Dari neraca saldo sebuah toko sampai menjadi laporan keuangan lengkap: jurnal penyesuaian, kertas kerja, dan laporan laba rugi bertahap.
RPS Minggu 11 · Sub-CPMK 7 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu menyusun jurnal penyesuaian dan menyelesaikan kertas kerja untuk menyusun laporan keuangan entitas dagang (Sub-CPMK 7).
Capaian 1 — Penyesuaian
JP
Jurnal Penyesuaian
Menyusun jurnal penyesuaian entitas dagang: beban dibayar di muka, beban terutang, penyusutan, dan persediaan barang dagang.
Capaian 2 — HPP
HPP
Harga Pokok Penjualan
Menghitung HPP metode periodik dari persediaan awal, pembelian bersih, dan persediaan akhir.
Capaian 3 — Laba Rugi
L/R
Laporan Laba Rugi Bertahap
Menyusun laporan laba rugi multiple-step dari penjualan bersih sampai laba bersih secara berjenjang.
Capaian 4 — Ekuitas & Neraca
LPK
Laporan Posisi Keuangan
Menyusun Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Posisi Keuangan entitas dagang dari neraca saldo disesuaikan.
Toko Berkah Jaya: Punya Data, Belum Punya Laporan
Bu Sari, pemilik Toko Berkah Jaya (toko sembako grosir), datang membawa neraca saldo akhir tahun. Ia bertanya dua hal penting:
Pertanyaan 1 — Untung?
Rp ???
Laba Bersih
"Tahun ini toko saya untung berapa?" → butuh Laporan Laba Rugi Bertahap.
Pertanyaan 2 — Kekayaan?
Rp ???
Total Aset
"Berapa harta dan utang toko saya sekarang?" → butuh Laporan Posisi Keuangan.
Neraca saldonya belum bisa langsung dibaca — masih ada beban yang belum dicatat (penyusutan, gaji terutang) dan persediaan akhir belum diperhitungkan. Tugas kita hari ini: ubah data mentah ini menjadi laporan yang menjawab pertanyaan Bu Sari.
Bagian 1 dari 4
Dari Entitas Jasa ke Entitas Dagang
Apa yang berbeda ketika perusahaan tidak menjual jasa, tetapi membeli dan menjual barang? Kenali akun-akun baru dan posisi kita dalam siklus akuntansi.
PersediaanHPPLaba Kotor
Entitas Jasa vs Entitas Dagang: Apa Bedanya?
Entitas Jasa
Jasa
Menjual keahlian/jasa, tidak menyimpan barang
Contoh: salon, bengkel, kantor akuntan
Laba = Pendapatan − Beban
Tidak ada persediaan & HPP
Entitas Dagang
Dagang
Membeli barang lalu menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk
Contoh: Toko Berkah Jaya, Indomaret, distributor
Laba = Penjualan − HPP − Beban
Ada persediaan & HPP
Konsekuensi terpenting: laporan laba rugi entitas dagang punya satu lapisan ekstra — yaitu Laba Kotor (Penjualan bersih − HPP) — sebelum dikurangi beban operasi. Lapisan inilah yang membedakan format multiple-step dagang dari format jasa.
Akun-Akun Baru yang Wajib Anda Kenal
Entitas dagang memunculkan akun-akun yang tidak ada di perusahaan jasa. Inilah "pemain barunya":
Akun
Saldo Normal
Peran
Persediaan Barang Dagang
Debit (aset)
Nilai barang yang belum terjual
Penjualan
Kredit (pendapatan)
Hasil menjual barang
Retur & Potongan Penjualan
Debit (kontra)
Pengurang penjualan
Pembelian
Debit
Barang yang dibeli (metode periodik)
Retur & Potongan Pembelian
Kredit (kontra)
Pengurang pembelian
Ongkos Angkut Pembelian
Debit
Menambah HPP — bukan beban operasi!
Akun kontra mengurangi akun pasangannya. Retur Penjualan mengurangi Penjualan; Retur Pembelian mengurangi Pembelian. Kenali saldo normalnya agar tidak terbalik saat menjurnal.
Di Mana Posisi Kita dalam Siklus Akuntansi?
Hari ini kita berada di tiga tahap terakhir siklus akuntansi — yang mengubah neraca saldo menjadi laporan keuangan.
