Topik 2 — Linear Discriminant Analysis: konsep, model, klasifikasi
Studi kasus bisnis digital & latihan mandiri
Sub-CPMK Minggu 4
Menjelaskan konsep & model matematis Factor Analysis
Menentukan jumlah faktor & menginterpretasi loading
Menjelaskan konsep Linear Discriminant Analysis
Membedakan tujuan LDA (klasifikasi) vs PCA/FA (reduksi)
Recap: Dari PCA Menuju Factor Analysis
Minggu 2
PCA/SVD: mencari kombinasi linear variabel yang memaksimalkan variansi — arah penyebaran data terbesar.
Minggu 3
ICA: memisahkan sinyal campuran menjadi komponen yang saling independen secara statistik.
Minggu 4 (Hari Ini)
Factor Analysis: mencari faktor laten yang menjelaskan korelasi antar-variabel. LDA: mencari arah yang memisahkan kelompok.
Benang merah: PCA/SVD/ICA/FA semuanya unsupervised (tanpa label kelompok) — kecuali LDA yang supervised karena butuh label kelompok sejak awal.
Topik 1
Factor Analysis
Menemukan faktor tersembunyi di balik korelasi banyak variabel
Apa Itu Factor Analysis?
Teknik statistik untuk meringkas banyak variabel terukur menjadi sedikit faktor laten (variabel tersembunyi yang tidak diukur langsung) yang menjelaskan pola korelasi di antara variabel tersebut.
Contoh Kasus
20 pertanyaan survei kepuasan pengguna Tokopedia
Diringkas menjadi 3 faktor: Kepercayaan, Kemudahan Penggunaan, Layanan Pengiriman
Beda dengan PCA
PCA: meringkas variansi total, tanpa asumsi sebab-akibat
FA: berasumsi faktor laten menyebabkan korelasi variabel teramati (model kausal terbalik)
Model Matematis Factor Analysis
Xᵢ = λᵢ₁F₁ + λᵢ₂F₂ + ... + λᵢᶍFᶍ + εᵢ
Komponen Model
Xᵢ: variabel teramati ke-i (mis. skor pertanyaan survei)
F: faktor laten bersama (common factor)
λ (loading): kekuatan hubungan variabel-faktor
εᵢ: unique error (variansi khusus variabel itu)
Asumsi & Uji Kelayakan Data
Sebelum menjalankan Factor Analysis, data harus lolos dua uji kelayakan berikut.
KMO (Kaiser-Meyer-Olkin)
Mengukur kecukupan sampel & kekuatan korelasi antar-variabel
Nilai 0-1; ≥ 0,60 dianggap layak untuk FA
Contoh: survei kepuasan e-commerce dengan KMO 0,82 → sangat layak
Bartlett's Test of Sphericity
Menguji apakah matriks korelasi berbeda signifikan dari matriks identitas
Signifikan (p < 0,05) → variabel cukup berkorelasi untuk direduksi
Kalau tidak signifikan, FA tidak disarankan — variabel sudah "independen"
Analogi: KMO & Bartlett seperti cek kesehatan sebelum operasi — kalau data tidak layak, hasil Factor Analysis bisa menyesatkan.
Hitung dari Nol #1: Communality Variabel
Variabel "Kepuasan Layanan" punya loading λ₁=0,75 pada Faktor 1 dan λ₂=0,40 pada Faktor 2. Berapa communality (h²) dan uniqueness-nya?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Kontribusi Faktor 1
0,75²
0,5625
2. Kontribusi Faktor 2
0,40²
0,16
3. Communality (h²)
0,5625 + 0,16
0,7225
4. Uniqueness (variansi unik)
1 - 0,7225
0,2775
Communality h²
0,7225
72,25% variansi variabel "Kepuasan Layanan" dijelaskan kedua faktor bersama; sisanya 27,75% bersifat unik/error.
Coba Sendiri: Hitung Communality Variabel Anda
Geser nilai loading sebuah variabel pada tiap faktor, amati bagaimana communality dan uniqueness berubah secara langsung.
