stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-14
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 14: Studi Kasus Kapstone: Kewirausahaan Strategis dan Inovasi Berkelanjutan
RPS minggu 15 · 2x50 menit

Studi Kasus Kapstone: Kewirausahaan Strategis
dan Inovasi Berkelanjutan

Pertemuan 14 — Strategi dan Penciptaan Nilai | Magister Manajemen FEB UNDIP

Bagian 1 dari 3

Kewirausahaan Strategis: Dari Analisis ke Aksi Wirausaha

Diskusi: Di organisasi Anda, siapa yang punya wewenang mengeksplorasi peluang baru yang berisiko gagal — dan apakah insentifnya setara dengan unit yang mengeksploitasi bisnis inti?

Strategic Entrepreneurship: Model Input–Proses–Output

Ireland, Hitt & Sirmon (2003): strategic entrepreneurship = entrepreneurial mindset + strategic management mindset, dijalankan bersama untuk menciptakan kekayaan — bukan salah satu saja.

INPUTEntrepreneurial +Strategic MindsetPROSESResource Orchestration(structuring, bundling,leveraging)OUTPUTKeunggulan Bersaing +Penciptaan Kekayaan
Implikasi manajerial: kalau organisasi Anda kuat di strategic mindset (perencanaan, kontrol) tapi lemah di entrepreneurial mindset (pengambilan risiko, pengenalan peluang) — atau sebaliknya — output-nya bukan strategic entrepreneurship, melainkan salah satu ekstrem: birokratis stagnan atau oportunistik tanpa arah.

Hitung dari Nol: Memetakan Ambidexterity (Eksploitasi vs Eksplorasi)

March (1991): organisasi ambidextrous menyeimbangkan eksploitasi (efisiensi bisnis inti) dan eksplorasi (pencarian peluang baru) secara simultan. Walkthrough memetakan satu unit bisnis pada matriks ini.

Eksploitasi KuatEksplorasi Lemah"Terjebak Sukses"Ambidextrous(target ideal)Stagnan(lemah dua-duanya)Eksplorasi KuatEksploitasi Lemah"Kegagalan Berulang"
LangkahPertanyaan DiagnostikHasil
1. Nilai efisiensi bisnis intiMargin operasi stabil & kompetitif?Ya — kuat
2. Nilai kapasitas eksplorasiAda unit/anggaran khusus peluang baru?Terbatas — lemah
3. Cek struktur organisasiUnit baru terpisah dari unit inti?Belum terpisah
4. Cek insentif manajerKPI unit baru = KPI unit inti?Sama — bias eksploitasi
5. Plot posisi organisasiKuadran mana yang sesuai?"Terjebak Sukses"
Rekomendasi: pisahkan struktur (structural ambidexterity) atau bangun konteks organisasi yang mengizinkan individu berpindah peran (contextual ambidexterity) — jangan biarkan unit baru dinilai dengan KPI efisiensi jangka pendek yang sama.

Entrepreneurial Mindset vs Administrative Mindset

Administrative Mindset (Dominan)
  • Fokus pada kontrol biaya & kepatuhan proses — meminimalkan varians
  • Keputusan berbasis data historis & ROI jangka pendek yang terukur
  • Kegagalan = kesalahan yang harus dihindari, bukan sumber belajar
Entrepreneurial Mindset (Perlu Dibangun)
  • Fokus pada pengenalan & eksploitasi peluang sebelum validasi penuh tersedia
  • Toleransi ambiguitas — bertindak dengan informasi tidak lengkap
  • Kegagalan cepat & murah (fail-fast) dianggap investasi pembelajaran
Keputusan manajerial nyata: promosi manajer terbaik dari unit inti ke unit inovasi sering gagal karena mindset administratif yang terbawa membunuh eksperimen sebelum sempat divalidasi pasar.

Mini Kasus: Corporate Entrepreneurship di Indonesia

Keputusan manajerial: kapan korporasi mapan membentuk venture unit terpisah versus mengintegrasikan inovasi ke unit bisnis existing?

