‹ Daftar slidePertemuan 2: Nilai-nilai Pancasila dalam sejarah bangsa (era kerajaan hingga pendudukan Jepang)
Mata Kuliah Pancasila • FEB
Nilai-nilai Pancasila dalam Sejarah Bangsa
Pertemuan 2 — Era Kerajaan hingga Pendudukan Jepang
Menelusuri jejak nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial jauh sebelum Pancasila dirumuskan sebagai dasar negara pada 1945.
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan nilai-nilai Pancasila yang hidup dalam sejarah bangsa Indonesia sebelum era kemerdekaan (Sub-CPMK minggu 2). Secara rinci:
CAPAIAN 1
KERAJAAN
Mengidentifikasi nilai ketuhanan, kesejahteraan, dan persatuan dalam kerajaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit.
CAPAIAN 2
ISLAM & LOKAL
Menjelaskan nilai ketuhanan dan musyawarah pada kerajaan Islam Nusantara serta tradisi gotong royong lokal.
CAPAIAN 3
PENJAJAHAN
Menganalisis bagaimana penjajahan Belanda melanggar nilai keadilan sosial & memicu kebangkitan persatuan nasional.
CAPAIAN 4
JEPANG
Menjelaskan corak pendudukan Jepang dan bagaimana ia turut membuka jalan menuju kemerdekaan.
Peta Perjalanan: Sudah Berapa Lama Nilai Ini Hidup?
Kalau ditanya, kapan nilai ketuhanan, gotong royong, atau musyawarah mulai dipraktikkan di Nusantara — jawabannya jauh sebelum 1945. Perhatikan garis waktu berikut:
EMPAT BABAK YANG AKAN KITA TELUSURI HARI INI
Bagian 1 dari 3
Nilai Pancasila di Era Kerajaan Nusantara
Dari prasasti batu di Kalimantan Timur sampai Sumpah Palapa di Majapahit — jejak nilai ketuhanan, kesejahteraan, dan persatuan sudah terukir jauh sebelum Indonesia ada.
KutaiTarumanegaraSriwijayaMajapahitKerajaan Islam
Kutai & Tarumanegara — Nilai Ketuhanan & Kesejahteraan
KERAJAAN KUTAI • ± ABAD KE-5
PRASASTI YUPA
Tujuh Yupa (tiang batu) di Kalimantan Timur mencatat Raja Mulawarman menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana sebagai wujud bakti kepada dewa.
TARUMANEGARA • ± ABAD KE-5
PRASASTI TUGU
Raja Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati sepanjang ±12 km untuk irigasi & cegah banjir — demi kesejahteraan rakyatnya.
Nilai yang terbaca: sedekah Kutai mencerminkan cikal-bakal sila 1 — Ketuhanan Yang Maha Esa; proyek irigasi Tarumanegara mencerminkan cikal-bakal sila 5 — Keadilan sosial (kesejahteraan rakyat sebagai tujuan pemerintahan).
Sriwijaya — Persatuan Maritim & Pusat Pendidikan
KEKUATAN MARITIM • ABAD KE-7–13
JALUR LAUT
Sriwijaya menyatukan wilayah pesisir Sumatra, Semenanjung Malaya, hingga sebagian Jawa lewat jaringan perdagangan & armada laut.
PENDIDIKAN • I-TSING (ABAD KE-7)
PUSAT BUDDHA
Biksu Tiongkok I-Tsing mencatat Sriwijaya sebagai pusat belajar agama Buddha terkemuka di Asia, dikunjungi ribuan biksu dari berbagai negeri.
Nilai yang terbaca: menyatukan wilayah yang luas & beragam lewat jalur damai mencerminkan cikal-bakal sila 3 — Persatuan Indonesia; keterbukaan menerima pelajar dari berbagai bangsa mencerminkan nilai kemanusiaan yang menghargai keragaman.
Mahapatih Gajah Mada bersumpah tidak akan beristirahat (amukti palapa) sebelum berhasil menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji Majapahit — dicatat dalam Kitab Pararaton.
Nilai yang terbaca: cita-cita menyatukan wilayah yang terbentang dari Sumatra sampai Papua mencerminkan cikal-bakal sila 3 — Persatuan Indonesia dalam skala paling ambisius yang pernah dicatat sejarah Nusantara pra-modern.
Hitung dari Nol: Menelusuri Asal Kata "Pancasila"
Banyak yang mengira "Pancasila" adalah istilah baru buatan 1945. Mari telusuri jejaknya kembali ke Kitab Sutasoma karya Empu Tantular — langkah demi langkah.
