stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-10
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 10: Analisis Fundamental: Ekonomi, Industri, dan Perusahaan
FEB UNDIP · Pasar Keuangan

Pasar Keuangan

Pertemuan 10 · Analisis Fundamental

Bagaimana cara menaksir nilai wajar sebuah saham dari kondisi ekonomi, industri, dan kinerja perusahaan — lalu memutuskan: murah atau mahal?

RPS Minggu 11 · Sub-CPMK 11 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan konsep Analisis Fundamental dan fungsinya dalam menilai surat berharga (Sub-CPMK 11). Secara rinci:

Capaian 1 — Top-Down
1
Ekonomi → Industri → Perusahaan
Menjelaskan logika pendekatan top-down dan menyebut minimal tiga variabel makro serta tiga faktor industri yang relevan.
Capaian 2 — DDM
2
Model Diskonto Dividen
Menghitung nilai intrinsik via model Gordon Growth dan menyimpulkan undervalued / overvalued terhadap harga pasar.
Capaian 3 — PER & Rasio
3
EPS · ROE · PER · PBV
Menghitung target harga (PER) serta EPS, ROE, PBV dari laporan keuangan ringkas tanpa kesalahan aritmetika.
Capaian 4 — Konteks
4
Fundamental vs Teknikal & EMH
Membedakan analisis fundamental dan teknikal serta menjelaskan kaitannya dengan hipotesis pasar efisien.

Saham yang "Bagus" Belum Tentu Saham yang "Murah"

Dua investor melihat saham yang sama. Siapa yang berpikir benar?

Investor A — Ikut Tren
😕
"Harganya lagi naik terus, perusahaannya terkenal — pasti untung kalau ikut beli." Tidak ada perhitungan, hanya ikut arus harga.
Investor B — Analis Fundamental
"Saya hitung dulu nilai wajarnya. Kalau harga pasar di bawah nilai wajar, baru saya beli." Keputusan berbasis angka.
Inti analisis fundamental: yang menentukan keputusan beli bukan arah harga, tetapi selisih harga pasar vs nilai wajar. Hari ini kita belajar menghitung nilai wajar itu secara sistematis — dari kondisi ekonomi hingga laporan keuangan perusahaan.

Dua Aliran Analisis — dan Apa Kata Teori Pasar Efisien

Analisis Fundamental
Nilai
Investor jangka menengah–panjang
Menaksir nilai wajar dari faktor mendasar: ekonomi, industri, laporan keuangan. Pertanyaan: "Berapa nilai sebenarnya saham ini?"
Analisis Teknikal
Pola
Trader jangka pendek
Membaca pola pergerakan harga & volume masa lalu (grafik, indikator) untuk menebak arah harga. Pertanyaan: "Kapan masuk/keluar?"
Hipotesis Pasar Efisien (EMH, Fama 1970): jika harga sudah mencerminkan semua informasi publik, sulit konsisten mengalahkan pasar. Implikasinya, analisis fundamental yang berharga harus menemukan wawasan yang belum dihargai pasar — bukan sekadar mengulang apa yang sudah diketahui semua orang.
Bagian 1 dari 4
Pendekatan Top-Down
Mengapa analisis yang baik bergerak dari atas ke bawah — kondisi ekonomi dulu, lalu industri, baru perusahaan.
Ekonomi Industri Perusahaan

Tiga Lapis Analisis Top-Down

EKONOMI (MAKRO)PDB · Inflasi · BI-RateNilai Tukar · SiklusINDUSTRIStruktur · Daur HidupRegulasi SektorPERUSAHAANRasio · EPS · ROENilai Intrinsik

Corong menyempit dari gambaran besar ke detail perusahaan:

Lapis 1 — Ekonomi
Iklim bagi semua perusahaan: PDB tumbuh, inflasi, BI-Rate, kurs rupiah, dan posisi siklus ekonomi. Kondisi makro memengaruhi semua saham sekaligus.
Lapis 2 — Industri
Ladang tempat perusahaan beroperasi: seberapa ketat persaingan, di fase apa daur hidupnya, dan bagaimana regulasi sektornya.
Lapis 3 — Perusahaan
Kinerja konkret: rasio keuangan, laba per saham, pertumbuhan — diterjemahkan menjadi nilai intrinsik.
Analogi: Ekonomi = iklim · Industri = ladang · Perusahaan = panen. Saham yang baik butuh ketiganya mendukung.
Bagian 2 dari 4
Analisis Ekonomi & Industri
Variabel makro yang menggerakkan pasar — dan cara membaca struktur, daur hidup, serta regulasi sebuah industri.

