stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-04
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 4: Factor Analysis dan Linear Discriminant Learning

Factor Analysis dan Linear Discriminant Learning

Pembelajaran Dalam dan Pembelajaran Mesin

RPS minggu 4 · 2x50 menit

Mereduksi puluhan variabel jadi beberapa faktor tersembunyi, lalu memisahkan kelompok data secara optimal

Agenda & Tujuan Pembelajaran

Agenda Hari Ini
  • Recap singkat: PCA, SVD, ICA (minggu 2-3)
  • Topik 1 — Factor Analysis: konsep, model, ekstraksi, rotasi
  • Topik 2 — Linear Discriminant Analysis: konsep, model, klasifikasi
  • Studi kasus bisnis digital & latihan mandiri
Sub-CPMK Minggu 4
  • Menjelaskan konsep & model matematis Factor Analysis
  • Menentukan jumlah faktor & menginterpretasi loading
  • Menjelaskan konsep Linear Discriminant Analysis
  • Membedakan tujuan LDA (klasifikasi) vs PCA/FA (reduksi)

Recap: Dari PCA Menuju Factor Analysis

Minggu 2
PCA/SVD: mencari kombinasi linear variabel yang memaksimalkan variansi — arah penyebaran data terbesar.
Minggu 3
ICA: memisahkan sinyal campuran menjadi komponen yang saling independen secara statistik.
Minggu 4 (Hari Ini)
Factor Analysis: mencari faktor laten yang menjelaskan korelasi antar-variabel. LDA: mencari arah yang memisahkan kelompok.
Benang merah: PCA/SVD/ICA/FA semuanya unsupervised (tanpa label kelompok) — kecuali LDA yang supervised karena butuh label kelompok sejak awal.
Topik 1
Factor Analysis

Menemukan faktor tersembunyi di balik korelasi banyak variabel

Apa Itu Factor Analysis?

Teknik statistik untuk meringkas banyak variabel terukur menjadi sedikit faktor laten (variabel tersembunyi yang tidak diukur langsung) yang menjelaskan pola korelasi di antara variabel tersebut.

Contoh Kasus
  • 20 pertanyaan survei kepuasan pengguna Tokopedia
  • Diringkas menjadi 3 faktor: Kepercayaan, Kemudahan Penggunaan, Layanan Pengiriman
Beda dengan PCA
  • PCA: meringkas variansi total, tanpa asumsi sebab-akibat
  • FA: berasumsi faktor laten menyebabkan korelasi variabel teramati (model kausal terbalik)

Model Matematis Factor Analysis

Xᵢ = λᵢ₁F₁ + λᵢ₂F₂ + ... + λᵢᶍFᶍ + εᵢ
Komponen Model
  • Xᵢ: variabel teramati ke-i (mis. skor pertanyaan survei)
  • F: faktor laten bersama (common factor)
  • λ (loading): kekuatan hubungan variabel-faktor
  • εᵢ: unique error (variansi khusus variabel itu)
Faktor FX1: KepercayaanX2: KemudahanX3: PengirimanSatu faktor laten menjelaskan pola korelasi 3 variabel teramati

Asumsi & Uji Kelayakan Data

Sebelum menjalankan Factor Analysis, data harus lolos dua uji kelayakan berikut.

KMO (Kaiser-Meyer-Olkin)
  • Mengukur kecukupan sampel & kekuatan korelasi antar-variabel
  • Nilai 0-1; ≥ 0,60 dianggap layak untuk FA
  • Contoh: survei kepuasan e-commerce dengan KMO 0,82 → sangat layak
Bartlett's Test of Sphericity
  • Menguji apakah matriks korelasi berbeda signifikan dari matriks identitas
  • Signifikan (p < 0,05) → variabel cukup berkorelasi untuk direduksi
  • Kalau tidak signifikan, FA tidak disarankan — variabel sudah "independen"
Analogi: KMO & Bartlett seperti cek kesehatan sebelum operasi — kalau data tidak layak, hasil Factor Analysis bisa menyesatkan.

Hitung dari Nol #1: Communality Variabel

Variabel "Kepuasan Layanan" punya loading λ₁=0,75 pada Faktor 1 dan λ₂=0,40 pada Faktor 2. Berapa communality (h²) dan uniqueness-nya?

LangkahPerhitunganNilai
1. Kontribusi Faktor 10,75²0,5625
2. Kontribusi Faktor 20,40²0,16
3. Communality (h²)0,5625 + 0,160,7225
4. Uniqueness (variansi unik)1 - 0,72250,2775
Communality h²
0,7225
72,25% variansi variabel "Kepuasan Layanan" dijelaskan kedua faktor bersama; sisanya 27,75% bersifat unik/error.

