stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-04
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 4: Pancasila sebagai Sistem Filsafat (hierarki piramidal, ontologis, epistemologis, aksiologis)
Prodi Umum • FEB UNDIP

Pancasila

Pertemuan 4 — Pancasila sebagai Sistem Filsafat

Mengapa lima sila Pancasila bukan lima daftar terpisah, melainkan satu bangunan pemikiran bertingkat — dengan susunan piramidal dan tiga fondasi filosofis: ontologis, epistemologis, aksiologis.

RPS MINGGU 4 • 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan Pancasila sebagai sistem filsafat yang utuh dan bertingkat (Sub-CPMK Minggu 4). Secara rinci:

CAPAIAN 1 — DEFINISI
FILSAFAT & SISTEM
Menjelaskan pengertian filsafat dan mengapa Pancasila layak disebut satu sistem pemikiran, bukan kumpulan nilai lepas.
CAPAIAN 2 — HIERARKI PIRAMIDAL
SUSUNAN BERTINGKAT
Menguraikan susunan hierarkis piramidal lima sila menurut pemikiran Notonagoro — sila mana mendasari sila mana.
CAPAIAN 3 — TIGA LANDASAN
ONTOLOGIS · EPISTEMOLOGIS · AKSIOLOGIS
Membedakan tiga landasan filosofis Pancasila: hakikat manusia, sumber pengetahuan, dan sistem nilai.
CAPAIAN 4 — PENERAPAN
DARI TEORI KE PRAKTIK
Mengaitkan ketiga landasan tersebut dengan contoh kebijakan dan kehidupan nyata di Indonesia.

Dari Sejarah ke Struktur Berpikir

Pertemuan 1–3 membahas Pancasila sebagai peristiwa sejarah. Pertemuan 4 ini menaikkan sudut pandang menjadi struktur filsafat di balik peristiwa tersebut.

POSISI PERTEMUAN 4 DALAM ALUR 14 MINGGU
  • Pertemuan 1: pengertian, landasan, dan tujuan pendidikan Pancasila.
  • Pertemuan 2–3: nilai-nilai Pancasila dalam sejarah bangsa hingga proklamasi & sidang PPKI.
  • Pertemuan 4 (hari ini): Pancasila sebagai sistem filsafat — hierarki piramidal, ontologis, epistemologis, aksiologis.
  • Pertemuan 5: Pancasila sebagai ideologi negara — fungsi & ideologi terbuka.
Setelah tahu bagaimana Pancasila lahir (pertemuan 2–3), langkah berikutnya adalah memahami bagaimana Pancasila berpikir sebagai satu sistem filsafat — itulah fokus hari ini, sebelum kita masuk ke perannya sebagai ideologi negara minggu depan.
Bagian 1 dari 3
Pancasila sebagai Satu Sistem
Sebelum membahas susunannya yang bertingkat, kita perlu tahu dulu: apa itu filsafat, dan mengapa Pancasila layak disebut sistem filsafat?
Filsafat Sistem Hierarki Piramidal

Apa itu Filsafat, dan Apa itu Sistem?

Filsafat (dari bahasa Yunani philosophia, "cinta akan kebijaksanaan") adalah upaya berpikir mendalam, sistematis, dan mendasar untuk menjawab pertanyaan hakiki tentang manusia, alam, dan kebenaran.

SYARAT DISEBUT "SISTEM"
  • Kesatuan bagian-bagian: unsur-unsurnya saling terkait, bukan berdiri sendiri.
  • Bersifat majemuk-tunggal: banyak bagian, tetapi membentuk satu kesatuan utuh.
  • Setiap bagian punya fungsi sendiri dalam menopang keseluruhan.
  • Saling berhubungan & ketergantungan antarbagian.
MENGAPA PANCASILA = SISTEM FILSAFAT
LIMA SILA, SATU KESATUAN
Lima sila Pancasila memenuhi keempat syarat sistem di atas — saling mengisi dan menjiwai, bukan daftar nilai yang bisa dipilih sebagian.