Analisis Ekonomi — Lima Variabel Makro Utama

VariabelSumber DataMengapa Penting bagi Saham
Pertumbuhan PDBBPSPDB tumbuh → laba perusahaan cenderung naik → harga saham naik
InflasiBPSInflasi tinggi → biaya naik, daya beli turun, BI naikkan bunga
Suku Bunga (BI-Rate)Bank IndonesiaBunga naik → biaya modal naik & PV arus kas turun → harga saham tertekan
Nilai Tukar (Kurs Rp)Bank IndonesiaRupiah melemah → untung eksportir, beban importir / utang USD
Siklus EkonomiBPS / BIPosisi ekspansi vs resesi menentukan sektor mana yang diuntungkan
Investor profesional memantau rilis BPS (inflasi, PDB) dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI-Rate) seperti olahragawan memantau cuaca pertandingan. Data tersedia gratis di bps.go.id dan bi.go.id.

Mengapa Naiknya Suku Bunga Menekan Harga Saham

Harga saham = nilai sekarang dari arus kas (dividen) masa depan. Suku bunga adalah "penyebut" yang mendiskon arus kas itu.

P₀ = D₁ ÷ (k − g)  ·  k naik → penyebut (k − g) membesar → P₀ turun
Bunga Naik
↑k → ↓P
Biaya modal (k) naik → PV arus kas masa depan turun → harga saham tertekan. Obligasi jadi alternatif lebih menarik → dana keluar dari saham.
Bunga Turun
↓k → ↑P
k turun → PV arus kas naik → harga saham terangkat. Dana mencari imbal hasil lebih tinggi → mengalir masuk ke saham.
Inilah alasan pasar saham sangat sensitif terhadap keputusan BI-Rate. Saat BI menaikkan bunga, sektor yang banyak berutang (properti, infrastruktur) biasanya paling terpukul.

Siklus Ekonomi: Sektor Mana yang Diuntungkan?

EkspansiPuncakKontraksiPemulihanSiklus Ekonomi (konseptual)
Sektor Siklikal
Ikut Siklus
Sangat sensitif — otomotif (ASII), properti, bahan baku/tambang. Melonjak saat ekspansi, anjlok saat resesi.
Sektor Defensif
Stabil
Relatif tahan banting — konsumer pokok (UNVR, ICBP), kesehatan, utilitas. Orang tetap beli sabun & makan walau ekonomi lesu.
Saat ekonomi diperkirakan melambat, analis geser ke sektor defensif; saat pulih, ke sektor siklikal. Inilah penerapan praktis analisis makro.

Analisis Industri — Tiga Hal yang Diperiksa

1 · Struktur & Persaingan
Siapa?
Berapa banyak pemain? Industri dengan persaingan ketat menekan margin; yang terkonsentrasi (sedikit pemain besar) lebih menguntungkan.
2 · Daya Tawar
Kuasa?
Seberapa kuat posisi terhadap pemasok & pembeli? Hambatan masuk tinggi (modal besar, izin) melindungi pemain lama.
3 · Regulasi Sektor
Aturan?
Industri diatur ketat — bank (OJK), telekomunikasi, energi — menghadapi risiko sekaligus peluang dari kebijakan pemerintah.
Pertanyaan inti: di industri ini, apakah perusahaan bisa mempertahankan laba tinggi dalam jangka panjang, atau persaingan akan menggerusnya?

Daur Hidup Industri & Klasifikasi Sektor BEI

PerintisPertumbuhanMatangMenurunWaktu →
FaseCiriImplikasi Saham
PerintisPenjualan kecil, risiko tinggiSpekulatif, belum tentu untung
PertumbuhanPenjualan & laba melonjakg tinggi, PER tinggi wajar
MatangStabil, pasar jenuhDividen besar, g rendah
MenurunPenjualan turunHindari kecuali harga ekstrem murah
Di BEI, emiten dikelompokkan dalam IDX Industrial Classification (IDX-IC) — 11 sektor (mis. Financials, Consumer Non-Cyclicals, Energy). Klasifikasi ini membantu membandingkan perusahaan dengan sektornya yang setara.
Bagian 3 dari 4
Analisis Perusahaan
Dari laporan keuangan ke nilai intrinsik — rasio kunci (EPS, ROE, PER, PBV) lalu dua model penilaian: diskonto dividen & pengali laba.
P₀ = D₁ ÷ (k − g)

