‹ Daftar slidePertemuan 7: Struktur Pasar: Persaingan Sempurna
Program Studi S1 Bisnis Digital · FEB UNDIP · Pengantar Ekonomi Makro
Struktur Pasar
Pertemuan 7 · Persaingan Sempurna
Pasar di mana tak ada satu pun penjual cukup besar untuk menggerakkan harga — di sini perusahaan hanya bisa "menerima" harga dan menentukan satu hal: berapa banyak yang diproduksi.
RPS Minggu 7 · Sub-CPMK 7 · 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis struktur pasar persaingan sempurna (Sub-CPMK 7). Secara rinci:
Capaian 1 — Ciri
4
syarat persaingan sempurna
Mengidentifikasi empat ciri persaingan sempurna pada contoh pasar riil Indonesia.
Capaian 2 — Price Taker
P=MR
penerimaan marginal = harga
Menjelaskan kenapa P = MR = AR dan kurva permintaan perusahaan bersifat horizontal.
Capaian 3 — Output Optimal
MR=MC
aturan emas produksi
Menghitung output optimal lewat MR = MC dan menentukan besarnya laba atau rugi.
Capaian 4 — Jangka Panjang
π=0
laba ekonomi nol
Menerapkan shutdown rule & menjelaskan keseimbangan jangka panjang P = min ATC.
Kenapa Harga Beras Sama di Semua Kios Pasar?
Coba keliling Pasar Bulu Semarang. Beras medium kualitas sama dijual nyaris satu harga di puluhan kios. Kenapa tak ada kios yang berani jual jauh lebih mahal?
Kalau Satu Kios Naikkan Harga
Sepi
Pembeli langsung pindah ke kios sebelah yang produknya identik → kios itu kehilangan semua pembeli.
Kalau Satu Kios Turunkan Harga
Sia-sia
Untung tambahan tipis, padahal ia sebenarnya bisa menjual berapa pun di harga pasar → tak ada gunanya banting harga.
Inilah inti persaingan sempurna: penjual sebanyak itu, produk seseragam itu, sampai tak ada satu pun yang bisa menggerakkan harga. Mereka semua "penerima harga" (price taker).
Bagian 1 dari 4
Empat Struktur Pasar & Ciri Persaingan Sempurna
Memetakan posisi persaingan sempurna di antara monopoli, oligopoli, dan persaingan monopolistik — lalu mengenali empat ciri pembedanya.
Empat Struktur Pasar — Dari yang Paling Ramai ke yang Paling Sepi
Struktur
Jumlah Penjual
Jenis Produk
Kuasa Harga
Contoh Indonesia
Persaingan Sempurna
Sangat banyak
Homogen
Tak ada (price taker)
Beras medium, valas antarbank
Persaingan Monopolistik
Banyak
Terdiferensiasi
Sedikit
Warung kopi, salon, restoran
Oligopoli
Sedikit
Homogen / diferensiasi
Cukup besar
Telco (TLKM/ISAT), semen, otomotif
Monopoli
Satu
Tak ada pengganti dekat
Besar (price maker)
PLN (transmisi listrik)
Semakin ke bawah tabel: penjual makin sedikit, kuasa atas harga makin besar. Hari ini kita fokus baris paling atas — persaingan sempurna.
Empat Syarat — Semua Harus Terpenuhi
1 · Banyak Penjual & Pembeli
∞ Pelaku
Tiap pelaku terlalu kecil; pangsa pasarnya nyaris nol → tindakannya tak menggeser harga pasar.
2 · Produk Homogen
Identik
Barang identik antarpenjual; pembeli tak peduli beli dari siapa → tak bisa pasang harga premium.
3 · Bebas Masuk & Keluar
Bebas
Tak ada hambatan berarti; perusahaan baru bebas masuk saat ada laba, bebas keluar saat rugi.
