stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-03
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 3: Teori Konsumsi: Utilitas Kardinal & Ordinal
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Pengantar Ekonomi Makro

Pertemuan 3 — Teori Konsumsi: Utilitas Kardinal & Ordinal

Mengapa konsumen memilih bundel tertentu di antara semua yang bisa terjangkau? Kita bongkar logika di balik pilihan itu melalui dua pendekatan: utilitas kardinal (mengukur kepuasan dengan angka) dan utilitas ordinal (cukup memberi peringkat preferensi).

RPS MINGGU 3 • SUB-CPMK 3 • DURASI 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis teori konsumsi (Sub-CPMK 3). Secara rinci:

CAPAIAN 1 — TU & MU
Menghitung utilitas total (TU) dan utilitas marjinal (MU) — TU = kepuasan kumulatif; MU = tambahan dari satu unit ekstra — mengidentifikasi titik jenuh, dan menerapkan Hukum MU Menurun.
CAPAIAN 2 — KESEIMBANGAN KARDINAL
Menentukan bundel optimal dengan syarat MU₁/P₁ = MU₂/P₂ (pendekatan kardinal): alokasikan anggaran hingga kepuasan marjinal per rupiah sama untuk setiap barang.
CAPAIAN 3 — IC & BUDGET LINE
Menggambar dan membaca kurva indiferensi (IC) dan garis anggaran (BL), menemukan titik singgung optimal di mana keduanya bersentuhan.
CAPAIAN 4 — EFEK HARGA & PENDAPATAN
Mengurai efek perubahan harga menjadi efek substitusi dan efek pendapatan, membedakan barang normal dari barang inferior.

Kenapa Kita Beli Apa yang Kita Beli?

Setiap pembelian adalah keputusan — sadar atau tidak. Ekonomi membedah logikanya.

SITUASI A — BAKSO
Anggaran Rp 25.000, harga bakso Rp 5.000/porsi. Berapa porsi optimal? Jawaban intuitif "sampai kenyang" sebenarnya mencerminkan logika utilitas marjinal — Anda beli selama setiap porsi tambahan masih terasa sepadan dengan harganya.
SITUASI B — BBM NAIK
Harga BBM naik → konsumen kurangi perjalanan (efek substitusi: beralih ke transportasi lebih murah) DAN merasa lebih miskin (efek pendapatan: daya beli nyata turun). Dua hal berbeda yang sering dicampur!
Teori konsumsi adalah alat untuk menjawab dua pertanyaan itu secara sistematis — bukan sekadar “terserah selera”, tetapi ada logika optimasi (optimization — memilih alternatif terbaik dari yang tersedia) di baliknya.
Bagian 1 dari 4
Utilitas & Hukum MU Menurun
Mendefinisikan kepuasan konsumen secara ekonomi, membedakan TU dari MU, dan membuktikan mengapa kepuasan marjinal selalu menurun.
TU MU Diminishing

Utilitas — Mengukur Kepuasan Konsumen

DEFINISI
Utilitas (utility) adalah ukuran kepuasan atau manfaat yang diperoleh konsumen dari mengonsumsi suatu barang/jasa. Semakin banyak utilitas, semakin sejahtera konsumen secara ekonomi.
SATUAN & PENDEKATAN
Dalam pendekatan kardinal, utilitas diukur dalam satuan util (hipotetis, mis. 10 util, 18 util). Dalam pendekatan ordinal, cukup urutan: “A lebih baik dari B” tanpa menyebut angka absolut.
Asumsi dasar: konsumen bersifat rasional (rational — konsisten dalam preferensi, selalu memilih opsi yang memaksimalkan kepuasan) dalam batas anggaran yang dimiliki.
Utilitas bersifat subjektif — satu porsi bakso bisa bernilai 10 util bagi seseorang dan 3 util bagi orang lain. Angka absolutnya tidak dibandingkan antar-individu.

Utilitas Total (TU) vs Utilitas Marjinal (MU)

TU = kepuasan kumulatif dari semua unit yang dikonsumsi. MU = tambahan TU dari satu unit ekstra.

MU = ΔTU / ΔQ    (Δ = delta = perubahan/selisih)
Q (porsi bakso)TU (util)MU (util)
00
11010
2188
3246
4284
5302
TU naik selama MU positif. TU maksimum saat MU = 0 (titik jenuh — satiation point). TU turun jika MU negatif.

