stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-10
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 10: Investasi & Multiplier Pendapatan Nasional
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Pengantar Ekonomi Makro

Pertemuan 10 — Investasi & Multiplier Pendapatan Nasional

Mengapa investasi Rp 1 dapat menghasilkan lebih dari Rp 1 pertambahan pendapatan nasional — dan bagaimana mekanisme "efek berantai" itu bekerja.

RPS MINGGU 11 • SUB-CPMK 9 • DURASI 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis peran investasi terhadap pendapatan nasional (Sub-CPMK 9). Rincian:

CAPAIAN 1
JENIS
Membedakan investasi otonom/terinduksi, PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri)/PMA (Penanaman Modal Asing), dan riil/finansial — dengan contoh Indonesia.
CAPAIAN 2
MEI
Menjelaskan determinan investasi (suku bunga, ekspektasi/animal spirits, akselerator) dan membaca kurva MEI (Marginal Efficiency of Investment).
CAPAIAN 3
HITUNG
Menghitung multiplier Keynes k = 1/(1−MPC) dan ΔY akibat ΔI langkah demi langkah, kesalahan aritmetika nol.
CAPAIAN 4
Y*
Menghitung pendapatan keseimbangan dua-sektor dan dampak kenaikan pengeluaran pemerintah (G), lalu memverifikasi via multiplier.
CAPAIAN 5
PARADOX
Menjelaskan paradox of thrift dan implikasinya terhadap kebijakan fiskal Indonesia. Siap hitung dari nol?

Investasi: Mesin Pertumbuhan atau Risiko?

Realisasi investasi Indonesia 2023 — data resmi BKPM/Kementerian Investasi:

KomponenNilai (Rp T)Catatan
PMDN — Penanaman Modal Dalam Negeri~711 T~47% dari total
PMA — Penanaman Modal Asing (FDI)~800 T~53% dari total
Total~1.510 TTarget RPJMN 2024: Rp 1.900 T
Daya ungkit investasi: Bila multiplier = 2, maka investasi Rp 1.510 T berpotensi menambah PDB hingga ~Rp 3.020 T. Itulah mengapa pemerintah sangat gencar menarik investasi — dan itulah inti pertemuan hari ini.
BAGIAN 1
Apa Itu Investasi?
Jenis & Determinan
Investasi dalam makroekonomi ≠ investasi dalam bahasa sehari-hari. Mari kita luruskan dulu.
Definisi makro → Tiga klasifikasi → Tiga determinan → Animal spirits → Akselerator

Investasi Makro: Bukan Sekadar Nabung

JANGAN KELIRU: "Investasi" dalam makroekonomi ≠ menabung atau membeli saham/reksa dana.
Investasi (Makro) ✓
  • Membangun pabrik baru
  • Membeli mesin produksi
  • Membangun gedung kantor
  • Menambah stok (inventory) barang dagangan
Bukan Investasi (Makro) ×
  • Membeli saham BBCA/TLKM di BEI
  • Membuka deposito bank
  • Membeli tanah untuk spekulasi
  • Membeli obligasi pemerintah (SUN/ORI)
Definisi formal: I = pengeluaran bisnis untuk barang modal baru (mesin, bangunan, stok) yang meningkatkan kapasitas produksi perekonomian. Pembelian sekuritas = redistribusi aset yang ada; bukan penambahan kapasitas produksi baru.

Tiga Dimensi Klasifikasi Investasi

Investasi dapat diklasifikasikan dalam tiga dimensi yang berbeda:

Dimensi 1 — Responsivitas thd Y
  • Otonom (autonomous): tidak bergantung pada Y saat ini; didorong ekspektasi & kebijakan. Contoh: proyek IKN, tol Trans-Jawa.
  • Terinduksi (induced): meningkat saat Y naik. Contoh: ekspansi pabrik ketika penjualan tumbuh.
Dimensi 2 — Asal Modal
  • PMDN — Penanaman Modal Dalam Negeri (pelaku domestik, mis. Grup Astra, Salim).
  • PMA / FDI — Penanaman Modal Asing (modal luar negeri, mis. Samsung di Cikarang).
Dimensi 3 — Wujud
  • Riil (real investment): membangun kapasitas fisik — pabrik, mesin, infrastruktur.
  • Finansial (financial investment): membeli sekuritas — bukan investasi makro, hanya transfer aset.