Coba Sendiri: Hitung Communality Variabel Anda

Geser nilai loading sebuah variabel pada tiap faktor, amati bagaimana communality dan uniqueness berubah secara langsung.

Metode Ekstraksi Faktor

Principal Axis Factoring (PAF)
  • Mirip PCA, tapi memakai estimasi communality (bukan variansi total 1,0)
  • Iteratif: perkirakan communality → ekstrak faktor → perbarui communality
  • Paling umum dipakai di riset pemasaran & sosial
Maximum Likelihood (ML)
  • Mencari parameter faktor yang paling mungkin menghasilkan data teramati
  • Memungkinkan uji signifikansi statistik (goodness-of-fit)
  • Butuh asumsi data berdistribusi normal multivariat
Kedua metode ini adalah "mesin" yang mengekstrak faktor dari matriks korelasi; hasil akhirnya tetap perlu ditentukan jumlah faktornya (slide berikutnya) sebelum diinterpretasi.

Menentukan Jumlah Faktor

Kaiser Criterion
  • Pertahankan faktor dengan eigenvalue > 1
  • Logika: faktor harus menjelaskan variansi lebih besar dari satu variabel tunggal
  • Cepat, tapi bisa terlalu banyak faktor pada data besar
1,0Scree Plot — cari "siku" (elbow): faktor 1-2 dipertahankan
Praktik terbaik: gabungkan Kaiser Criterion + Scree Plot + interpretabilitas (apakah faktornya masuk akal secara bisnis) — jangan hanya andalkan satu kriteria angka.

Coba Sendiri: Uji Eigenvalue dan Scree Plot

Ubah eigenvalue tiap faktor pada dataset simulasi, amati bagaimana Kaiser Criterion dan bentuk scree plot menentukan jumlah faktor yang dipertahankan.

Rotasi Faktor: Mempertajam Interpretasi

Rotasi tidak mengubah jumlah variansi yang dijelaskan, hanya mempertegas struktur loading agar lebih mudah diinterpretasi.

Walkthrough A — Varimax (Orthogonal)
  • Langkah 1: Sebelum rotasi, Variabel X1 punya loading medium di Faktor 1 (0,55) dan Faktor 2 (0,50) — ambigu
  • Langkah 2: Varimax memutar sumbu faktor 90° sambil menjaga faktor tetap tidak berkorelasi
  • Hasil: X1 kini loading tinggi di Faktor 1 (0,85) & rendah di Faktor 2 (0,10) — jelas
Walkthrough B — Oblique (mis. Promax)
  • Langkah 1: Dipakai kalau faktor-faktor secara konsep memang saling berkorelasi
  • Langkah 2: Faktor dibiarkan miring (tidak tegak lurus) agar sesuai realitas data
  • Contoh: "Kepercayaan" & "Loyalitas" pelanggan Shopee wajar berkorelasi → pakai oblique

Interpretasi Loading & Studi Kasus

Item SurveiFaktor 1 (Kepercayaan)Faktor 2 (Kemudahan)
Platform aman dari penipuan0,880,12
Data pribadi terlindungi0,810,15
Tampilan aplikasi intuitif0,100,79
Proses checkout cepat0,180,74
Aturan praktis: loading ≥ 0,50 dianggap "memuat kuat" ke suatu faktor. Item dengan loading kuat di satu faktor saja → interpretasi bersih dan siap diberi nama faktor.
Topik 2
Linear Discriminant Analysis

Mencari arah proyeksi terbaik untuk memisahkan kelompok data

Apa Itu Linear Discriminant Analysis?

Teknik supervised yang mencari kombinasi linear variabel untuk memaksimalkan pemisahan antar-kelompok yang sudah diketahui labelnya.

Dua Tujuan Sekaligus
  • Maksimalkan jarak antar-kelompok (between-class)
  • Minimalkan sebaran dalam kelompok (within-class)
Contoh Kasus Bisnis Digital
  • Klasifikasi nasabah: kredit lancar vs macet (skoring bank)
  • Deteksi fraud transaksi e-commerce: normal vs mencurigakan
  • Segmentasi pelanggan: churn vs loyal

Coba Sendiri: Cari Arah Proyeksi Terbaik LDA

Putar arah proyeksi pada dua kelompok data, amati kapan pemisahan antar-kelompok paling jelas sekaligus sebaran dalam kelompok paling rapat.

