stdsquare²
Kelas
stdsquare / Kelas / Pengantar Ekonomi Makro / Pertemuan 11: Peran Pajak & Kebijakan …
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Pengantar Ekonomi Makro

Pertemuan 11 — Peran Pajak & Kebijakan Fiskal dalam Pendapatan Nasional

Bagaimana pajak dan belanja pemerintah membentuk keseimbangan pendapatan nasional — dan mengapa multipliernya berbeda.

RPS MINGGU 12 • SUB-CPMK10 • DURASI 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis peran pajak dalam pembentukan pendapatan nasional (Sub-CPMK10). Secara rinci:

CAPAIAN 1 — MODEL 3-SEKTOR
C+I+G
Menjelaskan bagaimana G (belanja pemerintah) dan T (pajak) masuk ke persamaan pendapatan nasional.
CAPAIAN 2 — HITUNG Y
Y*
Menghitung Y keseimbangan dengan pajak lump-sum dan pajak proporsional secara numerik.
CAPAIAN 3 — MULTIPLIER
kg, kt
Membedakan multiplier pengeluaran pemerintah (kg), multiplier pajak (kt), dan balanced budget multiplier.
CAPAIAN 4 — KEBIJAKAN
APBN
Mengidentifikasi kebijakan fiskal ekspansif vs kontraktif dan kasus nyata APBN Indonesia.

APBN 2024: Instrumen Fiskal Terbesar yang Menyentuh Kehidupan Anda

PENDAPATAN NEGARA 2024
Rp 2.802 T
Mayoritas dari PPh (Pajak Penghasilan — PPh Badan 22%) dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai — tarif efektif 11% per PMK 131/2024). Sumber: Dirjen Pajak.
BELANJA PEMERINTAH 2024
Rp 3.325 T
Transfer daerah, infrastruktur, subsidi, gaji ASN — semua komponen G (government expenditure / belanja pemerintah) dalam model kita.
Defisit ~Rp 522 triliun (~2,3% PDB) — di bawah batas UU 3% PDB. Pemerintah menutupnya dengan menerbitkan SBN (Surat Berharga Negara) — obligasi yang diterbitkan untuk menutup selisih belanja dan penerimaan.

Setiap kali Anda beli barang kena PPN, atau perusahaan bayar PPh Badan 22% — itu masuk ke mesin fiskal yang hari ini kita pelajari cara kerjanya.

Bagian 1 dari 4
Dari 2-Sektor ke 3-Sektor: Masuk Pajak & Pemerintah
Membangun model perekonomian yang lebih realistis dengan menambahkan pemerintah sebagai pelaku ekonomi ketiga.
Konsumsi Investasi Pemerintah

Model 3-Sektor: Komponen Permintaan Agregat

Menambah pemerintah mengubah dua sisi: pengeluaran bertambah G, pendapatan terpotong T.

2-Sektor3-Sektor
Permintaan Agregat / ADY = C + IY = C + I + G
Fungsi KonsumsiC = a + bYC = a + b(Y – T)
Pendapatan tersedia / YdYYd = Y – T
RUMAH TANGGAbayar T, terima YdPASAR BARANGAD = C + I + Gkeseimbangan Y = ADPEMERINTAHpungut T, belanja GC (konsumsi)G (belanja)T (pajak) → memotong Yd rumah tangga

Dua Jenis Pajak dalam Model Makro

PAJAK LUMP-SUM (T tetap)
T = K
  • Jumlah tetap, tidak bergantung Y.
  • Contoh teoretis: pajak kepala (poll tax) — nilai tetap tanpa melihat penghasilan.
  • Model: T = konstanta. Yd = Y – T.
  • Multiplier tidak berubah dari model 2-sektor.
PAJAK PROPORSIONAL (t × Y)
T = t·Y
  • Jumlah naik seiring Y naik.
  • Contoh Indonesia: PPh — perusahaan bayar 22% dari laba (PPh Badan).
  • Model: T = t·Y (tarif pajak 0 < t < 1). Yd = Y(1–t).
  • Multiplier lebih kecil — bekerja sebagai automatic stabilizer.
Automatic stabilizer: pajak proporsional bekerja otomatis meredam fluktuasi — saat Y naik (boom), T otomatis naik, mengerem konsumsi. Dibahas di Bagian 4.

Coba Sendiri: Dua Jenis Pajak, Dua Dampak pada Multiplier

Bandingkan pajak lump-sum tetap versus pajak proporsional terhadap pendapatan. Widget menghitung pendapatan disposabel, konsumsi, dan menunjukkan mengapa pajak proporsional menurunkan multiplier.

