Kelangsungan hidup tidak bergantung pemilik tertentu (going concern)
Kepemilikan mudah dipindahtangankan lewat jual-beli saham
Mudah menghimpun modal besar dari banyak investor
Konsekuensi
Pajak berganda — laba dikenakan PPh Badan 22%, dividen ke pemegang saham juga kena pajak
Regulasi & pelaporan lebih ketat, khusus PT Terbuka wajib lapor ke OJK/BEI
Pemisahan kepemilikan (pemegang saham) dan pengelolaan (direksi) memicu masalah keagenan
Biaya pendirian & administrasi lebih tinggi dibanding usaha perseorangan
Sesuai UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas, PT adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal terbagi dalam saham.
Struktur Organisasi Perseroan Terbatas
Tiga organ utama PT: RUPS (pemilik), Dewan Komisaris (pengawas), dan Direksi (pengelola) — pemisahan kepemilikan dan pengelolaan.
Anatomi Modal Saham: Empat Lapis
Modal Beredar = Modal Ditempatkan − Saham Treasuri. Hanya saham beredar yang berhak menerima dividen & memberi hak suara.
Saham Biasa vs Saham Preferen
Saham Biasa (Common Stock)
Punya hak suara penuh di RUPS (1 saham = 1 suara)
Dividen tidak dijamin — bergantung keputusan RUPS & kinerja
Klaim atas aset saat likuidasi berada di urutan terakhir
Potensi kenaikan harga (capital gain) tidak terbatas
Saham Preferen (Preferred Stock)
Umumnya tanpa hak suara, tetapi dividen diprioritaskan
Dividen biasanya tetap (persentase dari nilai nominal)
Klaim atas aset saat likuidasi didahulukan dari saham biasa
Bisa bersifat kumulatif (dividen tertunggak wajib dibayar dulu)
Saham preferen adalah hibrida antara saham biasa dan obligasi — imbal hasil lebih pasti, tetapi upside terbatas.
Hak-hak Pemegang Saham Biasa
01
Hak Suara
Memilih direksi & komisaris, menyetujui keputusan strategis di RUPS.
02
Hak Dividen
Menerima bagian laba yang dibagikan, sebanding jumlah saham dimiliki.
03
Hak Preemptive
Diprioritaskan membeli saham baru agar persentase kepemilikan tidak terdilusi.
Hak preemptive ini alasan mengapa perusahaan sering menawarkan rights issue kepada pemegang saham lama sebelum menjual saham baru ke publik luas.
Bagian 2 dari 3
Pencatatan Penerbitan Saham
Bagaimana akuntan menjurnal saat perusahaan pertama kali menjual sahamnya ke investor.
Nilai Nominal, Nilai Wajar, dan Agio Saham
Nilai Nominal (Par Value)
Nilai yang tercantum di akta pendirian & sertifikat saham
Menentukan jumlah minimum modal disetor secara hukum
Tidak mencerminkan harga pasar riil saham
Nilai Wajar (Fair Value / Harga Jual)
Harga sesungguhnya yang dibayar investor saat membeli
Ditentukan penawaran-permintaan pasar, atau kesepakatan saat IPO
Hampir selalu lebih tinggi dari nilai nominal
Agio Saham = Harga Jual − Nilai Nominal
Selisih ini dicatat sebagai Agio Saham (Additional Paid-in Capital) — bagian dari ekuitas, bukan laba.
Hitung dari Nol #1: Penerbitan Saham dengan Agio
PT Nusantara Sejahtera menerbitkan 10.000 lembar saham biasa nilai nominal Rp1.000/lembar, dijual tunai seharga Rp2.500/lembar.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Kas diterima (debit Kas)
10.000 lembar x Rp2.500
Rp25.000.000
2. Modal Saham nilai nominal (kredit)
10.000 lembar x Rp1.000
Rp10.000.000
3. Agio Saham — selisih (kredit)
Rp25.000.000 − Rp10.000.000
Rp15.000.000
Total Modal DisetorRp25.000.000
Saham Tanpa Nilai Nominal & Aset Non-Kas
Walkthrough A — Tanpa Nilai Nominal (No-Par)
PT menerbitkan saham tanpa mencantumkan nilai nominal di akta
Seluruh hasil penjualan dicatat langsung sebagai Modal Saham
Tidak ada akun Agio Saham terpisah — tidak ada selisih yang dihitung
Walkthrough B — Dibayar Aset Non-Kas
Investor menyetor tanah/bangunan/peralatan, bukan uang tunai
Aset dicatat sebesar nilai wajar (fair value) aset tersebut, bukan taksiran sepihak
Jika nilai wajar tak dapat ditentukan, pakai nilai wajar saham yang diterbitkan
Latihan: Jurnal Penerbitan Saham
Instruksi: PT Cahaya Mandiri menerbitkan 5.000 lembar saham biasa nilai nominal Rp2.000/lembar, dijual tunai seharga Rp3.200/lembar. Susun jurnal lengkap (Kas, Modal Saham, Agio Saham) sebelum melanjutkan ke slide berikutnya.