LDA vs PCA vs Factor Analysis

AspekPCA / SVDFactor AnalysisLDA
JenisUnsupervisedUnsupervisedSupervised
Butuh label kelompok?TidakTidakYa
Tujuan utamaMaksimalkan variansi totalJelaskan korelasi via faktor latenMaksimalkan pemisahan kelompok
OutputKomponen utamaFaktor bermaknaFungsi diskriminan
Pengingat penting: ketiganya sama-sama mereduksi dimensi secara matematis, tapi hanya LDA yang "tahu" jawaban benar (label kelompok) selama proses berlangsung.

Model Matematis LDA

Within-Class Scatter (S𝑤)

Mengukur seberapa tersebar data di dalam masing-masing kelompok terhadap rata-ratanya sendiri. Semakin kecil, semakin rapat kelompoknya.

Between-Class Scatter (S𝑏)

Mengukur seberapa jauh rata-rata antar-kelompok satu sama lain. Semakin besar, semakin terpisah kelompoknya.

Maksimalkan: J(w) = (wᵀS𝑏w) ÷ (wᵀS𝑤w)
Fisher's Criterion: cari vektor arah w yang membuat rasio "pemisahan antar-kelompok" terhadap "sebaran dalam kelompok" setinggi mungkin — itulah fungsi diskriminan.

Hitung dari Nol #2: Klasifikasi Nasabah dengan LDA Sederhana

Data historis rasio utang (DER) bank: rata-rata nasabah Lancar = 30, rata-rata nasabah Macet = 60. Nasabah baru punya DER = 50. Klasifikasi ke mana?

LangkahPerhitunganNilai
1. Rata-rata grup Lancar (μ₁)diketahui dari data historis30
2. Rata-rata grup Macet (μ₂)diketahui dari data historis60
3. Titik potong (cutoff)(30 + 60) ÷ 245
4. Bandingkan nasabah baruDER 50 > cutoff 45 → lebih dekat ke MacetKlasifikasi: Macet
Keputusan LDA
Berisiko
Nasabah dengan DER 50 diklasifikasikan mendekati kelompok Macet karena berada di atas titik potong 45 — perlu mitigasi risiko tambahan.

Coba Sendiri: Klasifikasikan Nasabah dengan LDA

Ubah rata-rata DER kelompok Lancar dan Macet serta DER nasabah baru, amati bagaimana titik potong dan hasil klasifikasi berubah.

Studi Kasus: Segmentasi Risiko Kredit Bank Digital

Garis diskriminan pemisah kelompokLancarMacet
Penerapan Nyata
  • Fintech P2P lending pakai variabel: DER, riwayat telat bayar, jumlah pinjaman aktif
  • LDA hasilkan skor tunggal → dasar keputusan approve/reject otomatis
  • Bank besar (mis. BBCA) padukan LDA dengan model lanjutan (regresi logistik, decision tree — dibahas minggu 7 & 11)
Topik 3
Sintesis: FA & LDA dalam Bisnis Digital

Kapan pakai yang mana, dan bagaimana keduanya saling melengkapi

Kapan Pakai Factor Analysis, Kapan Pakai LDA?

KondisiGunakanContoh
Tidak ada label kelompok, ingin memahami struktur dataFactor AnalysisMeringkas survei kepuasan jadi dimensi laten
Sudah ada label kelompok, tujuan klasifikasiLDAPrediksi status kredit lancar/macet
Data berdimensi sangat tinggi sebelum klasifikasiFA lalu LDA (berurutan)Ringkas 50 indikator perilaku → klasifikasi churn
Alur pipeline umum di industri: Data mentah → Factor Analysis (reduksi) → LDA (klasifikasi) → Keputusan bisnis.

Latihan & Tugas Mandiri

Latihan di Kelas (Individu, 10 menit)
  • Variabel "Loyalitas Pelanggan" punya loading 0,60 (Faktor 1) & 0,55 (Faktor 2). Hitung communality & uniqueness-nya
  • Bandingkan dengan hasil communality "Kepuasan Layanan" (0,7225) — variabel mana yang faktornya lebih menjelaskan?
Tugas Mandiri (Dikumpulkan Minggu Depan)
  • Cari 1 dataset survei/keuangan publik (mis. data OJK, BPS, atau survei kepuasan platform digital)
  • Identifikasi ≥ 6 variabel yang berpotensi punya faktor laten
  • Tuliskan hipotesis: berapa faktor yang Anda perkirakan muncul, dan mengapa
  • Format: 1-2 halaman, cantumkan sumber data
Persiapan minggu depan: baca materi Klasifikasi Tipe Pembelajaran (Unsupervised, Supervised, Semi-supervised) — LDA hari ini adalah contoh pertama teknik supervised yang akan kita perdalam.