Fungsi Konsumsi dengan Pajak: C = a + b(Y – T)

C = a + b·Yd
C = a + b·(Y – T)
C = (a – bT) + bY

a = konsumsi otonom (tidak bergantung pendapatan)
b = MPC (Marginal Propensity to Consume — kecenderungan mengkonsumsi marginal: proporsi setiap tambahan Yd yang dikonsumsi; 0 < b < 1)
Y – T = Yd = disposable income (pendapatan setelah pajak)

VariabelTanpa pajakDengan pajak T
Dasar konsumsiYY – T
Fungsi Ca + bYa + b(Y–T)
Interceptaa – bT (lebih rendah)
Kemiringanbb (tetap sama)

Menurunkan Y Keseimbangan (Model 3-Sektor)

Langkah penurunan aljabar:

  1. AD = C + I + G
  2. Substitusi C: AD = a + b(Y–T) + I + G
  3. Ekspansi: AD = a + bY – bT + I + G
  4. Keseimbangan Y = AD:
    Y = a + bY – bT + I + G
  5. Kelompokkan Y:
    Y – bY = a – bT + I + G
  6. Faktorkan: Y(1–b) = a – bT + I + G
     a – bT + I + G
Y* = ─────────────────
         1 – b
1/(1–b) = multiplier Keynes (identik model 2-sektor), tetapi kini pembilang dikurangi bT. T naik → Y* turun.

HDN-1: Hitung Y Keseimbangan — Langkah demi Langkah

Data: C = 50 + 0,8(Y – T)  |  I = 100  |  G = 200  |  T = 150  |  b = 0,8  |  a = 50

LangkahPerhitunganNilai
1 — Tulis ADAD = [50 + 0,8(Y–150)] + 100 + 200AD = ?
2 — Ekspansi C50 + 0,8Y – 0,8×150 = 50 + 0,8Y – 120= –70 + 0,8Y
3 — Jumlah AD–70 + 0,8Y + 100 + 200AD = 230 + 0,8Y
4 — Keseimbangan Y = ADY = 230 + 0,8Y
5 — Kelompokkan YY – 0,8Y = 230 → 0,2Y = 230
6 — Selesaikan Y*Y* = 230 / 0,2Y* = 1.150
Verifikasi: C = 50 + 0,8(1.150 – 150) = 50 + 800 = 850.   AD = 850 + 100 + 200 = 1.150 = Y* ✓

Pajak Proporsional: T = t·Y — Multiplier Lebih Kecil

Yd = Y – T = Y – tY = Y(1–t)
C = a + b·Y(1–t)
AD = a + b(1–t)Y + I + G
Y* = (a + I + G) / [1 – b(1–t)]
Jenis pajakMultiplier
Tanpa pajak (2-sektor)1 / (1–b)
Lump-sum T1 / (1–b)
Proporsional t1 / [1–b(1–t)] — lebih kecil!
Contoh b = 0,8; t = 0,25:
Tanpa pajak: multiplier = 1/0,2 = 5
Proporsional: multiplier = 1/(1–0,6) = 1/0,4 = 2,5

b(1–t) = MPC setelah pajak (kecenderungan mengkonsumsi dari pendapatan setelah pajak proporsional). Penyebut lebih besar → multiplier lebih kecil.

Bagian 2 dari 4
Multiplier Fiskal: kg, kt, dan Balanced Budget
Tiga multiplier yang mengubah cara kita memandang efektivitas kebijakan anggaran pemerintah.
kg (pengeluaran) kt (pajak) BBM = 1

Multiplier Pengeluaran Pemerintah (kg)

Bandingkan Y* sebelum dan sesudah G naik $\Delta G (T$ dan variabel lain tetap):

Y* lama = (a – bT + I + G) / (1–b)
Y* baru $= (a - bT + I + G + \Delta G) / (1-b)$
$\Delta Y = Y*$ baru – Y* lama = $\Delta G / (1-b)$

$\Delta Y/\Delta G = 1/(1-b) =$ kg
Contoh b = 0,8:
kg = 1/(1–0,8) = 1/0,2 = 5
$\Delta G = 50 \to \Delta Y = 50 \times 5 =$ +250

Rantai efek:

ΔG naikΔAD langsung naikΔY naik → ΔC naiksiklus berulang...

Multiplier Pajak (kt) — Mengapa Lebih Kecil?