Kotak 1–3 sudah Anda kuasai di pertemuan sebelumnya. Hari ini kita selesaikan kotak 4, 5, dan 6 — khusus untuk konteks entitas dagang.
Bagian 2 dari 4
Jurnal Penyesuaian & Harga Pokok Penjualan
Empat jenis penyesuaian yang wajib, penyesuaian khusus persediaan barang dagang, dan cara menghitung HPP metode periodik dari nol.
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir
Empat Jenis Jurnal Penyesuaian yang Wajib
1 — Beban Dibayar di Muka
Prepaid
Sudah dibayar tapi belum terpakai habis. Contoh: asuransi toko setahun, baru jalan 5 bulan. Penyesuaian: akui bagian yang sudah terpakai sebagai beban.
2 — Beban Terutang
Accrual
Sudah terjadi tapi belum dibayar. Contoh: gaji 2 hari kerja akhir tahun belum sempat dibayar. Penyesuaian: catat beban + utang.
3 — Penyusutan
Depr.
Aset tetap (peralatan toko) kehilangan nilai karena dipakai. Penyesuaian: catat Beban Penyusutan + Akumulasi Penyusutan.
4 — Persediaan Barang Dagang
Inv.
Menyesuaikan saldo persediaan ke hasil hitung fisik (periodik) atau mencatat selisih susut/hilang (perpetual).
Prinsipnya satu: akrual — beban diakui saat terjadi, bukan saat kas berpindah.
Penyesuaian Persediaan Barang Dagang
Inilah penyesuaian yang khas entitas dagang. Caranya tergantung sistem persediaan yang dipakai:
Sistem Periodik
Periodik
HPP dihitung di akhir lewat hitung fisik. Saldo persediaan lama dikeluarkan, persediaan akhir hasil hitung fisik dimasukkan — sering lewat akun Ikhtisar Laba Rugi.
Sistem Perpetual
Perpetual
Persediaan & HPP ter-update tiap transaksi. Penyesuaian hanya untuk selisih antara catatan vs hitung fisik (susut, rusak, hilang).
Ayat Jurnal Penyesuaian Persediaan — Sistem Periodik (via Ikhtisar L/R):
Aksi
Debit
Kredit
Keluarkan persediaan awal
Ikhtisar Laba Rugi
Persediaan (awal)
Masukkan persediaan akhir
Persediaan (akhir)
Ikhtisar Laba Rugi
Di metode periodik, persediaan awal & akhir "bertemu" di Ikhtisar Laba Rugi; selisihnya ikut membentuk HPP. Di perpetual, kita hanya mencatat selisih susut sebagai beban/kerugian persediaan.
Rumus Harga Pokok Penjualan (Metode Periodik)
HPP bukan sekadar "pembelian". Ia adalah biaya barang yang benar-benar terjual, dihitung berjenjang:
② Barang Tersedia Dijual = Persediaan Awal + Pembelian Bersih
③ HPP = Barang Tersedia Dijual − Persediaan Akhir
Logikanya: dari semua barang yang tersedia untuk dijual, yang tersisa di gudang (persediaan akhir) berarti belum terjual. Sisanya itulah yang terjual = HPP.
Coba Sendiri: Rakit Sendiri Rumus HPP Periodik
Ubah angka persediaan awal, pembelian, dan persediaan akhir, lalu amati bagaimana HPP terhitung berjenjang.
Hitung dari Nol — HDN-1: HPP Toko Berkah Jaya
Data persediaan & pembelian Toko Berkah Jaya tahun ini. Hitung HPP-nya langkah demi langkah.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Persediaan awal
—
Rp 40.000.000
(+) Pembelian
—
Rp 220.000.000
(+) Ongkos angkut pembelian
—
Rp 6.000.000
(−) Retur & potongan pembelian
—
(Rp 10.000.000)
Pembelian bersih
220 + 6 − 10
Rp 216.000.000
Barang tersedia dijual
40 + 216
Rp 256.000.000
(−) Persediaan akhir
hitung fisik
(Rp 35.000.000)
HARGA POKOK PENJUALAN
256 − 35
Rp 221.000.000
HPP = Rp 221.000.000. Perhatikan: pembelian Rp 220 jt, tetapi HPP Rp 221 jt — berbeda, karena memperhitungkan persediaan awal, ongkos angkut, retur, dan persediaan akhir.
