stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-01
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 1: Ruang Lingkup Ilmu Ekonomi: Pengertian, Masalah Ekonomi, dan Cara Berpikir Ekonomi
Program Studi S1 Bisnis Digital · FEB UNDIP · Pengantar Ekonomi Makro

Pengantar Ekonomi Makro

Pertemuan 1 — Ruang Lingkup Ilmu Ekonomi

Apa itu ilmu ekonomi, mengapa masalah ekonomi muncul, dan bagaimana cara berpikir seorang ekonom — fondasi sebelum kita masuk ke PDB, inflasi, dan kebijakan.

RPS Minggu 1 · Sub-CPMK 1 · 2 × 50 Menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis ruang lingkup ilmu ekonomi: pengertiannya, mengapa masalah ekonomi muncul, dan cara berpikir ekonomi (Sub-CPMK 1). Secara rinci:

Capaian 1 — Pengertian
1
Menjelaskan definisi ilmu ekonomi (Samuelson) dengan dua kata kunci inti: kelangkaan dan pilihan, disertai satu contoh Indonesia.
Capaian 2 — Masalah Ekonomi
2
Menjelaskan mengapa masalah ekonomi muncul (kebutuhan tak terbatas vs sumber daya terbatas) → tiga masalah pokok what / how / for whom.
Capaian 3 — Cara Berpikir
3
Membedakan deduktif vs induktif, positif vs normatif, dan memakai asumsi ceteris paribus dengan contoh masing-masing.
Capaian 4 — Mikro/Makro & Trade-off
4
Membedakan ekonomi mikro & makro, serta menghitung biaya peluang dari kurva kemungkinan produksi (PPF).

Tiga Keputusan yang Tak Bisa "Punya Semua"

Tiga orang berbeda, satu masalah yang sama: sumber daya terbatas, keinginan tak terbatas.

Mahasiswa
24 jam
sehari
Belajar, kerja paruh waktu, atau istirahat? Memilih satu berarti mengorbankan yang lain — tidak bisa ketiganya penuh sekaligus.
Pemerintah
APBN
terbatas
Bangun jalan tol atau tambah anggaran pendidikan? Rupiah yang sama tidak bisa dipakai dua kali.
Perusahaan
Modal
& lahan terbatas
Produksi sepatu atau tas? Menambah satu lini menggeser kapasitas lini lain.
Ketiga keputusan ini lahir dari satu sumber: kelangkaan. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana memilih ketika kita tidak bisa punya semuanya. APBN = Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara — rencana keuangan tahunan pemerintah Indonesia.
Bagian 1 dari 4
Apa Itu Ilmu Ekonomi & Mengapa Masalah Ekonomi Muncul
Dari definisi ilmu ekonomi sebagai ilmu tentang pilihan, ke akar setiap masalah ekonomi: kelangkaan sumber daya berhadapan dengan kebutuhan manusia yang tak terbatas.
Definisi Kelangkaan Kebutuhan

Apa Itu Ilmu Ekonomi (Economics)?

"Ilmu ekonomi adalah studi tentang bagaimana masyarakat menggunakan sumber daya yang langka untuk menghasilkan barang dan jasa yang bernilai, serta mendistribusikannya kepada berbagai orang." — Samuelson & Nordhaus, Economics (definisi inti)
Dua Kata Kunci
Kelangkaan & Pilihan
(1) Kelangkaan — sumber daya terbatas; (2) Pilihan — karena itu masyarakat harus memilih penggunaannya. Tanpa kelangkaan, tak ada ilmu ekonomi.
Tiga Hal yang Dipelajari
Produksi → Alokasi → Distribusi
Memproduksi (menghasilkan barang/jasa), mengalokasikan (sumber daya ke penggunaan terbaik), mendistribusikan (hasil ke anggota masyarakat).
Inti definisi Samuelson: ekonomi = ilmu tentang pilihan di bawah kelangkaan. Itu sebabnya ada yang menyebut ekonomi "the science of choice".