Kesatuan Organis: Bukan Daftar Nilai Terpisah

Kesalahan paling umum adalah membaca Pancasila seperti lima poin lepas yang bisa dipilih sebagian. Padahal, tiap sila meliputi dan dijiwai oleh sila lainnya.

MISKONSEPSI
"Sila 1 untuk urusan agama, sila 5 untuk urusan ekonomi — keduanya tidak berkaitan." Cara pandang ini keliru karena memisahkan apa yang seharusnya menyatu.
CARA PANDANG YANG BENAR
Keadilan sosial (sila 5) tidak bisa lepas dari nilai ketuhanan (sila 1), kemanusiaan (sila 2), persatuan (sila 3), dan kerakyatan (sila 4) — semua saling menjiwai.
Analogi sederhana: Pancasila seperti tubuh manusia — jantung, paru-paru, dan otak tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu sistem yang saling menopang kehidupan.

Susunan Hierarkis Piramidal (Notonagoro)

Menurut Notonagoro, lima sila tersusun bertingkat seperti piramida: sila di dasar bersifat paling luas & mendasari, sila di puncak bersifat paling khusus & konkret.

SILA 5Keadilan SosialSILA 4Kerakyatan & PermusyawaratanSILA 3Persatuan IndonesiaSILA 2Kemanusiaan yang Adil & BeradabSILA 1 — KETUHANAN YANG MAHA ESADasar & jiwa dari seluruh sila di atasnya

Hitung dari Nol — Walkthrough A: Menelusuri Piramida dari Dasar ke Puncak

Kasus: bagaimana nilai ketuhanan (sila 1) mengalir dan mewarnai keempat sila di atasnya, satu demi satu.

LangkahPerhitungan (Alur Penjabaran Nilai)Nilai (Hasil)
L1 — Basis: Sila 1Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar & jiwa seluruh silaFondasi filosofis terbentuk
L2 — Naik ke Sila 2Manusia sebagai ciptaan Tuhan → wajib diperlakukan adil & beradabKemanusiaan dijiwai ketuhanan
L3 — Naik ke Sila 3Manusia yang beradab → bersatu sebagai bangsa IndonesiaPersatuan dijiwai kemanusiaan
L4 — Naik ke Sila 4Bangsa yang bersatu → mengambil keputusan lewat musyawarahKerakyatan dijiwai persatuan
L5 — Puncak: Sila 5Musyawarah yang berketuhanan & berkemanusiaan → bermuara pada keadilanKeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Hasil akhir: nilai ketuhanan mengalir naik lewat 5 langkah → bermuara pada keadilan sosial yang berjiwa ketuhanan, bukan keadilan sekuler lepas nilai.
Bagian 2 dari 3
Tiga Landasan Filosofis Pancasila
Selain tersusun bertingkat, Pancasila juga punya tiga lapis pertanggungjawaban filosofis: siapa manusia, dari mana pengetahuan berasal, dan nilai apa yang dikandungnya.
Ontologis Epistemologis Aksiologis

Landasan Ontologis: Hakikat Manusia Monopluralis

Ontologis (dari ontos, "yang ada") menjawab pertanyaan: apa hakikat manusia menurut Pancasila? Notonagoro menyebutnya manusia monopluralis — satu kesatuan dengan banyak unsur.

EMPAT PASANG HAKIKAT MANUSIA
  • Susunan kodrat: jiwa (cipta, rasa, karsa) & raga bersatu.
  • Sifat kodrat: makhluk individu sekaligus makhluk sosial.
  • Kedudukan kodrat: makhluk pribadi sekaligus makhluk Tuhan.
ISTILAH KUNCI
MONOPLURALIS
Mono = satu kesatuan; pluralis = banyak unsur. Manusia Indonesia dipandang sebagai satu kesatuan utuh dari unsur jasmani-rohani, individu-sosial, pribadi-Tuhan — tidak boleh dipotong salah satunya.

Landasan Epistemologis: Pancasila sebagai Sumber Pengetahuan

Epistemologis (dari episteme, "pengetahuan") menjawab pertanyaan: dari mana dan bagaimana kebenaran Pancasila dapat diyakini dan diketahui?