Hitung dari Nol — HDN-1: Tabel TU & MU Bakso

Diketahui data TU konsumsi bakso (1–6 porsi): 10, 18, 24, 28, 30, 30. Lengkapi kolom MU dan tentukan titik jenuh.

LangkahPerhitunganNilai
Q=0, TU=0 (awal)MU = —
Q=1, TU=1010 − 0MU = 10
Q=2, TU=1818 − 10MU = 8
Q=3, TU=2424 − 18MU = 6
Q=4, TU=2828 − 24MU = 4
Q=5, TU=3030 − 28MU = 2
Q=6, TU=30 ← titik jenuh30 − 30MU = 0
Titik jenuh: Q = 6 porsi (MU = 0, TU = 30 util maksimum). Pola MU: 10 → 8 → 6 → 4 → 2 → 0 — selalu menurun. Verifikasi: 10+8+6+4+2+0 = 30

Hukum MU Menurun — Law of Diminishing Marginal Utility

Semakin banyak suatu barang dikonsumsi dalam satu periode waktu, MU-nya cenderung makin kecil (ceteris paribus — hal lain sama/tetap).

ILUSTRASI BAKSO
Porsi 1: lapar → TU +10. Porsi 3: cukup kenyang → TU +6. Porsi 6: sangat kenyang → MU = 0. Porsi 7 (dipaksakan): mual → MU negatif.
CONTOH LAIN
Segelas air saat haus (+besar). Gelas kedua (+kecil). Gelas ketiga saat tidak haus lagi (+sangat kecil atau bahkan negatif).
Syarat ceteris paribus: hukum ini berlaku untuk periode konsumsi yang sama, produk yang sama, kondisi yang tidak berubah. Makan bakso hari ini dan besok? Hitungan ulang dari nol.
Ini adalah generalisasi empiris (kesimpulan dari observasi berulang), bukan bukti deduktif. Para ekonom menerimanya sebagai asumsi perilaku standar.

Coba Sendiri: Tambah Porsi, Amati MU Menurun

Tambah unit konsumsi satu per satu dan lihat bagaimana TU melandai sementara MU terus mengecil hingga titik jenuh.

Bagian 2 dari 4
Keseimbangan Konsumen: Pendekatan Kardinal
Dengan anggaran terbatas dan dua barang atau lebih, bagaimana konsumen mengalokasikan uang agar kepuasan total maksimum? Syarat optimumnya: MU per rupiah sama.
MU₁/P₁ = MU₂/P₂ = … = MUₙ/Pₙ

Pendekatan Kardinal: Utilitas Dapat Diukur Secara Absolut

ASUMSI KUNCI
  • Utilitas dapat dikuantifikasi dalam satuan util
  • MU dari uang bersifat konstan (satu rupiah extra selalu bernilai sama)
  • Kepuasan total = jumlah kepuasan dari setiap barang
KONSEKUENSI
Karena utilitas terukur, kita dapat menghitung rasio MU/P untuk setiap barang, lalu membandingkan: “apakah rupiah terakhir untuk barang A memberi kepuasan lebih besar daripada untuk barang B?”
Pendekatan kardinal dikembangkan oleh Alfred Marshall (1890). Kelemahannya: asumsi utilitas dapat diukur secara absolut sulit diverifikasi. Inilah mengapa pendekatan ordinal dikembangkan kemudian oleh Hicks & Allen.

Syarat Keseimbangan Konsumen Kardinal

Konsumen memaksimalkan TU ketika kepuasan marjinal per rupiah sama untuk semua barang yang dibeli.

MU₁/P₁ = MU₂/P₂

MU₁ = MU barang 1  •  P₁ = harga barang 1  •  dan seterusnya

Intuisi: Jika MU₁/P₁ > MU₂/P₂, konsumen masih bisa meningkatkan kepuasan dengan menggeser rupiah dari barang 2 ke barang 1. Ia terus geser sampai rasio itu sama — itulah titik optimum.
Kendala anggaran: P₁Q₁ + P₂Q₂ = I   (I = pendapatan)

Hitung dari Nol — HDN-2: Keseimbangan Kardinal Dua Barang

Anggaran Rp 15.000. Bakso Rp 5.000/porsi, teh Rp 3.000/gelas. MU bakso: 15, 10, 5. MU teh: 9, 6, 3. Tentukan bundel optimal.