JEJAK ISTILAH DARI MAJAPAHIT KE 1945
Langkah
Sumber / Bukti
Temuan
1. Naskah rujukan
Kitab Sutasoma, Empu Tantular, ± 1365 M
Naskah tertua yang memuat frasa terkait
2. Frasa kunci
"Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa"
"Berbeda-beda tapi tetap satu, tak ada kebenaran mendua"
3. Konteks asli
Menggambarkan hidup berdampingan Hindu-Siwa & Buddha
Toleransi antaragama dipraktikkan di Majapahit
4. Kata "Pancasila"
Merujuk 5 pantangan moral dalam ajaran Buddha
Istilahnya sudah ada, maknanya beda dari 1945
5. Pemakaian modern
Digali ulang Soekarno, pidato 1 Juni 1945
Nama "dasar negara" — bukan istilah ciptaan baru
JARAK WAKTU
~6 ABAD
1365 M → 1 Juni 1945
Dari penulisan Kitab Sutasoma sampai pidato "Lahirnya Pancasila" terpaut ±580 tahun — angka tahun penulisan naskah kuno memang tak selalu presisi, tetapi rentangnya jelas berabad-abad.
Kerajaan Islam Nusantara — Ketuhanan & Musyawarah
CONTOH KERAJAAN
DEMAK, ACEH, MATARAM, GOWA-TALLO
Sejak abad ke-13 (Samudra Pasai) hingga ke-17, kerajaan bercorak Islam berkembang di hampir seluruh Nusantara, menggantikan dominasi Hindu-Buddha.
NILAI KETUHANAN
Syariat Islam jadi landasan hukum & pemerintahan
Peran ulama (mis. Wali Songo) sebagai penasihat raja
NILAI MUSYAWARAH
Raja bermusyawarah dengan dewan ulama & bangsawan
Keputusan penting kerajaan tidak diambil sepihak
Nilai yang terbaca: ketaatan pada syariat mencerminkan cikal-bakal sila 1 — Ketuhanan Yang Maha Esa; tradisi bermusyawarah dengan ulama mencerminkan cikal-bakal sila 4 — Kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan.
Nilai Lokal: Gotong Royong & Musyawarah Mufakat
Jauh sebelum ada istilah "negara modern", masyarakat desa Nusantara sudah mempraktikkan nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
CONTOH 1
SUBAK
Sistem irigasi sawah gotong royong di Bali, dikelola bersama antar-petani sejak ± abad ke-9 — kini diakui UNESCO.
CONTOH 2
REMBUG DESA
Tradisi musyawarah balai desa di Jawa untuk memutuskan urusan bersama — panen, tanah, hingga sengketa warga.
CONTOH 3
SIKAP TOLONG-MENOLONG
Tradisi seperti sambatan (Jawa) atau marsiadapari (Batak) — warga bahu-membahu tanpa upah saat tetangga butuh bantuan.
Nilai yang terbaca: gotong royong & rembug desa adalah wujud nyata cikal-bakal sila 3 (persatuan) dan sila 4 (musyawarah) pada level masyarakat paling akar rumput — bukan hanya di istana raja.
Bagian 2 dari 3
Masa Penjajahan Belanda
Ketika nilai keadilan sosial justru dilanggar secara sistematis — dan bagaimana pelanggaran itu memicu bangkitnya semangat persatuan nasional.
VOCTanam PaksaBudi Utomo 1908Sumpah Pemuda 1928
VOC & Awal Kolonialisme — Monopoli yang Menindas
BERDIRI 1602
VOC
Vereenigde Oostindische Compagnie — kongsi dagang Belanda diberi hak istimewa (oktroi): memonopoli perdagangan rempah, mencetak uang, bahkan mengangkat tentara sendiri.
DAMPAK KE RAKYAT
MONOPOLI
Petani rempah dipaksa jual hanya ke VOC dengan harga ditentukan sepihak — pelayaran hongi & ekstirpasi menghancurkan tanaman pesaing.
Nilai yang dilanggar: monopoli paksa & penentuan harga sepihak adalah kebalikan langsung dari sila 5 — Keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Rakyat kehilangan kendali atas hasil bumi sendiri.
Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) — Penderitaan Rakyat
DIBERLAKUKAN 1830
VAN DEN BOSCH
Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mewajibkan petani menanam ±20% lahannya dengan komoditas ekspor (kopi, tebu, nila) untuk pemerintah kolonial.
DAMPAK
KELAPARAN
Lahan pangan rakyat berkurang drastis — wabah kelaparan tercatat di Cirebon & Demak (1840-an), sementara Belanda meraup keuntungan besar (Batig Slot).
Nilai yang dilanggar: memaksa rakyat menanggung beban demi keuntungan penjajah adalah pelanggaran nyata sila 2 — Kemanusiaan yang adil dan beradab & sila 5 — Keadilan sosial.
Kebangkitan Nasional 1908 — Perlawanan Mulai Terorganisir
BUDI UTOMO • 20 MEI 1908
Didirikan oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo & Soetomo di Batavia (STOVIA) sebagai organisasi modern pertama — berbeda dari perlawanan daerah sebelumnya (Diponegoro, Imam Bonjol) yang bersifat lokal & senjata.
Perubahan strategi: dari perlawanan senjata kedaerahan → organisasi modern berskala nasional (pendidikan, kesehatan, kebudayaan).
Nilai yang terbaca: kesadaran bahwa perlawanan harus bersatu & terorganisir (bukan sendiri-sendiri per daerah) adalah cikal-bakal nyata sila 3 — Persatuan Indonesia dalam bentuk modern.
