikan.
CAPAIAN 3 — PENCIPTAAN UANG
Menghitung money multiplier (m = 1/GWM) dan proses ekspansi kredit, termasuk efek perubahan GWM — Giro Wajib Minimum (cadangan wajib bank di BI).
CAPAIAN 4 — KEBIJAKAN MONETER
Menjelaskan tiga instrumen Bank Indonesia (OPT, GWM, BI Rate) dan mekanisme transmisi moneter ke sektor riil.

Mengapa Anda Menyimpan Uang Tunai di Dompet?

Bayangkan Anda punya Rp 1 juta. Anda bisa depositokan agar berbunga — tapi banyak orang tetap menyimpan sebagian di dompet. Kenapa?

PILIHAN A — PEGANG TUNAI
Fleksibel, langsung bisa bayar kopi, ojek online, atau keadaan darurat. Tapi tidak menghasilkan bunga — nilai tidak tumbuh.
PILIHAN B — SIMPAN DI DEPOSITO
Berbunga ~3–5% per tahun, nilai tumbuh. Tapi tidak langsung bisa dipakai — harus cair dulu, butuh waktu.
Trade-off ini adalah inti permintaan uang: masyarakat menimbang antara likuiditas (kemudahan pakai) vs imbal hasil (bunga). Suku bunga tinggi $\to$ pegang tunai makin tidak menarik $\to$ permintaan uang turun.
Glos: likuiditas = kemudahan aset dikonversi tunai tanpa kehilangan nilai; imbal hasil = keuntungan/bunga dari aset finansial.
Bagian 1 dari 4
Apa Itu Uang?
Fungsi & Jenis

Tiga fungsi uang sebagai fondasi, lalu klasifikasi M1, M2, M3 yang dipakai Bank Indonesia dan bank sentral seluruh dunia.

Fungsi Klasifikasi Likuiditas

Tiga Fungsi Uang

FUNGSI 1 — ALAT TUKAR
Medium of Exchange
Uang menggantikan barter. Contoh: Anda membayar ojek online dengan GoPay (dompet digital PT GoPay Indonesia Raya), bukan menukar dengan beras.
FUNGSI 2 — SATUAN HITUNG
Unit of Account
Uang jadi standar nilai semua barang. Contoh: harga saham TLKM (Telkom Indonesia) Rp 3.870/lembar di BEI (Bursa Efek Indonesia); gaji Rp 5 juta/bulan.
FUNGSI 3 — PENYIMPAN NILAI
Store of Value
Uang memungkinkan penundaan daya beli ke masa depan. Nilai terjaga jika inflasi rendah. Fungsi ini paling rentan.
Peringatan: Fungsi ke-3 paling rentan — inflasi tinggi $\to$ uang buruk sebagai store of value. Inflasi Indonesia 2022 mencapai $~5,5\% \to$ daya beli rupiah menurun nyata.
Glos: barter = pertukaran barang/jasa langsung tanpa uang; tidak efisien karena butuh double coincidence of wants.

Klasifikasi Uang Beredar: M1, M2, M3

Bank sentral mengklasifikasikan uang berdasarkan tingkat likuiditas — makin mudah dipakai langsung, makin masuk M1. Ingat: M1 ⊂ M2 ⊂ M3.

KelompokCakupanLikuiditasContoh Indonesia
M1Uang kartal + giroTertinggiUang kertas/koin Rp; rekening giro BCA/BRI yang bisa ditarik ATM langsung
M2M1 + tabungan + deposito ≤2 thn + uang elektronikMenengahTabungan Simpedes BRI; deposito 1 bulan BNI; GoPay/OVO/Dana
M3M2 + semua deposito & sekuritas jk pendekLebih luasDeposito >2 tahun; NCD (Negotiable Certificate of Deposit); reksa dana pasar uang
BI menerbitkan data M1 & M2 setiap bulan via SEKI (Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia) di bi.go.id. M2 = ukuran utama "uang beredar" di Indonesia.
Glos: uang kartal = uang fisik (kertas & logam) dikeluarkan BI; giro = rekening bank yang bisa ditarik via cek/bilyet setiap saat.