Akar Masalah Ekonomi: Kelangkaan vs Kebutuhan Tak Terbatas

Sumber Daya → Terbatas
Terhingga
Tanah, tenaga kerja, modal, waktu, dan SDA semuanya terhingga. Dalam periode tertentu, jumlahnya tak bisa ditambah seketika — inilah batas dunia nyata.
Kebutuhan & Keinginan → Tak Terbatas
Selalu Lebih
Begitu satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru. Manusia selalu menginginkan lebih — lebih nyaman, lebih banyak, lebih baik. Tak ada titik puas yang final.
SUMBER DAYA (terbatas)□ □ □ □ □GAP= KELANGKAAN → PILIHANKEINGINAN (tak terbatas)→ → → → → → ∞
Masalah ekonomi muncul dari benturan keduanya: keinginan tak terbatas dikejar dengan sumber daya terbatas → kita terpaksa memilih. Kelangkaan inilah masalah ekonomi yang paling mendasar. Kelangkaan ≠ kemiskinan — bahkan negara kaya menghadapi pilihan anggaran.

Konsekuensi Kelangkaan: Barang Ekonomi vs Barang Bebas

Barang Ekonomi (economic goods)
Ada Harga
Langka — jumlahnya terbatas dibanding keinginan, sehingga butuh pengorbanan untuk memperolehnya. Contoh: beras, BBM, lahan, kuota internet.
Barang Bebas (free goods)
Tanpa Korban
Tersedia melimpah relatif terhadap keinginan, sehingga tanpa pengorbanan untuk memperolehnya. Contoh klasik: udara di tempat terbuka, sinar matahari.
Status bisa berubah: udara bersih dulu barang bebas, kini di kota berpolusi ia mulai menjadi barang ekonomi (orang membayar pemurni udara/tabung oksigen). Yang menentukan adalah kelangkaan relatif — bukan wujud fisiknya.
Barang Bebas → jika menjadi langka → Barang Ekonomi

Kelangkaan di Sekitar Anda (Indonesia)

BBM Bersubsidi
Kuota Terbatas
Kuota Pertalite/Solar subsidi terbatas sementara permintaan besar → muncul antrean, pembatasan, dan kebijakan penjatahan. Klasik: sumber daya terbatas vs keinginan besar.
Lahan di Kota
Luas Tetap
Lahan di Jakarta/Semarang tetap luasnya, tetapi yang menginginkannya terus bertambah → harga melonjak, muncul pilihan: perumahan, pabrik, atau ruang terbuka hijau?
Waktu & Tenaga Kerja
24 Jam Fix
Sehari tetap 24 jam; jumlah dokter, guru, dan insinyur terbatas → masyarakat harus memilih ke mana tenaga terampil dialokasikan.
Tiga contoh, satu pola: sesuatu yang terbatas diperebutkan oleh keinginan yang melebihi ketersediaannya — dan itulah pekerjaan ilmu ekonomi: membantu memutuskan alokasinya.
Bagian 2 dari 4
Tiga Masalah Pokok Ekonomi & Biaya Peluang
Dari kelangkaan lahir tiga pertanyaan yang dihadapi setiap masyarakat — what, how, for whom — dan satu konsep yang menjadi "harga" setiap pilihan: biaya peluang, yang kita gambarkan lewat kurva kemungkinan produksi.
What · How · For Whom Biaya Peluang PPF

Tiga Masalah Pokok Ekonomi (What, How, For Whom)

Karena sumber daya langka, setiap masyarakat — apa pun sistemnya — harus menjawab tiga pertanyaan:

Masalah 1
What?
Apa & Berapa Banyak?
Barang/jasa apa yang diproduksi, dan berapa banyak? Beras atau jagung? Lebih banyak sekolah atau jalan tol? Memilih satu mengurangi yang lain.
Masalah 2
How?
Dengan Cara Apa?
Dengan cara/teknologi apa diproduksi? Padat karya (banyak tenaga kerja) atau padat modal (banyak mesin)? Siapa yang memproduksi?
Masalah 3
For Whom?
Untuk Siapa?
Untuk siapa hasilnya dibagikan? Bagaimana output didistribusikan ke anggota masyarakat — siapa dapat berapa?
Tiga pertanyaan ini berlaku universal: dari warung kecil sampai negara. Cara menjawabnyalah yang membedakan sistem ekonomi (pasar, komando, campuran) — kita bahas di slide 16.

