stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-12
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 12: Siklus Akuntansi Entitas Manufaktur II: Harga Pokok Produksi, Posting, dan Neraca Saldo
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP · Pengantar Akuntansi

Pengantar Akuntansi

Pertemuan 12 — Siklus Akuntansi Entitas Manufaktur II: Harga Pokok Produksi, Posting, dan Neraca Saldo

Dari tumpukan biaya bahan, upah, dan overhead pabrik menjadi satu angka kunci — harga pokok produksi — lalu mengalir ke harga pokok penjualan dan laporan laba rugi.

RPS Minggu 13 · Sub-CPMK 8 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan menguasai siklus akuntansi entitas manufaktur sampai neraca saldo (Sub-CPMK 8). Secara rinci:

Capaian 1 — HPProduksi
1
Laporan Harga Pokok Produksi
Menyusun Laporan Harga Pokok Produksi dari BBL, TKL, BOP, dan penyesuaian persediaan Barang Dalam Proses.
Capaian 2 — HPP
2
Harga Pokok Penjualan
Menghitung Harga Pokok Penjualan manufaktur dari persediaan barang jadi awal, HPProduksi, dan barang jadi akhir.
Capaian 3 — Posting & Neraca Saldo
3
Buku Besar & Neraca Saldo Seimbang
Mem-posting jurnal manufaktur ke buku besar dan menyusun neraca saldo manufaktur yang seimbang.
Capaian 4 — Keterkaitan
4
HPProduksi → HPP → Laba Rugi
Menjelaskan kaitan HPProduksi → HPP → Laporan Laba Rugi dan mengapa angka ini menentukan laba perusahaan.

Berapa Biaya Membuat Satu Kaus?

Seorang penjual di Tanah Abang menjual kaus Rp 50.000. Tapi berapa sebenarnya biaya memproduksinya? Tanpa angka ini, dia tidak tahu untung atau rugi.

Yang Terlihat
Rp 50.000
Harga jual
Mudah diketahui — tinggal lihat label harga. Semua orang bisa tahu angka ini.
Yang Tersembunyi
Biaya?
Harus dihitung
Biaya kain + upah penjahit + listrik, benang, sewa mesin + saldo barang setengah jadi. Inilah yang harus dihitung dengan akuntansi manufaktur.
Tanpa harga pokok produksi, pemilik pabrik menetapkan harga jual dengan menebak — dan menebak di bisnis manufaktur sering berarti rugi diam-diam yang baru ketahuan di akhir tahun.
Bagian 1 dari 4
Dari Biaya Produksi ke Harga Pokok Produksi
Tiga bahan biaya — bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead pabrik — disesuaikan dengan barang dalam proses, menjadi satu Laporan Harga Pokok Produksi.

Sekilas Balik: Aliran Biaya Lewat Tiga Akun Persediaan

Di perusahaan manufaktur, biaya mengalir lewat tiga gudang persediaan sebelum menjadi beban di laba rugi.

PersediaanBahan Baku(gudang bahan mentah)dipakaiBarang DalamProses (BDP)+ TKL masuk+ BOP masuk(setengah jadi)TKLBOPselesaiPersediaanBarang Jadi(siap dijual)terjualHarga PokokPenjualan (HPP)masuk Laba Rugi
Perusahaan dagang punya 1 akun persediaan; perusahaan manufaktur punya 3. Inilah perbedaan paling mendasar di neraca dan laporan biaya mereka.

Tiga Bahan Penyusun Biaya Produksi

Bahan Baku Langsung (BBL)
BBL
Direct Materials
Bahan utama yang melekat langsung pada produk. Contoh pabrik kaus: kain, kancing. Biayanya bisa ditelusur langsung ke tiap produk.
Tenaga Kerja Langsung (TKL)
TKL
Direct Labor
Upah pekerja yang langsung mengerjakan produk. Contoh: upah penjahit. Bukan gaji satpam atau staf administrasi.
Overhead Pabrik (BOP)
BOP
Manufacturing Overhead
Semua biaya pabrik selain BBL & TKL. Contoh: listrik pabrik, penyusutan mesin, benang, sewa gedung pabrik.
Total Biaya Produksi = BBL + TKL + BOP
Catatan: gaji bagian penjualan & kantor bukan biaya produksi — itu beban operasi di laba rugi, bukan masuk pabrik.