Realita Indonesia: M1 & M2 dari Data BI (SEKI)

Per akhir 2023 (SEKI BI, posisi Desember 2023, dalam triliun Rp — ilustrasi besaran, verifikasi angka terkini di bi.go.id):

KomponenBesaran (ilustrasi, ~Rp triliun)
Uang kartal (kertas & koin)~1.100
Uang giral (giro bank umum)~2.600
M1 = kartal + giral~3.700
Tabungan rupiah~2.300
Deposito ≤2 tahun~3.000
Uang elektronik (GoPay/OVO/Dana, dll.)~15
M2 = M1 + tabungan + deposito + e-money~9.000
Angka di atas adalah ilustrasi besaran untuk konteks skala. Gunakan SEKI BI (Tabel 3.1.1) untuk analisis akademis. M2 Indonesia tumbuh rata-rata ~8–10%/tahun dalam 5 tahun terakhir.
Bagian 2 dari 4
Permintaan Uang:
Motif Keynes

Mengapa masyarakat memegang uang, dan seberapa banyak? Keynes mengidentifikasi tiga motif yang terangkum dalam rumus Md = kY − hr.

Md = kY − hr
Transaksi Berjaga-jaga Spekulatif

Tiga Motif Memegang Uang — J.M. Keynes

MOTIF 1 — TRANSAKSI
Transactions Motive
Untuk membiayai transaksi sehari-hari. Y (pendapatan) naik $\to$ belanja naik $\to Lt$ naik. Lt = kY (hubungan positif dengan Y).
MOTIF 2 — BERJAGA-JAGA
Precautionary Motive
Untuk pengeluaran tak terduga (sakit, kerusakan mendadak). Juga naik bersama Y. Dalam praktik sering digabung dengan motif transaksi.
MOTIF 3 — SPEKULATIF
Speculative Motive
Menunggu peluang investasi. r (suku bunga) rendah $\to$ orang pegang tunai. r tinggi $\to$ orang beli obligasi. Ls = f(r) — hubungan negatif.
Kunci analitik: Motif 1 & $2 \to$ naik bersama Y. Motif $3 \to$ turun saat r naik. Inilah asal-usul rumus Md = kY − hr.
Glos: Lt = permintaan transaksi; Ls = permintaan spekulatif; k = proporsi pendapatan yang dipegang tunai.

Coba Sendiri: Motif Apa Orang Pegang Uang Ini?

Untuk setiap situasi memegang uang, klik motifnya menurut Keynes: transaksi (Lt=kY), spekulasi (Ls=−h·r), atau prekautsi (berjaga-jaga). Latih pengenalan tiga sumber permintaan uang.

Permintaan Uang Transaksi: Lt = kY

Komponen pertama permintaan uang: bergantung pada pendapatan (Y), tidak bergantung suku bunga.

Lt = k × Y
Lt = permintaan uang untuk transaksi (& berjaga-jaga)  |  k = koefisien propensitas memegang uang tunai (0 < k < 1; relatif stabil jk pendek)  |  Y = pendapatan riil (PDB)

Contoh (k = 0,3; satuan = ratusan miliar Rp):

YkLt = k × Y
4000,3120
5000,3150
6000,3180
Ketika Y naik dari 500 ke 600, Lt naik dari 150 ke 180 — searah. Grafik Lt vs Y = garis lurus dengan kemiringan k.

Permintaan Uang Spekulatif: Ls = −h × r

Komponen kedua: bergantung pada suku bunga (r). Semakin tinggi $r \to$ semakin tidak menarik pegang tunai $\to Ls$ turun.

$$Ls = -h \times r   (\text{atau}: Ls = L_{0} - hr)$$
h = kepekaan (interest-elasticity) permintaan spekulatif terhadap suku bunga; h > 0  |  r = tingkat suku bunga (%)  |  Tanda minus: hubungan negatif.

Contoh (h = 10):

r (%)Ls = −h × rInterpretasi
3−30r rendah $\to Ls$ kecil-negatif, relatif banyak pegang tunai
5−50Baseline HDN-1
8−80r tinggi $\to Ls$ besar-negatif, orang beralih ke obligasi
Intuisi: r tinggi = biaya peluang memegang tunai makin mahal $\to$ orang pindah ke obligasi/deposito. r rendah = obligasi tidak menarik $\to$ orang lebih suka pegang tunai.

