‹ Daftar slidePertemuan 8: Struktur Pasar: Persaingan Tidak Sempurna
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Pengantar Ekonomi Makro
Pertemuan 8 — Struktur Pasar: Persaingan Tidak Sempurna
Ketika satu atau beberapa perusahaan mengendalikan pasar — bagaimana mereka menetapkan harga, seberapa besar kerugian bagi masyarakat, dan apa peran pemerintah?
RPS Minggu 8 • Sub-CPMK 8 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis struktur pasar persaingan tidak sempurna (Sub-CPMK 8).
1
Membedakan empat struktur pasar berdasarkan jumlah penjual, sifat produk, dan hambatan masuk (barriers to entry)
2
Menghitung harga, kuantitas, dan laba monopolis (MR = MC) serta deadweight loss (DWL) secara numerik
3
Menurunkan reaction function dan keseimbangan Cournot untuk duopoli identik
4
Mengevaluasi kebijakan anti-monopoli Indonesia melalui peran KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) dan UU No. 5/1999
Satu Perusahaan, Satu Harga?
Di pasar persaingan sempurna, harga = biaya marjinal. Di dunia nyata, jarang seperti itu.
Kompetitif — Petani Cabai
Ratusan ribu petani menjual produk identik
Harga naik-turun tiap hari mengikuti pasar
Tidak ada satu pun yang bisa mengontrol harga
Setiap petani adalah price-taker
Tidak Sempurna — Contoh Indonesia
Pertamina: harga BBM (bahan bakar minyak) ditentukan pusat
Telkomsel: pangsa pelanggan ∼57% pasar seluler (estimasi 2024)
Gojek & Grab: dua platform dominan ojek online
PLN (Perusahaan Listrik Negara): satu-satunya penyedia listrik rumah tangga
Kuis cepat: Jika harga tiket pesawat naik di dua maskapai besar pada hari yang sama — kebetulan atau koordinasi? Apa yang membedakannya dari petani cabai?
Bagian 1
Peta Struktur Pasar
Dari persaingan sempurna ke monopoli murni — di mana posisi kita hari ini?
Empat Struktur Pasar: Dari Sempurna ke Monopoli
Empat struktur dibedakan oleh tiga dimensi: jumlah penjual, sifat produk, hambatan masuk (barriers to entry).
Dimensi
Persaingan Sempurna
Monopolistik
Oligopoli
Monopoli
Jumlah penjual
Sangat banyak
Banyak
Sedikit (2–10)
Satu
Produk
Identik
Terdiferensiasi
Identik / terdiferensiasi
Unik
Hambatan masuk
Bebas
Rendah
Tinggi
Sangat tinggi
Kendali harga
Tidak ada
Kecil
Sedang
Besar
Contoh Indonesia
Petani cabai
Kafe, salon, warung
Semen, telco, avtur
PLN (listrik)
Hambatan Masuk — Sumber Kekuatan Pasar
Tanpa hambatan masuk, laba ekonomi menarik pendatang baru → laba terkikis. Hambatan menjaga laba tetap ada.
Tipe 1
▤
Sumber Daya Eksklusif
Satu perusahaan kontrol bahan baku kunci. Contoh: tambang nikel terkonsentrasi di Sulawesi — pemilik tambang punya market power atas pasokan.
Tipe 2
■
Hak Hukum
Paten (patent — hak eksklusif inovator 20 tahun), hak cipta, lisensi pemerintah. Contoh: izin frekuensi seluler dari Kemkominfo hanya untuk operator tertentu.
Tipe 3
▼
Skala Ekonomi
Biaya rata-rata turun tajam seiring output — economies of scale. Pendatang kecil selalu rugi. Contoh: jaringan pipa gas, PLN — monopoli alamiah (natural monopoly).
Bagian 2
Monopoli — Harga, Laba, dan Biaya Sosial
MR ≠ P • MR = MC • DWL — tiga ide yang membentuk inti analisis monopoli.
Kurva Permintaan, AR, dan MR Monopolis
Monopolis = satu-satunya penjual → menghadapi kurva permintaan pasar langsung. AR (average revenue) = harga jual.