4 · Informasi Sempurna
Transparan
Semua tahu harga & kualitas yang berlaku → tak ada yang bisa "menipu" dengan harga lebih tinggi.
Keempat syarat ini menghasilkan satu konsekuensi tunggal: perusahaan menjadi price taker. Itu kunci semua perhitungan hari ini.
Uji Realitas — Cocokkan dengan Empat Ciri
Mendekati — Pasar Valas (USD/IDR Antarbank)
Ribuan pelaku (bank, institusi)
Mata uang identik — dolar dari Bank A = Bank B
Info harga real-time di semua layar
Kesimpulan: sangat dekat persaingan sempurna
Mendekati — Beras Medium Pasar Tradisional
Banyak penjual kecil di Pasar Bulu, Pasar Johar
Kualitas beras medium relatif seragam
Harga acuan publik (HET pemerintah)
Kesimpulan: mendekati, walau tak persis sempurna
Jauh — Mie Instan di Minimarket
Hanya beberapa merek besar (Indomie, Sedaap)
Produk terdiferensiasi: rasa, kemasan, branding
Pembeli punya preferensi merek
Kesimpulan: persaingan monopolistik, bukan sempurna
Persaingan sempurna adalah model ideal. Gunanya: jadi tolok ukur efisiensi untuk menilai pasar nyata — bukan deskripsi harfiah dunia.
Bagian 2 dari 4
Perusahaan sebagai Penerima Harga
Konsekuensi matematis dari price taking: kurva permintaan horizontal, dan P = AR = MR. Inilah jembatan ke semua perhitungan laba.
Dua Kurva yang Sering Tertukar
Kurva Permintaan Pasar
Menurun
Tetap menurun (hukum permintaan). Harga pasar P* terbentuk di sini dari pertemuan penawaran & permintaan total seluruh pasar.
Kurva Permintaan Perusahaan
Datar
Horizontal sebesar P*. Pada harga itu perusahaan bisa menjual berapa pun; di atas harga itu tak ada pembeli sama sekali.
Perusahaan price taker mengambil P* dari pasar sebagai "garis langit" — bisa menjual 1 atau 1.000 unit di harga yang sama persis.
Kenapa Harga = Penerimaan Rata-rata = Penerimaan Marginal
TR (total revenue) = P × q AR = TR / q = (P × q) / q = P MR = ΔTR / Δq = tambahan TR per unit = P (tiap unit dijual di harga sama) ⇒ P = AR = MR (khas price taker)
Bukti angka — harga tetap Rp 84 ribu per unit:
q (unit)
P (Rp ribu)
TR = P×q
AR = TR/q
MR = ΔTR
1
84
84
84
84
2
84
168
84
84
3
84
252
84
84
4
84
336
84
84
Karena harga tak berubah berapa pun yang dijual, MR selalu = P. Ini membuat aturan MR = MC menjadi sangat sederhana: cukup bandingkan P dengan MC.
Bagian 3 dari 4
Output Optimal, Laba/Rugi & Aturan Tutup
Tiga skenario harga atas satu skedul biaya: kapan laba, kapan rugi tapi jalan terus, kapan harus tutup. Semua dihitung dari nol.
Aturan Emas Maksimalisasi Laba: MR = MC
Selama MR > MC
Lanjut
Tiap unit tambahan menambah laba (penerimaannya > biayanya). Lanjut produksi.
Saat MR < MC
Berhenti
Unit tambahan menggerus laba (biayanya > penerimaannya). Hentikan produksi.
Output optimal di titik MR = MC. Untuk price taker, MR = P, jadi aturannya: produksi sampai P = MC (pada bagian MC yang menaik).
Awas — Miskonsepsi Umum
Maksimal laba ≠ produksi maksimum. Memaksa output melewati MR = MC justru menurunkan laba karena MC sudah melebihi MR.