Total Permintaan Uang: Md = kY − hr

Gabungkan motif transaksi dan spekulatif ke dalam satu persamaan:

Md = kY − hr
Komponen

+kY = komponen transaksi (positif): naik bersama pendapatan Y

−hr = komponen spekulatif (negatif): turun saat suku bunga r naik

k = propensitas pegang uang (0 < k < 1)  |  h = kepekaan suku bunga (h > 0)

Contoh: k=0,3 | Y=500 | h=10 | r=5%

Lt = 0,3 × 500 = 150

hr = 10 × 5 = 50

Md = 150 − 50 = 100

Catatan notasi: Md = kY − hr = kY + Ls = 150 + (−50) = 100. Tanda minus di rumus mencerminkan bahwa Ls adalah bilangan negatif. Md naik saat Y ↑; Md turun saat r ↑.

Hitung dari Nol — HDN-1: Permintaan Uang Md

Diketahui: k = 0,3  |  Y = 500  |  h = 10  |  r = 5%. Hitung total Md dan interpretasikan.

LangkahPerhitunganNilai
1 — Identifikasik = 0,3; Y = 500; h = 10; r = 5
2 — Komponen TransaksiLt = k × Y = 0,3 × 500150
3 — Besaran Spekulatif (pengurang)hr = h × r = 10 × 550
4 — Total MdMd = Lt − hr = 150 − 50Md = 100
Hasil: Md = 100. Lt = 150 menyumbang 75% dari permintaan bruto (Lt + hr = 200). 50 satuan dialihkan ke aset berbunga karena r = 5% cukup menarik.
Sensitivitas r: Jika r naik dari $5\% ke 8\% \to hr = 10 \times 8 = 80 \to$ Md = 150 − 80 = 70 (turun 30 dari baseline 100). Kenaikan r 3 poin turunkan Md 30\%.

Kurva Permintaan Uang (Md) & Pergeserannya

Grafik Md: sumbu horizontal = kuantitas uang (M), sumbu vertikal = suku bunga (r). Kurva menurun ke kanan (r naik $\to Md$ turun).

MrMd₁Md₂(Y naik →geser kanan)Md turunsaat r naik ↓
Dua Jenis Gerakan
  • r berubah $\to$ gerak di sepanjang kurva (tidak pindah kurva)
  • Y naik (ekonomi tumbuh) $\to$ kurva Md bergeser kanan
  • Y turun (resesi) $\to$ kurva Md bergeser kiri
  • Inovasi QRIS/e-money $\to k$ turun $\to$ kurva bergeser kiri
Ingat: r berubah = gerak di sepanjang kurva. Y berubah = kurva bergeser.

Coba Sendiri: Geser Y dan r, Lihat Kurva Md Bereaksi

Atur pendapatan Y, suku bunga r, dan dua sensitivitas k serta h. Widget menghitung Md = k·Y − h·r dan menggambarkan kurva permintaan uang, lengkap dengan perbedaan gerak sepanjang kurva versus pergeseran kurva.

Jebakan Likuiditas (Liquidity Trap) — Batas Kebijakan Moneter

Situasi ekstrem: suku bunga sangat rendah $(~0\%) \to$ permintaan spekulatif sangat elastis $\to$ kurva Md hampir horizontal.

Mrkurva hampirhorizontalMdMs₁Ms₂Ms naik →r tidak berubah!
Mekanisme Jebakan
  • $r \to 0\% \to$ tidak ada insentif beli obligasi
  • Masyarakat memegang tunai berapa pun
  • Ms bertambah $\to$ tidak menurunkan r lebih jauh
  • Kebijakan moneter ekspansif tidak efektif
Contoh: Jepang 1990-an; AS 2009–2015; Eropa 2010-an. Indonesia belum pernah masuk liquidity trap — BI Rate selalu jauh di atas 0% (minimum ~3,5% di 2021).
Bagian 3 dari 4
Penawaran Uang &
Penciptaan Uang

Bagaimana Bank Indonesia menciptakan base money (uang primer) dan bagaimana sistem perbankan melipatgandakannya menjadi uang beredar yang jauh lebih besar.

$$\Delta Ms = \Delta R \times 1/GWM$$
Base Money Multiplier GWM

Uang Primer (Base Money) vs Uang Beredar: Dua Tingkat

UANG PRIMER / BASE MONEY (M0)
Diciptakan langsung oleh BI. Terdiri dari: (1) uang kartal beredar di masyarakat + (2) cadangan bank umum di BI. Ini adalah "bahan baku" uang beredar.