Determinan Investasi: Tiga Faktor Utama

Apa yang mendorong atau menghambat keputusan investasi pengusaha?

FAKTOR 1
i
Tingkat Bunga
Investasi = "membeli modal dengan biaya peluang". Semakin tinggi i → biaya modal naik → I turun. I dan i berbanding terbalik.
FAKTOR 2
🧠
Ekspektasi (Animal Spirits)
Keynes: optimisme/pesimisme pengusaha terhadap masa depan. Investasi bisa turun meski suku bunga rendah bila ekspektasi jelek.
FAKTOR 3
ΔY
Prinsip Akselerator
Investasi baru dipicu oleh perubahan output (ΔY), bukan level output. Permintaan tumbuh pesat → kapasitas tidak cukup → ΔI > 0.
Biaya peluang modal (opportunity cost of capital) — imbal hasil alternatif terbaik bila modal tidak diinvestasikan ke proyek tersebut (mis. SUN/deposito). Akselerator — prinsip bahwa investasi neto bergantung pada laju pertumbuhan output, bukan pada level output.

Animal Spirits — Keynes & Ekspektasi Pengusaha

"Sebagian besar keputusan kita untuk melakukan sesuatu yang positif… hanya bisa diambil sebagai hasil dari animal spirits — dorongan spontan untuk bertindak daripada tidak bertindak — dan bukan sebagai hasil dari rata-rata tertimbang manfaat kuantitatif yang dikalikan probabilitas kuantitatif."
— J. M. Keynes, The General Theory, 1936, Bab 12
Implikasi Teoritis
  • Investasi tidak semata-mata rasional-matematis; sentimen & kepercayaan diri berperan besar.
  • Bahkan suku bunga 0% pun mungkin tidak cukup mendorong investasi bila pengusaha pesimis.
  • Argumen Keynes untuk peran pemerintah: kalau swasta "freeze", pemerintah tampil sebagai investor of last resort.
Contoh Indonesia
  • Sikap "wait-and-see" pengusaha menjelang pemilu 2019 → investasi melambat meski fundamental oke.
  • Investment rush pasca-kepastian politik → I naik cepat.
  • COVID-19 Q1 2020: ekspektasi ambruk → I anjlok meski BI Rate diturunkan.

Prinsip Akselerator: Permintaan Dorong Investasi

Investasi neto bergantung pada laju perubahan permintaan (ΔY), bukan pada level Y.

TahunY (output)ΔYKebutuhan Mesin BaruKeterangan
11.0000Kapasitas cukup
21.100+100+10 mesinKapasitas harus ditambah
31.200+100+10 mesinPertumbuhan stabil
41.180−200 (divestasi)Output turun → tak ada inv. neto
Perhatikan tahun 4: output masih 1.180 (lebih tinggi dari tahun 1), namun investasi neto bisa nol/negatif hanya karena laju pertumbuhan melambat. Investasi (ΔI) jauh lebih volatile dari output (Y).
BAGIAN 2
Kurva MEI & Fungsi Investasi
Bagaimana suku bunga menentukan berapa besar investasi? Kita gambarkan dengan kurva dan formalisasi dengan persamaan.
Kurva MEI → Fungsi I = I₀ − bi → Pergeseran kurva → Anchor Indonesia

Kurva MEI (Marginal Efficiency of Investment)

MEI = ekspektasi imbal hasil internal (IRR) dari proyek investasi marginal berikutnya. Pengusaha berinvestasi selama MEI ≥ i. Bila MEI < i → proyek tidak layak.