Data Dasar — Skedul Biaya UD Tahu Sumedang (Rp ribu)
UD Tahu Sumedang: salah satu dari ratusan produsen tahu (price taker). Biaya tetap (sewa + alat) = Rp 100 ribu/hari.
q (kotak)
TFC
TVC
TC
MC = ΔTC
AVC = TVC/q
ATC = TC/q
0
100
0
100
—
—
—
1
100
72
172
72
72,00
172,00
2
100
116
216
44
58,00
108,00
3
100
144
244
28
48,00
81,33
4
100
168
268
24
42,00
67,00
5
100
200
300
32
40,00
60,00
6
100
252
352
52
42,00
58,67
7
100
336
436
84
48,00
62,29
8
100
464
564
128
58,00
70,50
Dua angka kunci wajib diingat: min AVC = Rp 40 (di q = 5) → ambang tutup usaha · min ATC ≈ Rp 58,67 (di q = 6) → ambang laba ekonomi nol.
Hitung dari Nol 1 — Harga Pasar Rp 84 ribu: Untung Berapa?
Langkah
Perhitungan
Nilai (Rp ribu)
1. Tetapkan MR
Price taker → MR = P
Rp 84
2. Cari q* (MR = MC, MC menaik)
MC₇ = 84 tepat = P ; MC₈ = 128 > 84
q* = 7
3. Hitung TR
TR = P × q = 84 × 7
Rp 588
4. Ambil TC dari tabel
TC(7) dari skedul biaya
Rp 436
5. Laba = TR − TC
588 − 436
+Rp 152
6. Cek silang: (P − ATC) × q
(84 − 62,29) × 7 = 21,71 × 7
≈ Rp 152 ✓
P (84) > ATC di q* (62,29) → laba supernormal Rp 152 ribu/hari. Dua cara menghitung (TR−TC dan kotak laba) menghasilkan angka sama — perhitungan benar.
Laba/Rugi sebagai "Kotak" di Grafik
Laba = (P − ATC) × q Jika P > ATC → kotak laba (positif, area hijau) Jika P = ATC → impas (kotak nol) Jika P < ATC → kotak rugi (negatif)
Tinggi Kotak
P − ATC
Jarak vertikal antara harga pasar dan biaya total rata-rata pada output optimal.
Lebar Kotak
q*
Kuantitas optimal yang diperoleh dari aturan MR = MC (titik perpotongan).
Untuk HDN-1: tinggi (84 − 62,29) = 21,71 ; lebar 7 ; luas ≈ Rp 152 ribu — sama persis dengan TR − TC. Dua cara, satu jawaban.
Coba Sendiri: Geser Harga Pasar, Amati Kotak Laba/Rugi
Geser harga pasar naik turun dan lihat kotak laba berubah jadi kotak rugi, sampai melewati titik shutdown.
Hitung dari Nol 2 — Harga Turun ke Rp 46: Tutup atau Jalan?
Langkah
Perhitungan
Nilai (Rp ribu)
1. Tetapkan MR
Price taker → MR = P
Rp 46
2. Cari q* (MR = MC)
MC₅ = 32 ≤ 46 ; MC₆ = 52 > 46 → berhenti di q = 5
q* = 5
3. Hitung TR
TR = 46 × 5
Rp 230
4. Ambil TC dari tabel
TC(5)
Rp 300
5. Laba = TR − TC
230 − 300
−Rp 70 (rugi)
6. Uji shutdown
AVC(5) = 40 ; P = 46 → P > AVC
Tetap produksi
Perbandingan pilihan: Rugi jika produksi = Rp 70 · Rugi jika tutup = Rp 100 (= TFC). Produksi menutup sebagian TFC → rugi lebih kecil Rp 30. Pilihan jelas: tetap produksi.
Kapan Sebaiknya Tutup? Bandingkan P dengan AVC
P ≥ min AVC → Tetap Produksi
Jalan
Penerimaan menutup seluruh biaya variabel + menyisakan untuk biaya tetap. Rugi (jika ada) < TFC. Lebih baik daripada tutup.