Biaya Peluang (Opportunity Cost) — "Harga" Sebenarnya dari Sebuah Pilihan

Biaya peluang sebuah keputusan adalah nilai dari alternatif terbaik yang Anda korbankan ketika memilih.
Bukan Sekadar Uang
Yang Hilang
Biaya peluang mengukur apa yang hilang, bukan hanya yang dibayar. Memilih kuliah penuh waktu → biaya peluangnya termasuk gaji yang tak Anda terima andai bekerja.
Selalu "Yang Terbaik Berikutnya"
Satu Alternatif
Jika opsi yang dikorbankan banyak, biaya peluang = satu alternatif terbaik yang dilepas, bukan jumlah semuanya.
Contoh angka (ilustrasi): kuliah setahun habiskan Rp 20.000.000 SPP. Andai bekerja, bisa dapat Rp 40.000.000/tahun.
Biaya peluang kuliah = Rp 20.000.000 (SPP) + Rp 40.000.000 (gaji hilang) = Rp 60.000.000 — jauh di atas yang tertulis di kuitansi.

Trade-off & "Tidak Ada Makan Siang Gratis"

Trade-off
Tukar-Rugi
Karena sumber daya terbatas, lebih banyak satu hal berarti lebih sedikit hal lain. Contoh negara: lebih banyak belanja pertahanan ("senjata") → lebih sedikit dana untuk konsumsi ("mentega"). (guns vs butter)
No Free Lunch
"There Is No Such Thing As a Free Lunch"
Bahkan yang tampak gratis tetap memakai sumber daya yang bisa dipakai untuk hal lain. Yang gratis bagi Anda mungkin dibayar pihak lain (pajak, subsidi).
SENJATA (pertahanan)↑ bertambahMENTEGA (konsumsi)↓ berkurang
Trade-off adalah wujud konkret biaya peluang pada tingkat masyarakat. Setiap kebijakan publik adalah trade-off: subsidi BBM yang besar berarti dana lebih kecil untuk hal lain dalam APBN.

Kurva Kemungkinan Produksi (Production Possibility Frontier / PPF)

Alat grafis untuk menggambarkan kelangkaan, trade-off, dan biaya peluang sekaligus. Negara hanya memproduksi dua barang: Pangan (sumbu X) dan Mesin (sumbu Y).

A (efisien)B (efisien)C (efisien)D (tidak efisien)E (tak terjangkau)Pangan →Mesin →
Titik Pada Kurva
Efisien
Semua sumber daya terpakai penuh. Titik di luar/atas kurva = tak terjangkau dengan sumber daya saat ini.
Titik Di Dalam Kurva
Tidak Efisien
Ada sumber daya menganggur (mis. pengangguran). Masih bisa menambah produksi kedua barang sekaligus.
Bentuk cekung ke luar bukan kebetulan: ia menunjukkan biaya peluang yang meningkat — makin banyak pangan diproduksi, makin besar mesin yang harus dikorbankan. Kita buktikan dengan angka di HDN-1 & HDN-2.

Hitung dari Nol — HDN-1: Biaya Peluang dari Sebuah PPF

Sebuah desa hanya memproduksi Padi (ton) dan Kain (gulung), sumber daya tetap. Tabel kombinasi maksimum (titik di kurva):

TitikPadi (ton)Kain (gulung)Korban Kain
A0100
B190−10
C270−20
D340−30
E40−40
Pertanyaan: Biaya peluang menambah padi dari 0→1 ton (A→B)?
Kain turun 100 → 90 = korban 10 gulung kain
Pertanyaan: Biaya peluang menambah padi dari 1→2 ton (B→C)?
Kain turun 90 → 70 = korban 20 gulung kain
Pola: Pengorbanan meningkat (10 → 20 → 30 → 40 kain) seiring padi bertambah = biaya peluang meningkat → alasan PPF melengkung.

