Studi DALBAR 23 thn (2023) menunjukkan investor ritel AS meraih return ~6%/thn, sementara S&P 500 ~10%/thn — gap 4% akibat perilaku (beli tinggi, jual rendah).
Return Investor Ritel
~6%
DALBAR 23-thn average (dihedge)
Return S&P 500 Index
~10%
DALBAR 23-thn average (dihedge)
Gap 4% per thn dalam 20 thn = 60% dari wealth akhir hilang. Bukan biaya transaksi — emosi. Indonesia pola mirip: klien beli reksadana saham saat pasar puncak, jual saat rendah.
Bagian 1 · 1/4
Tiga Komponen Profil Risiko
Diskusi kelas: seorang klien 30 thn dengan aset Rp 50 jt — apakah dia boleh berisiko tinggi?
Risk Tolerance vs Capacity vs Requirement
Tiga komponen profil risiko — sering disamakan padahal sangat berbeda. Profile final = min(Tolerance, Capacity, Requirement).
Tolerance
Sikap psikologis terhadap volatilitas — diukur via kuesioner
Capacity
Kemampuan finansial menyerap kerugian — surplus arus kas, aset likuid
Requirement
Kebutuhan return untuk capai tujuan — FV target
Contoh: klien tolerance tinggi, capacity rendah (gaji tipis) → gunakan capacity sebagai batas. Tolerance tinggi tidak membenarkan exposure melebihi kemampuan finansial.
Faktor Penentu Risk Tolerance
Tolerance adalah sikap psikologis — relatif stabil tapi bisa diedukasi. Grable (2000) menunjukkan lima prediktor kuat.
Demografi & Pengalaman
Umur — muda cenderung lebih toleran
Pengalaman investasi — pernah rugi & pulih
Pendidikan finansial — paham volatilitas
Kepribadian (Big Five)
Openness tinggi → tolerance tinggi
Neuroticism tinggi → tolerance rendah
Pengalaman kerugian masa lalu → trauma
Faktor Penentu Risk Capacity
Capacity kuantitatif — dihitung dari arus kas & neraca klien. Lebih mudah diukur dibanding tolerance.
Arus Kas & Neraca
Surplus arus kas > 20% penghasilan
Aset likuid ≥ 6 bln pengeluaran
Asuransi jiwa + kesehatan memadai
Horizon & Tanggungan
Horizon investasi > 10 thn → capacity tinggi
Tanggungan sedikit → capacity tinggi
Pendapatan stabil (pegawai vs freelancer)
Capacity rendah tidak bisa dipakai untuk membenarkan tolerance tinggi — klien bisa "jujur diri" via kuesioner, tapi tetap harus di-batas capacity.
Diskusi kelas: apakah reksadana dijual via aplikasi paylater juga wajib profil risiko?
POJK 20/2018: Wajib Profil Risiko
POJK 20/2018 Investasi Bagi Nasabah Produk Reksa Dana mewajibkan profil risiko sebelum penjualan.
Saat Buka Akun
Nasabah baru wajib mengisi kuesioner profil risiko
Update
Minimal 1 thn sekali diperbarui
Dokumentasi
Disimpan minimal 5 thn untuk audit OJK
Pelanggaran = sanksi administratif OJK (peringatan, denda, pembatasan kegiatan bisnis). Mis-selling profil-mismatch dapat dituntut di LAPS SJK.
Tiga Profil: Konservatif · Balanced · Agresif
Tiga kategori standar POJK 20/2018. Angka return dihedge — tergantung kondisi pasar.
Profil
Return Ekspektasi
Volatilitas
Alokasi Khas
Konservatif
4–6%/thn (dihedge)
Rendah
80% obligasi, 20% kas
Balanced
7–9%/thn (dihedge)
Sedang
50% saham, 50% obligasi
Agresif
10–12%/thn (dihedge)
Tinggi
80% saham, 20% obligasi
Pemetaan return-volatilitas ini indikatif. Realisasi bisa berbeda signifikan per tahun (IHSG 2020 −5%, 2021 +10%, 2022 +4% — dihedge).