Bandingkan Y* sebelum dan sesudah T naik $\Delta T (G$ dan variabel lain tetap):

Y* lama = (a – bT + I + G) / (1–b)
Y* baru $= (a - b(T+\Delta T) + I + G) / (1-b)$
$\Delta Y = -b\Delta T / (1-b)$

$\Delta Y/\Delta T = -b/(1-b) =$ kt
Contoh b = 0,8:
kt = –0,8/(1–0,8) = –0,8/0,2 = –4
$\Delta T = 50 \to \Delta Y = 50 \times (-4) =$ –200
InstrumenMultiplier (b=0,8)Efek $\Delta X = 50$
$\Delta G = 50$kg = +5$\Delta Y =$ +250
$\Delta T = 50$kt = –4$\Delta Y =$ –200
|kt| < kg karena T naik $\to Yd$ turun $\to C$ turun sebesar b (bukan penuh 1). Sisa (1–b) "terserap" tabungan.

HDN-2: Efek $\Delta G$ dan $\Delta T -$ Bandingkan dari Basis yang Sama

Basis: Y* = 1.150 (dari HDN-1). C = 50 + 0,8(Y–T), I = 100, G = 200, T = 150, b = 0,8.

Skenario A: G naik 50 (G = 250), T tetap 150

LangkahPerhitunganNilai
1kg = 1/(1–0,8)= 5
2$\Delta Y = kg \times \Delta G = 5 \times 50$+250
3Y* baru = 1.150 + 2501.400

Skenario B: T naik 50 (T = 200), G tetap 200

LangkahPerhitunganNilai
1kt = –0,8/(1–0,8)= –4
2$\Delta Y = kt \times \Delta T = -4 \times 50$–200
3Y* baru = 1.150 – 200950
Kesimpulan: $\Delta G = 50 \to Y$ naik $250. \Delta T = 50 \to Y$ turun 200. Efek G lebih besar dari efek T (|5| > |4|).

Balanced Budget Multiplier — Teorema yang Mengejutkan

Jika G dan T keduanya naik dalam jumlah yang sama $(\Delta G = \Delta T = \Delta X)$, maka $\Delta Y = \Delta X$.

Efek $\Delta G: \Delta Y$ dari $G = +\Delta X / (1-b)$
Efek $\Delta T: \Delta Y$ dari $T = -b\Delta X / (1-b)$
Gabungkan: $\Delta Y = [\Delta X - b\Delta X] / (1-b)$
= $\Delta X(1-b) / (1-b) = \Delta X$

BBM = kg + kt
= 1/(1–b) + [–b/(1–b)]
= (1–b)/(1–b) = 1
BALANCED BUDGET MULTIPLIER
= 1
Meski anggaran berimbang (belanja = penerimaan, tidak ada defisit), kenaikan G dan T yang sama tetap menaikkan Y sebesar $\Delta X!$

HDN-3: Buktikan BBM = 1 dengan Angka

Basis: Y* = 1.150, G = 200, T = 150, b = 0,8. Skenario: G naik 100 (G = 300) DAN T naik 100 (T = 250) bersamaan.

LangkahPerhitunganNilai
1 — Efek $\Delta G = 100$kg × 100 = 5 × 100+500
2 — Efek $\Delta T = 100$kt × 100 = –4 × 100–400
3 — Net $\Delta Y$+500 + (–400)+100
4 — Y* baru1.150 + 1001.250
5 — Cek: BBM $= \Delta Y/\Delta G$100 / 100= 1 ✓
Verifikasi langsung: Y* = (50 – 0,8×250 + 100 + 300) / 0,2 = (50 – 200 + 100 + 300) / 0,2 = 250 / 0,2 = 1.250 ✓

Coba Sendiri: Bandingkan Tiga Multiplier Fiskal

Geser MPC dan amati tiga multiplier sekaligus: pengeluaran pemerintah (kg), pajak (kt, negatif), dan anggaran seimbang (BBM selalu = 1). Lihat dampak Rp 100 injeksi terhadap pendapatan agregat.