SUMBER PENGETAHUAN
Pancasila digali dari nilai budaya, adat, dan agama bangsa Indonesia sendiri (bukan diimpor utuh dari ideologi luar) — disebut philosofische grondslag, dasar filosofis bangsa.
SUSUNAN PENGETAHUAN
Pancasila tersusun sebagai sistem yang koheren: dasar ontologis (hakikat manusia) → melahirkan susunan sila yang logis & runtut, bukan sekadar kompromi politik.
Konsekuensi penting: karena sumbernya adalah nilai bangsa sendiri, kebenaran Pancasila tidak perlu dibuktikan lewat teori Barat atau Timur — cukup diuji lewat konsistensi internal & kesesuaiannya dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia.

Landasan Aksiologis: Tiga Tingkat Nilai Pancasila

Aksiologis (dari axios, "nilai") menjawab pertanyaan: nilai apa yang dikandung Pancasila, dan bagaimana nilai itu diwujudkan dalam kehidupan?

1 — NILAI DASAR
Hakikat abstrak kelima sila itu sendiri — bersifat tetap & universal, tercantum dalam Pembukaan UUD NRI 1945.
2 — NILAI INSTRUMENTAL
Penjabaran nilai dasar ke dalam peraturan perundang-undangan — bisa berubah mengikuti zaman & kebutuhan.
3 — NILAI PRAKSIS
Wujud nyata nilai dasar & instrumental dalam sikap & perilaku sehari-hari warga negara.
Contoh alur: nilai dasar keadilan sosial → dijabarkan jadi nilai instrumental UU Ketenagakerjaan → diwujudkan jadi nilai praksis pengusaha membayar upah sesuai UMR kepada karyawannya.

Hitung dari Nol — Walkthrough B: Tiga Landasan pada Kasus Nyata

Kasus: kebijakan pemerintah memberi bantuan modal usaha bagi pelaku UMKM. Telusuri bagaimana ketiga landasan filosofis bekerja bersama.

LangkahPerhitungan (Landasan yang Bekerja)Nilai (Hasil)
L1 — Titik tolak ontologisPelaku UMKM dipandang sebagai manusia monopluralis: perlu diakui sebagai individu & bagian masyarakatPemerintah wajib hadir, bukan membiarkan pasar bebas mutlak
L2 — Uji epistemologisKebijakan dirujuk pada nilai gotong royong & kerakyatan khas Indonesia (bukan sekadar teori ekonomi pasar bebas)Kebijakan dianggap sah secara filosofis
L3 — Nilai dasar aksiologisMerujuk sila 5: keadilan sosial bagi seluruh rakyatPrinsip pemerataan ekonomi ditetapkan
L4 — Nilai instrumentalDiturunkan jadi UU/Peraturan tentang UMKM & skema bantuan modalPayung hukum program terbentuk
L5 — Nilai praksisPelaku UMKM menerima bantuan & mengembangkan usahanyaKeadilan sosial terasa nyata di lapangan
Hasil akhir: satu kebijakan sederhana ternyata menggerakkan ketiga landasan sekaligus — ontologis, epistemologis, dan aksiologis bekerja bersama, bukan terpisah.
Bagian 3 dari 3
Merangkai, Meluruskan, dan Melatih
Bagaimana hierarki piramidal dan tiga landasan filosofis saling terkait, apa miskonsepsi yang perlu diluruskan, dan bagaimana Anda melatih pemahaman ini?
Peta Integratif Contoh Nyata Latihan

Peta Integratif: Piramida Bertemu Tiga Landasan

Hierarki piramidal (Bagian 1) dan tiga landasan filosofis (Bagian 2) bukan dua topik terpisah — keduanya adalah dua sudut pandang atas satu bangunan yang sama.

HIERARKI PIRAMIDALMenjawab: sila mana mendasarisila mana? (susunan VERTIKAL)Sila 1 → 2 → 3 → 4 → 5(dasar → puncak)TIGA LANDASANMenjawab: mengapa isi tiap silabisa dipertanggungjawabkan?Ontologis (siapa manusia)Epistemologis (sumber kebenaran)Aksiologis (nilai & wujudnya)SISTEM FILSAFATPancasila yang utuh &terpertanggungjawabkansecara filosofis

Contoh Kontekstual: Koperasi & BUMDes

Lembaga ekonomi khas Indonesia seperti koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) adalah wujud nyata Pancasila sebagai sistem filsafat yang hidup — bukan sekadar teks.

