‹ Daftar slidePertemuan 13: Tujuan Beragama dan Sikap Menghadapi Perbedaan Agama
Mata Kuliah Wajib Kurikulum • FEB UNDIP
Tujuan Beragama dan Sikap Menghadapi Perbedaan Agama
Pertemuan 13 — Pendidikan Agama Khonghucu
Untuk apa sebenarnya kita beragama, dan bagaimana ajaran Khonghucu mengajarkan kita bersikap tenang, jujur, dan hormat di tengah masyarakat Indonesia yang berbeda-beda keyakinan.
RPS MINGGU 14 • 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan tujuan beragama menurut ajaran Khonghucu dan menerapkan sikap terbuka saat menghadapi perbedaan agama. Secara rinci:
CAPAIAN 1 — HAKIKAT
TUJUAN BERAGAMA
Menjelaskan tiga arah tujuan beragama: hubungan dengan Tian (Tuhan), diri sendiri, dan sesama manusia.
CAPAIAN 2 — KENYATAAN
KERAGAMAN INDONESIA
Memetakan posisi Khonghucu di antara enam agama resmi Indonesia secara jujur dan berbasis data.
CAPAIAN 3 — PRINSIP
HE ER BU TONG
Memahami prinsip "harmoni tanpa harus sama" dan "tepasarira" (zhong shu) sebagai dasar toleransi.
CAPAIAN 4 — PENERAPAN
SIKAP NYATA
Menerapkan sikap hormat dan kerja sama lintas agama dalam kehidupan kampus dan kelak dunia kerja.
Bagian 1 dari 3
Untuk Apa Manusia Beragama?
Menelusuri akar tujuan beragama dalam ajaran Khonghucu sebelum berbicara tentang perbedaan.
Beragama Bukan Sekadar Ritual
Dalam ajaran Khonghucu, agama (Ru Jiao, secara harfiah "ajaran kaum terpelajar") bertujuan membimbing manusia hidup selaras dengan Watak Sejati (Xing) pemberian Tian.
"Firman Tian, itulah dinamakan Watak Sejati. Hidup mengikuti Watak Sejati, itulah dinamakan menempuh Jalan Suci." — Zhongyong Bab Utama
BUKAN SEKADAR
RITUAL KOSONG
Sembahyang tanpa perbaikan diri hanyalah bentuk luar, belum menyentuh makna beragama.
MELAINKAN
JALAN HIDUP
Dao (Jalan Suci) adalah cara hidup sehari-hari yang selaras dengan kebajikan.
BERMUARA PADA
KEBAJIKAN NYATA
Puncaknya adalah manusia yang Junzi — berbudi luhur dalam sikap dan tindakan.
Tiga Arah Tujuan Beragama Menurut Khonghucu
Ajaran Khonghucu merumuskan tujuan beragama sebagai relasi tiga arah yang saling menopang, tidak berhenti pada urusan pribadi dengan Tuhan saja.
Arah Pertama dan Kedua: Tian dan Diri Sendiri
ARAH 1 — KEPADA TIAN
Mengimani Tian sebagai sumber segala kebajikan dan Watak Sejati manusia
Diwujudkan lewat sembahyang, syukur, dan sikap hormat (cheng, ketulusan)
Tujuannya bukan meminta, melainkan menyelaraskan diri dengan kehendak-Nya
ARAH 2 — KEPADA DIRI SENDIRI
Pembinaan diri (Xiu Shen) agar watak buruk terkendali, watak baik berkembang
Introspeksi harian — meneladani murid Kongzi, Zeng Zi, yang memeriksa diri 3 kali sehari
Tujuannya: menjadi pribadi jujur, rendah hati, dan konsisten kata-perbuatan
Arah Ketiga: Kepada Sesama Manusia
Inilah arah yang paling relevan untuk topik hari ini — ajaran Khonghucu menegaskan bahwa hubungan baik dengan sesama adalah bukti nyata, bukan pelengkap, dari keberagamaan seseorang.
"Di dalam empat penjuru lautan, semua orang adalah saudara." — Lunyu XII:5
Prinsip ini menjadi jembatan langsung menuju topik perbedaan agama: kalau semua manusia adalah saudara, maka perbedaan keyakinan bukan alasan untuk memusuhi, melainkan kesempatan untuk saling menghormati.
Hitung dari Nol: Peta Enam Agama Resmi Indonesia
Sebelum bicara toleransi secara abstrak, mari lihat data nyata posisi umat Khonghucu di tengah populasi Indonesia.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total penduduk Indonesia (proyeksi BPS, era 2020-an)
—
≈ 270 juta jiwa
2. Proporsi umat Khonghucu (Sensus Penduduk BPS 2010)
—
≈ 0,03%
3. Estimasi jumlah umat Khonghucu nasional
270 juta × 0,03%
≈ 81.000 jiwa
4. Peluang ada mahasiswa Khonghucu dalam kelas berisi 40 orang
0,03% × 40
≈ 0,012 — jarang, sekitar 1 dari 3.300 mahasiswa
MAKNA ANGKA
Sebagai minoritas kecil secara statistik, umat Khonghucu SANGAT bergantung pada sikap terbuka mayoritas — inilah mengapa toleransi bukan tugas satu pihak saja, melainkan tugas bersama.
