‹ Daftar slidePertemuan 7: Impor, Ekspor, dan Sourcing — mengidentifikasi proses dan strategi impor-ekspor-sourcing dalam pemasaran global
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP · Pemasaran Internasional
Impor, Ekspor, dan Sourcing
Pertemuan 7 · Mengidentifikasi Proses dan Strategi Impor-Ekspor-Sourcing dalam Pemasaran Global
Dari kontrak dagang, dokumen kepabeanan, sampai memilih pemasok lintas negara — jalur konkret perusahaan menembus pasar dunia.
RPS minggu 7 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mengidentifikasi proses dan strategi impor-ekspor-sourcing dalam pemasaran global (Sub-CPMK Minggu 7):
Capaian 1 — Motif & Tahapan
①
Menjelaskan motif perusahaan melakukan ekspor (proaktif vs reaktif) dan tahapan evolusi keterlibatannya dari tidak langsung menuju langsung.
Capaian 2 — Proses & Dokumen
②
Mengidentifikasi alur proses dan dokumen kunci ekspor-impor, termasuk aturan Incoterms (FOB, CIF, EXW).
Capaian 3 — Perhitungan Biaya
③
Menghitung harga jual ekspor (FOB/CIF) dan total landed cost impor secara berjenjang dan dapat diverifikasi.
Capaian 4 — Strategi Sourcing
④
Merancang strategi sourcing global (in-house vs outsourcing, domestik vs global) dan mengenali instrumen mitigasi risikonya.
Tiga Wajah Impor-Ekspor-Sourcing di Sekitar Anda
Proses ini bukan teori jauh — ia terjadi setiap hari di balik produk yang Anda pakai:
Wajah 1 — Ekspor UMKM
☕
Petani kopi Gayo di Aceh mengekspor biji kopi ke roastery Belanda lewat eksportir lokal — butuh kontrak, dokumen kepabeanan, dan pengapalan.
Wajah 2 — Impor Bahan Baku
📦
Penjual di Tokopedia mengimpor aksesori ponsel dari Guangzhou; harus bayar bea masuk, PPN impor, dan PPh Pasal 22 sebelum barang keluar pelabuhan.
Wajah 3 — Sourcing Global
🌏
Merek fesyen memilih pabrik konveksi di Vietnam alih-alih Indonesia karena biaya tenaga kerja lebih murah — keputusan sourcing lintas negara.
Ketiga wajah ini bertemu di satu pertanyaan: bagaimana barang, dokumen, dan uang berpindah melewati batas negara secara sah dan efisien? Itulah yang kita bedah hari ini.
Bagian 1 dari 4
Mengapa Perusahaan Melakukan Ekspor?
Posisi impor-ekspor-sourcing dalam strategi masuk pasar global, motif proaktif dan reaktif, serta tahapan evolusi keterlibatan ekspor yang biasanya bertahap.
Motif EksporEntry ModeEvolusi Bertahap
Impor-Ekspor-Sourcing dalam Peta Strategi Masuk Pasar
Ekspor-impor adalah entry mode paling sederhana dan paling banyak dipakai — modal dan risiko lebih rendah dibanding lisensi, aliansi, atau investasi langsung yang akan kita bahas pertemuan berikutnya.
Ekspor & Impor — Definisi Kerja
Ekspor: menjual barang/jasa produksi dalam negeri ke pembeli di negara lain. Impor: membeli barang/jasa dari luar negeri untuk dipakai atau dijual kembali di dalam negeri. Keduanya melibatkan pemindahan lintas batas negara yang diatur bea cukai.
Sourcing — Definisi Kerja
Sourcing (pengadaan): proses mencari, mengevaluasi, dan menetapkan pemasok bahan baku atau produk jadi — bisa dari domestik maupun global, diproduksi sendiri (in-house) atau dialihdayakan (outsourcing).
Perhatikan urutan logisnya: perusahaan bisa jadi eksportir (menjual ke luar), importir (membeli dari luar untuk dijual di dalam negeri), atau keduanya sekaligus lewat sourcing global untuk memasok bahan baku produksinya sendiri.
Motif Ekspor: Proaktif vs Reaktif
Mengapa perusahaan mulai mengekspor? Motifnya terbagi dua kelompok besar:
Motif Proaktif — Digerakkan Peluang
🚀
Mengejar skala ekonomi & pertumbuhan laba
Keunggulan produk/teknologi unik
Informasi peluang pasar dari riset
Komitmen manajemen puncak yang kuat
Motif Reaktif — Merespons Tekanan
⚠
Pasar domestik jenuh/menyusut
Kapasitas produksi berlebih
Ada pesanan tak terduga dari luar negeri
Mengikuti langkah pesaing yang lebih dulu ekspor
Perusahaan bermotif proaktif umumnya lebih siap dan berkomitmen jangka panjang; yang bermotif reaktif berisiko keluar dari pasar ekspor begitu tekanan hilang.