P = AR = D | Misal: P = a – bQ TR = P × Q = (a – bQ)Q = aQ – bQ² MR = a – 2bQ ← slope MR = 2 × slope D
Contoh aritmetik (P = 100 – 2Q): Q=10 → P=80, TR=800 | Q=11 → P=78, TR=858 → MR = ΔTR/ΔQ = 58 < P=78 ✓ Di kompetitif: MR = P (kurva D horizontal). Di monopoli: MR < P karena harga semua unit lama ikut turun saat jual 1 unit tambahan.
Hitung dari Nol #1: Monopolis (MR=MC, Laba, DWL)
Diberikan: P = 100 – 2Q | TC = 200 + 20Q. Temukan: Q*, P*, laba, dan DWL (deadweight loss).
Langkah
Perhitungan
Hasil
1. Turunkan MR
TR = (100–2Q)Q = 100Q–2Q² → MR = 100–4Q
MR = 100–4Q
2. Cari MC
TC = 200 + 20Q; setiap unit tambahan, TC naik Rp 20
Geser output monopolis menjauh dari titik kompetitif dan lihat segitiga DWL membesar sementara laba monopolis berubah.
Diskriminasi Harga — Monopolis Pintar
Monopolis pintar tidak mematok satu harga. Ia mengenakan harga berbeda untuk segmen berbeda berdasarkan WTP (willingness to pay — kesediaan membayar).
Tingkat 1
Sempurna
Setiap pembeli dikenakan WTP-nya sendiri. DWL = 0, tapi monopolis merebut seluruh surplus konsumen. Langka & teoritis.
Tingkat 2
Kuantitas (Blok)
Harga berbeda per blok kuantitas. Contoh: tarif listrik blok PLN — 1–100 kWh @ tarif rendah, 101–900 kWh @ tarif lebih tinggi.
Tingkat 3
Segmen
Harga berbeda per kelompok konsumen: mahasiswa vs umum; tiket KAI Eksekutif vs Ekonomi; BBCA/TLKM.JK: harga saham satu, tapi dividen diatur berbeda per kelas investor.
Kasus Indonesia: Dominasi Telkomsel
Telkomsel — anak usaha TLKM.JK (Telkom Indonesia) & SingTel — memiliki pangsa pelanggan terbesar di pasar seluler Indonesia.
Operator
Pelanggan (est.)
Pangsa
Telkomsel
∼170 juta
∼57%
Indosat Ooredoo Hutchison
∼97 juta
∼33%
XL Axiata + Smartfren
∼33 juta
∼10%
Data estimasi 2023–2024; verifikasi ke APJII/Kominfo untuk angka terbaru.
Analisis Struktur
HHI (Herfindahl-Hirschman Index — ukuran konsentrasi pasar) diestimasi >3.000 = sangat terkonsentrasi
Secara teknis: oligopoli dengan pemimpin dominan (bukan monopoli murni — ada Indosat ∼33%)
KPPU pernah sidik koordinasi tarif SMS 2007–2008 (Putusan No. 26/KPPU-L/2007) — verifikasi ke kppu.go.id
Kolusi implisit (tacit collusion): koordinasi tanpa komunikasi eksplisit, cukup dengan saling amati & respons harga
Bagian 3
Pasar Monopolistik & Oligopoli
Banyak penjual dengan produk berbeda; atau sedikit penjual yang saling mengawasi.
MONOPOLISTIK
OLIGOPOLI
Pasar Monopolistik: Diferensiasi Produk
Pasar monopolistik (monopolistic competition) = banyak penjual + produk terdiferensiasi + bebas keluar-masuk.
Ciri 1
Banyak
Banyak penjual; tidak ada yang dominan. Semua kecil relatif terhadap total pasar — tidak ada satu pun yang bisa mengontrol harga pasar.
Ciri 2
Beda
Diferensiasi produk: merek, lokasi, kualitas, desain — setiap penjual punya sedikit market power atas pelanggan setianya. Kurva D miring ke bawah.
Ciri 3
Bebas
Bebas masuk-keluar — tidak ada hambatan masuk signifikan. Jika ada laba, pendatang baru masuk. Ini kunci dinamika jangka panjang.
Contoh Indonesia: kafe/warung kopi (Starbucks, Kopi Kenangan, Janji Jiwa, kafe lokal) • salon rambut • warung makan • usaha laundry
Jangka Pendek vs Jangka Panjang: Monopolistik
Di jangka pendek bisa untung (atau rugi). Di jangka panjang: laba ekonomi → nol (zero profit).