Peran Persediaan Barang Dalam Proses (BDP)

Akhir bulan, tidak semua barang selesai — ada yang masih setengah jahit. Inilah BDP, dan ia membuat "total biaya produksi" belum tentu sama dengan "harga pokok produksi".

Akun T — Barang Dalam Proses (BDP)DEBIT (masuk)KREDIT (keluar)(+) BDP awalRp 20.000.000(+) Total Biaya Produksi(BBL+TKL+BOP)Rp 305.000.000(-) Harga Pokok Produksi(barang yang SELESAI)Rp 300.000.000= Saldo BDP akhirRp 25.000.000(masih setengah jadi — tersangkut)
Harga Pokok Produksi = barang yang SELESAI, bukan semua biaya yang masuk. Yang belum selesai tetap mengendap sebagai BDP akhir.

Rumus Laporan Harga Pokok Produksi

Bahan Baku Langsung dipakai (BBL) +
Tenaga Kerja Langsung (TKL) +
Biaya Overhead Pabrik (BOP)
= Total Biaya Produksi + Persediaan Barang Dalam Proses Awal
Persediaan Barang Dalam Proses Akhir
= Harga Pokok Produksi (HPProduksi)
Cara menghafal: (BBL + TKL + BOP) + BDP awal − BDP akhir = HPProduksi. Tambah yang awal, kurangi yang akhir — sama persis logika persediaan.

Kasus: "PT Garmen Nusantara" — Data Produksi (per 31 Des)

Pabrik kaus dari Pertemuan 11. Berikut data biaya & persediaan satu periode:

KomponenNilai
Bahan Baku Langsung dipakai (BBL)Rp 155.000.000
Tenaga Kerja Langsung (TKL)Rp 90.000.000
Biaya Overhead Pabrik (BOP)Rp 60.000.000
Persediaan Barang Dalam Proses awalRp 20.000.000
Persediaan Barang Dalam Proses akhirRp 25.000.000
Persediaan Barang Jadi awalRp 40.000.000
Persediaan Barang Jadi akhirRp 50.000.000
Penjualan periode iniRp 490.000.000
Data inilah yang kita olah menjadi HPProduksi (HDN-1), lalu HPP (HDN-2), lalu neraca saldo (HDN-3).

Hitung dari Nol — HDN-1: Susun Harga Pokok Produksi

Pakai data PT Garmen Nusantara. Berapa harga pokok produksinya?

LangkahPerhitunganNilai
1 Jumlahkan tiga biaya155.000.000 + 90.000.000 + 60.000.000Rp 305.000.000
2 Tambah BDP awal305.000.000 + 20.000.000Rp 325.000.000
3 Kurangi BDP akhir325.000.000 − 25.000.000Rp 300.000.000
Harga Pokok Produksi = Rp 300.000.000. Perhatikan: total biaya produksi Rp 305 juta, tetapi HPProduksi "hanya" Rp 300 juta karena Rp 5 juta tersangkut sebagai tambahan barang setengah jadi (BDP akhir Rp 25 jt > BDP awal Rp 20 jt).

Format Laporan Harga Pokok Produksi (Rupiah)

Begini bentuk laporan resminya — sama dengan HDN-1, hanya disusun rapi sebagai laporan formal.

PT GARMEN NUSANTARA — Laporan Harga Pokok Produksi (per 31 Desember)Rp
Bahan Baku Langsung dipakai155.000.000
Tenaga Kerja Langsung90.000.000
Biaya Overhead Pabrik60.000.000
Total Biaya Produksi305.000.000
(+) Barang Dalam Proses, awal20.000.000
(−) Barang Dalam Proses, akhir(25.000.000)
Harga Pokok Produksi300.000.000
Laporan ini berdiri sendiri sebelum laporan laba rugi, khusus perusahaan manufaktur. Hasil akhirnya (Rp 300 juta) menjadi "bahan masuk" untuk hitungan HPP. Angka dalam kurung = dikurangkan.
Bagian 2 dari 4
Dari HPProduksi ke Harga Pokok Penjualan
HPProduksi adalah barang yang selesai dibuat; HPP adalah barang yang terjual. Jembatannya: persediaan barang jadi awal dan akhir.
Barang Jadi awal + HPProduksi − Barang Jadi akhir = HPP

Beda Harga Pokok Produksi vs Harga Pokok Penjualan

Harga Pokok Produksi (HPProduksi)
Selesai Dibuat
Cost of Goods Manufactured
Biaya barang yang selesai diproduksi. Berhenti di pintu keluar pabrik. Hasil Laporan HPProduksi. Belum tentu semua terjual.
Harga Pokok Penjualan (HPP)
Terjual
Cost of Goods Sold
Biaya barang yang benar-benar terjual. Berhenti di kasir/pengiriman. Masuk Laporan Laba Rugi sebagai pengurang penjualan.
Kalau ada barang jadi menumpuk di gudang (tidak semua terjual), maka HPProduksi ≠ HPP. Jembatannya: persediaan barang jadi awal & akhir.