Tahapan Evolusi Keterlibatan Ekspor
Keterlibatan ekspor jarang langsung penuh — umumnya berkembang bertahap seiring pengalaman. Ikuti alurnya:
Tahap
Ciri Keterlibatan
Contoh
1Tidak Ada Ekspor
Fokus penuh pasar domestik; belum ada niat keluar negeri.
UMKM keripik yang baru jual di pasar lokal Semarang.
2Ekspor Tidak Langsung
Menjual lewat perantara (trading house/eksportir) tanpa kontak langsung ke pembeli luar negeri.
Petani kopi jual ke eksportir lokal yang mengurus dokumen ke Belanda.
3Ekspor Langsung
Perusahaan mengurus sendiri dokumen, kontrak, dan distributor di negara tujuan.
Produsen mebel Jepara membuka kontak langsung dengan importir Jerman.
4Kehadiran Lebih Dalam
Membuka kantor perwakilan/anak usaha di negara tujuan (di luar cakupan minggu ini — masuk ranah entry mode lanjutan).
Perusahaan kopi membuka kantor pemasaran di Rotterdam.
Semakin ke bawah tabel, semakin besar komitmen sumber daya dan kendali perusahaan atas pasar luar negeri — tetapi juga semakin besar risikonya.
Bagian 2 dari 4
Proses & Dokumen Ekspor
Alur konkret sebuah transaksi ekspor, dokumen kunci yang wajib disiapkan, aturan Incoterms, hingga cara menghitung harga jual FOB dan CIF langkah demi langkah.
Dokumen EksporIncotermsHitung Harga
Alur Proses Ekspor: Dari Kontrak Sampai Pelabuhan Tujuan
Satu transaksi ekspor melewati lima simpul utama sebelum barang sampai ke pembeli luar negeri:
Sebelum kirim: kontrak jual-beli disepakati, pembayaran diamankan lewat Letter of Credit (L/C) atau metode lain.
Titik kritis: Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) wajib disetujui Bea Cukai sebelum barang naik kapal.
Setelah kirim: dokumen pengapalan diserahkan ke bank/pembeli agar pembayaran cair sesuai skema yang disepakati.
Dokumen Kunci dalam Transaksi Ekspor
Empat dokumen ini paling sering menjadi syarat wajib pencairan pembayaran dan kelancaran bea cukai:
PEB
Pemberitahuan Ekspor Barang — dokumen resmi ke Bea Cukai yang berisi rincian barang, nilai, dan tujuan ekspor. Wajib disetujui sebelum barang dimuat ke kapal.
L/C
Letter of Credit — jaminan pembayaran dari bank pembeli kepada eksportir; pembayaran cair begitu eksportir menyerahkan dokumen pengapalan yang sesuai syarat.
Packing List
Rincian isi kemasan (jumlah, berat, dimensi tiap kotak/peti) — dipakai Bea Cukai dan pembeli untuk mencocokkan fisik barang dengan dokumen.
COO
Certificate of Origin — surat keterangan asal barang, sering dibutuhkan agar pembeli memperoleh tarif bea masuk preferensial (mis. lewat skema AFTA/ASEAN).
Dokumen yang tidak lengkap atau tidak konsisten (nama barang, nilai, berat) adalah penyebab paling umum tertundanya pencairan L/C dan barang tertahan di pelabuhan.
Incoterms: Siapa Menanggung Biaya dan Risiko?
Incoterms (International Commercial Terms) adalah aturan baku internasional yang menetapkan titik peralihan biaya dan risiko dari penjual ke pembeli. Tiga istilah paling umum:
Istilah
Tanggung Jawab Penjual (Eksportir)
Titik Peralihan ke Pembeli
EXW (Ex Works)
Menyediakan barang di gudang/pabrik saja
Segera setelah barang tersedia di pabrik — pembeli urus sisanya
FOB (Free On Board)
Biaya sampai barang naik ke atas kapal di pelabuhan asal
Begitu barang melewati pagar kapal (on board)
CIF (Cost, Insurance, Freight)
Biaya barang + asuransi + ongkos kirim sampai pelabuhan tujuan
Risiko tetap berpindah saat naik kapal; biaya ditanggung penjual sampai tujuan
Kunci membaca Incoterms: FOB dan CIF sama-sama memindahkan risiko saat barang naik kapal — bedanya hanya siapa yang membayar ongkos kirim dan asuransi sesudahnya.