Jangka Pendek (SR)
P > ATC (biaya total rata-rata) → laba ekonomi positif
Laba menarik pendatang baru masuk pasar
Contoh: warung kopi baru bermunculan 2020–2021
Jangka Panjang (LR)
Pendatang baru masuk → permintaan tiap perusahaan turun & lebih elastis
Proses berlanjut hingga P = ATC → laba ekonomi = 0
Zero profit ≠ rugi: semua biaya (termasuk biaya modal normal) tercover
Zero profit = laba ekonomi nol; laba akuntansi masih positif (biaya kesempatan sudah termasuk biaya ekonomi).
Excess Capacity: Inefisiensi Khas Monopolistik
Perusahaan monopolistik beroperasi di bawah kapasitas efisiennya — inilah excess capacity (kapasitas berlebih).
Titik Efisien vs Keseimbangan LR
Titik efisien: produksi di minimum ATC (skala paling efisien). Di persaingan sempurna, LR memaksa P = min ATC — tidak ada excess capacity.
Di monopolistik: keseimbangan LR di P = ATC, tapi bukan di minimum ATC. Perusahaan berproduksi di kiri minimum ATC.
Selisih = excess capacity yang terbuang sia-sia secara teknis.
Contoh & Trade-off
Kafe 20 kursi, rata-rata terisi 12 kursi di jam sibuk → 8 kursi = excess capacity
Kalau produksi lebih banyak, biaya rata-rata turun — tapi persaingan & diferensiasi mencegahnya
Trade-off: inefisiensi teknis vs keragaman konsumsi (variasi produk tinggi)
Excess capacity bukan kegagalan manajerial — ini hasil sistemik dari diferensiasi produk & kebebasan masuk.
Oligopoli: Interdependensi Strategis
Oligopoli: sedikit penjual, masing-masing sadar bahwa keputusannya memengaruhi dan direspons pesaing.
Tiga Ciri Oligopoli
Sedikit perusahaan: 2 hingga ∼10 pemain besar; HHI tinggi
Interdependensi strategis: A naik harga → B dan C bereaksi; tidak ada yang bisa bertindak seolah pesaing "tidak ada"
Hambatan masuk tinggi: skala ekonomi, regulasi, modal besar
Dua Opsi Strategis
Kolusi (kartel): bertindak bersama seperti monopolis → laba bersama maksimum, tapi ilegal & tidak stabil
Persaingan: bersaing kuantitas (Cournot), harga (Bertrand), atau pemimpin-pengikut (Stackelberg)
Nash equilibrium: tidak ada perusahaan yang mau ubah strategi, mengingat strategi pesaing
Hitung dari Nol #2: Duopoli Cournot
P = 120 – Q&sub1; – Q&sub2;, MC = 0. Dua perusahaan identik. Cari keseimbangan Cournot (Q&sub1;*, Q&sub2;*, P*, laba).
Model kinked demand (permintaan patah, Sweezy 1939) menjelaskan mengapa harga di oligopoli cenderung kaku dan tidak sering berubah.
Logika Asymmetric Response
P naik → pesaing tidak ikut naik → pelanggan kabur → kehilangan pangsa pasar besar (kurva D elastis di atas P*)
P turun → pesaing ikut turun → perang harga → tidak ada yang menang (kurva D inelastis di bawah P*)
Implikasi: perusahaan enggan ubah harga ke atas maupun ke bawah → price rigidity (kekakuan harga)
Mengapa MR Terputus di Q*?
Di atas P*: kurva D landai (elastis) → slope MR kecil
Di bawah P*: kurva D curam (inelastis) → slope MR besar
Di Q* (titik kink): kedua MR tidak bertemu → gap vertikal
MC bisa naik-turun dalam gap itu tanpa mengubah Q* dan P* optimal
Contoh Indonesia: harga tiket pesawat sangat sulit turun meski harga minyak dunia turun sementara — karena maskapai takut pesaing tidak ikut turun, justru merebut penumpang mereka.
Kolusi & Kartel: Dilarang, Tapi Ada
Kolusi: kesepakatan antar oligopolis untuk bertindak bersama seperti monopolis → laba bersama maksimum.
Apa itu Kartel?
