‹ Daftar slidePertemuan 6: Pasar Perdana, Pasar Sekunder, IPO, dan Mekanisme Perdagangan
Mata Kuliah Pasar Keuangan • FEB UNDIP
Pasar Keuangan
Pertemuan 6 — Pasar Perdana, Pasar Sekunder, IPO & Mekanisme Perdagangan
Dari saham yang ‘lahir’ lewat IPO sampai berpindah tangan ribuan kali sehari di Bursa Efek Indonesia — kita bedah organisasinya, prosesnya, dan mekanismenya.
RPS Minggu 6Sub-CPMK 6Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan organisasi pasar perdana & sekunder, proses IPO, serta mekanisme perdagangan (Sub-CPMK 6). Secara rinci:
Capaian 1 — Dua Pasar
Membedakan organisasi pasar perdana vs pasar sekunder beserta pelaku dan fungsinya dengan minimal tiga poin pembeda yang benar.
Capaian 2 — Proses IPO
Mengurutkan tahapan IPO — penjaminan emisi, prospektus, masa penawaran, penjatahan, listing — secara lengkap dan berurutan.
Capaian 3 — Perdagangan
Menjelaskan mekanisme perdagangan — order, lot, fraksi harga, sesi, JATS-NextG — dan menghitung biaya transaksi beserta laba/rugi bersih.
Capaian 4 — Penyelesaian
Menjelaskan kliring (KPEI), settlement T+2 (KSEI), dan registrasi scripless secara runtut.
Saat Sebuah Perusahaan ‘Lahir’ di Bursa
Ketika emiten besar mencatatkan saham perdananya di BEI, lonceng dibunyikan dan dananya bisa mengalir triliunan rupiah. Tapi apa yang sebenarnya terjadi di balik seremoni itu?
Hari IPO — Pasar Perdana
Perusahaan menjual saham baru ke publik untuk pertama kali. Dana hasil penjualan masuk ke kas perusahaan untuk ekspansi atau bayar utang.
Hari-Hari Berikutnya — Pasar Sekunder
Investor saling jual-beli saham itu di BEI. Harga naik-turun tiap detik; uang mengalir antar-investor, bukan lagi ke perusahaan.
Kunci yang sering disalahpahami: di pasar perdana uang masuk ke emiten; di pasar sekunder uang berpindah antar-investor. Perusahaan tidak menerima sepeser pun dari jual-beli harian.
Bagian 1 dari 4
Dua Pasar: Perdana vs Sekunder
Tempat saham ‘lahir’ (perdana) dan tempat saham ‘berpindah tangan’ (sekunder) — dua organisasi berbeda dengan pelaku dan fungsi yang berbeda.
PerdanaSekunderLikuiditas
Pasar Perdana — Tempat Saham ‘Lahir’
Pasar perdana (primary market) = tempat efek dijual pertama kali oleh emiten ke investor. Inilah satu-satunya momen dana mengalir ke perusahaan.
Pasar perdana tidak berlangsung di lantai bursa; ia terjadi lewat penawaran umum (kini via sistem e-IPO BEI) sebelum saham dicatatkan.
Pasar Sekunder — Tempat Saham ‘Berpindah Tangan’
Pasar sekunder (secondary market) = tempat efek yang sudah beredar diperjualbelikan antar-investor. Inilah ‘Bursa’ yang Anda lihat setiap hari.
Ciri Utama
Harga berfluktuasi (terbentuk dari permintaan-penawaran)
Transaksi investor ↔ investor
Dana tidak masuk ke emiten
Berlangsung terus-menerus pada jam bursa
Organisasi / Pelaku
Bursa Efek Indonesia (BEI) — penyedia sistem
Anggota Bursa (perusahaan sekuritas/broker)
Investor (membeli/menjual lewat broker)
KPEI (kliring), KSEI (penyimpanan & settlement)
OJK (pengawas pasar)
Fungsi vital pasar sekunder = likuiditas & penemuan harga (price discovery). Tanpa pasar sekunder, tak ada yang mau beli di pasar perdana.
Perdana vs Sekunder — Tabel Pembanding
Sering Keluar di Ujian
Aspek
Pasar Perdana
Pasar Sekunder
Transaksi
Emiten ↔ Investor
Investor ↔ Investor
Aliran dana
Masuk ke kas emiten
Antar-investor (tidak ke emiten)
Harga
Tetap (harga penawaran)
Berfluktuasi (permintaan-penawaran)
Tempat
Penawaran umum (e-IPO)
Sistem bursa (JATS-NextG)
Waktu
Sekali, masa penawaran terbatas
Terus-menerus, jam bursa
Fungsi utama
Penghimpunan dana
Likuiditas & price discovery
Jembatan keduanya: setelah masa penawaran perdana selesai dan saham dicatatkan (listing), barulah saham itu mulai diperdagangkan di pasar sekunder keesokan harinya.