Karakteristik Kurva MEI
  • Sumbu Y: tingkat bunga (i)
  • Sumbu X: kuantitas investasi (I)
  • Slope negatif (menurun kiri-atas ke kanan-bawah)
  • Proyek imbal hasil tertinggi dikerjakan lebih dulu; proyek marginal berikutnya MEI-nya lebih rendah
  • Geser kanan: ekspektasi membaik, teknologi baru, tax holiday
  • Geser kiri: ekspektasi memburuk, risiko naik
IiMEI₂ (ekspektasi membaik)MEI₁A (I*, i*)geser kanan

Fungsi Investasi: I = I₀ − bi

I = I₀ − b · i
Keterangan Variabel
  • I = kuantitas investasi total (endogen)
  • I₀ = investasi otonom (bila i = 0; mencerminkan ekspektasi & teknologi)
  • b = sensitivitas investasi terhadap suku bunga (koefisien positif)
  • i = tingkat suku bunga riil (eksogen — dari sisi moneter)
  • Tanda minus (−): hubungan terbalik I dan i
Ilustrasi Angka (I₀ = 500, b = 20)
  • Bila i = 5%: I = 500 − 20×5 = 400
  • Bila i = 10%: I = 500 − 20×10 = 300
  • i turun 5% → I naik 100 (= b × Δi = 20×5)
  • Model 2-sektor nanti: I = I₀ = konstanta (tanpa suku bunga) → fokus pada multiplier

Anchor Indonesia: PMA, PMDN & Target RPJMN

Realisasi & target investasi Indonesia — data resmi BKPM/Kementerian Investasi:

TahunPMDN (Rp T)PMA (Rp T)Total (Rp T)Pertumb.
2021~448~454~902+9,0%
2022~552~654~1.207+34%
2023~711~800~1.510~+25%
Target 2024 (Perpres RPJMN)1.900
Sektor terbesar 2023: Industri logam dasar (nikel/baterai EV), Transportasi & pergudangan, Perumahan/kawasan industri, Listrik/gas/air.  |  IKN (Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur — UU 3/2022): proyek prioritas PMA & PMDN; efek multiplier diharapkan mendorong pertumbuhan regional.
BAGIAN 3
Multiplier Keynes:
Mekanisme & Hitung dari Nol
Mengapa ΔI = Rp 200 M bisa menghasilkan ΔY lebih dari Rp 200 M? Kita telusuri satu demi satu ronde.
MPC & MPS → Rumus k → HDN-1 (MPC = 0,75) → HDN-2 (Y* + G) → Visualisasi ronde

MPC, MPS & Hubungannya

Definisi
  • MPC (Marginal Propensity to Consume — Kecenderungan Mengonsumsi Marginal): berapa rupiah dari setiap +Rp 1 pendapatan yang dikonsumsi.
    MPC = ΔC / ΔY   (0 < MPC < 1)
  • MPS (Marginal Propensity to Save — Kecenderungan Menabung Marginal): bagian yang ditabung.
    MPS = ΔS / ΔY = 1 − MPC
  • MPC + MPS = 1   (selalu berlaku)
Contoh: Bonus Rp 1.000.000
  • Dibelanjakan: Rp 750.000
  • Ditabung: Rp 250.000
  • MPC = 750.000 / 1.000.000 = 0,75
  • MPS = 250.000 / 1.000.000 = 0,25
  • Cek: 0,75 + 0,25 = 1 ✓
MPC kelompok miskin ≈ 1 (hampir semua dikonsumsi). MPC kelompok kaya < kelompok miskin (lebih banyak ditabung). Implikasi: bansos ke masyarakat miskin → multiplier lebih tinggi.