Empat penyesuaian non-persediaan untuk Toko Berkah Jaya, lengkap dengan nominalnya:
#
Keterangan
Debit
Kredit
a
Beban Asuransi (5/12 × Rp 12 jt)
Rp 5.000.000
—
Asuransi Dibayar di Muka
—
Rp 5.000.000
b
Beban Gaji (gaji terutang)
Rp 6.000.000
—
Utang Gaji
—
Rp 6.000.000
c
Beban Penyusutan Peralatan (Rp 40 jt ÷ 10 th)
Rp 4.000.000
—
Akumulasi Penyusutan Peralatan
—
Rp 4.000.000
d
Beban Perlengkapan (Rp 5 jt − Rp 2 jt sisa)
Rp 3.000.000
—
Perlengkapan
—
Rp 3.000.000
Tiap ayat selalu balance (debit = kredit). Penyesuaian ini menambah beban di laba rugi dan mengoreksi aset/utang di posisi keuangan.
Bagian 3 dari 4
Kertas Kerja & Laporan Laba Rugi Bertahap
Bagaimana kertas kerja merapikan semua angka, dan bagaimana laporan laba rugi entitas dagang disusun berjenjang dari penjualan bersih sampai laba bersih.
Kertas Kerja (Worksheet) — Lembar Bantu Berkolom
Kertas kerja bukan laporan resmi, melainkan kertas buram yang memudahkan menyusun laporan. Strukturnya berpasangan debit-kredit:
Alur: Neraca Saldo + Penyesuaian = NS Disesuaikan, lalu tiap akun NSD "mengalir" ke kolom Laba Rugi (pendapatan & beban) atau kolom Posisi Keuangan (aset, utang, ekuitas).
Kertas Kerja Entitas Dagang: Aliran Persediaan & HPP
Bedanya dengan entitas jasa: ada akun Persediaan dan komponen HPP yang harus mengalir ke kolom yang tepat.
Akun
Kolom Tujuan
Penjualan, Retur Penjualan
Laba Rugi (Kredit / Debit)
Pembelian, Ongkos Angkut, Retur Pembelian
Laba Rugi (→ membentuk HPP)
Persediaan awal
Laba Rugi — Debit (via HPP)
Persediaan akhir
Laba Rugi — KreditDANPosisi Keuangan — Debit (aset)
Beban operasi, penyusutan
Laba Rugi — Debit
Kas, Piutang, Peralatan, Utang, Modal
Posisi Keuangan
Titik paling membingungkan: persediaan akhir muncul dua kali — sebagai pengurang HPP di kolom Laba Rugi, dan sebagai aset di kolom Posisi Keuangan. Ini benar, bukan salah.
Struktur Laporan Laba Rugi Bertahap (Multiple-Step)
Berbeda dari format langsung (single-step), format bertahap menyajikan laba secara berjenjang sehingga lebih informatif:
① Penjualan Bersih = Penjualan − Retur & Potongan Penjualan
② Laba Kotor = Penjualan Bersih − HPP
③ Laba Operasi = Laba Kotor − Beban Operasi (penjualan + administrasi)
④ Laba Sebelum Pajak = Laba Operasi + Pend. Lain − Beban Lain
⑤ Laba Bersih = Laba Sebelum Pajak − Pajak (PPh Badan 22%)
Setiap jenjang menjawab pertanyaan berbeda: laba kotor → seberapa untung dari berdagang; laba operasi → setelah biaya jalankan toko; laba bersih → yang benar-benar tersisa.
Hitung dari Nol — HDN-2: Laporan Laba Rugi Toko Berkah Jaya
Susun laporan laba rugi bertahap dari neraca saldo disesuaikan Toko Berkah Jaya.