Bagian 2 dari 4
Proses IPO dari Nol sampai Listing
Bagaimana sebuah perusahaan tertutup berubah menjadi Tbk — penjamin emisi, prospektus, masa penawaran, penjatahan, dan pencatatan.
UnderwritingProspektusPenjatahanListing
IPO — Penawaran Umum Perdana Saham
IPO = pertama kalinya perusahaan menawarkan & menjual sahamnya ke publik. Setelah IPO, statusnya menjadi Perusahaan Terbuka (Tbk).
Mengapa Go Public? (Motif)
Menghimpun dana segar untuk ekspansi / lunasi utang
Memperbaiki struktur permodalan (kurangi rasio utang)
Meningkatkan citra & kredibilitas (transparansi)
Membuka jalan exit bagi pemegang saham lama
Konsekuensi / Biaya
Wajib keterbukaan (laporan berkala ke publik & OJK)
Biaya emisi & profesi penunjang
Kepemilikan terdilusi (pemilik lama berbagi)
Tunduk pada pengawasan pasar & ekspektasi investor
Go public bukan sekadar ‘cari uang’ — ia menukar privasi & kontrol penuh dengan akses modal & likuiditas.
Siapa Saja di Balik IPO?
Penjamin Emisi (Underwriter)
Perusahaan sekuritas yang membantu menjual saham IPO. Menentukan harga, membentuk sindikasi, dan (pada full commitment) menjamin sisa saham yang tak terjual.
Profesi Penunjang
Akuntan publik (audit lapkeu), notaris (akta), konsultan hukum (legal due diligence), penilai (valuasi aset). Memastikan dokumen sahih.
Lembaga & Regulator
OJK (izin efektif), BEI (pencatatan & sistem e-IPO), KSEI (registrasi scripless), BAE (administrasi pemegang saham).
Penjamin emisi adalah ‘sutradara’ IPO: ia menjembatani emiten dengan investor dan ikut menanggung risiko penjualan. Full commitment: underwriter beli sisa. Best effort: underwriter hanya berusaha, tak menjamin sisa.
Enam Tahap Proses IPO (e-IPO BEI)
Setelah tahap 6, saham ‘pindah dunia’: dari pasar perdana ke pasar sekunder. Bagian 3 nanti membahas apa yang terjadi di sana. Tahap 5 (penawaran & penjatahan) adalah fokus Hitung dari Nol berikutnya.
Prospektus, Masa Penawaran & Penjatahan
Prospektus — ‘KTP’ Emiten
Profil perusahaan & lini bisnis
Laporan keuangan teraudit
Faktor risiko (wajib dibaca!)
Harga & jumlah saham, rencana penggunaan dana
Tata cara pemesanan & penjatahan
Masa Penawaran & Penjatahan
Masa penawaran: periode investor memesan (via e-IPO)
Penjatahan terpusat (pooling) untuk ritel — porsi proporsional bila kelebihan
Refund: kelebihan setoran dikembalikan ke pemesan
Investor pemula sering melewatkan bagian ‘Faktor Risiko’ di prospektus. Padahal di situlah emiten wajib jujur soal kelemahannya. Baca sebelum memesan.
Hitung dari Nol — HDN-1: Dana IPO, Penjatahan & Refund
Emiten menawarkan 200.000.000 lembar saham @ Rp 1.250. Penawaran oversubscribed 3×. Penjatahan proporsional. Anda memesan 100.000 lembar. Berapa dana IPO, jatah Anda, dan refund?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Dana hasil IPO (kotor)
200.000.000 × Rp 1.250
Rp 250.000.000.000 (Rp 250 miliar)
Total permintaan
200.000.000 × 3
600.000.000 lembar
Rasio penjatahan
200.000.000 ÷ 600.000.000
1/3 ≈ 33,33%
Jatah Anda (proporsional)
100.000 × 1/3 = 33.333 → bulatkan ke lot
333 lot = 33.300 lembar
Nilai saham dijatah
33.300 × Rp 1.250
Rp 41.625.000
Dana Anda setor saat pesan
100.000 × Rp 1.250
Rp 125.000.000
Refund (dikembalikan)
125.000.000 − 41.625.000
Rp 83.375.000
Emiten menghimpun Rp 250 miliar. Karena oversubscribed 3×, Anda hanya dapat ~1/3 pesanan (333 lot), dan Rp 83.375.000 dikembalikan. Catatan: 1 lot = 100 lembar (aturan BEI). Pembulatan ke bawah ke lot.
Di Papan Mana Saham Dicatatkan?
BEI mengelompokkan emiten ke beberapa papan pencatatan sesuai ukuran & rekam jejaknya, agar investor bisa menakar profil risikonya.