Bagian 3 dari 4
Kebijakan Fiskal dalam Praktik Indonesia
Dari model algebra ke APBN nyata: ekspansif, kontraktif, defisit, crowding out, dan automatic stabilizer.
APBN Defisit Crowding Out Stabilizer

Kebijakan Fiskal: Dua Arah, Dua Tujuan

FISKAL EKSPANSIF
Gas
  • Tujuan: merangsang pertumbuhan / mengatasi resesi.
  • Instrumen: ↑ G (belanja naik) atau ↓ T (pajak dipotong).
  • Efek: ↑ $AD \to$ ↑ $Y \to$ ↑ lapangan kerja.
  • Risiko: ↑ defisit, ↑ utang, potensi inflasi.
  • Contoh: stimulus APBN 2020 pasca-Covid.
FISKAL KONTRAKTIF
Rem
  • Tujuan: meredam inflasi / mengurangi panas ekonomi.
  • Instrumen: ↓ G (penghematan) atau ↑ T (pajak naik).
  • Efek: ↓ $AD \to$ ↓ $Y \to$ tekanan inflasi mereda.
  • Risiko: pertumbuhan melambat, pengangguran meningkat.
  • Contoh: konsolidasi fiskal (pemulihan fiskal terencana) 2022–2024.

Coba Sendiri: Ekspansif atau Kontraktif?

Untuk setiap kebijakan APBN Indonesia, klik apakah ia ekspansif (mendorong permintaan agregat) atau kontraktif (menarik permintaan agregat). Latih pengenalan arah kebijakan fiskal.

Defisit APBN & Utang Pemerintah Indonesia

Ketika G > T, pemerintah defisit APBN (kondisi saat belanja negara melebihi pendapatan) — dan menutupnya dengan menerbitkan utang.

BATAS HUKUM DEFISIT APBN
Maksimal 3% dari PDB — UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pasal 12 ayat (3). Dilonggarkan sementara 2020–2022 via UU No. 2 Tahun 2020 (penetapan Perppu 1/2020). Batas 3% berlaku penuh kembali mulai TA 2023.
TahunDefisit (% PDB)Keterangan
2019~1,8%Normal (pra-pandemi)
2020~6,1%Darurat Covid — batas dilonggarkan
2021~4,6%Masih pandemi
2022~2,4%Konsolidasi fiskal dimulai
2023~1,7%Di bawah 3% ✓
2024*~2,3%*Proyeksi (Kemenkeu, indikatif)

Crowding Out — Ketika Utang Pemerintah Menekan Swasta

Defisit dibiayai utang $\to$ pemerintah "berebut" dana di pasar keuangan dengan sektor swasta.

Mekanisme:

Pemerintah defisit → terbitkan SBNPermintaan dana naikSuku bunga naikInvestasi swasta turun
Crowding out (efek pengusiran) — kondisi ketika belanja defisit pemerintah mendorong naik suku bunga dan menekan investasi swasta. Multiplier nyata < multiplier model sederhana.
SBN (Surat Berharga Negara — instrumen utang pemerintah Indonesia: ORI, SBR, obligasi seri FR) memberi imbal hasil yang bersaing dengan kredit perbankan untuk investasi swasta.

Di Indonesia: Bank Indonesia dan pasar SBN memainkan peran penting dalam transmisi ini.

Automatic Stabilizer — Peredam Siklus Tanpa Keputusan Politik

Beberapa komponen fiskal bekerja otomatis merespons siklus ekonomi tanpa perlu undang-undang baru.

SAAT RESESI (Y turun)
↓ Y
  • Pajak progresif $\to T$ otomatis turun (pendapatan turun $\to$ pajak lebih rendah).
  • PKH (Program Keluarga Harapan) & tunjangan pengangguran $\to$ belanja sosial naik.
  • Efek: konsumsi tertahan, Y tidak jatuh terlalu dalam.
SAAT BOOM (Y naik)
↑ Y
  • Pajak progresif $\to T$ otomatis naik (pendapatan naik $\to$ tarif pajak naik).
  • Tunjangan pengangguran turun (lebih banyak yang bekerja).
  • Efek: konsumsi direm, inflasi tidak meledak.
Hubungan ke Slide 10: pajak proporsional yang membuat multiplier lebih kecil (1/[1–b(1–t)]) adalah persis mekanisme automatic stabilizer (penstabil otomatis — mekanisme fiskal yang bekerja tanpa keputusan eksplisit) ini dalam model kita.

Coba Sendiri: Automatic atau Discretionary?

Untuk setiap instrumen fiskal Indonesia, klik apakah ia automatic stabilizer (bekerja otomatis tanpa keputusan baru) atau discretionary (butuh keputusan kebijakan baru). Uji pemahaman tentang kedua kategori ini.

Studi Kasus: Fiskal Ekspansif — Respons Covid-19 (2020)

Indonesia mengambil kebijakan fiskal ekspansif terbesar dalam sejarah modern untuk merespons pandemi.