LangkahPerhitunganNilai
Rasio bakso Q=115 ÷ 5.000MU/P = 0,003
Rasio bakso Q=210 ÷ 5.000MU/P = 0,002
Rasio teh Q=19 ÷ 3.000MU/P = 0,003
Rasio teh Q=26 ÷ 3.000MU/P = 0,002
Bandingkan TU: 2 bakso+1 teh(15+10) + 9TU = 34 util
Bandingkan TU: 1 bakso+3 teh15 + (9+6+3)TU = 33 util
Bundel optimal: 2 Bakso + 1 Teh, TU = 34 util, pengeluaran Rp 13.000 (sisa Rp 2.000 tidak cukup beli barang apapun — bakso Rp 5.000, teh Rp 3.000).

Studi Kasus: Kenaikan Harga BBM & Substitusi Konsumsi

Ketika harga BBM naik, MU/P perjalanan bermotor turun → konsumen cari alternatif. Analisis via syarat kardinal.

SEBELUM BBM NAIK
MU perjalanan / PBBM awal seimbang dengan MU transportasi publik / Pangkot. Konsumen pakai kendaraan pribadi karena rasio MU/P-nya kompetitif.
SETELAH BBM NAIK
PBBM naik → MU/P perjalanan bermotor turun → rasio terganggu. Untuk memulihkan keseimbangan, konsumen beralih sebagian ke transportasi publik (KRL Commuter, TransJakarta, ojek online) yang rasionya kini lebih tinggi.
Implikasi kebijakan: Kenaikan harga BBM mendorong substitusi ke transportasi publik — sesuai tujuan pemerintah mengurangi subsidi sambil mendorong angkutan umum. Data Susenas BPS mencatat kenaikan porsi pengeluaran transportasi publik pasca kenaikan BBM 2022.
Bagian 3 dari 4
Pendekatan Ordinal: IC & Garis Anggaran
Tidak perlu mengukur kepuasan dengan angka — cukup menggambarkan peta preferensi melalui kurva indiferensi, lalu menemukan titik singgung optimal dengan garis anggaran.
Kurva IC Garis BL E*

Kurva Indiferensi (IC) — Peta Preferensi Konsumen

Kurva indiferensi (IC) menghubungkan semua kombinasi dua barang yang memberi tingkat kepuasan yang sama bagi konsumen — ia “indiferensi” (tidak memilih salah satu).

QbQaIC₁IC₂IC₃ABCIC₃ > IC₂ > IC₁
TitikQa (Bakso)Qb (Minum.)
A28
B45
C73
Dari A ke B: kurangi Qb sebesar 3, tambah Qa sebesar 2 → kepuasan tetap sama. Ini adalah substitusi yang bersedia dilakukan konsumen.

Empat Sifat Kurva Indiferensi

SIFAT 1 — MIRING KE BAWAH
IC mempunyai kemiringan negatif (downward sloping). Untuk mempertahankan kepuasan yang sama, menambah Qa harus dikompensasi dengan mengurangi Qb.
SIFAT 2 — CEMBUNG KE ASAL
IC berbentuk cembung (convex to origin). Mencerminkan MRS (marginal rate of substitution — tingkat substitusi marjinal) yang menurun: makin banyak Qa dimiliki, makin sedikit Qb yang rela dikorbankan.
SIFAT 3 — TIDAK BERPOTONGAN
Dua IC tidak pernah bersilang. Jika IC₁ dan IC₂ berpotongan, satu bundel tidak bisa sekaligus di dua tingkat kepuasan berbeda — kontradiksi logis.
SIFAT 4 — IC LEBIH TINGGI = LEBIH BAIK
IC yang lebih jauh dari asal mencerminkan kepuasan lebih tinggi — konsumen selalu ingin mencapai IC setinggi mungkin.

Garis Anggaran (Budget Line) — Kendala Daya Beli

Garis anggaran (BL) menunjukkan semua kombinasi (Qa, Qb) yang bisa dibeli konsumen dengan tepat menghabiskan anggaran I.