Kartel (cartel) = organisasi produsen yang secara resmi tetapkan harga dan kuota bersama
Contoh global: OPEC — 13 negara produsen minyak koordinasi produksi
Mengapa kartel tidak stabil? Setiap anggota tergoda menipu (cheat): produksi di atas kuota diam-diam → tambah laba sendiri
Tapi kalau semua menipu → harga runtuh → semua lebih buruk
Di Indonesia, kartel = pelanggaran UU No. 5/1999 (Pasal 11) → sanksi denda dan pidana oleh KPPU.
Kasus Indonesia: Kartel Semen & Avtur + Gojek–Grab
Dua kasus nyata oligopoli Indonesia yang ditangani KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha).
Kasus 1 — Dugaan Kartel Semen (∼2016)
KPPU menyelidiki dugaan koordinasi harga — melibatkan sejumlah produsen besar (Semen Indonesia, Holcim, Indocement)
Tiga pemain besar kuasai >70% kapasitas (estimasi; verifikasi ke kppu.go.id)
Dampak: harga semen lebih tinggi dari yang seharusnya di pasar kompetitif — beban bagi jutaan konsumen & kontraktor
Catatan: verifikasi nomor putusan & status final ke kppu.go.id sebelum menyebut angka denda secara definitif.
Kasus 2 — Gojek vs Grab (Tarif Bawah)
KPPU menyelidiki apakah penetapan harga di bawah biaya (predatory pricing) dilakukan untuk menyingkirkan pesaing
Predatory pricing: harga di bawah biaya untuk menyingkirkan pesaing, lalu naik harga setelah pesaing keluar
Garis tipis: subsidi penumpang = bersaing sehat (promosi) atau predatori?
KPPU harus buktikan: harga di bawah biaya variabel rata-rata dan niat menyingkirkan pesaing
Bagian 4
Kebijakan Anti-Monopoli & Perbandingan Efisiensi
Apa yang bisa dilakukan pemerintah? Dan mana struktur yang paling efisien?
REGULASI
EFISIENSI
KPPU dan UU No. 5/1999: Penjaga Persaingan
KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) adalah lembaga independen yang menegakkan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Yang Dilarang UU 5/1999
Perjanjian penetapan harga — Pasal 5
Kartel — Pasal 11
Penyalahgunaan posisi dominan (≥50% pasar relevan) — Pasal 25
Merger yang mengurangi persaingan — Pasal 28
Instrumen KPPU
Investigasi atas inisiatif sendiri atau laporan masyarakat
Denda hingga 25% omzet selama periode pelanggaran (verifikasi teks UU & PP turunan)
Rekomendasi pembatalan merger/akuisisi
Koordinasi dengan Kejaksaan untuk sanksi pidana; banding ke PN/MA
Relevansi karir: diskusi penetapan harga dengan kompetitor — bahkan informal — bisa masuk kategori pelanggaran Pasal 5 UU 5/1999. Penting dipahami sebelum masuk dunia kerja.
Perbandingan Efisiensi Lintas Struktur Pasar
Tiga ukuran efisiensi: P vs MC, DWL (deadweight loss), dan excess capacity.
Dimensi
Persaingan Sempurna
Monopolistik
Oligopoli (Cournot)
Monopoli
P vs MC (LR)
P = MC ✓
P > MC ✗
P > MC ✗
P ≫ MC ✗✗
DWL
0 (nol)
Kecil
Sedang
Besar (contoh: 400)
Excess capacity
Tidak ada
Ada
Kadang
N/A
Variasi produk
Seragam
Tinggi ✓
Tergantung
Rendah
Inovasi
Rendah
Sedang
Sedang
Tinggi* (argumen paten)
Contoh Indonesia
Petani cabai
Kafe, salon
Semen, telco
PLN
*Inovasi monopoli bisa lebih tinggi karena laba besar membiayai R&D (argumen di balik sistem paten).
Diskusi & Latihan Kelas
Latihan Kelas — 10 Menit
Soal A — Individual (5 mnt)
Monopolis: P = 80 – Q, TC = 50 + 10Q.
(a) Turunkan MR dan MC
(b) Temukan Q* dan P*
(c) Berapa laba (π)?
(d) Berapa DWL dibanding pasar kompetitif (P=MC)?
Soal B — Diskusi (5 mnt)
Gojek dan Grab memberi subsidi besar kepada penumpang sejak awal beroperasi.
(a) Strategi persaingan sehat atau predatory pricing?
(b) Kondisi apa yang harus dipenuhi KPPU untuk membuktikan predatory pricing?