Sumpah Pemuda 1928 — Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa
Kongres Pemuda II — Batavia, 28 Oktober 1928
IKRAR 1
SATU TANAH AIR
"Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia."
IKRAR 2
SATU BANGSA
"Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia."
IKRAR 3
SATU BAHASA
"Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."
Nilai yang terbaca: puluhan organisasi pemuda kedaerahan (Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dll.) sepakat melebur identitas menjadi satu — puncak historis sila 3 — Persatuan Indonesia sebelum kemerdekaan.
Hitung dari Nol: Berapa Lama Sebenarnya Kita Dijajah?
Sering disebut "3,5 abad" penjajahan Belanda — mari kita hitung sendiri, lalu bandingkan dengan durasi pendudukan Jepang.
LANGKAH PERHITUNGAN
Langkah
Perhitungan
Nilai
VOC mulai berkuasa
—
Tahun 1602
Belanda menyerah ke Jepang
Kalijati, 8 Maret
Tahun 1942
Lama kekuasaan Belanda
1942 − 1602
340 tahun (~3,4 abad)
Lama pendudukan Jepang
Mar 1942 − Ags 1945
~3,5 tahun
Rasio Belanda : Jepang
340 ÷ 3,5
~97 kali lebih lama
PERBANDINGAN DURASI
~97X
Belanda vs Jepang
Belanda menjajah puluhan kali lebih lama daripada Jepang — tapi keduanya sama-sama meninggalkan luka & pelajaran penting soal nilai kemanusiaan.
Catatan hedge: angka "340 tahun" dihitung dari berdirinya VOC (1602); sebagian buku menghitung dari mulainya kolonial resmi (±1800-an) sehingga angkanya bisa lebih pendek — titik awal yang dipakai memengaruhi hasil hitung, bukan berarti datanya salah.
Bagian 3 dari 3
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Singkat tapi berat — propaganda, kerja paksa, namun juga celah pelatihan militer & janji kemerdekaan yang membuka jalan ke Agustus 1945.
Propaganda 3ARomushaPETAJanji kemerdekaan
Pendudukan Jepang — Eksploitasi & Celah Menuju Kemerdekaan
SISI EKSPLOITASI
Propaganda 3A: "Nippon Cahaya Asia, Pelindung Asia, Pemimpin Asia"
Romusha: kerja paksa membangun jalan, rel, benteng pertahanan
Hasil bumi & pangan disita untuk kebutuhan perang Jepang
CELAH MENUJU KEMERDEKAAN
PETA (Pembela Tanah Air, Okt 1943): melatih militer pribumi — cikal-bakal TNI
Janji kemerdekaan "kelak di kemudian hari" (Sep 1944)
Dibentuknya BPUPKI (1 Maret 1945) — dibahas tuntas Pertemuan 3
Nilai yang dilanggar & disemai bersamaan: romusha melanggar sila 2 (kemanusiaan), sementara pelatihan PETA & janji kemerdekaan justru menyemai sila 3 (persatuan) secara tak sengaja — ironi sejarah yang penting dipahami.
Latihan: Berburu Nilai Pancasila dalam Sejarah
Kerjakan dalam kelompok kecil (4–5 orang), waktu 10 menit, lalu presentasikan singkat.
INSTRUKSI TUGAS
Pilih satu peristiwa dari materi hari ini (boleh dari era kerajaan, penjajahan Belanda, atau pendudukan Jepang).
Identifikasi sila Pancasila mana yang paling tercermin (atau paling dilanggar) dalam peristiwa itu.
Jelaskan dalam 2–3 kalimat: apa peristiwanya, dan mengapa berkaitan dengan sila tersebut.
Kaitkan dengan satu contoh masa kini yang mencerminkan nilai serupa (mis. gotong royong bersihkan lingkungan, musyawarah RT/RW, subsidi BBM/listrik sebagai keadilan sosial).
Tidak ada jawaban salah selama argumen Anda berdasarkan fakta yang sudah kita bahas — tujuan latihan ini melatih Anda melihat Pancasila sebagai nilai hidup, bukan sekadar hafalan lima sila.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 3
EMPAT BABAK, SATU BENANG MERAH
Era
Bukti Kunci
Nilai yang Terbaca
Kerajaan kuno
Prasasti Yupa, Tugu, Sumpah Palapa
Ketuhanan, kesejahteraan, persatuan
Kerajaan Islam & lokal
Musyawarah ulama-raja, tradisi subak/rembug
Ketuhanan, musyawarah, gotong royong
Penjajahan Belanda
VOC, tanam paksa, Sumpah Pemuda
Keadilan dilanggar → persatuan bangkit
Pendudukan Jepang
Romusha vs PETA & BPUPKI
Kemanusiaan diuji, jalan kemerdekaan terbuka
Jembatan ke Pertemuan 3: BPUPKI yang dibentuk Jepang 1 Maret 1945 akan menjadi panggung lahirnya Pancasila — sidang BPUPKI, pidato 1 Juni 1945, hingga rumusan final di sidang PPKI dan proklamasi kemerdekaan.