Papan Utama (Main Board)
Untuk perusahaan besar & matang, rekam jejak panjang, memenuhi syarat aset/laba tertinggi.
Papan Pengembangan (Development Board)
Untuk perusahaan menengah / bertumbuh yang belum memenuhi syarat papan utama.
Papan Akselerasi (Acceleration Board)
Untuk perusahaan kecil/menengah (UKM) dengan aset lebih kecil — jalur cepat untuk emiten muda.
Papan = sinyal profil risiko. Makin tinggi papan, makin ketat syarat & umumnya makin matang emitennya. Syarat kuantitatif spesifik diatur peraturan pencatatan BEI — verifikasi versi terbaru.
Bagian 3 dari 4
Mekanisme Perdagangan & Biaya
Bagaimana order Anda sampai ke Bursa, apa itu lot dan fraksi harga, kapan sesi perdagangan dibuka, dan berapa biaya sebenarnya yang Anda tanggung.
OrderLotFraksiSesiJATS
Perjalanan Sebuah Order (JATS-NextG)
Aturan pencocokan: harga terbaik didahulukan; bila harga sama, yang lebih dulu antre menang (price then time priority). Sistem otomatis — tidak ada tawar-menawar manual.
Lot, Fraksi Harga (Tick) & Auto-Rejection
Lot (Satuan Beli/Jual)
100
lembar per lot
Di pasar reguler BEI, minimal transaksi = 1 lot. Tidak bisa beli 50 lembar saja.
Tabel Fraksi Harga BEI (Ilustrasi Tingkatan)
Rentang Harga
Fraksi (Tick)
< Rp 200
Rp 1
Rp 200 – < Rp 500
Rp 2
Rp 500 – < Rp 2.000
Rp 5
Rp 2.000 – < Rp 5.000
Rp 10 ← HDN-2
≥ Rp 5.000
Rp 25
Auto-Rejection (ARA/ARB): BEI membatasi kenaikan (ARA) & penurunan (ARB) harga maksimum per hari. Tabel fraksi & batas ARA/ARB diatur kebijakan BEI dan dapat berubah — verifikasi versi berlaku.
Kapan Pasar Buka? Sesi Perdagangan
Perdagangan reguler BEI berlangsung Senin–Jumat dalam beberapa sesi, dibuka & ditutup dengan lelang (call auction), di antaranya lelang berkelanjutan (continuous auction).
Struktur Harian (ilustrasi — jam pasti per kebijakan BEI)
Pra-pembukaan → bentuk harga pembukaan (lelang)
Sesi I → perdagangan berkelanjutan (continuous)
Jeda siang
Sesi II → perdagangan berkelanjutan berlanjut
Pra-penutupan & Penutupan → bentuk harga penutupan (lelang)
Dua Mekanisme Lelang
Call auction: order dikumpulkan, dicocokkan pada satu harga (pembukaan/penutupan)
Continuous auction: order dicocokkan terus-menerus begitu bid = offer (sepanjang sesi)
Jam buka-tutup pasti diatur BEI dan dapat berubah (mis. penyesuaian Ramadhan/hari kerja) — selalu cek ketentuan terbaru.
Biaya yang Diam-Diam Menggerus: Fee, PPN, PPh
Setiap transaksi kena biaya. Investor pemula sering lupa, padahal di transaksi kecil biaya bisa ‘memakan’ sebagian keuntungan.
Komponen Biaya (ilustrasi tarif tipikal broker)
Komponen
Saat Beli
Saat Jual
Fee broker (komisi)
~0,15% × nilai
~0,25% × nilai
PPN atas fee
11% × fee
11% × fee
PPh final penjualan saham
—
0,1% × nilai jual
Tarif fee berbeda tiap broker (ilustrasi). Yang pasti regulatif: PPN efektif 11% atas jasa broker (PMK 131/2024) & PPh final 0,1% dari nilai bruto penjualan saham di bursa.
Hitung dari Nol — HDN-2: Net Untung/Rugi Transaksi
Beli 5 lot (500 lembar) @ Rp 4.000, fee beli 0,15%; jual @ Rp 4.300, fee jual 0,25%; PPN 11% atas fee; PPh final 0,1% saat jual. Fraksi Rp 4.000 = Rp 10 (valid).