Ilustrasi: base money Indonesia ~Rp 2.000 T — jauh lebih kecil dari M2 ~Rp 9.000 T. Catatan: M0 BUKAN bagian dari deret M1 ⊂ M2; M0 adalah input yang dilipatgandakan menjadi M1/M2.
UANG BEREDAR (M1/M2)
Diciptakan oleh sistem perbankan melalui kredit berlipat. M2 bisa 4–5× lebih besar dari base money. BI mengendalikan $M0 \to$ sistem bank melipatgandakannya.

Ilustrasi: M0 ~Rp 2.000 T × multiplier ~4–5 = M2 ~Rp 8.000–10.000 T.
M = m × MB  |  m = 1/GWM (versi sederhana)  |  MB = monetary base (uang primer)
Analogi: MB seperti adonan roti; M seperti roti yang sudah mengembang. BI membuat adonan; "oven" (sistem perbankan) yang melipatgandakannya. M0 bukan "M yang lebih kecil" dari M1 — ia adalah input yang menghasilkan M1/M2.

Penciptaan Uang & Money Multiplier

Setiap rupiah simpanan baru menciptakan lebih dari satu rupiah uang beredar karena bank meminjamkan sebagian besar simpanan.

Money Multiplier (m) = 1 / GWM
Rumus ini berlaku dalam kasus ideal: semua uang selalu kembali ke bank sebagai simpanan, tanpa kebocoran ke tunai. Satu-satunya "rem" = GWM, sehingga m = 1/GWM.
$$\Delta Ms = \Delta R \times m = \Delta R \times (1 / GWM)$$
Keterangan
  • GWM = Giro Wajib Minimum (mis. $10\% \to$ bank simpan 10\%, pinjamkan 90\%)
  • $\Delta R$ = tambahan cadangan/simpanan awal ke sistem perbankan
  • $\Delta Ms$ = total tambahan uang beredar yang tercipta
Contoh Cepat (GWM = 10%)

m = 1 / 0,10 = 10×

Simpanan awal $Rp 1.000 M \to$

$\Delta Ms = 1.000 \times 10 =$ Rp 10.000 M

Ini versi sederhana (asumsi tanpa kebocoran ke tunai). Dalam praktik, multiplier riil selalu lebih rendah dari 1/GWM. Per 2023, GWM utama Bank Indonesia ~9%.

Hitung dari Nol — HDN-2: Ekspansi Kredit Berlipat Ganda

GWM = 10%. Bank X menerima simpanan awal Rp 1.000 miliar. Ikuti proses berlipat ronde per ronde.

RondeBank PenerimaSimpanan Baru (Rp M)Cadangan di BI (10%)Kredit Baru (90%)
1Bank X1.000,0100,0900,0
2Bank Y900,090,0810,0
3Bank Z810,081,0729,0
4Bank A729,072,9656,1
∞ (total)Seluruh sistem10.0001.0009.000
Verifikasi: $\Delta Ms = 1.000 \times (1/0,10) = 1.000 \times 10 =$ Rp 10.000 M
GWM naik $10\% \to 15\%$: m = 1/0,15 = $6,67\times$ $\to \Delta Ms = 1.000 \times 6,67 =$ Rp 6.667 M (turun Rp 3.333 M dari semula Rp 10.000 M). Kenaikan GWM 5 poin $\to$ kontraksi besar!

Coba Sendiri: Geser GWM, Amati Penciptaan Uang Berlipat

Geser persentase GWM dan lihat berapa ronde ekspansi kredit terjadi serta seberapa besar total uang beredar yang tercipta.