Multiplier Keynes: k = 1 / (1 − MPC)

k  =  1 / (1 − MPC)  =  1 / MPS
Derivasi — Deret Geometri

Injeksi awal ΔI → pendapatan +ΔI

Ronde 1: dikonsumsi MPC×ΔI

Ronde 2: MPC2×ΔI

Ronde 3: MPC3×ΔI   … dst

ΔY = ΔI × (1 + MPC + MPC2 + …) = ΔI × 1/(1−MPC) = k×ΔI

Tabel MPC → k
MPCMPSk
0,500,502,0
0,750,254,0
0,800,205,0
0,900,1010,0
Baris MPC = 0,75 dipakai di HDN-1.

Hitung dari Nol 1 — Multiplier & ΔY (MPC = 0,75)

Soal: MPC = 0,75. Investasi otonom naik ΔI = Rp 200 M. Hitung: (a) k; (b) ΔY total; (c) tunjukkan ronde 1–3.

LangkahPerhitunganNilai
1. Hitung MPSMPS = 1 − MPC = 1 − 0,750,25
2. Hitung kk = 1 / MPS = 1 / 0,254
3. Hitung ΔYΔY = k × ΔI = 4 × 200 MRp 800 M
RondeInjeksi/Konsumsi (Rp M)Kumulatif ΔY (Rp M)
0 (injeksi awal)200,000200,000
10,75 × 200 = 150,000350,000
20,75 × 150 = 112,500462,500
30,75 × 112,5 = 84,375546,875
→ 0800,000
Verifikasi: 200 / (1 − 0,75) = 200 / 0,25 = 800 M

Hitung dari Nol 2 — Y Keseimbangan 2-Sektor & Dampak G

Soal: C = 100 + 0,8Y; I = 200 (otonom); G = 0; NX = 0. Hitung Y*. Kemudian G naik menjadi 150 — hitung Y baru & ΔY; verifikasi via multiplier.

Bagian A — Y* Awal (G = 0)
LangkahPerhitunganNilai
1. Syarat Y = C+I+GY = (100+0,8Y)+200+0
2. Kumpulkan YY − 0,8Y = 300
3. Sederhanakan0,2 · Y = 300
4. Y*Y* = 300 / 0,21.500
Cek: C = 100+0,8×1.500 = 1.300; I = 200; C+I = 1.500 = Y ✓
Bagian B — Setelah G = 150
LangkahPerhitunganNilai
1. Syarat baruY = (100+0,8Y)+200+150
2. Kumpulkan Y0,2 · Y = 450
3. Y baru450 / 0,22.250
4. ΔY2.250 − 1.500750
Verifikasi via multiplier:
k = 1/(1−0,8) = 1/0,2 = 5
ΔY = 5 × 150 = 750

Coba Sendiri: Geser MPC & G, Amati Keynesian Cross Bergeser

Ubah MPC dan pengeluaran otonom lalu lihat garis pengeluaran agregat bergeser di Keynesian cross serta berapa besar multiplier-nya.

Proses Multiplier — Visualisasi Ronde demi Ronde

Multiplier bukan sihir — ia adalah akumulasi ronde konsumsi yang masing-masing mengecil. MPC = 0,75, ΔI = Rp 200 M:

Ronde 0 (injeksi awal): 200 MKontraktor terima Rp 200 MRonde 1: 0,75 × 200 = 150 MPedagang bahan terima Rp 150 MRonde 2: 112,5 MPetani dll terima Rp 112,5 MRonde 3: 84,4 M… dst (mengecil)TOTAL: 200 / (1−0,75) = Rp 800 MKebocoran ke S tiap ronde:50 M → 37,5 M → 28,1 M → …Total ΔS = 200 M = ΔI ✓(S = I di titik keseimbangan)
Jumlah total kebocoran (leakage) ke tabungan di semua ronde = ΔI awal. Proses berhenti bukan karena uangnya hilang, melainkan karena seluruh dorongan investasi telah "tersimpan" dalam bentuk tabungan baru — ini adalah kondisi keseimbangan S = I.
BAGIAN 4
Paradox of Thrift & Aplikasi Kebijakan
Ketika hemat individu bertentangan dengan kepentingan ekonomi agregat — dan mengapa pemerintah kadang harus "membelanjakan" di saat resesi.
Paradox of thrift → Studi kasus IKN → Batas multiplier sederhana