Langkah
Perhitungan
Nilai
Nilai beli
500 × 4.000
Rp 2.000.000
Fee beli 0,15%
0,15% × 2.000.000
Rp 3.000
PPN beli 11% × fee
11% × 3.000
Rp 330
Total kas keluar (beli)
2.000.000 + 3.000 + 330
Rp 2.003.330
Nilai jual
500 × 4.300
Rp 2.150.000
Fee jual 0,25%
0,25% × 2.150.000
Rp 5.375
PPN jual 11% × fee
11% × 5.375
Rp 591,25
PPh final 0,1% nilai jual
0,1% × 2.150.000
Rp 2.150
Total kas masuk (jual)
2.150.000 − 5.375 − 591,25 − 2.150
Rp 2.141.883,75
NET P/L
2.141.883,75 − 2.003.330
+Rp 138.553,75
Laba kotor = Rp 150.000 (500 × Rp 300). Setelah semua biaya: net +Rp 138.554. Biaya menggerus ~Rp 11.446 — sekitar 7,6% dari laba kotor. Jangan over-trading pada margin tipis.
Coba Sendiri: Berapa Kenaikan Harga Minimum Supaya Balik Modal?
Ganti-ganti jumlah lot, harga beli, dan tarif fee broker Anda sendiri — widget ini langsung menghitung total biaya beli-jual dan harga breakeven: seberapa persen harga saham harus naik hanya untuk menutup fee, PPN, dan PPh, sebelum Anda mulai untung.
Bagian 4 dari 4
Kliring, Settlement & Registrasi
Setelah order match, transaksi belum selesai. Ikuti perjalanannya lewat KPEI (kliring), KSEI (settlement T+2), dan registrasi scripless.
KPEIKSEIT+2Scripless
Tiga ‘SRO’ & Penyelesaian T+2
BEI (Bursa Efek Indonesia)
Menyelenggarakan perdagangan (sistem JATS-NextG). Tempat order dipertemukan. SRO penyelenggara bursa.
KPEI (Kliring & Penjaminan)
Menghitung hak & kewajiban tiap Anggota Bursa (netting) dan menjamin penyelesaian meski satu pihak gagal bayar.
KSEI (Penyimpanan & Penyelesaian)
Menyimpan efek secara elektronik (scripless) & melaksanakan settlement — serah saham vs bayar uang pada T+2.
T+2 = penyelesaian terjadi 2 hari kerja setelah transaksi. Saham ‘resmi’ tercatat & dana berpindah pada hari kerja ke-2, bukan saat match.
Scripless & Registrasi Saham
Scripless (Tanpa Warkat)
Saham bukan lagi lembar kertas, melainkan catatan elektronik di KSEI. Lebih aman, cepat, tak bisa hilang/palsu secara fisik. Bukti kepemilikan = rekening efek tercatat di sistem KSEI.
Siapa Mencatat Kepemilikan?
KSEI menyimpan efek secara terpusat (rekening Efek)
Sub-rekening investor di bawah broker → kepemilikan Anda tercatat individual
Biro Administrasi Efek (BAE) mengelola daftar pemegang saham untuk emiten (penting saat RUPS, pembagian dividen)
Bukti kepemilikan Anda kini = catatan elektronik (dapat dicek lewat fasilitas KSEI), bukan sertifikat fisik. Hak Anda (dividen, suara RUPS) tetap melekat.
Studi Kasus: Sehari Hidup Sebuah Order Anda
Mari rangkai semua: Anda membeli 5 lot saham emiten ‘X’ (sudah lama listing) di harga Rp 4.000. Ikuti perjalanannya dari input order sampai kepemilikan tercatat.
Gambaran utuh hari ini: pasar sekunder (order & match) → biaya → kliring KPEI → settlement T+2 KSEI → registrasi scripless. Emiten ‘X’ = ilustrasi, bukan rekomendasi.
Fee + PPN 11%; jual kena PPh final 0,1% nilai jual
Penyelesaian
Match (T+0) → kliring KPEI → settlement T+2 KSEI
Kepemilikan
Scripless (elektronik); BAE kelola daftar pemegang saham
Latihan, Diskusi & Persiapan Berikutnya
Latihan Mandiri
Latihan 1 (IPO): 150 juta lembar @ Rp 800, oversubscribed 2×, Anda pesan 50.000 lembar → hitung dana IPO, jatah, refund.
Latihan 2 (Transaksi): beli 10 lot @ Rp 1.500 (fee 0,15%), jual @ Rp 1.575 (fee 0,25%), PPN 11%, PPh 0,1% → net P/L?
Diskusi & Persiapan
Diskusi: “Mengapa investor mau beli di pasar perdana padahal belum tahu harga sekundernya?” (hubungkan likuiditas & price discovery)
Persiapan: baca prospektus 1 IPO nyata di situs e-IPO/BEI; perhatikan bagian Faktor Risiko & rencana penggunaan dana
Kerjakan dua latihan, gambar alurnya dulu. Kunci jawaban ada di Lampiran materi (Lat 1: dana IPO Rp 120 M, jatah 250 lot, refund Rp 20 jt; Lat 2: net ≈ +Rp 66.557). Pasar modal jadi nyata begitu Anda menghitungnya sendiri.