Pa × Qa + Pb × Qb = I

Penurunan slope (3 langkah):
1. Pa·Qa + Pb·Qb = I
2. Pb·Qb = I − Pa·Qa
3. Qb = I/Pb − (Pa/Pb)·Qa → slope = −Pa/Pb

TitikQaQb
Ekstrem a120
Tengah63
Ekstrem b06

Contoh: I=120, Pa=10, Pb=20

QbQaI/Pb=6(6,3)I/Pa=12Terjangkauslope=−Pa/Pb

Pergeseran Garis Anggaran: Pendapatan dan Harga Berubah

PENDAPATAN (I) BERUBAH
I naik → BL bergeser sejajar ke luar (lebih banyak bisa dibeli). I turun → BL bergeser sejajar ke dalam. Slope tidak berubah karena harga relatif tetap.
HARGA SALAH SATU BARANG BERUBAH
Pa naik → titik ekstrem di sumbu Qa bergeser ke dalam (I/Pa mengecil). BL berotasi ke dalam di sisi Qa; titik ekstrem Qb tidak berubah. Slope berubah.
Kunci: Efek pendapatan = pergeseran sejajar BL. Efek harga = rotasi BL. Perbedaan ini adalah fondasi analisis efek substitusi vs efek pendapatan di Bagian 4.
QbQaI berubah → geser sejajarI naikI asalI turunQbQaPa naik → rotasiBL asalBL baru

Keseimbangan Ordinal: Titik Singgung IC & BL

Bundel optimal adalah titik di mana IC tertinggi yang bisa dijangkau bersinggungan (tangent) dengan BL.

MRS = Pa/Pb   (syarat tangency)

MRS (marginal rate of substitution) = slope IC di satu titik (|kemiringan IC|)  •  Pa/Pb = slope BL. Di titik singgung keduanya sama.

Pa×Qa + Pb×Qb = I   (anggaran habis)
MRS > Pa/Pb → geser ke Qa. MRS < Pa/Pb → geser ke Qb. Tepat seimbang saat MRS = Pa/Pb.
QbQaIC₁IC₂IC₃E*Qa*Qb*

Hitung dari Nol — HDN-3: Bundel Optimal Ordinal

I = 120, Pa = 10, Pb = 20. MRS = Qb/Qa (dari U = Qa × Qb). Tentukan bundel optimal E*.

LangkahPerhitunganNilai
1. Syarat tangencyMRS = Pa/Pb → Qb/Qa = 10/20Qa = 2Qb
2. Substitusi ke BL10(2Qb) + 20Qb = 12020Qb + 20Qb = 120
3. Selesaikan Qb40Qb = 120Qb = 3
4. Hitung QaQa = 2 × 3Qa = 6
5. Verifikasi BL10(6) + 20(3) = 60 + 60120 ✓
6. Utilitas di E*U = 6 × 3U = 18
Bundel optimal: (Qa, Qb) = (6, 3), U = 18. Verifikasi syarat: MRS = 3/6 = 0,5 = Pa/Pb = 10/20 ✓  |  BL: 10(6)+20(3) = 120 ✓

Coba Sendiri: Cari Titik Singgung IC dan Garis Anggaran

Geser garis anggaran atau ubah peta indiferensi, lalu temukan titik E* di mana keduanya bersinggungan tepat.

Bagian 4 dari 4
Efek Pendapatan & Efek Substitusi
Ketika harga suatu barang berubah, dua hal terjadi sekaligus: konsumen beralih ke barang yang kini lebih murah relatif (efek substitusi) DAN daya beli nyata berubah (efek pendapatan). Kita urai keduanya.
Substitusi Pendapatan

Garis Anggaran Kompensasi — Alat Dekomposisi Hicks

Ketika Pa naik, BL berotasi ke dalam (BL₂). Sebelum melihat efek totalnya, kita bayangkan skenario kompensasi: bagaimana jika konsumen diberi ‘tunjangan’ agar tetap bisa mencapai IC₁?

Analogi kompensasi: Pemerintah menaikkan harga Qa, lalu memberi konsumen subsidi kecil sehingga ia masih tepat mampu berada di IC lama (IC₁). Garis anggaran yang mencerminkan skenario ini disebut BL kompensasi — kemiringan baru (harga baru) tetapi menyentuh IC₁ lagi di titik E′.
TITIK E₁ → E′ (EFEK SUBSTITUSI MURNI)
Konsumen bergerak dari E₁ ke E′ sepanjang IC₁ — kepuasan sama, komposisi bundel berubah karena harga relatif berubah: Qa turun, Qb naik.
QbQaIC₁BL₁BL-kompE₁E′Sub.

Menyatukan: Efek Total = Substitusi + Pendapatan

Setelah memisahkan efek substitusi (E₁→E′), kita tarik kembali kompensasi dan biarkan daya beli turun sesuai kenyataan → konsumen bergerak ke E₂.