P < min AVC → Tutup (q = 0)
Tutup
Tiap unit tak menutup biaya variabelnya sendiri. Produksi memperbesar rugi. Lebih baik tutup sementara, rugi = TFC saja.
Shutdown rule (jangka pendek): tutup jika P < min AVC. Biaya tetap sudah "tenggelam" (sunk cost) jangka pendek → diabaikan dalam keputusan ini.
Hitung dari Nol 3 — Harga Anjlok ke Rp 36: Saatnya Tutup
Langkah
Perhitungan
Nilai (Rp ribu)
1. Bandingkan P vs min AVC
P = 36 ; min AVC = 40 (di q = 5)
P < min AVC
2. Keputusan shutdown
Tiap unit tak menutup biaya variabel → tutup, q = 0
q* = 0
3. TR saat tutup
P × 0
Rp 0
4. TC saat tutup
TC(0) = TFC = hanya biaya tetap
Rp 100
5. Rugi saat tutup
0 − 100
−Rp 100
6. Bandingkan: nekat produksi q = 5
TR = 36×5 = 180 ; TC(5) = 300 → rugi
−Rp 120 (lebih buruk)
Tutup → rugi Rp 100. Nekat produksi → rugi Rp 120. Selisih Rp 20. Tutup adalah pilihan rugi-terkecil.
Dari Mana Datangnya Kurva Penawaran Perusahaan?
Karena perusahaan selalu produksi di P = MC (selama P ≥ min AVC), maka kurva MC yang menaik di atas titik min AVC adalah kurva penawaran perusahaan.
Bagian MC ≥ min AVC
= Penawaran
Menjadi kurva penawaran — tiap harga menentukan q yang ditawarkan lewat P = MC.
Bagian MC < min AVC
= Tutup
Tidak dipasok (perusahaan tutup) → penawaran = 0 di harga-harga ini.
Inilah jembatan ke Pertemuan 2: penjumlahan kurva MC semua perusahaan = kurva penawaran pasar yang kita pakai dulu tanpa tahu asal-usulnya.
Bagian 4 dari 4
Keseimbangan Jangka Panjang & Efisiensi
Bebas masuk-keluar menghapus laba berlebih: di jangka panjang, P = min ATC dan laba ekonomi nol. Apa artinya bagi efisiensi pasar?
Mekanisme Otomatis Menuju Laba Ekonomi Nol
Ada Laba Supernormal (P > ATC)
Entry →
Perusahaan baru tertarik masuk → penawaran pasar naik → harga turun → laba terkikis sampai nol.
Ada Rugi (P < ATC)
← Exit
Sebagian perusahaan keluar → penawaran pasar turun → harga naik → rugi hilang sampai nol.
Titik berhenti: laba ekonomi = 0, yaitu saat P = min ATC. Semua perusahaan tinggal mendapat laba normal (imbal hasil wajar).
Hitung dari Nol 4 — Berapa Harga Jangka Panjang & Laba di Titik Itu?
Langkah
Perhitungan
Nilai (Rp ribu)
1. Cari min ATC dari tabel
ATC terendah = ATC(6) = 352 / 6
≈ Rp 58,67
2. Harga jangka panjang
Entry/exit menggiring P → min ATC
P_LR ≈ Rp 58,67
3. Output tiap perusahaan
q pada titik min ATC
q = 6 kotak
4. Hitung TR
TR = 58,67 × 6
≈ Rp 352
5. Ambil TC dari tabel
TC(6)
Rp 352
6. Laba ekonomi
TR − TC = 352 − 352
Rp 0 (laba normal)
Di jangka panjang tiap perusahaan beroperasi pada skala paling efisien (titik terendah ATC) dengan laba ekonomi nol. Harga = biaya rata-rata minimum = Rp 58,67.