Hitung dari Nol — HDN-2: Kemiringan (Slope) PPF = Biaya Peluang

Memakai data PPF yang sama, kita tunjukkan bahwa kemiringan ruas garis antar titik = biaya peluang padi dalam satuan kain. Kemiringan = |ΔKain ÷ ΔPadi|.

RuasΔ PadiΔ Kain|Slope| = |ΔKain/ΔPadi|Biaya Peluang 1 ton Padi
A → B+1−1010 / 1 = 1010 kain
B → C+1−2020 / 1 = 2020 kain
C → D+1−3030 / 1 = 3030 kain
D → E+1−4040 / 1 = 4040 kain
Kemiringan makin curam (10 → 20 → 30 → 40) saat bergerak ke kanan ⇒ tiap tambahan padi menuntut korban kain yang makin besar ⇒ biaya peluang meningkat ⇒ kurva cekung ke luar.
Rata-rata korban kain per ton padi sepanjang A→E = (10 + 20 + 30 + 40) ÷ 4 = 25 kain/ton.

Coba Sendiri: Geser Titik di Kurva PPF

Geser titik sepanjang kurva PPF dan amati bagaimana kemiringannya berubah — itulah biaya peluang yang sedang Anda hitung secara visual.

Tiga Cara Menjawab What/How/For Whom: Sistem Ekonomi

Ekonomi Pasar (market)
Harga
mekanisme pasar
Pertanyaan dijawab oleh mekanisme harga & interaksi permintaan-penawaran. Keputusan terdesentralisasi. Contoh: AS (relatif).
Ekonomi Komando (command)
Negara
perencana pusat
Dijawab oleh perencana pusat / pemerintah. Keputusan terpusat. Contoh historis: bekas Uni Soviet, Korea Utara.
Ekonomi Campuran (mixed)
Pasar + Negara
termasuk Indonesia
Kombinasi pasar + peran pemerintah. Mayoritas negara nyata, termasuk Indonesia (pasar + BUMN, regulasi, subsidi).
Tidak ada negara murni pasar atau murni komando. Indonesia menganut sistem ekonomi campuran berlandaskan Pancasila (Pasal 33 UUD 1945): pasar berjalan, tetapi negara hadir di sektor strategis (energi, air, dll). BUMN = Badan Usaha Milik Negara.
Bagian 3 dari 4
Cara Berpikir Ekonomi & Mikro vs Makro
Bagaimana ekonom membangun teori (deduktif & induktif), kapan mereka bicara fakta vs nilai (positif vs normatif), mengapa mereka berkata "anggap hal lain tetap" (ceteris paribus), dan dua cabang besar ilmu ini.
Deduktif / Induktif Positif / Normatif Ceteris Paribus Mikro / Makro

Dua Arah Penalaran Ekonomi: Deduktif vs Induktif

Deduktif (umum → khusus)
▽ Dari Teori
Mulai dari teori/prinsip umum, lalu turunkan prediksi untuk kasus khusus.

Contoh: "Jika harga naik, jumlah diminta turun (hukum permintaan)." → "Harga BBM naik ⇒ konsumsi BBM cenderung turun."
Induktif (khusus → umum)
△ Dari Data
Mulai dari pengamatan/data khusus yang banyak, lalu simpulkan pola umum.

Contoh: Amati data 20 negara → temukan "negara dengan tabungan tinggi cenderung tumbuh lebih cepat" → rumuskan generalisasi.
Ekonomi modern memakai keduanya bergantian: teori (deduktif) menghasilkan hipotesis, lalu data (induktif) mengujinya. Inilah inti metode ilmiah dalam ekonomi: siklus Teori → Hipotesis → Uji Data → Revisi Teori.

Ekonomi Positif vs Normatif: Fakta vs Nilai

Ekonomi Positif (apa adanya)
Fakta
bisa diuji benar/salah dengan data
Pernyataan tentang fakta — dapat diuji. Tidak menilai baik/buruk.