EFEK SUBSTITUSI (E₁ → E′)
Sepanjang IC₁. Selalu berlawanan arah dengan perubahan harga. Pa naik → Qa turun (substitusi ke Qb). Selalu pasti arahnya.
EFEK PENDAPATAN (E′ → E₂)
BL₂ lebih dalam dari BL-kompensasi → daya beli nyata turun. Arahnya tergantung jenis barang: normal = memperkuat substitusi; inferior = melawan substitusi.
Efek total (E₁→E₂) = Substitusi + Pendapatan. Searah (normal) atau berlawanan (inferior).
QbQaIC₁IC₂BL₁BL-kBL₂E₁E′E₂Efek Total

Barang Normal vs Barang Inferior: Arah Efek Pendapatan

BARANG NORMAL
Pendapatan naik → konsumsi naik. Pa naik (pendapatan nyata turun) → efek pendapatan mengurangi konsumsi. Arah: sama dengan efek substitusi.

Contoh: beras kualitas premium, daging sapi, pakaian bermerek.
BARANG INFERIOR
Pendapatan naik → konsumsi turun (diganti barang lebih baik). Pa naik (pendapatan nyata turun) → efek pendapatan menambah konsumsi. Arah: berlawanan dengan efek substitusi.

Contoh Indonesia: mi instan, beras kualitas rendah.
Barang Giffen (Giffen good — kasus ekstrem barang inferior): efek pendapatan begitu dominan sehingga kurva permintaan miring ke atas. Sangat jarang dalam praktik — lebih banyak jadi soal teoritis.

Studi Kasus: Pola Konsumsi RT Indonesia — Data Susenas BPS

Data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) BPS (Badan Pusat Statistik) mencerminkan keputusan utilitas jutaan rumah tangga Indonesia.

Kelompok PengeluaranProporsi (%)
Makanan & minuman~50%
Perumahan & energi~20%
Transportasi~10%
Pakaian & pendidikan~8%
Lainnya~12%
Implikasi teori: Proporsi makanan ~50% → makanan bersifat barang normal bagi RT menengah-bawah. Harga BBM naik → porsi transportasi naik relatif → konsumen substitusi ke moda lebih murah. Teori konsumsi bisa menjelaskan pola ini.
⚠ Angka di atas bersifat ilustrasi representatif berdasarkan pola Susenas. Verifikasi via bps.go.id sebelum dikutip formal.

Ringkasan — Dua Pendekatan Teori Konsumsi

DimensiKardinalOrdinal
Asumsi utamaUtilitas terukur absolut (util)Cukup urutan preferensi
AlatTabel TU & MU, rasio MU/PKurva IC & garis anggaran BL
Syarat keseimbanganMU₁/P₁ = MU₂/P₂MRS = Pa/Pb & anggaran habis
Analisis harga berubahGeser alokasi anggaranDekomposisi efek substitusi + pendapatan
KeunggulanIntuitif, mudah dihitungLebih umum, tanpa angka absolut
Contoh dari kuliah ini2 bakso + 1 teh, TU = 34 utilBundel (6,3), U = 18
Kesimpulan konvergen: Kedua pendekatan menunjukkan satu hal yang sama: konsumen rasional mengalokasikan sumber daya agar kepuasan marjinal per rupiah merata — atau ekuivalennya, MRS = harga relatif.

Persiapan Pertemuan 4

Pertemuan 3 selesai. Pertemuan berikutnya: Teori Produksi — Fungsi Produksi, Produk Marjinal, dan Skala Hasil.

YANG SUDAH DIKUASAI HARI INI
  • TU & MU · Hukum MU Menurun
  • Keseimbangan kardinal (MU/P)
  • Kurva IC & garis anggaran BL
  • Keseimbangan ordinal (MRS = Pa/Pb)
  • Efek substitusi & pendapatan (dekomposisi Hicks)
  • Barang normal vs inferior · Barang Giffen
PERSIAPAN P4
  • Baca Mankiw Chapter 13 (Biaya Produksi)
  • Pikirkan: apa persamaan antara logika utilitas marjinal konsumen dan logika produk marjinal produsen?
Teaser P4: MU menurun (konsumen) ↔ produk marjinal (marginal product) menurun (produsen). Dua sisi pasar, satu pola yang sama.