Kenapa Persaingan Sempurna Disebut "Efisien"
Efisiensi Alokatif — P = MC
P = MC
Harga yang dibayar konsumen = biaya marginal memproduksinya → sumber daya dialokasikan ke nilai yang tepat, tak ada surplus terbuang.
Efisiensi Produktif — P = min ATC
P = min ATC
Tiap perusahaan berproduksi di biaya rata-rata terendah → barang dibuat semurah mungkin yang mungkin.
Keseimbangan Jangka Panjang: P = MR = MC = min ATC
Inilah patokan ideal untuk menilai pasar lain. Oligopoli & monopoli biasanya memiliki P > MC — dari situlah lahir inefisiensi yang kita bahas di Pertemuan 9.
Empat Jebakan Klasik di Soal Persaingan Sempurna
1 Pakai output maksimum, bukan MR = MC Jawaban salah karena memproduksi melewati q* justru mengurangi laba. Selalu cari q di MR = MC.
2 Pakai ATC untuk keputusan tutup Salah ambang. Keputusan tutup jangka pendek pakai AVC, bukan ATC. ATC hanya untuk untung/rugi.
3 Rugi = langsung tutup Selama P ≥ AVC, tetap produksi (rugi < TFC). Lihat HDN-2: rugi 70 < tutup 100.
4 Laba ekonomi nol = bangkrut Laba nol = laba normal; pemilik tetap dapat imbal hasil wajar atas modal & waktu.
Hafalkan dua ambang: AVC untuk "tutup atau jalan" · ATC untuk "untung atau rugi". Jangan tertukar.
Peta Keputusan & Cheat Sheet Persaingan Sempurna
Kondisi
Keputusan
Hasil
Contoh HDN
P > min ATC
Produksi q* di P = MC
Laba supernormal
P=84 → laba +152
min AVC ≤ P ≤ min ATC
Produksi q* di P = MC
Rugi < TFC, jalan
P=46 → rugi −70
P < min AVC
Tutup, q = 0
Rugi = TFC
P=36 → rugi −100
Jangka panjang
Entry/exit pasar
P = min ATC, laba 0
P=58,67 → laba 0
Latihan & Diskusi
Gunakan skedul biaya UD Tahu Sumedang yang sama (TFC = 100, data tabel Slide 13).
Latihan 1 — Hitung dari Nol
P = Rp 52
Tentukan: (a) q* optimal; (b) laba atau rugi — berapa rupiah?; (c) keputusan tutup atau jalan (tunjukkan perbandingan rugi).
Petunjuk: min AVC = 40, min ATC = 58,67. Bandingkan MC tiap baris dengan 52.
Diskusi — Kasus Nyata
E-Commerce
Apakah penjual case HP yang sama (merek & model identik) di marketplace termasuk persaingan sempurna? Bahas dengan empat ciri — di mana mendekati, di mana menyimpang (rating toko, reputasi, ongkir)?
Waktu diskusi: 10 menit per kelompok. Presentasikan jawaban Latihan 1 dengan tabel langkah (Langkah | Perhitungan | Nilai) — sama persis seperti HDN di slide ini.
Sudah Dikuasai & Yang Berikutnya
Hari Ini Anda Bisa
4 Capaian
Mengenali 4 ciri persaingan sempurna pada pasar riil
Menjelaskan P = MR = AR dan kurva permintaan horizontal
Menghitung q* lewat MR = MC + besar laba/rugi
Menerapkan shutdown rule & menjelaskan keseimbangan jangka panjang P = min ATC
Pertemuan 9 — Persaingan Tidak Sempurna
Monopoli & Oligopoli
Pertanyaan pemandu: "Kalau di sini P = MC, apa yang terjadi saat satu penjual bisa menetapkan harga sendiri?"
Tugas baca: Mankiw Ch. 15 (Monopoli).
Catatan Penting: Pertemuan 8 = UTS (Evaluasi Tengah Semester) — bukan materi baru. Pertemuan tatap muka materi berikutnya adalah Pertemuan 9.