Paradox of Thrift — Ketika Hemat Merugikan Bersama

Hemat itu baik bagi individu. Tapi bila semua orang hemat bersamaan di saat resesi, hasilnya justru lebih buruk untuk semua.

Mekanisme Langkah demi Langkah
  • Krisis → semua RT putuskan menabung lebih (MPC turun, MPS naik).
  • Pengeluaran konsumsi agregat (C) turun → permintaan melemah.
  • Penjualan bisnis turun → PHK & pemotongan gaji.
  • Pendapatan (Y) turun → kemampuan menabung justru turun pula.
  • Paradoks: tabungan agregat tidak naik meski tiap individu "berniat" hemat.
Paradox of Thrift: niat hemat lebih → C agregat turun → Y turun → tabungan riil tidak bertambah (atau turun).
Contoh Indonesia: Program PEN 2020–2021
  • COVID-19 Q2 2020: konsumsi RT anjlok; GDP terkontraksi −5,3% (Q2 2020), pertama kali sejak 1998.
  • Pemerintah merespons: Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) >Rp 700 T — stimulus fiskal Keynesian klasik.
  • Tujuan: menggantikan pengeluaran swasta yang hilang; pemerintah sebagai spender of last resort.

Studi Kasus: IKN & Efek Multiplier Infrastruktur

Proyek IKN (Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur — UU 3/2022) — laboratorium hidup efek multiplier investasi infrastruktur berskala besar.

Fakta Kunci
  • Anggaran IKN dari APBN 2022–2024: ~Rp 72 T (Kemenkeu)
  • Target total investasi (pemerintah + swasta + PMA) hingga 2045: ~Rp 466 T (Otorita IKN — estimasi jangka panjang)
  • Multiplier infrastruktur di daerah tertinggal (estimasi Bank Dunia/ADB): 1,5–2,5×
  • Kunci multiplier besar: TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tinggi → kebocoran impor kecil
Estimasi Ilustrasi (ΔI = Rp 72 T dari APBN)
Skenario kΔI (Rp T)Estimasi ΔY Regional (Rp T)
k = 1,572~108
k = 2,072~144
k = 2,572~180
Semakin tinggi TKDN, semakin kecil "kebocoran" ke impor, semakin besar multiplier domestik. Angka bersifat ilustrasi; multiplier riil bergantung pada proporsi input lokal.

Batas & Kritik Multiplier Sederhana

Model Keynesian sederhana sangat berguna untuk intuisi, tetapi dunia nyata lebih kompleks. Lima keterbatasan:

Keterbatasan 1 — Kebocoran Pajak
Sebagian ΔY langsung dipotong pajak. Multiplier dengan pajak: k = 1/[1−MPC(1−t)], t = tarif pajak → k lebih kecil.
Keterbatasan 2 — Kebocoran Impor
Konsumsi sebagian untuk barang impor: k = 1/(MPS + MPM), MPM = marginal propensity to import → multiplier open economy lebih kecil.
Keterbatasan 3 — Kapasitas Penuh
Multiplier bekerja penuh hanya bila ada sumber daya menganggur. Bila perekonomian di kapasitas penuh → kenaikan G → inflasi, bukan Y riil.
Keterbatasan 4 — Crowding Out
Crowding out: G dibiayai obligasi → suku bunga naik → investasi swasta turun → efek multiplier ternetralisasi sebagian.
Multiplier riil Indonesia ≈ 1,0–1,5 (studi BI/Kemenkeu) — jauh di bawah angka teoritis 4–5 — karena kebocoran pajak + impor yang besar dan keterbatasan kapasitas domestik. Lag waktu (keterbatasan 5): proses ronde nyata butuh berbulan-bulan, tidak instan.