Empat Rasio Kunci untuk Menilai Saham

RasioRumusMembaca Apa
EPS — Laba per SahamLaba bersih ÷ jumlah sahamBerapa laba "milik" tiap lembar saham
ROE — Imbal Hasil EkuitasLaba bersih ÷ ekuitasSeberapa efisien modal pemegang saham menghasilkan laba
PER — Pengali LabaHarga ÷ EPSBerapa kali laba yang dibayar investor; "harga per Rp 1 laba"
PBV — Pengali Nilai BukuHarga ÷ BVPSBerapa kali nilai buku yang dibayar; <1 = di bawah nilai buku
Kinerja (internal): EPS & ROE mengukur seberapa baik perusahaan menghasilkan laba dari modal yang tersedia.
Valuasi (eksternal): PER & PBV mengukur apakah harga pasar wajar relatif terhadap laba/aset. Keduanya dipakai bersama.

Hitung dari Nol — HDN-1: Rasio dari Laporan Keuangan

Sebuah emiten (ilustrasi) melaporkan: laba bersih Rp 1,4 triliun, ekuitas Rp 8 triliun, 4 miliar lembar saham beredar, harga pasar Rp 4.200/lembar. Hitung EPS, ROE, BVPS, PBV, PER.

LangkahPerhitunganNilai
EPSRp 1.400 miliar ÷ 4 miliar lembarRp 350
ROERp 1.400 miliar ÷ Rp 8.000 miliar17,5%
BVPS (nilai buku/lbr)Rp 8.000 miliar ÷ 4 miliar lembarRp 2.000
PBVRp 4.200 ÷ Rp 2.0002,10×
PERRp 4.200 ÷ Rp 35012,00×
Cek silang: PBV = PER × ROE → 12,00 × 0,175 = 2,10 ✔ Konsisten. ROE 17,5% tergolong sehat; PER 12× & PBV 2,1× = valuasi menengah.

Model 1 — Dividend Discount Model (Gordon Growth)

Nilai saham = nilai sekarang dari seluruh dividen masa depan. Jika dividen tumbuh tetap sebesar g, rumusnya menyederha­na jadi satu baris.

Asal-usul: P₀ = D₁/(1+k)¹ + D₂/(1+k)² + … (tak terhingga). Karena dividen tumbuh tetap g, deret ini menjadi perpetuitas bertumbuh →
P₀ = D₁ ÷ (k − g)   ·   syarat: k > g
D₁
Dividen yang diharapkan tahun depan. Jika diketahui D₀, maka D₁ = D₀ × (1 + g).
k — Required Return
Imbal hasil minimum yang diminta investor atas risiko saham. Naik bersama suku bunga & risiko.
g — Growth
Laju pertumbuhan dividen tetap per tahun. Harus lebih kecil dari k agar rumus berlaku.
Syarat mutlak k > g. Kalau g ≥ k, rumus tidak berlaku (nilai jadi tak hingga / negatif). Ini sumber kesalahan paling sering!

Hitung dari Nol — HDN-2: Nilai Wajar Saham via DDM

Saham X diperkirakan membayar D₁ = Rp 200 tahun depan, tumbuh tetap g = 5%/tahun, imbal hasil diminta k = 12%. Harga pasar sekarang Rp 2.500. Murah atau mahal?

LangkahPerhitunganNilai
Cek syaratk = 12% > g = 5% ✔Berlanjut
Identifikasi inputD₁ = 200; g = 0,05; k = 0,12
Penyebut (k − g)0,12 − 0,050,07
Nilai intrinsik P₀200 ÷ 0,07Rp 2.857
Bandingkan hargaNilai 2.857 vs harga pasar 2.500Nilai > harga
KesimpulanHarga pasar di bawah nilai wajar (~12,5%)UNDERVALUED
Nilai wajar ≈ Rp 2.857, harga pasar Rp 2.500. Karena harga di bawah nilai wajar, saham ini undervaluedkandidat beli. (Catatan: pasar "wajar" di Rp 2.500 hanya jika g = 4%.)

Model 2 — PER Multiplier (Penilaian Relatif)

Cara cepat & populer: kalikan laba per saham proyeksi dengan PER yang dianggap wajar untuk sektornya.