PROGRAM PEN 2020
~Rp 695 T
PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional — program fiskal darurat pemerintah Indonesia selama Covid-19). Komponen: kesehatan, Bansos (Bantuan Sosial — transfer tunai ke masyarakat rentan), insentif pajak, pembiayaan UMKM.
IndikatorNilai
Defisit APBN 2020~6,1% PDB
Dasar hukumPerpu 1/2020 (UU No. 2/2020)
Pertumbuhan PDB 2020–2,1% (kontraksi)
Pembanding 2019+5,0% (pra-pandemi)
Tanpa stimulus, kontraksi bisa lebih dalam. Multiplier fiskal bekerja, tetapi schock permintaan pandemi jauh lebih besar.

Mengapa Ada Batas Defisit 3% PDB? — Perspektif Hukum & Ekonomi

Dasar hukum: UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pasal 12 ayat (3): defisit APBN tidak melebihi 3% PDB; utang tidak melebihi 60% PDB.
ARGUMEN PRO-BATAS
  • Disiplin fiskal $\to$ kepercayaan investor & rating kredit (credit rating — penilaian kemampuan bayar utang dari S&P, Moody's, Pefindo).
  • Mencegah spiral utang (bunga utang semakin besar).
  • Ruang fiskal terjaga untuk krisis mendatang.
ARGUMEN FLEKSIBILITAS
  • Krisis/bencana butuh ruang fiskal lebih besar.
  • Batas kaku bisa bersifat pro-siklus (procyclical — memperparah siklus ekonomi, bukan meredam).
  • Banyak negara maju melampaui batas ini (AS, Jepang, EU).
Solusi Indonesia: batas 3% bersifat hukum, tetapi DPR dapat melonggarkan via Perpu/UU darurat di situasi luar biasa — persis yang dilakukan pada 2020.

Ringkasan: Tiga Multiplier Fiskal

MultiplierFormulaNilai (b = 0,8)Interpretasi
Pengeluaran Pemerintah (kg)1 / (1–b)5G naik $1 \to Y$ naik 5
Pajak (kt)–b / (1–b)–4T naik $1 \to Y$ turun 4
Balanced Budget (BBM)kg + kt = 11$\Delta G = \Delta T = 1 \to Y$ naik 1
Aturan Ingat Cepat (selalu berlaku)
  • kg – |kt| = 1 (selalu)
  • |kt| = b × kg (selalu)
  • BBM = kg + kt = 1 (model sederhana)
Mengapa kg > |kt|? G langsung masuk AD penuh; T harus melewati konsumsi — sebagian selalu "tersaring" tabungan. Selisih persis 1 bukan kebetulan, melainkan akibat aljabar yang tak terelakkan.

Rangkuman: Peran Pajak & Kebijakan Fiskal

Y = C + I + GModel 3-Sektor (keseimbangan)G — Belanja Pemerintahmasuk AD langsungT — Pajakvia Yd → C (tidak langsung)Multiplierkg = 5, kt = –4BBM = 1Kebijakan FiskalEkspansif vs KontraktifRisiko DefisitUtang → Crowding OutBatas 3% PDB (UU KN)Automatic StabilizerPajak proporsional + PKHLump-sum (T tetap) vs Proporsional (t·Y — stabilizer otomatis)
Sub-CPMK10 tercapai: Anda kini mampu menganalisis peran pajak dalam pembentukan pendapatan nasional.

Persiapan Pertemuan 12 & Latihan Mandiri

PERTEMUAN 12 (Minggu 13)
4-Sektor
  • Topik: Model 4-Sektor — Ekspor, Impor & Keseimbangan Perekonomian Terbuka.
  • Prasyarat baru: pahami konsep neraca perdagangan (X – M).
  • Baca: Mankiw (2011) bab Open-Economy Macroeconomics.
LATIHAN MANDIRI
Latihan
  • Kerjakan HDN-1 s.d. HDN-3 tanpa melihat jawaban.
  • Soal: b = 0,75; G = 150; T = 100; I = 80; a = 40 — hitung Y*. Kemudian hitung $\Delta Y$ jika G naik 60 dan T naik 60 bersamaan.
  • Cek: bisakah Anda jelaskan ke teman mengapa |kt| < kg?
Tes pemahaman cepat: Jika Anda bisa menjelaskan dengan kata-kata sendiri mengapa multiplier pajak lebih kecil dari multiplier pengeluaran — tanpa rumus — Anda benar-benar menguasai pertemuan ini. Neraca perdagangan (X – M, selisih ekspor dikurangi impor) adalah komponen kunci yang akan kita pelajari pertemuan berikutnya.