Contoh: "Kenaikan upah minimum sebesar 10% menurunkan penyerapan tenaga kerja sektor X sebesar Y%."
Ekonomi Normatif (seharusnya)
Nilai
tidak bisa dibuktikan murni dengan data
Pernyataan tentang nilai/seharusnya — mengandung penilaian.

Contoh: "Pemerintah seharusnya menaikkan upah minimum demi keadilan."
Kata kunci normatif: "seharusnya", "sebaiknya", "lebih adil", "lebih baik". Banyak perdebatan ekonom sebenarnya normatif (beda nilai), bukan positif (beda fakta) — penting agar diskusi tidak rancu dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan data.

Ceteris Paribus — "Hal Lain Dianggap Tetap"

Ceteris paribus (Latin: all other things being equal) = asumsi bahwa semua faktor lain dianggap tidak berubah, agar kita bisa menelaah pengaruh satu faktor saja secara terisolasi.
Mengapa Diperlukan
Isolasi
Di dunia nyata banyak faktor bergerak bersamaan. Untuk memahami sebab-akibat, ekonom "mengunci" faktor lain dulu — mirip eksperimen terkontrol di laboratorium.
Contoh Penerapan
Kopi & Harga
"Jika harga kopi naik, ceteris paribus, jumlah kopi yang diminta turun." Artinya: asalkan pendapatan, selera, harga barang lain tidak berubah.
Bahaya jika lupa: menyimpulkan "harga naik tapi penjualan naik, berarti hukum permintaan salah" — padahal mungkin pendapatan ikut naik (asumsi ceteris paribus dilanggar). Selalu cek: faktor lain benar-benar tetap?

Dua Cabang Besar: Ekonomi Mikro vs Ekonomi Makro

Ekonomi Mikro (micro = kecil)
Satu Unit
"Pohon-pohonnya"
Mempelajari unit individual: satu rumah tangga, satu perusahaan, satu pasar barang. Fokus: harga & kuantitas satu barang, perilaku konsumen/produsen.
Ekonomi Makro (macro = besar)
Agregat
"Hutannya"
Mempelajari perekonomian secara agregat: output nasional (PDB), inflasi, pengangguran, pertumbuhan, kebijakan fiskal & moneter.
AspekMikroMakro
Unit analisisIndividu, perusahaan, 1 pasarSeluruh perekonomian
Contoh variabelHarga beras, upah 1 industriPDB, inflasi, pengangguran nasional
Pertanyaan khas"Berapa harga & jumlah di pasar X?""Mengapa ekonomi tumbuh / resesi?"
Keduanya saling melengkapi: makro adalah penjumlahan (agregasi) dari jutaan keputusan mikro. Mata kuliah ini menekankan makro, tetapi RPS membekali fondasi mikro lebih dulu. PDB = Produk Domestik Bruto.

Latihan Cepat: Mikro atau Makro?

Golongkan tiap isu ke cabang yang tepat. Kunci: apakah tentang satu unit/pasar (mikro) atau keseluruhan perekonomian (makro)?

#IsuCabangAlasan Singkat
1Harga cabai naik menjelang LebaranMikroSatu pasar barang tertentu (cabai)
2Inflasi nasional Indonesia tahun iniMakroTingkat harga agregat seluruh ekonomi
3Sebuah pabrik memutuskan menambah 50 pekerjaMikroKeputusan satu perusahaan
4Tingkat pengangguran nasional meningkatMakroIndikator seluruh perekonomian
5BI menaikkan suku bunga acuanMakroKebijakan moneter berdampak agregat
6UNVR menaikkan harga satu produknyaMikroKeputusan harga satu perusahaan/produk
Jebakan: "harga naik" bisa mikro (harga satu barang, mis. cabai) atau makro (tingkat harga umum = inflasi). Yang menentukan: satu pasar atau agregat? UNVR = kode emiten PT Unilever Indonesia Tbk di BEI.