Coba Sendiri: Hitung COGM lalu Jembatani ke HPP

Ubah biaya produksi dan persediaan barang jadi, lalu amati bagaimana COGM berbeda dari HPP Penjualan saat ada barang menumpuk di gudang.

Rumus Harga Pokok Penjualan Entitas Manufaktur

Persediaan Barang Jadi Awal +
Harga Pokok Produksi (dari HDN-1) +
= Barang Tersedia untuk Dijual Persediaan Barang Jadi Akhir
= Harga Pokok Penjualan (HPP)
Perusahaan Dagang:
Persediaan awal + Pembelian − Persediaan akhir = HPP
Perusahaan Manufaktur:
Barang Jadi awal + HPProduksi − Barang Jadi akhir = HPP

Hitung dari Nol — HDN-2: Harga Pokok Penjualan Manufaktur

Pakai HPProduksi Rp 300.000.000 (dari HDN-1) dan data barang jadi PT Garmen Nusantara.

LangkahPerhitunganNilai
1 Barang Jadi awal(diketahui dari data)Rp 40.000.000
2 + Harga Pokok Produksi40.000.000 + 300.000.000Rp 340.000.000 (Barang Tersedia Dijual)
3 − Barang Jadi akhir340.000.000 − 50.000.000Rp 290.000.000
Harga Pokok Penjualan = Rp 290.000.000. HPProduksi Rp 300 juta, tetapi yang dibebankan ke penjualan "hanya" Rp 290 juta karena Rp 10 juta menumpuk sebagai tambahan barang jadi yang belum terjual (barang jadi akhir Rp 50 jt > awal Rp 40 jt).
Bagian 3 dari 4
Posting ke Buku Besar & Menyusun Neraca Saldo Manufaktur
Dari jurnal manufaktur Pertemuan 11 ke buku besar, lalu menjadi neraca saldo seimbang yang memuat tiga akun persediaan, BBL, TKL, BOP, Penjualan, dan HPP.

Mengingat Double-Entry & Mekanisme Posting

Double-Entry
D = K
Pencatatan Berpasangan
Setiap transaksi dicatat di dua sisi: debit = kredit. Inilah yang menjaga persamaan akuntansi selalu seimbang setiap saat.
Posting
J → BG
Jurnal → Buku Besar
Memindahkan angka dari jurnal ke buku besar per akun. Sisi debit jurnal → sisi debit akun; sisi kredit jurnal → sisi kredit akun.
JURNALBarang Dalam Proses (D)50.000.000Persediaan Bahan Baku (K)50.000.000postingBarang Dalam ProsesD: 50.000.000Persediaan Bahan BakuK: 50.000.000
Aturan saldo normal: aset, beban, biaya produksi bersaldo normal debit; liabilitas, ekuitas, pendapatan bersaldo normal kredit.

Hitung dari Nol — HDN-3 (1): Posting Jurnal Manufaktur ke Buku Besar

Tiga akun kunci (daftar lengkap Lampiran A). Saldo dipindah dari jurnal PT Garmen Nusantara.

Persediaan Barang JadiDEBITKREDITSaldo akhir (penyesuaian)50.000.000Saldo debit:50.000.000(aset — saldo normal debit)Harga Pokok Penjualan (HPP)DEBITKREDITDari HDN-2290.000.000Saldo debit:290.000.000(beban — saldo normal debit)PenjualanDEBITKREDITTotal penjualan490.000.000Saldo kredit:490.000.000(pendapatan — saldo normal kredit)
Tiap akun dirangkum jadi satu saldo. Saldo inilah yang dipindahkan ke kolom debit/kredit di neraca saldo (HDN-3 bagian 2).