TIGA LANDASAN PADA KOPERASI
  • Ontologis: anggota koperasi dipandang sebagai manusia monopluralis — pemilik sekaligus pengguna jasa, bukan sekadar pemegang saham.
  • Epistemologis: prinsip "dari, oleh, untuk anggota" digali dari nilai gotong royong asli Indonesia, bukan model korporasi Barat.
  • Aksiologis: nilai dasar kerakyatan (sila 4) → instrumental UU Perkoperasian → praksis pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) yang merata bagi anggota.
Bandingkan dengan perusahaan biasa yang mengutamakan laba pemegang saham semata — koperasi & BUMDes secara sadar dirancang untuk berjiwa Pancasila.

Meluruskan Miskonsepsi Umum

Beberapa pandangan keliru tentang Pancasila sebagai sistem filsafat sering beredar di masyarakat. Mari kita luruskan satu per satu.

MiskonsepsiMengapa KeliruPemahaman yang Benar
"Pancasila hanya slogan politik, bukan filsafat sungguhan."Mengabaikan bahwa Pancasila punya landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.Pancasila adalah sistem filsafat dengan struktur berpikir yang runtut & teruji.
"Urutan lima sila bisa ditukar-tukar, tidak penting."Mengabaikan konsep hierarki piramidal — urutan menentukan makna & hubungan antarsila.Urutan bersifat tetap: sila di dasar meliputi & menjiwai sila di atasnya.
"Sila-sila bisa dipilih sebagian sesuai kepentingan."Bertentangan dengan sifat sistem yang menuntut kesatuan organis semua bagian.Kelima sila harus dipahami & dijalankan sebagai satu kesatuan utuh.

Latihan Kelompok: Terapkan Tiga Landasan

Kerjakan dalam kelompok kecil (3–4 orang), waktu 15 menit, siap dipresentasikan singkat.

INSTRUKSI TUGAS
  • Langkah 1: pilih satu contoh kebijakan atau praktik nyata di Indonesia (mis. subsidi BBM, program beasiswa KIP Kuliah, atau aturan kampus Anda sendiri).
  • Langkah 2: identifikasi landasan ontologis — bagaimana kebijakan itu memandang manusia sebagai subjeknya?
  • Langkah 3: identifikasi landasan epistemologis — dari nilai bangsa mana kebijakan itu digali?
  • Langkah 4: jabarkan landasan aksiologis — nilai dasar, instrumental, dan praksisnya.
Dosen akan memanggil 2–3 kelompok secara acak untuk presentasi singkat 2 menit di akhir sesi.

Rangkuman Pertemuan 4

Empat hal inti yang wajib Anda bawa pulang dari pertemuan hari ini:

1 — SISTEM
Pancasila memenuhi syarat sistem: kesatuan, majemuk-tunggal, saling berfungsi & bergantung — bukan daftar nilai lepas.
2 — HIERARKI PIRAMIDAL
Sila 1 (dasar, paling luas) → sila 5 (puncak, paling khusus) — tiap sila meliputi & menjiwai sila di atasnya.
3 — TIGA LANDASAN
Ontologis (manusia monopluralis), epistemologis (sumber nilai bangsa sendiri), aksiologis (nilai dasar → instrumental → praksis).
4 — HIDUP DALAM PRAKTIK
Terlihat nyata di koperasi, BUMDes, subsidi, hingga aturan kampus — bukan sekadar teks Pembukaan UUD.
Sampai Jumpa Pertemuan 5
Dari Sistem Filsafat ke Ideologi Negara
Hari ini Anda memahami Pancasila sebagai struktur berpikir — hierarki piramidal & tiga landasan filosofisnya. Pertemuan berikutnya kita akan melihat bagaimana struktur ini berfungsi sebagai ideologi negara yang terbuka terhadap perkembangan zaman.
Fungsi Ideologi Ideologi Terbuka