Eksplorasi alokasi per profil risiko secara interaktif:
Mini-Kasus: Ibu Sari & RM Bank (Mis-selling)
Kasus nyata yang sering muncul di LAPS SJK. Sari bisa menang jika ada bukti kuesioner konservatif.
Dimensi
Ibu Sari
Produk yang Dijual RM
Umur & pekerjaan
45 thn, pegawai
—
Gaji
Rp 30 jt/bln
—
Skor profil risiko
11/25 (Konservatif)
—
Reksadana dijual
—
Saham 80% (klaim "return tinggi")
Suitable?
TIDAK — pelanggaran POJK 20/2018 suitability + POJK 22/2023 mis-selling
Pelanggaran suitability + mis-selling. Bila pasar turun 30%, Sari rugi besar. Forum klaim: LAPS SJK → putusan mengikat dalam 60 hari kerja.
Bagian 3 · 3/4
Penyusunan Tujuan Finansial
Diskusi kelas: bolehkan klien punya 10 tujuan finansial sekaligus?
Tujuan Finansial 3 Horizon
Setiap horizon punya instrumen khas. Pemetaan ini menjadi dasar goals-based investing (P8).
Pendek (< 3 thn)
Dana darurat, liburan keluarga
Instrumen: deposito, kas, RDPU
Return target: 3–5%/thn
Menengah (3–10 thn)
DP rumah, mobil, pendidikan awal
Instrumen: SBN ritel, reksadana campuran
Return target: 6–9%/thn
Panjang (> 10 thn)
Pendidikan S1 anak, pensiun, warisan
Instrumen: saham, reksadana ekuitas
Return target: 10–12%/thn
Goal-Prioritization Grid (Urgency × Importance)
Grid Eisenhower adaptasi — membantu klien memprioritaskan tujuan agar fokus.
URGENCY TINGGI
URGENCY RENDAH
IMPORTANCE TINGGI
DO NOW: dana darurat, asuransi jiwa earner utama
SCHEDULE: pensiun, warisan, dana pendidikan anak balita
IMPORTANCE RENDAH
DELEGATE: liburan tahunan, mobil baru
DROP: hobi ekstrim, gadget tahunan
Grid ini membantu klien memprioritaskan. Tujuan high-importance + high-urgency (dana darurat) didahulukan; high-importance + low-urgency (pensiun) dialokasikan otomatis via auto-debit.
Hitung dari Nol: Tujuan Pensiun ke Target Rupiah
Skenario: Pak Andi pensiun 25 thn lagi, butuh Rp 15 jt/bln saat ini. Inflasi 4%/thn, return investasi 8% nominal.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. FV pendapatan bulanan (inflasi 4%)
Rp 15 jt × 1,0425
Rp 39,99 jt/bln
2. Modal dibutuhkan (15 thn × 12 bln)
Rp 39,99 jt × 12 × 15
Rp 7.198.200.000
3. PMT bulanan 25 thn @ 8% nominal
FV × r/[(1+r)n−1], r=0,00667, n=300
~Rp 9,4 jt/bln (ilustrasi)
4. Alternatif lump-sum hari ini
PV modal @ 2% real return, 25 thn
~Rp 4,4 miliar (ilustrasi)
Kesimpulan
~Rp 9,4 jt/bln
Kontribusi bulanan selama 25 thn untuk mencapai target pensiun (asumsi 8% nominal)
Bagian 4 · 4/4
Risiko Perilaku Awal
Diskusi kelas: Loss aversion (Kahneman) — mengapa klien 2,5× lebih takut rugi dibanding senang untung sama besar?
Bias Perilaku Investor Pemula (Kahneman, 2011)
Kahneman Thinking Fast and Slow — System 1 cepat tapi bias. Investor perlu System 2 (proses) untuk meredam bias.
Loss Aversion
Rugi dirasa 2,5× lebih sakit dibanding untung (Kahneman-Tversky 1979)