Target Harga = EPS (proyeksi) × PER wajar
Dari mana PER Wajar?
IDX
Rata-rata PER perusahaan sejenis di sektor yang sama (data PER pasar tersedia di idx.co.id), atau PER historis perusahaan itu sendiri.
Kapan Dipakai?
Cepat
Praktis untuk membandingkan banyak saham dalam satu sektor. Tidak butuh proyeksi dividen seperti DDM — cukup EPS dan PER pembanding.
Kelemahan: hasil sangat bergantung pada PER pembanding. PER "wajar" harus dari perusahaan benar-benar sebanding (sektor, ukuran, pertumbuhan) — bukan asal ambil angka.

Hitung dari Nol — HDN-3: Target Harga via PER

Saham Y diproyeksi punya EPS Rp 350 tahun depan. PER wajar sektornya 15×. Berapa target harganya? Jika harga pasar sekarang Rp 4.200, murah atau mahal?

LangkahPerhitunganNilai
Identifikasi inputEPS proyeksi = 350; PER wajar = 15×
Target harga350 × 15Rp 5.250
Bandingkan hargaTarget 5.250 vs harga pasar 4.200Target > harga
KesimpulanHarga di bawah target wajar (~25%)UNDERVALUED
Target harga = Rp 5.250. Karena harga pasar Rp 4.200 berada di bawah target wajar, saham Y undervalued (potensi naik ~25% ke target). Dua model (DDM & PER) sebaiknya saling menguatkan.

Bahaya Tersembunyi: Sensitivitas terhadap Asumsi g & k

Nilai intrinsik DDM sangat sensitif terhadap selisih (k − g) yang kecil. Lihat bagaimana nilai wajar berubah drastis (D₁ = Rp 200):

k \ gg = 3%g = 5%g = 7%
k = 11%Rp 2.500Rp 3.333Rp 5.000
k = 12%Rp 2.222Rp 2.857Rp 4.000
k = 13%Rp 2.000Rp 2.500Rp 3.333
Ubah g dari 5% ke 7% (pada k = 11%), nilai melonjak dari Rp 3.333 ke Rp 5.000 — naik +50%! Asumsi kecil → hasil besar. Karena itu analis selalu menyajikan rentang nilai (skenario pesimis–basis–optimis), bukan satu angka tunggal yang seolah-olah pasti.

Coba Sendiri: Guncang Asumsi g & k pada DDM

Geser tingkat pertumbuhan (g) dan required return (k), lalu amati sendiri seberapa cepat nilai wajar melonjak atau anjlok.

Studi Kasus: Menilai Bank vs Konsumer di BEI

Rasio valuasi yang "tepat" berbeda antar-sektor. Memakai rasio yang salah bisa menyesatkan.

Sektor Perbankan
PBV
BBCA · BMRI · BBRI
Aset bank = portofolio finansial (kredit, surat berharga). Lazim dinilai dengan PBV. Laba mudah berfluktuasi karena pencadangan kredit macet, sehingga PER kurang stabil sebagai patokan.
Sektor Konsumer
PER
UNVR · ICBP · MYOR
Nilai utama = merek & laba berulang. Lazim dinilai dengan PER. Aset fisik relatif kecil sehingga PBV kurang informatif sebagai pembanding.
Pelajaran: bandingkan apel dengan apel. Menilai bank dengan PER seperti konsumer, atau sebaliknya, sering memberi kesimpulan keliru. Selalu cek rasio standar sektornya (data PER/PBV sektor di idx.co.id).

Menyatukan Semuanya: Dari Makro ke Keputusan Beli

1. EKONOMIPDB tumbuh · BI-Rate stabil/turun2. INDUSTRIFase pertumbuhan · regulasi kondusif3. PERUSAHAANROE 17,5% · DDM & PERkeduanya → undervaluedKEPUTUSANKandidat BeliBeli / Tahan / Hindari
Logika Alur
  • Lapis Ekonomi: PDB tumbuh, BI-Rate stabil/turun → iklim mendukung saham
  • Lapis Industri: fase pertumbuhan, regulasi kondusif → ladang subur
  • Lapis Perusahaan: ROE sehat, DDM & PER sama-sama undervalued → panen menjanjikan
  • Keputusan: ketiga lapis selaras + harga < nilai wajar → kandidat beli
Keputusan investasi yang kuat butuh ketiga lapis selaras DAN harga di bawah nilai wajar. Perusahaan hebat di harga mahal tetap bukan pembelian yang baik.