Komponen
Perhitungan
Nilai
Penjualan
—
Rp 320.000.000
(−) Retur & potongan penjualan
8 + 4
(Rp 12.000.000)
Penjualan bersih
320 − 12
Rp 308.000.000
(−) Harga Pokok Penjualan
dari HDN-1
(Rp 221.000.000)
Laba kotor
308 − 221
Rp 87.000.000
(−) Beban penjualan
gaji+iklan+angkut+susut
(Rp 30.000.000)
(−) Beban administrasi
gaji+sewa+listrik+perlengkapan
(Rp 26.000.000)
Laba operasi
87 − 56
Rp 31.000.000
(+) Pendapatan bunga
—
Rp 2.000.000
(−) Beban bunga
—
(Rp 5.000.000)
Laba sebelum pajak
31 + 2 − 5
Rp 28.000.000
(−) PPh Badan 22%
22% × 28 jt
(Rp 6.160.000)
LABA BERSIH
28 − 6,16
Rp 21.840.000
Laba bersih = Rp 21.840.000. Empat jenjang: Kotor Rp 87 jt → Operasi Rp 31 jt → Sblm Pajak Rp 28 jt → Bersih Rp 21,84 jt.
Memilah Beban Operasi: Penjualan vs Administrasi
Pada laba rugi bertahap, beban operasi dipecah dua agar pembaca tahu uang habis ke mana:
Beban Penjualan
Sell.
Terkait langsung dengan menjual & mengirim barang.
Gaji pramuniaga
Iklan & promosi
Beban angkut penjualan
Penyusutan etalase toko
Beban Administrasi & Umum
Admin.
Terkait mengelola usaha secara keseluruhan.
Gaji staf kantor
Sewa kantor
Listrik & telepon
Perlengkapan kantor
Aturan praktis: kalau beban itu untuk mendorong penjualan → beban penjualan; kalau untuk menjalankan kantor/administrasi → beban administrasi.
Studi Kasus: Dua Ongkos Angkut yang Sering Tertukar
Toko Berkah Jaya punya dua jenis ongkos angkut. Keduanya "angkut", tetapi diperlakukan sangat berbeda:
Ongkos Angkut Pembelian (Freight-in)
→ HPP
Biaya kirim barang yang dibeli masuk ke gudang. Menambah harga perolehan barang → masuk HPP, bukan beban operasi.
Beban Angkut Penjualan (Freight-out)
→ Beban
Biaya kirim barang ke pelanggan. → Beban Penjualan (beban operasi), bukan HPP.
Salah menaruh ongkos angkut = HPP dan laba kotor salah. Ingat arah barang: masuk gudang (beli) → HPP; keluar ke pelanggan (jual) → beban penjualan.
Bagian 4 dari 4
Ekuitas, Posisi Keuangan & Rangkuman
Dari laba bersih ke laporan perubahan ekuitas, lalu ke laporan posisi keuangan — menjawab pertanyaan kedua Bu Sari — dan menutup dengan rangkuman.
Laporan Perubahan Ekuitas — Toko Berkah Jaya
Menelusuri perubahan modal pemilik selama periode: dari modal awal, ditambah laba, dikurangi pengambilan pribadi (prive).
Komponen
Perhitungan
Nilai
Modal Bu Sari, 1 Januari
—
Rp 150.000.000
(+) Laba bersih
dari HDN-2
Rp 21.840.000
(−) Prive (pengambilan pemilik)
—
(Rp 12.000.000)
Modal Bu Sari, 31 Desember
150 + 21,84 − 12
Rp 159.840.000
Modal akhir = Rp 159.840.000. Angka ini langsung "mengalir" ke Laporan Posisi Keuangan sebagai ekuitas — itulah mengapa laporan harus disusun berurutan: Laba Rugi → Perubahan Ekuitas → Posisi Keuangan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca) — Toko Berkah Jaya, 31 Des
Memotret harta = utang + modal pada satu tanggal. Persediaan akhir muncul di sini sebagai aset.
ASET
Kas
Rp 60.000.000
Piutang Usaha
Rp 35.000.000
Persediaan Barang Dagang
Rp 35.000.000
Asuransi Dibayar di Muka
Rp 7.000.000
Peralatan
Rp 40.000.000
(−) Akm. Penyusutan
(Rp 4.000.000)
Nilai buku peralatan
Rp 36.000.000
Total Aset
Rp 173.000.000
LIABILITAS & EKUITAS
Utang Usaha
Rp 7.160.000
Utang Gaji
Rp 6.000.000
Total Liabilitas
Rp 13.160.000
Modal Bu Sari (dari ekuitas)
Rp 159.840.000
Total Liab. + Ekuitas
Rp 173.000.000
Aset Rp 173 jt = Liabilitas + Ekuitas Rp 173 jt. Balance! Persamaan dasar akuntansi terbukti: Aset = Liabilitas + Ekuitas.