Bagian 2 dari 3
Perbedaan Agama sebagai Kenyataan, Bukan Ancaman
Bagaimana ajaran Khonghucu memandang keberagaman yang sudah pasti ada di Indonesia.
He Er Bu Tong: Harmoni Tanpa Harus Sama
Kongzi membedakan dua sikap dalam menghadapi orang lain yang berbeda pandangan — salah satunya adalah ciri seorang Junzi (pribadi berbudi luhur).
JUNZI — HE ER BU TONG
HARMONI, TAK HARUS SAMA
Hidup rukun dan hormat dengan orang berbeda pandangan, tanpa memaksa semua orang menjadi seragam.
XIAOREN — TONG ER BU HE
SERAGAM, TAK HARMONIS
Menuntut kesamaan penuh demi terlihat rukun, tapi hatinya sesungguhnya tidak tulus dan mudah retak.
"Junzi harmonis tapi tidak harus sama (he er bu tong), Xiaoren mau sama tapi tidak harmonis (tong er bu he)." — Lunyu XIII:23
Zhong Shu: Prinsip Tepasarira sebagai Fondasi Toleransi
Ketika ditanya satu kata yang bisa dipegang seumur hidup, Kongzi menjawab shu — tepasarira, empati aktif memahami posisi orang lain.
"Apa yang diri sendiri tak inginkan, jangan diberikan kepada orang lain." — Lunyu XV:24
ZHONG — SATYA
Sungguh-sungguh dan setia menjalankan kewajiban terhadap Tian dan sesama
Konsisten antara ucapan dan perbuatan, tidak berpura-pura toleran di depan orang
SHU — TEPASARIRA
Mengukur perasaan orang lain dengan perasaan sendiri sebelum bertindak
Dasar konkret untuk tidak memaksakan keyakinan sendiri kepada orang berbeda agama
Langkah Demi Langkah: Menyikapi Rekan Kuliah Berbeda Agama
Mari telusuri sebuah situasi nyata: kelompok tugas mata kuliah Manajemen Operasi di FEB UNDIP beranggotakan lima mahasiswa dari lima agama berbeda.
LANGKAH 1
SADARI PERBEDAAN
Akui secara terbuka bahwa anggota kelompok berbeda agama — jangan pura-pura sama demi "terlihat kompak" (hindari sikap Xiaoren).
LANGKAH 2
TERAPKAN SHU
Sebelum menjadwalkan rapat malam Jumat, tanyakan apakah ada anggota yang punya ibadah rutin — ukur dengan perasaan sendiri.
LANGKAH 3
FOKUS TUJUAN BERSAMA
Ingat, tujuan kelompok adalah nilai tugas yang baik — perbedaan agama tidak relevan dengan kualitas kerja sama.
LANGKAH 4
HASIL: HE ER BU TONG
Kelompok tetap solid dan harmonis meski masing-masing pulang beribadah ke tempat berbeda — itulah harmoni tanpa harus sama.
Hitung dari Nol: Alokasi Dana Kegiatan Kerohanian Lintas Agama
Sikap adil terhadap keberagaman juga bisa dilihat dari cara sebuah organisasi mengalokasikan sumber daya — berikut simulasi anggaran BEM FEB untuk kegiatan kerohanian satu semester.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total anggaran kegiatan kerohanian BEM FEB per semester
—
Rp 24.000.000
2. Dibagi rata untuk 6 agama resmi (adil secara kelembagaan)
Rp 24.000.000 ÷ 6
Rp 4.000.000 per agama
3. Dana tambahan untuk kegiatan bersama lintas agama (dialog, bakti sosial)
25% × Rp 24.000.000
Rp 6.000.000
4. Porsi dana yang dinikmati BERSAMA lintas komunitas agama
Rp 6.000.000 ÷ Rp 24.000.000
25% dari total anggaran
MAKNA ANGKA
Meski jumlah umat Khonghucu kecil (lihat slide sebelumnya), alokasi Rp 4.000.000 tetap SAMA RATA dengan agama lain — keadilan bukan soal jumlah umat, melainkan soal pengakuan yang setara.
Sikap Sempit vs Sikap Terbuka
Ajaran Khonghucu secara tegas mengarahkan pengikutnya menghindari sikap sempit dan memilih sikap terbuka berikut ini.