Lima Jebakan yang Sering Menjerumuskan Analis Pemula

1Lupa syarat k > g di DDM — kalau g ≥ k, hasil tak masuk akal. Cek dulu sebelum membagi.
2Asumsi g terlalu optimis — pertumbuhan tinggi tak bisa selamanya; g jangka panjang ≤ pertumbuhan ekonomi.
3PER tinggi = "mahal" membabi buta — PER tinggi bisa wajar untuk saham yang bertumbuh sangat cepat.
4Salah rasio sektor — menilai bank dengan PER, bukan PBV. Selalu cek standar sektornya (Slide 21).
5Abai harga vs nilai — membeli karena "perusahaan bagus" tanpa cek apakah harga sudah di atas nilai wajar.
Sebelum menyimpulkan: cek k > g · cek g masuk akal · cek rasio sektor benar · selalu bandingkan harga vs nilai wajar.

Cheat Sheet — Rumus & Rasio Valuasi Inti

ItemRumusUntuk
EPSLaba bersih ÷ jumlah sahamLaba per lembar saham
ROELaba bersih ÷ ekuitasEfisiensi modal pemegang saham
PERHarga ÷ EPSValuasi relatif terhadap laba
PBVHarga ÷ BVPSValuasi relatif terhadap aset (buku)
DDM (Gordon)P₀ = D₁ ÷ (k − g) · syarat k > gNilai intrinsik dari dividen
PER MultiplierTarget = EPS × PER wajarTarget harga cepat (relatif)
Jembatan penting: PBV = PER × ROE (cek silang konsistensi) · D₁ = D₀ × (1 + g) (dari dividen historis ke proyeksi). Semua bermuara pada satu pertanyaan: harga pasar vs nilai wajar?

Peta Konsep: Bagaimana Semua Terhubung

ANALISIS FUNDAMENTALPendekatan Top-DownEKONOMIPDB·inflasi·BI-Rate·kursINDUSTRIstruktur·daur·regulasiPERUSAHAANrasio·DDM·PERDDMP₀=D₁/(k−g)PEREPS×PERwNILAI INTRINSIKP₀ vs harga pasarKEPUTUSANBeli / Tahan / Hindari

Analisis fundamental bukan kumpulan rumus terpisah — ia satu rantai logika dari iklim makro sampai keputusan beli.

Rantai Logika
  • Ekonomi → menentukan iklim
  • Industri → menentukan ladang
  • Perusahaan + DDM/PER → menentukan nilai intrinsik
  • Nilai intrinsik vs harga pasar → keputusan
Semua bermuara pada perbandingan sederhana namun fundamental: harga pasar vs nilai wajar.

Latihan & Diskusi Kelas

Latihan 1 — DDM
P₀ = ?
Saham Z membayar dividen tahun ini D₀ = Rp 300, tumbuh g = 4%, imbal hasil diminta k = 13%. Hitung nilai intrinsiknya.

Petunjuk: cari D₁ = D₀ × (1+g) dulu, lalu pakai DDM. Cek k > g!
Latihan 2 — Rasio & PER
EPS ROE PBV
Emiten: laba bersih Rp 900 miliar, ekuitas Rp 6 triliun, 3 miliar lembar, harga Rp 3.000. Hitung EPS, ROE, PBV, PER. Jika PER wajar sektor 18×, berapa target harga & kesimpulannya?
Kerjakan 7 menit. Untuk DDM, cek k > g. Untuk rasio, gunakan PBV = PER × ROE sebagai cek silang. Lalu kita bahas kuncinya bersama.

Penutup & Langkah Berikutnya

Hari ini Anda belajar menaksir nilai wajar saham dari kondisi ekonomi, industri, dan perusahaan — lalu memutuskan murah atau mahal.

Yang Sudah Anda Kuasai
  • Kerangka top-down: ekonomi → industri → perusahaan
  • Empat rasio kunci: EPS, ROE, PER, PBV
  • Dua model penilaian: DDM (Gordon) & PER multiplier
  • Membaca undervalued / overvalued dari selisih harga-nilai
  • Analisis sensitivitas DDM & lima jebakan analis pemula
Tugas Mandiri
IDX
idx.co.id
Unduh laporan keuangan satu emiten BEI pilihan Anda. Hitung EPS, ROE, PER, PBV-nya. Taksir nilai wajar via DDM jika emiten membagi dividen. Bawa hasil ke pertemuan berikutnya.
Kuasai dua model malam ini. Anda kini punya kerangka berpikir seorang analis: selalu tanyakan "berapa nilai wajarnya?" sebelum "berapa harganya?"

📖 Baca juga: Dcf Valuation — penjelasan mendalam dan contoh numerik.