Tiga Instrumen Kebijakan Moneter Bank Indonesia

1 — OPERASI PASAR TERBUKA (OPT)
BI membeli/menjual surat berharga di pasar. Beli $\to$ uang masuk sistem perbankan $\to Ms$ naik. Jual $\to$ uang keluar $\to Ms$ turun. Di Indonesia via SRBI (Surat Berharga BI, sejak 2023) dan SBN.
2 — GIRO WAJIB MINIMUM (GWM)
BI menetapkan persentase cadangan wajib. GWM naik $\to$ multiplier turun $\to Ms$ turun (kontraktif). GWM turun $\to$ multiplier naik $\to Ms$ naik. Per 2023: GWM utama ~9–10,5\%.
3 — BI RATE (SUKU BUNGA DISKONTO)
BI menetapkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate, resmi sejak 2016). BI Rate naik $\to$ kredit mahal $\to$ investasi turun $\to Ms$ & AD turun. Instrumen paling aktif & fleksibel.
Dalam praktik Indonesia, BI Rate adalah instrumen paling dominan. OPT (via SRBI) untuk penyesuaian likuiditas harian. GWM diubah jarang — biasanya untuk reformasi besar.
Glos: OPT = Operasi Pasar Terbuka; SRBI = Surat Berharga Bank Indonesia; AD = Aggregate Demand (Permintaan Agregat).

Coba Sendiri: Tindakan BI Ini Pakai Instrumen Apa?

Untuk setiap tindakan Bank Indonesia, klik instrumennya: Operasi Pasar Terbuka (jual/beli SBN), Giro Wajib Minimum (rasio cadangan), atau BI Rate (suku bunga acuan). Latih pengenalan tiga instrumen kebijakan moneter.

Studi Kasus Indonesia: Kebijakan Moneter Pasca-Covid

Tahun 2020–2022: siklus lengkap ekspansi lalu kontraksi moneter — bisa dibaca dengan teori hari ini.

PeriodeKebijakan BIBI RateLogika Teori
2020–2021 (Pandemi)Ekspansif: turunkan BI Rate, kurangi GWM, OPT beli SBN$5,0\% \to$ 3,5\% (Feb 2021, terendah sepanjang sejarah)Ms naik $\to r$ turun $\to$ kredit murah $\to$ mendorong ekonomi
2022 (Inflasi ~5,5%)Kontraktif: naikkan BI Rate agresif$3,5\% \to$ 5,75\% (Jan 2023; +225 bps dalam 6 bulan)r naik $\to Md$ turun $\to$ kredit mahal $\to$ konsumsi melambat $\to$ inflasi mereda
2023–2024Stabilisasi5,75–6,25%Inflasi IHK Des 2023 ≈ 2,61% (BPS) — mendekati target 2,5±1%
Teori dalam aksi: BI Rate naik $\to r$ dalam Md = kY − hr meningkat $\to hr$ meningkat $\to Md$ menurun $\to$ tekanan inflasi mereda. Glos: bps = basis point; 1 bps = 0,01\%; +225 bps = naik 2,25 poin persentase.
Bagian 4 dari 4
Transmisi Moneter &
Keseimbangan Pasar Uang

Bagaimana keputusan BI di rapat Dewan Gubernur akhirnya sampai memengaruhi harga di pasar dan lapangan kerja — jalur transmisi lengkap.

BI Rate Suku Bunga Pasar Kredit AD & Inflasi

Mekanisme Transmisi Moneter: Dari BI Rate ke Ekonomi Riil

BI Rate $\to... \to$ Inflasi & PDB. Setiap panah adalah satu tahap transmisi.

BI Rate naikSuku bunga pasar naik(deposito, kredit, SBN)Kredit mahal → permintaankredit turunInvestasi melambat +Konsumsi melambatAD (Permintaan Agregat) turunInflasi mereda+ Jalur nilai tukar: Rupiah menguat→ impor murah → inflasi impor turun
Lag Transmisi

Dari BI Rate berubah hingga inflasi mereda biasanya butuh 6–18 bulan karena tiap tahap butuh waktu penyesuaian.

BI harus bersifat forward-looking — mengantisipasi kondisi 12 bulan ke depan, bukan hanya bereaksi data hari ini.