Telkomsel — Indigo & NGX Innovation
  • Venture unit terpisah, mandat investasi ke startup digital di luar bisnis telko inti
  • Insentif berbeda: penilaian berbasis pertumbuhan ekosistem, bukan margin kuartalan
  • Risiko: kanibalisasi lini bisnis inti (mis. layanan pesan/panggilan tradisional)
BCA Digital (blu) — Integrasi Terkendali
  • Entitas legal terpisah (bank digital), tapi tetap dalam grup BCA dengan sinergi merek
  • Melindungi basis nasabah bank induk sambil menjangkau segmen digital-native baru
  • Governance ketat: risk appetite berbeda dari bank induk, tapi tetap diawasi OJK & grup

Resource Orchestration: Tiga Proses Kunci

Sirmon, Hitt & Ireland (2011): memiliki sumber daya tidak cukup — nilai tercipta lewat bagaimana sumber daya diorkestrasi untuk peluang baru.

Structuring
Mengakuisisi, mengembangkan, atau melepas sumber daya agar sesuai kebutuhan venture baru — bukan sekadar memakai yang sudah ada.
Bundling
Mengkombinasikan sumber daya menjadi kapabilitas baru — mis. data pelanggan + platform digital + jaringan distribusi fisik.
Leveraging
Menerapkan kapabilitas hasil bundling ke pasar untuk menangkap nilai — momen eksekusi go-to-market yang sebenarnya.
Kesalahan umum manajer senior: berhenti di "structuring" (akuisisi aset/tim baru) tanpa pernah sampai ke "leveraging" — venture punya sumber daya lengkap tapi tidak pernah benar-benar diluncurkan ke pasar.
Bagian 2 dari 3

Inovasi Berkelanjutan: Nilai Jangka Panjang & Model Bisnis

Diskusi: Apakah investasi keberlanjutan di organisasi Anda dievaluasi dengan kriteria finansial yang sama seperti investasi biasa — atau ada standar berbeda, dan apakah itu tepat?

Sustainable Innovation: Triple Bottom Line & Keterkaitan ESG

Elkington (1997): inovasi berkelanjutan harus menciptakan nilai di tiga dimensi sekaligus — bukan mengorbankan satu untuk yang lain.

Profit
Kelayakan finansial jangka panjang — NPV positif, bukan sekadar "baik untuk citra merek".
People
Dampak sosial terukur — lapangan kerja, inklusi, kesejahteraan komunitas terdampak.
Planet
Jejak lingkungan — emisi karbon, penggunaan air, limbah — diukur, bukan diklaim.
Keterkaitan ke ESG investor: laporan keberlanjutan yang kredibel (mis. mengacu POJK 51/2017 & standar GRI) semakin menjadi syarat akses modal murah — bukan lagi sekadar kepatuhan sukarela.

Mini Kasus: Business Model Innovation untuk Keberlanjutan

Danone Aqua — inovasi model bisnis galon guna ulang & program daur ulang plastik: bukan sekadar teknis, tapi rekonfigurasi rantai nilai.

Model Lama (Linear)
  • Kemasan sekali pakai → volume penjualan tinggi, tapi biaya bahan baku & risiko reputasi limbah plastik naik
  • Rantai pasok fokus pada efisiensi produksi, bukan sirkularitas
Model Baru (Sirkular)
  • Galon guna ulang + kemitraan bank sampah → biaya bahan baku turun jangka panjang, loyalitas merek naik
  • Butuh investasi awal di logistik balik (reverse logistics) — trade-off jangka pendek vs nilai jangka panjang
Keputusan manajerial inti: siapa yang menanggung biaya transisi logistik balik dalam jangka pendek — perusahaan, konsumen, atau mitra rantai pasok — dan bagaimana itu memengaruhi kecepatan adopsi?

Metrik & KPI Inovasi Berkelanjutan: Bukan Sekadar Klaim

Manajer senior harus bisa membedakan greenwashing dari inovasi berkelanjutan yang diverifikasi — kuncinya metrik yang terukur & teraudit.

Metrik Lingkungan
  • Intensitas emisi (ton CO2e per unit output) — bukan total emisi absolut yang bisa naik seiring skala
  • Persentase material daur ulang dalam kemasan/produk
  • Rasio sirkularitas air (air didaur ulang / air total dipakai)
Metrik Finansial & Sosial
  • Green revenue share — persentase pendapatan dari lini produk berkelanjutan
  • Cost of capital premium/discount akibat rating ESG (akses obligasi hijau)
  • Jumlah lapangan kerja lokal tercipta dari rantai pasok baru

Hitung dari Nol: NPV Investasi Inovasi Hijau

Ilustrasi: investasi retrofit pabrik untuk efisiensi energi & pengurangan limbah, memberi penghematan biaya operasional selama 5 tahun.