Menyambungkan ke Perjalanan Semester Ini

Mengapa Mulai dari Sini
Fondasi
Sebelum membahas PDB, inflasi, dan kebijakan (inti makro), Anda perlu fondasi: apa itu ilmu ekonomi, kelangkaan, biaya peluang, dan cara berpikir ekonomi. Semua konsep makro berdiri di atas fondasi ini.
Ke Mana Ini Membawa Anda
Benang Merah
Kelangkaan & trade-off → kebijakan fiskal (APBN terbatas). Biaya peluang → suku bunga (mengorbankan konsumsi kini demi nanti). Mikro→makro → permintaan & penawaran agregat.
P1: FondasiAnda di sini →P2–P9: Alat MikroPermintaan, Penawaran, Elastisitas, PasarP10–P15: MakroPendapatan Nasional, IS-LM, Fiskal & Moneter
Anggaplah pertemuan pertama ini sebagai peta dan kompas Anda sebelum kita mulai mendaki. Setiap langkah ke depan akan merujuk kembali ke fondasi yang kita pasang hari ini.
Bagian 4 dari 4
Rangkuman & Latihan
Merangkai semua: definisi, kelangkaan, tiga masalah pokok, biaya peluang/PPF, dan cara berpikir ekonomi — lalu menguji pemahaman Anda dengan latihan mandiri.

Peta Konsep: Bagaimana Semuanya Terhubung

KELANGKAANsumber daya terbatas vskeinginan tak terbatasPILIHAN (Wajib)3 Masalah Pokok: What · How · For WhomBiaya Peluang→ PPF (cekung = BO meningkat)Cara Berpikir EkonomDeduktif / InduktifPositif / NormatifCeteris ParibusDua Lensa: Mikro | Makrounit individual | agregat nasional
Satu kalimat untuk dibawa pulang: "Ilmu ekonomi ada karena kelangkaan memaksa kita memilih, dan setiap pilihan punya biaya peluang."

Lembar Contekan — Istilah Kunci & Pembedaan Inti

IstilahDefinisi Singkat
Ilmu ekonomiIlmu tentang pilihan di bawah kelangkaan (Samuelson)
KelangkaanSumber daya terbatas vs keinginan tak terbatas
Biaya peluangNilai alternatif terbaik yang dikorbankan
Trade-offLebih banyak satu hal = lebih sedikit hal lain
PPF/PPCKurva kombinasi maks 2 barang; melengkung = BO meningkat
Ceteris paribus"Hal lain dianggap tetap"
PasanganKiriKanan
Masalah pokokWhat · HowFor whom
PenalaranDeduktif (umum→khusus)Induktif (khusus→umum)
PernyataanPositif (fakta)Normatif (nilai)
CabangMikro (unit/pasar)Makro (agregat)
Simpan untuk persiapan kuis. Jika Anda bisa menjelaskan tiap baris dengan kalimat sendiri + 1 contoh, Anda menguasai Pertemuan 1.

Latihan Mandiri & Persiapan Pertemuan 2

Latihan (Kerjakan di Rumah)
4 Soal
  • 1 Beri 2 contoh biaya peluang dari keputusan pribadi Anda minggu ini.
  • 2 Golongkan 5 berita ekonomi hari ini ke mikro/makro.
  • 3 Tulis 1 pernyataan positif & 1 normatif tentang BBM subsidi.
  • 4 Dari tabel PPF HDN-1, hitung biaya peluang C→D dan D→E.
Persiapan Pertemuan 2
P2: Permintaan & Penawaran
  • Topik: Permintaan & Penawaran Barang dan Jasa (Sub-CPMK 2)
  • Baca: Samuelson Ch. 3 / Mankiw Ch. 4
  • Bawa: pemahaman kurva & sumbu (kita banyak menggambar)
  • Ingat: definisi demand = jumlah yang ingin & mampu dibeli pada berbagai tingkat harga
Tugas RPS minggu ini (non-tes): Meringkas materi kuliah — buat ringkasan 1 halaman dari Pertemuan 1 dengan kalimat Anda sendiri. Menulis ulang dengan bahasa sendiri adalah cara belajar paling ampuh.