Jalur Nilai Tukar

BI Rate naik $\to$ aset rupiah menarik bagi investor asing $\to$ Rupiah menguat $\to$ barang impor lebih murah $\to$ inflasi impor turun.

Keseimbangan Pasar Uang: Md = Ms

Seperti pasar barang, pasar uang juga memiliki titik keseimbangan — di mana permintaan dan penawaran uang bertemu menghasilkan suku bunga r*.

MrMdMsr*M*Ms′r′
Tiga Skenario
  • BI perluas Ms (Ms bergeser kanan) $\to r*$ turun $\to$ pinjaman lebih murah $\to AD$ naik
  • BI kontraksi Ms (Ms bergeser kiri) $\to r*$ naik $\to$ pinjaman mahal $\to AD$ turun
  • Y naik (ekonomi tumbuh) $\to Md$ bergeser kanan $\to r*$ naik (tekanan ke atas; BI mungkin perlu intervensi)
Harga obligasi & suku bunga berlawanan: obligasi kupon Rp 5/Rp 100 (yield 5\%). Jika r pasar naik $ke 8\% \to$ harga obligasi lama turun ke ~Rp 62,5 agar yield = 5/62,5 = 8\%. Harga ↑ ⇒ yield ↓.

Analisis: Inflasi 2022 & Respons Kebijakan BI

Gunakan kerangka Md–Ms untuk menganalisis apa yang terjadi di Indonesia 2022:

#TahapUraian
1ShockHarga komoditas global naik (energi, pangan pasca perang Rusia-Ukraina) + likuiditas ekspansi 2020–$2021 \to$ inflasi sisi penawaran (cost-push)
2Dampak pada MdY tidak turun drastis (ekonomi tumbuh $~5\%) \to Md$ stabil/sedikit naik. Inflasi mendorong ekspektasi harga lebih tinggi
3Respons BINaikkan BI Rate dari $3,5\% \to 5,75\% (+225$ bps dalam 6 bulan). Pengetatan Ms — r naik
4Efekr naik $\to hr$ naik $\to Md$ turun $\to$ tekanan konsumsi berkurang $\to$ IHK Des 2023 ≈ 2,61\% (BPS) — mendekati target 2,5±1\%
Teorema Keynes terbukti: BI Rate naik $\to r$ dalam Md = kY − hr meningkat $\to hr$ meningkat $\to Md$ menurun $\to$ tekanan inflasi mereda.
Glos: cost-push inflation = inflasi didorong naiknya biaya produksi; IHK = Indeks Harga Konsumen (BPS).

Peta Konsep: Permintaan & Penawaran Uang

UANGAlat Tukar • Satuan Hitung • Store of ValueM1 (kartal+giro) ⊂ M2 (M1+tabungan+e-money) ⊂ M3PERMINTAAN UANGMd = kY − hrTransaksi: Lt = kY [↑ bersama Y] • Berjaga-jaga [↑ Y]Spekulatif: Ls = −hr [↓ saat r naik]PENAWARAN UANGDikendalikan BIBase Money • Money Multiplier m = 1/GWMOPT (SRBI/SBN) • GWM • BI RateMd = Ms → r* → Transmisi 6–18 bln → Inflasi & PDB

Latihan & Persiapan UAS

LATIHAN 1 — HITUNG Md
Diketahui: k = 0,25; Y = 800; h = 15; r = 4%.
Hitung Md. Interpretasikan komponen transaksi vs spekulatif dan nyatakan berapa persen komponen transaksi dari Md total.
LATIHAN 2 — MONEY MULTIPLIER
GWM = 8\%; Simpanan awal Rp 500 M.
Hitung: (a) multiplier, (b) total $\Delta Ms, (c) \Delta Ms$ jika GWM naik ke 12\%. Berapa penurunan Ms akibat kenaikan GWM?
Persiapan UAS: Pertemuan 13 ini menutup siklus analisis makro. Review gabungan: Model AD-AS (P10–11) + Kebijakan Moneter (P13) + Kebijakan Fiskal (P12) — tiga kerangka ini sering muncul dalam soal analisis kasus UAS.
Selamat! Anda telah menyelesaikan materi inti Pengantar Ekonomi Makro. Pertanyaan? Konsultasi: jam kantor atau email sebelum UAS.