Metode Ekstraksi Faktor
Principal Axis Factoring (PAF)
Mirip PCA, tapi memakai estimasi communality (bukan variansi total 1,0)
Mencari parameter faktor yang paling mungkin menghasilkan data teramati
Memungkinkan uji signifikansi statistik (goodness-of-fit)
Butuh asumsi data berdistribusi normal multivariat
Kedua metode ini adalah "mesin" yang mengekstrak faktor dari matriks korelasi; hasil akhirnya tetap perlu ditentukan jumlah faktornya (slide berikutnya) sebelum diinterpretasi.
Menentukan Jumlah Faktor
Kaiser Criterion
Pertahankan faktor dengan eigenvalue > 1
Logika: faktor harus menjelaskan variansi lebih besar dari satu variabel tunggal
Cepat, tapi bisa terlalu banyak faktor pada data besar
Praktik terbaik: gabungkan Kaiser Criterion + Scree Plot + interpretabilitas (apakah faktornya masuk akal secara bisnis) — jangan hanya andalkan satu kriteria angka.
Coba Sendiri: Uji Eigenvalue dan Scree Plot
Ubah eigenvalue tiap faktor pada dataset simulasi, amati bagaimana Kaiser Criterion dan bentuk scree plot menentukan jumlah faktor yang dipertahankan.
Rotasi Faktor: Mempertajam Interpretasi
Rotasi tidak mengubah jumlah variansi yang dijelaskan, hanya mempertegas struktur loading agar lebih mudah diinterpretasi.
Walkthrough A — Varimax (Orthogonal)
Langkah 1: Sebelum rotasi, Variabel X1 punya loading medium di Faktor 1 (0,55) dan Faktor 2 (0,50) — ambigu
Langkah 2: Varimax memutar sumbu faktor 90° sambil menjaga faktor tetap tidak berkorelasi
Hasil: X1 kini loading tinggi di Faktor 1 (0,85) & rendah di Faktor 2 (0,10) — jelas
Walkthrough B — Oblique (mis. Promax)
Langkah 1: Dipakai kalau faktor-faktor secara konsep memang saling berkorelasi
Langkah 2: Faktor dibiarkan miring (tidak tegak lurus) agar sesuai realitas data
Aturan praktis: loading ≥ 0,50 dianggap "memuat kuat" ke suatu faktor. Item dengan loading kuat di satu faktor saja → interpretasi bersih dan siap diberi nama faktor.
Topik 2
Linear Discriminant Analysis
Mencari arah proyeksi terbaik untuk memisahkan kelompok data
Apa Itu Linear Discriminant Analysis?
Teknik supervised yang mencari kombinasi linear variabel untuk memaksimalkan pemisahan antar-kelompok yang sudah diketahui labelnya.
Dua Tujuan Sekaligus
Maksimalkan jarak antar-kelompok (between-class)
Minimalkan sebaran dalam kelompok (within-class)
Contoh Kasus Bisnis Digital
Klasifikasi nasabah: kredit lancar vs macet (skoring bank)
Deteksi fraud transaksi e-commerce: normal vs mencurigakan
Segmentasi pelanggan: churn vs loyal
Coba Sendiri: Cari Arah Proyeksi Terbaik LDA
Putar arah proyeksi pada dua kelompok data, amati kapan pemisahan antar-kelompok paling jelas sekaligus sebaran dalam kelompok paling rapat.
LDA vs PCA vs Factor Analysis
Aspek
PCA / SVD
Factor Analysis
LDA
Jenis
Unsupervised
Unsupervised
Supervised
Butuh label kelompok?
Tidak
Tidak
Ya
Tujuan utama
Maksimalkan variansi total
Jelaskan korelasi via faktor laten
Maksimalkan pemisahan kelompok
Output
Komponen utama
Faktor bermakna
Fungsi diskriminan
Pengingat penting: ketiganya sama-sama mereduksi dimensi secara matematis, tapi hanya LDA yang "tahu" jawaban benar (label kelompok) selama proses berlangsung.