Lima Kesalahan yang Sering Membuat Laporan Tidak Balance
Kesalahan 1
1
Menyamakan Pembelian dengan HPP — lupa memperhitungkan persediaan awal/akhir, ongkos angkut, dan retur.
Kesalahan 2
2
Salah Taruh Ongkos Angkut — freight-in dianggap beban operasi (harusnya HPP), atau sebaliknya.
Kesalahan 3
3
Lupa Penyesuaian — penyusutan atau gaji terutang tak dicatat, sehingga beban terlalu kecil & laba menggelembung.
Kesalahan 4
4
Persediaan Akhir Hanya di Satu Tempat — lupa ia muncul di Laba Rugi dan Posisi Keuangan.
Kesalahan 5
5
Modal Akhir Tak Diperbarui — masih pakai modal awal di neraca, sehingga tidak balance.
Kalau neraca tidak balance, jangan panik. Telusuri lima titik ini lebih dulu — 90% kesalahan ada di sini.
Peta Aliran: Dari Akun ke Laporan yang Tepat
Rangkuman: Cheat-Sheet Konsep Kunci
Konsep
Inti
Entitas Dagang
Membeli & menjual barang tanpa mengubah bentuk; ada persediaan & HPP
Jurnal Penyesuaian
4 jenis: dibayar di muka, terutang, penyusutan, persediaan — semua berbasis akrual
HPP Periodik
Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir
Penjualan bersih → Laba kotor → Laba operasi → Laba sbl pajak → Laba bersih
Freight-in vs Freight-out
Masuk gudang (beli) → HPP; Keluar ke pelanggan (jual) → Beban penjualan
Persediaan Akhir
Muncul DUA kali: pengurang HPP (L/R) & aset (Posisi Keuangan)
Urutan Laporan
Laba Rugi → Perubahan Ekuitas → Posisi Keuangan (tidak bisa dibalik)
Uji Balance
Total Aset = Total Liabilitas + Ekuitas — selalu harus seimbang
Giliran Anda: Latihan Kelas
Latihan 1 — Hitung HPP
HPP=?
Toko Sumber Rejeki: Persediaan awal: Rp 25.000.000 Pembelian: Rp 180.000.000 Ongkos angkut: Rp 4.000.000 Retur pembelian: Rp 6.000.000 Persediaan akhir: Rp 30.000.000 Hitung HPP!
Latihan 2 — Laba Kotor
LK=?
Lanjutan Latihan 1: Penjualan: Rp 250.000.000 Retur penjualan: Rp 10.000.000 HPP: dari Latihan 1 Hitung penjualan bersih & laba kotor!
Diskusi kelas: Mengapa dua toko dengan penjualan sama bisa punya laba kotor berbeda? Apa yang bisa dilakukan Bu Sari untuk memperbesar laba kotornya? Kunci: Lat.1 HPP = Rp 173.000.000; Lat.2 Penjualan bersih = Rp 240.000.000, Laba kotor = Rp 67.000.000.
Rangkuman & Langkah Berikutnya
Yang Sudah Anda Kuasai
5 ✓
Jurnal penyesuaian entitas dagang (4 jenis)
Menghitung HPP metode periodik
Kertas kerja & aliran persediaan
Laporan laba rugi bertahap (multiple-step)
Laporan ekuitas & posisi keuangan yang balance
Persiapan Pertemuan Berikutnya
→
Jurnal Penutup
Pelajari jurnal penutup entitas dagang — menutup akun nominal (pendapatan, beban, ikhtisar L/R, prive) ke modal, agar buku siap untuk periode baru. (Warren–Reeve–Duchac Bab 6)
Anda kini bisa mengubah neraca saldo sebuah toko menjadi laporan keuangan lengkap — keterampilan inti seorang akuntan. Bu Sari sudah punya jawaban: untung Rp 21,84 jt, kekayaan toko Rp 173 jt.