Akun yang Wajib Muncul di Neraca Saldo Manufaktur

Akun Riil / Neraca
Neraca
Saldo dibawa ke periode berikutnya
  • Kas, Piutang Usaha
  • Persediaan Bahan Baku
  • Persediaan Barang Dalam Proses
  • Persediaan Barang Jadi
  • Peralatan Pabrik, Akum. Penyusutan
  • Utang Usaha, Utang Bank, Modal
Akun Nominal / Laba Rugi
Laba Rugi
Ditutup tiap akhir periode
  • Penjualan
  • Harga Pokok Penjualan (HPP)
  • Bahan Baku Langsung (BBL)
  • Tenaga Kerja Langsung (TKL)
  • Biaya Overhead Pabrik (BOP)
  • Beban Pemasaran, Beban Administrasi, Prive
Ciri khas neraca saldo manufaktur: ada tiga persediaan sekaligus + akun biaya produksi BBL, TKL, BOP. Dagang & jasa tidak punya kombinasi ini.

Hitung dari Nol — HDN-3 (2): Neraca Saldo PT Garmen Nusantara (per 31 Des)

AkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
Kas95.000.000
Piutang Usaha60.000.000
Persediaan Bahan Baku (akhir)30.000.000
Persediaan Barang Dalam Proses (akhir)25.000.000
Persediaan Barang Jadi (akhir)50.000.000
Peralatan Pabrik200.000.000
Akumulasi Penyusutan Peralatan40.000.000
Utang Usaha70.000.000
Utang Bank120.000.000
Modal Pemilik405.000.000
Prive Pemilik10.000.000
Penjualan490.000.000
Bahan Baku Langsung (BBL)155.000.000
Tenaga Kerja Langsung (TKL)90.000.000
Biaya Overhead Pabrik (BOP)60.000.000
Harga Pokok Penjualan (HPP)290.000.000
Beban Pemasaran35.000.000
Beban Administrasi25.000.000
TOTAL1.125.000.0001.125.000.000

Verifikasi: Mengapa Debit Harus Sama dengan Kredit?

Kalau Seimbang
D = K
Rp 1.125.000.000 = Rp 1.125.000.000
Bukan jaminan bebas salah total, tetapi memberi keyakinan bahwa setiap transaksi tercatat berpasangan dan aritmetika posting konsisten. Boleh lanjut ke laporan keuangan.
Kalau Timpang
D ≠ K
Ada kesalahan pasti
Pasti ada kesalahan — salah jumlah, lupa posting satu sisi, atau salah kolom. Wajib dilacak sebelum menyusun laporan keuangan. Jangan dilanjutkan.
Neraca saldo seimbang tidak mendeteksi kesalahan yang tetap seimbang — misalnya transaksi dicatat di akun salah tapi nominal benar. Itu tugas pengendalian internal & penyesuaian.
Bagian 4 dari 4
Keterkaitan dengan Laba Rugi, Rangkuman & Latihan
Bagaimana HPProduksi → HPP mengalir ke Laporan Laba Rugi, mengapa angka ini menentukan harga jual, dan latihan menutup kemampuan Anda.

Jembatan: HPProduksi → HPP → Laporan Laba Rugi

Laporan HPProduksi→ HPProduksiRp 300.000.000Hitung HPPBarang Jadi awal/akhirHPP = Rp 290.000.000Laporan Laba RugiPenjualan − HPP = Laba Kotor490 − 290 = Rp 200.000.000
PT Garmen Nusantara — Laporan Laba Rugi (Ringkas, per 31 Des)Rp
Penjualan490.000.000
(−) Harga Pokok Penjualan(290.000.000)
Laba Kotor200.000.000
(−) Beban Pemasaran & Administrasi(60.000.000)
Laba Usaha140.000.000
Tiga laporan bersambung: angka akhir satu laporan menjadi angka masuk laporan berikutnya. Inilah keruntutan jurnal → posting → neraca saldo → laporan.

Mengapa Harga Pokok Produksi Menentukan Harga Jual

Tanpa HPProduksi
Tebak
Risiko rugi diam-diam
Pemilik menetapkan harga "ikut pasar" Rp 50.000/kaus. Jika biaya produksi per unit ternyata Rp 55.000 → rugi tiap penjualan, tetapi tidak terdeteksi sampai akhir tahun kas menipis.
Dengan HPProduksi
Data
Margin terjaga
Hitung biaya per unit: HPProduksi ÷ jumlah unit produksi. Tetapkan harga jual = biaya per unit + margin sehat. Harga berpijak data → keputusan lebih aman.
Bagi UMKM konveksi & manufaktur Indonesia, Laporan HPProduksi adalah dasar penetapan harga jual (cost-plus pricing) dan negosiasi pesanan grosir. Tanpa ini, untung-rugi hanya tebakan.