Model Matematis LDA
Within-Class Scatter (S𝑤)
Mengukur seberapa tersebar data di dalam masing-masing kelompok terhadap rata-ratanya sendiri. Semakin kecil, semakin rapat kelompoknya.
Between-Class Scatter (S𝑏)
Mengukur seberapa jauh rata-rata antar-kelompok satu sama lain. Semakin besar, semakin terpisah kelompoknya.
Maksimalkan: J(w) = (wᵀS𝑏w) ÷ (wᵀS𝑤w)
Fisher's Criterion: cari vektor arah w yang membuat rasio "pemisahan antar-kelompok" terhadap "sebaran dalam kelompok" setinggi mungkin — itulah fungsi diskriminan.
Hitung dari Nol #2: Klasifikasi Nasabah dengan LDA Sederhana
Data historis rasio utang (DER) bank: rata-rata nasabah Lancar = 30, rata-rata nasabah Macet = 60. Nasabah baru punya DER = 50. Klasifikasi ke mana?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Rata-rata grup Lancar (μ₁)
diketahui dari data historis
30
2. Rata-rata grup Macet (μ₂)
diketahui dari data historis
60
3. Titik potong (cutoff)
(30 + 60) ÷ 2
45
4. Bandingkan nasabah baru
DER 50 > cutoff 45 → lebih dekat ke Macet
Klasifikasi: Macet
Keputusan LDA
Berisiko
Nasabah dengan DER 50 diklasifikasikan mendekati kelompok Macet karena berada di atas titik potong 45 — perlu mitigasi risiko tambahan.
Coba Sendiri: Klasifikasikan Nasabah dengan LDA
Ubah rata-rata DER kelompok Lancar dan Macet serta DER nasabah baru, amati bagaimana titik potong dan hasil klasifikasi berubah.
Studi Kasus: Segmentasi Risiko Kredit Bank Digital
Penerapan Nyata
Fintech P2P lending pakai variabel: DER, riwayat telat bayar, jumlah pinjaman aktif
LDA hasilkan skor tunggal → dasar keputusan approve/reject otomatis
Bank besar (mis. BBCA) padukan LDA dengan model lanjutan (regresi logistik, decision tree — dibahas minggu 7 & 11)
Topik 3
Sintesis: FA & LDA dalam Bisnis Digital
Kapan pakai yang mana, dan bagaimana keduanya saling melengkapi
Kapan Pakai Factor Analysis, Kapan Pakai LDA?
Kondisi
Gunakan
Contoh
Tidak ada label kelompok, ingin memahami struktur data
Factor Analysis
Meringkas survei kepuasan jadi dimensi laten
Sudah ada label kelompok, tujuan klasifikasi
LDA
Prediksi status kredit lancar/macet
Data berdimensi sangat tinggi sebelum klasifikasi
FA lalu LDA (berurutan)
Ringkas 50 indikator perilaku → klasifikasi churn
Alur pipeline umum di industri: Data mentah → Factor Analysis (reduksi) → LDA (klasifikasi) → Keputusan bisnis.
Bandingkan dengan hasil communality "Kepuasan Layanan" (0,7225) — variabel mana yang faktornya lebih menjelaskan?
Tugas Mandiri (Dikumpulkan Minggu Depan)
Cari 1 dataset survei/keuangan publik (mis. data OJK, BPS, atau survei kepuasan platform digital)
Identifikasi ≥ 6 variabel yang berpotensi punya faktor laten
Tuliskan hipotesis: berapa faktor yang Anda perkirakan muncul, dan mengapa
Format: 1-2 halaman, cantumkan sumber data
Persiapan minggu depan: baca materi Klasifikasi Tipe Pembelajaran (Unsupervised, Supervised, Semi-supervised) — LDA hari ini adalah contoh pertama teknik supervised yang akan kita perdalam.