Langkah 1
Hitung total kas diterima = jumlah lembar x harga jual.
Langkah 2
Hitung Modal Saham = jumlah lembar x nilai nominal.
Langkah 3
Hitung Agio Saham = selisih langkah 1 dan langkah 2.
Bagian 3 dari 3
Treasury Stock & Penyajian Ekuitas
Saat perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri — dan bagaimana semuanya tersaji di laporan posisi keuangan.
Mengapa Perusahaan Membeli Kembali Sahamnya?
Alasan Umum Buyback
Menaikkan harga saham saat dianggap undervalued di pasar
Menyediakan saham untuk opsi kompensasi karyawan/direksi
Bertahan dari upaya pengambilalihan paksa (hostile takeover)
Mengurangi jumlah saham beredar agar laba per saham (EPS) naik
Sifat Saham Treasuri
Bukan aset perusahaan — tidak menghasilkan pendapatan
Mengurangi (kontra) ekuitas, bukan menambah aset
Tidak punya hak suara & tidak menerima dividen
Bisa dijual kembali, dibagikan, atau dihapuskan (ditarik permanen)
Hitung dari Nol #2: Treasury Stock — Metode Cost
PT Nusantara Sejahtera membeli kembali 1.000 lembar saham treasuri @Rp3.000, lalu menjual kembali 400 lembar @Rp3.500.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Beli treasuri (debit Treasury Stock)
1.000 lembar x Rp3.000
Rp3.000.000
2. Jual kembali 400 lembar (debit Kas)
400 lembar x Rp3.500
Rp1.400.000
3. Harga pokok (cost) 400 lembar terjual (kredit Treasury Stock)
400 lembar x Rp3.000
Rp1.200.000
4. Selisih untung → Agio Saham Treasuri (kredit)
Rp1.400.000 − Rp1.200.000
Rp200.000
Sisa Treasury Stock di Neraca600 lbr x Rp3.000 = Rp1.800.000
Dampak Treasury Stock terhadap Ekuitas
Treasury Stock disajikan sebagai pengurang (kontra) total ekuitas — bukan aset, bukan beban. Nilainya selalu bertanda negatif di bagian ekuitas.
Sebelum Buyback
Total Ekuitas = Modal Saham + Agio + Laba Ditahan
Setelah Buyback
Total Ekuitas = (Modal Saham + Agio + Laba Ditahan) − Treasury Stock
Efek lanjutan: jumlah saham beredar turun → laba per saham (EPS) cenderung naik, meski laba bersih tidak berubah.
Format Penyajian Ekuitas PT di Neraca
Komponen Ekuitas
Contoh Nilai
Modal Saham — Saham Biasa (nilai nominal)
Rp10.000.000
Agio Saham (Additional Paid-in Capital)
Rp15.000.000
Laba Ditahan (Retained Earnings)
Rp8.500.000
Dikurangi: Treasury Stock (kontra-ekuitas)
(Rp1.800.000)
Total Ekuitas Pemegang Saham
Rp31.700.000
Urutan penyajian: Modal Saham → Agio → Laba Ditahan → (Treasury Stock) — sesuai konvensi penyajian ekuitas berdasar SAK.
Kasus Nyata: Buyback & Right Issue di IDX
Contoh Buyback
Beberapa emiten besar mengumumkan program buyback saat harga saham dinilai undervalued pasca koreksi pasar
Dana buyback dialokasikan dari kas internal, dilaporkan ke OJK & BEI sesuai peraturan pasar modal
Contoh Rights Issue
Bank & perusahaan teknologi seperti GoTo pernah menambah modal lewat rights issue untuk ekspansi
Pemegang saham lama diprioritaskan membeli dulu — mencerminkan hak preemptive dari Slide 8
Kedua aksi korporasi ini adalah dua sisi mata uang yang sama: mengelola struktur modal ekuitas PT sesuai kebutuhan strategis.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan Berikutnya
Yang Sudah Kita Pelajari
PT = badan hukum terpisah, tanggung jawab terbatas, tiga organ (RUPS-Komisaris-Direksi)
Modal berlapis: Dasar → Ditempatkan → Beredar (+ Treasury)
Saham biasa vs preferen, dan hak-hak pemegang saham biasa