Coba Sendiri: Geser Titik Peralihan Risiko Incoterms
Pilih Incoterm (EXW, FOB, CIF) dan lihat diagram titik peralihan biaya serta risiko dari penjual ke pembeli berubah.
Hitung dari Nol — HDN-1: Harga Jual Ekspor FOB & CIF
PT Batik Nusantara mengekspor 500 lembar kain batik ke Hamburg, Jerman. Hitung harga jual berjenjang dari HPP sampai CIF final.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Harga Pokok Produksi (HPP) total
500 lembar × Rp150.000
Rp75.000.000
2. Margin keuntungan 20%
20% × Rp75.000.000
Rp15.000.000
3. Harga Ex Works (di pabrik)
Rp75.000.000 + Rp15.000.000
Rp90.000.000
4. + Biaya angkut ke pelabuhan
Rp90.000.000 + Rp3.000.000
Rp93.000.000 (= FOB)
5. + Ongkos kirim laut (freight) ke Hamburg
Rp93.000.000 + Rp12.000.000
Rp105.000.000
6. + Premi asuransi (0,5%)
0,5% × Rp105.000.000
Rp525.000
7. Harga jual CIF final
Rp105.000.000 + Rp525.000
Rp105.525.000
Selisih FOB ke CIF (Rp93.000.000 → Rp105.525.000) adalah ongkos kirim + asuransi yang, dalam skema CIF, ditanggung penjual — bukan komponen keuntungan tambahan.
Coba Sendiri: Susun Harga Jual dari HPP sampai CIF
Ubah HPP, margin, biaya angkut, freight, dan premi asuransi untuk melihat harga berjenjang dari Ex Works sampai CIF final.
Studi Kasus Kilat: Siapa Menanggung Kalau Kapal Karam?
Kerjakan berpasangan (5 menit). Kapal pengangkut kain batik PT Batik Nusantara tenggelam di tengah laut sebelum tiba di Hamburg.
Pertanyaan
Kalau transaksi memakai FOB, siapa menanggung kerugian barang?
Kalau transaksi memakai CIF, siapa yang harus mengajukan klaim asuransi?
Apa peran Certificate of Origin dalam kasus ini — hilang bersama kapal, apa dampaknya?
Panduan Jawaban (buka setelah diskusi)
Baik FOB maupun CIF: risiko sudah berpindah ke pembeli begitu barang naik kapal. Pada CIF, penjual yang membelikan polis asuransi, tetapi pembeli sebagai pemegang risiko yang mengajukan klaimnya. COO yang hilang perlu diterbitkan ulang oleh instansi penerbit agar bea masuk preferensial tetap berlaku pada pengiriman pengganti.
Bagian 3 dari 4
Proses Impor & Total Landed Cost
Alur dan dokumen impor di sisi Indonesia, serta cara menghitung total biaya sesungguhnya yang harus ditanggung importir setelah bea masuk dan pajak.
PIBBea MasukLanded Cost
Alur Proses Impor & Dokumen Kunci
PIB
Pemberitahuan Impor Barang — dokumen wajib ke Bea Cukai berisi nilai pabean (CIF), kode HS barang, dan perhitungan pajak-bea yang harus dibayar.
SPPB
Surat Persetujuan Pengeluaran Barang — izin akhir Bea Cukai yang membolehkan barang keluar dari kawasan pelabuhan setelah semua pungutan lunas.
Hitung dari Nol — HDN-2: Total Landed Cost Impor
Importir elektronik membeli barang senilai USD 10.000 (CIF Jakarta), kurs Rp15.800/USD, memiliki API (Angka Pengenal Importir). Hitung total biaya sesungguhnya.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Nilai pabean (CIF dalam Rupiah)
USD10.000 × Rp15.800
Rp158.000.000
2. Bea Masuk (10%)
10% × Rp158.000.000
Rp15.800.000
3. Nilai impor (pabean + bea masuk)
Rp158.000.000 + Rp15.800.000
Rp173.800.000
4. PPN impor (11% efektif, PMK 131/2024)
11% × Rp173.800.000
Rp19.118.000
5. PPh Pasal 22 impor (2,5%, pemilik API)
2,5% × Rp173.800.000
Rp4.345.000
6. Biaya kepabeanan & handling pelabuhan
flat
Rp2.500.000
7. Total landed cost
jumlah langkah 3+4+5+6
Rp199.763.000
Total landed cost (~Rp199,8 juta) 26,4% lebih mahal dari nilai pabean awal (Rp158 juta) — inilah sebabnya menghitung landed cost, bukan cuma harga faktur, wajib sebelum memutuskan impor.