SIKAP SEMPIT (DIHINDARI)
Menganggap agama sendiri satu-satunya yang benar dan merendahkan yang lain
Menolak berteman atau bekerja sama karena beda keyakinan
Memaksakan ajaran sendiri kepada orang yang tidak menghendaki
SIKAP TERBUKA (DITELADANI)
Menghormati keyakinan orang lain sambil tetap teguh pada keyakinan sendiri
Aktif bekerja sama lintas agama demi kebaikan bersama (Da Tong, Dunia Besar Bersama)
Belajar dari nilai baik agama lain tanpa harus berpindah keyakinan
Bagian 3 dari 3
Menerapkan Sikap Terbuka dalam Kehidupan Nyata
Dari prinsip filosofis menuju kebiasaan konkret di kampus dan dunia kerja.
Studi Kasus: Rapat Organisasi Mahasiswa Menjelang Hari Raya
Pengurus BEM FEB harus menyusun jadwal kegiatan bulan depan, bertepatan dengan hari raya tiga agama berbeda dalam rentang waktu yang berdekatan.
TAHAP 1
PETAKAN KALENDER
Ketua rapat meminta setiap pengurus menandai hari raya agamanya masing-masing sebelum menyusun jadwal — transparansi lebih dulu.
TAHAP 2
HINDARI TABRAKAN
Kegiatan besar digeser agar tidak jatuh di hari raya siapa pun — wujud nyata prinsip shu, mengukur dengan perasaan sendiri.
TAHAP 3
RAYAKAN BERSAMA
BEM menambahkan agenda "Silaturahmi Lintas Iman" — setiap hari raya, seluruh pengurus saling mengunjungi dan mengucap selamat.
TAHAP 4
DAMPAK JANGKA PANJANG
Kebiasaan ini membentuk budaya organisasi yang inklusif — anggota baru meneladani sikap Junzi para pengurus lama.
Rambu-Rambu: Boleh Beda Pendapat, Jangan Bermusuhan
RAMBU 1
HORMATI RUANG IBADAH
Jangan mengganggu atau berkomentar meremehkan saat teman menjalankan ibadahnya.
RAMBU 2
HINDARI DEBAT KEYAKINAN
Diskusi antaragama boleh, tapi bukan untuk membuktikan siapa lebih benar — itu bukan tujuan pertemanan.
RAMBU 3
JANGA PAKSA PINDAH
Mengajak berdiskusi boleh, memaksa seseorang berpindah keyakinan bertentangan dengan prinsip shu.
Ingat: menghormati keyakinan orang lain tidak berarti Anda harus meragukan atau melunturkan keyakinan Anda sendiri — itulah esensi he er bu tong, harmoni tanpa harus sama.
Peran Anda sebagai Calon Profesional di Masyarakat Majemuk
Sebagai mahasiswa FEB UNDIP, Anda kelak akan bekerja di lingkungan bisnis Indonesia yang sangat majemuk — toleransi bukan pelengkap, tapi keterampilan profesional.
DI DUNIA KAMPUS
HARI INI
Kelompok tugas, organisasi mahasiswa, dan pertemanan lintas agama adalah "laboratorium" latihan sikap terbuka.
DI DUNIA KERJA
KELAK
Perusahaan seperti BCA, Tokopedia, atau UMKM keluarga mempekerjakan karyawan lintas agama — kemampuan bekerja sama lintas iman jadi nilai tambah karier Anda.
Latihan Reflektif untuk Anda
Kerjakan secara individu dalam waktu 10 menit, lalu diskusikan dengan teman sebangku sebelum kelas berakhir.
INSTRUKSI
Tuliskan satu tujuan beragama versi Anda sendiri, kaitkan dengan salah satu dari tiga arah (Tian, diri, sesama) yang kita bahas hari ini
Ceritakan satu pengalaman nyata Anda bertemu teman berbeda agama — sikap apa yang Anda tunjukkan, apakah sudah mencerminkan he er bu tong?
Rumuskan satu komitmen konkret yang akan Anda praktikkan minggu ini untuk menerapkan prinsip zhong shu
Tidak ada jawaban benar atau salah — tujuan latihan ini adalah kejujuran refleksi, bukan menyenangkan dosen.
Ringkasan Pertemuan 13
YANG SUDAH KITA PELAJARI
Tujuan beragama: relasi tiga arah dengan Tian, diri sendiri, dan sesama manusia
Data menunjukkan umat Khonghucu ≈ 0,03% populasi Indonesia — minoritas yang butuh sikap terbuka mayoritas
He er bu tong dan zhong shu sebagai fondasi filosofis sikap toleran yang tulus
BEKAL PERTEMUAN 14
Minggu depan kita membahas tingkat spiritualitas dan refleksi ajaran Khonghucu dalam kehidupan modern
Bawa hasil latihan reflektif hari ini — akan menjadi bahan diskusi lanjutan