Empat Jebakan yang Sering Bikin Salah

Jebakan 1 — HPProduksi = HPP
Menyamakan keduanya. Beda: HPProduksi = selesai dibuat; HPP = terjual. Jembatan = barang jadi awal/akhir.
Jebakan 2 — Lupa BDP
Langsung pakai total biaya produksi sebagai HPProduksi tanpa menyesuaikan BDP awal/akhir. Ingat: + BDP awal, − BDP akhir.
Jebakan 3 — Salah Klasifikasi Biaya
Memasukkan gaji kantor/penjualan ke BOP. Itu beban operasi, bukan biaya produksi. Hanya biaya pabrik yang masuk BOP.
Jebakan 4 — Tertukar Arah (+/−)
Mengurangi yang awal & menambah yang akhir. Benar: + awal, − akhir — berlaku sama untuk BDP maupun barang jadi.
Cek cepat: "Apakah angka ini barang yang selesai atau yang terjual? Sudah saya sesuaikan dengan persediaan awal & akhir dengan arah yang benar?"

Peta & Cheat Sheet Siklus Manufaktur

Biaya ProduksiBBL + TKL + BOPHPProduksi± BDP awal/akhirHPP± Barang Jadi awal/akhirLaporan Laba RugiPenjualan − HPP = Laba
HitunganRumus
Total Biaya ProduksiBBL + TKL + BOP
Harga Pokok ProduksiTotal Biaya Produksi + BDP awal − BDP akhir
Harga Pokok PenjualanBarang Jadi awal + HPProduksi − Barang Jadi akhir
Cek Neraca SaldoTotal Debit = Total Kredit
Pegang dua pola: (a) biaya mengalir lewat tiga persediaan; (b) tambah yang awal, kurangi yang akhir. Dua pola ini cukup untuk menguasai seluruh perhitungan hari ini.

Latihan & Diskusi Kelas

Dua soal latihan untuk mengunci pemahaman Anda sebelum keluar kelas.

Latihan 1 — Hitungan
HDN
Hitung sendiri!
PT Sari Tekstil: BBL Rp 120 jt, TKL Rp 70 jt, BOP Rp 50 jt, BDP awal Rp 15 jt, BDP akhir Rp 20 jt, Barang Jadi awal Rp 30 jt, Barang Jadi akhir Rp 35 jt. Hitung: (a) HPProduksi, (b) HPP. Pastikan langkah-langkahnya rinci.
Diskusi 2 — Konseptual
Pikir
Diskusikan bersama!
Mengapa neraca saldo manufaktur yang seimbang belum menjamin laporan keuangan bebas kesalahan? Apa jenis kesalahan yang tetap membuat neraca saldo seimbang? Apa peran pengendalian internal di sini?
Panduan Latihan 1 — (a) HPProduksi: 120+70+50+15−20 = Rp 235 jt. (b) HPP: 30+235−35 = Rp 230 jt. Cek pola Anda sama?

Penutup & Persiapan Pertemuan Berikutnya

Yang Sudah Anda Kuasai
Selesai
Sub-CPMK 8 terpenuhi
  • Menyusun Laporan Harga Pokok Produksi
  • Menghitung HPP manufaktur
  • Mem-posting & menyusun neraca saldo manufaktur seimbang
  • Menjelaskan keterkaitan HPProduksi → HPP → Laba Rugi
Siapkan untuk Berikutnya
Next
Laporan Keuangan Lengkap Manufaktur
  • Baca ulang bab manufaktur Warren et al. (2018)
  • Kerjakan Bank Soal (Lampiran B) sebelum pertemuan
  • Siapkan neraca saldo ini — akan dipakai untuk menyusun laporan keuangan lengkap: Laba Rugi, Neraca, Perubahan Ekuitas
Latihan wajib mandiri: Ulangi HDN-1 sampai HDN-3 dengan angka Anda sendiri sampai neraca saldonya seimbang tanpa melihat catatan. Di situlah tanda Anda benar-benar menguasai siklus manufaktur.