Coba Sendiri: Hitung Total Landed Cost Impor Anda
Ubah nilai CIF, kurs, tarif bea masuk, dan status API, lalu amati bagaimana total landed cost membengkak dari nilai pabean awal.
Strategi Sourcing Global: Dua Sumbu Keputusan
Perusahaan menghadapi dua keputusan sourcing yang saling terpisah namun berkaitan. Ikuti logikanya bertahap:
Langkah Berpikir
Pertanyaan Kunci
Pilihan
1Siapa yang memproduksi?
Apakah perusahaan membangun pabrik sendiri, atau menyerahkan produksi ke pihak lain?
In-house vs Outsourcing
2Di mana lokasinya?
Apakah pemasok/pabrik berada di dalam negeri atau di luar negeri?
Domestik vs Global
3Kombinasi umum industri fesyen
Merek besar sering memilih kombinasi mana untuk menekan biaya tenaga kerja?
Outsourcing + Global (mis. pabrik konveksi mitra di Vietnam/Bangladesh)
4Kombinasi umum industri teknologi presisi tinggi
Mengapa perusahaan chip semikonduktor cenderung tetap produksi sendiri?
Empat kombinasi dari dua sumbu ini (in-house/outsourcing × domestik/global) adalah kerangka dasar untuk menganalisis mengapa sebuah perusahaan memilih struktur rantai pasoknya.
Kriteria Pemilihan Pemasok (Sourcing) Global
Sebelum menandatangani kontrak dengan pemasok luar negeri, evaluasi minimal lima kriteria berikut:
Kriteria Biaya & Kualitas
Total biaya (bukan cuma harga satuan) — termasuk landed cost & risiko nilai tukar
Kapasitas & ketepatan waktu pengiriman (lead time)
Stabilitas politik & regulasi negara asal pemasok
Kemudahan komunikasi (bahasa, zona waktu, budaya bisnis)
Prinsip praktis: jangan hanya bandingkan harga per unit — pemasok termurah bisa jadi termahal setelah menghitung landed cost, keterlambatan, dan risiko gagal kirim.
Instrumen Trade Finance & Manajemen Risiko
Karena jarak, waktu, dan mata uang berbeda, transaksi impor-ekspor butuh instrumen pembayaran dan mitigasi risiko khusus:
Instrumen
Cara Kerja
Tingkat Keamanan bagi Eksportir
L/C (Letter of Credit)
Bank pembeli menjamin pembayaran begitu dokumen pengapalan sesuai syarat
Tinggi — risiko gagal bayar rendah
D/P (Documents against Payment)
Dokumen diserahkan ke pembeli hanya setelah pembeli membayar penuh
Sedang
D/A (Documents against Acceptance)
Dokumen diserahkan setelah pembeli menandatangani janji bayar bertenggang waktu
Lebih rendah — bergantung kepercayaan
T/T (Telegraphic Transfer)
Transfer bank langsung, biasanya sebagian di muka dan sisanya saat kirim
Bergantung porsi pembayaran di muka
Risiko lain yang wajib dimitigasi: fluktuasi nilai tukar (lewat kontrak forward/hedging), keterlambatan logistik, dan perubahan tarif/regulasi mendadak di negara tujuan.
Coba Sendiri: Telusuri Alur Letter of Credit Selangkah demi Selangkah
Klik tiap tahap alur L/C dari pembukaan sampai pencairan dana untuk melihat siapa berbuat apa dan dokumen apa yang berpindah tangan.
Latihan Terapan & Ringkasan Pertemuan 7
Tugas Individu (dikumpulkan minggu depan)
Pilih satu produk UMKM lokal Semarang (mis. lumpia, batik, jamu) yang berpotensi ekspor
Tentukan skema Incoterms yang sesuai (FOB/CIF) beserta alasannya
Hitung estimasi harga jual ekspor memakai format HDN-1
Identifikasi 3 dokumen ekspor yang wajib disiapkan
Cara menghitung harga ekspor (FOB/CIF) & landed cost impor
Strategi sourcing global & instrumen mitigasi risiko
Pertemuan berikutnya (Minggu 8): Strategi Masuk Pasar Internasional — lisensi, investasi langsung, dan aliansi strategis, melanjutkan dari entry mode paling sederhana yang baru kita pelajari hari ini.