Cheat Sheet: Rumus Kunci Pertemuan 10

Rangkuman rumus yang wajib Anda kuasai:

#NamaRumusKeterangan
1Fungsi konsumsiC = C₀ + MPC·YC₀ = konsumsi otonom
2MPC + MPSMPC + MPS = 1Selalu berlaku
3MPC dari dataMPC = ΔC / ΔYProporsi konsumsi dari ΔY
4Fungsi investasiI = I₀ − b·iOtonom: I = I₀ (model 2-sektor)
5Multiplierk = 1 / (1 − MPC) = 1 / MPSPengganda Keynes
6Dampak ΔI atau ΔGΔY = k × ΔI (atau k × ΔG)Berlaku simetris
7Y keseimbanganY* = (C₀ + I₀ + G) / (1 − MPC)Dari syarat Y = C + I + G
8k dengan pajakk = 1 / [1 − MPC(1−t)]Teaser ekonomi terbuka
Verifikasi HDN-2 via rumus 7: (100 + 200 + 150) / (1 − 0,8) = 450 / 0,2 = 2.250

Diskusi & Latihan Kelas

Kerjakan secara individu (5 menit), lalu diskusikan berpasangan (3 menit):

Soal A — Hitung
MPC = 0,8. Pemerintah umumkan paket infrastruktur Rp 500 M.

Hitung: (1) multiplier k; (2) ΔY total; (3) berapa total tabungan baru di seluruh ronde?

Petunjuk: ikuti 3 langkah HDN-1.
Soal B — Analisis
Jelaskan dengan mekanisme langkah demi langkah mengapa paradox of thrift dapat menyebabkan resesi meskipun setiap rumah tangga bertindak "rasional" secara individual.

Kata kunci: MPC turun, permintaan agregat, Y turun, kemampuan menabung turun.
Soal C — Aplikasi
PMA masuk Rp 300 M ke manufaktur, tetapi 60% input dibeli dari luar negeri (impor). Apakah multiplier-nya sama dengan investasi yang 100% menggunakan input domestik? Jelaskan dengan konsep MPM (marginal propensity to import).
WAKTU
5 + 3
menit
Individual 5 menit → diskusi berpasangan 3 menit → sharing kelas.

Persiapan Pertemuan 11

"Pertemuan 10 selesai. Anda kini tahu: investasi adalah bahan bakar, multiplier adalah mesinnya."

Yang Sudah Anda Kuasai Hari Ini
  • Tiga jenis klasifikasi investasi (otonom/terinduksi, PMDN/PMA, riil/finansial)
  • Determinan: suku bunga i, ekspektasi (animal spirits), akselerator
  • Kurva MEI: slope negatif, pergeseran ekspektasi
  • Fungsi investasi: I = I₀ − bi
  • Multiplier k = 1/(1−MPC); ΔY = k × ΔI
  • Hitung Y* keseimbangan 2-sektor + dampak G
  • Paradox of thrift & batas multiplier sederhana
Persiapan Pertemuan 11 — AD-AS
  • Baca Mankiw bab "Aggregate Demand and Aggregate Supply"
  • Review komponen Y = C + I + G + NX (Pertemuan 8)
  • Pertanyaan pemantik: "Apa yang terjadi pada Y jika investasi naik tapi harga juga ikut naik?"
  • Latihan: kerjakan minimal 2 soal dari Lampiran B sebelum Pertemuan 11
AD-AS (Aggregate Demand – Aggregate Supply) — model yang menghubungkan tingkat harga (P) dengan total output (Y); topik Pertemuan 11.
Sampai jumpa Pertemuan 11 — Permintaan & Penawaran Agregat.