LangkahPerhitunganNilai
1. Investasi awal (capex hijau)diberikan (ilustrasi)Rp 5.000 juta
2. Penghematan operasional/tahun (T1–T5)diberikan (ilustrasi)Rp 1.500 juta
3. Discount rate (WACC ilustrasi)diberikan10%
4. Faktor anuitas 5 tahun @10%(1−1,10⁻⁵) / 0,103,7908
5. PV total penghematan1.500 juta × 3,7908Rp 5.686,2 juta
6. NPV investasi hijau5.686,2 − 5.000Rp 686,2 juta
Keputusan Investasi
NPV = +Rp 686,2 juta
NPV positif → proyek layak dijalankan murni atas dasar finansial, di luar manfaat reputasi/ESG tambahan yang belum dihitung di sini

Coba Sendiri: Uji Kelayakan NPV Investasi Hijau

Ubah capex, penghematan tahunan, atau discount rate proyek retrofit hijau, lalu amati kapan NPV berpindah dari negatif ke positif.

Portofolio Inovasi: Kerangka Tiga Horizon (McKinsey)

Keputusan alokasi sumber daya: berapa persen modal & talenta terbaik dialokasikan ke tiap horizon — bukan menaruh semua di horizon 1.

Horizon 1Bisnis Inti (70%)Horizon 2Adjacent Growth (20%)Horizon 3Venture Baru (10%)
Kesalahan umum: mengukur ROI Horizon 3 dengan standar Horizon 1 — venture baru butuh metrik pembelajaran (kecepatan validasi, retensi pilot), bukan margin kuartalan.

Tata Kelola Inovasi Berkelanjutan: Peran Dewan & Komite ESG

Inovasi berkelanjutan yang tidak diawasi tata kelola yang jelas berisiko menjadi proyek prestise tanpa akuntabilitas finansial.

Peran Dewan Komisaris/Direksi
  • Menetapkan risk appetite terpisah untuk venture eksplorasi vs bisnis inti
  • Menyetujui alokasi modal per horizon secara eksplisit, bukan implisit
  • Meminta pelaporan progres berbasis milestone pembelajaran, bukan hanya laporan keuangan kuartalan
Peran Komite ESG/Keberlanjutan
  • Memvalidasi klaim dampak lingkungan/sosial sebelum dipublikasikan (anti-greenwashing)
  • Menghubungkan target keberlanjutan ke remunerasi eksekutif senior
  • Memastikan kepatuhan ke POJK 51/2017 & kerangka pelaporan yang relevan
Bagian 3 dari 3

Studi Kasus Kapstone: Sintesis & Rekomendasi Strategis

Diskusi: Astra International menghadapi disrupsi kendaraan listrik & tuntutan ESG — unit bisnis mana yang harus "dikorbankan" agar modal cukup untuk venture baru?

Kasus Kapstone: Astra International — Dilema Transisi

Konglomerasi otomotif & alat berat terbesar Indonesia menghadapi dua tekanan simultan: disrupsi kendaraan listrik (EV) terhadap bisnis inti ICE, dan tuntutan investor institusional atas kredibilitas ESG.

Tekanan Disrupsi
  • Pangsa penjualan ICE nasional tertekan pelan oleh masuknya merek EV baru (mis. BYD, Wuling Air EV)
  • Jaringan diler & bengkel ICE — aset besar Astra — berisiko jadi legacy asset jika transisi EV dipercepat
Tekanan Keberlanjutan
  • Investor institusional (termasuk dana pensiun & asuransi) mulai menyaring portofolio berbasis skor ESG
  • Ekosistem baterai & nikel Indonesia membuka peluang venture baru di rantai pasok EV domestik
Dilema inti: mempercepat investasi EV berisiko mengkanibalisasi margin bisnis inti ICE dalam jangka pendek; menunda investasi berisiko kehilangan posisi kompetitif jangka panjang serta akses modal murah dari investor ESG-sensitif.

Data & Konteks Kasus (Ilustrasi untuk Analisis)

Kontribusi Segmen Otomotif
~50%
dari total pendapatan grup (ilustrasi) — masih menjadi Horizon 1 dominan
Alokasi Modal ke EV/Energi Baru
~10%
dari capex tahunan grup (ilustrasi) — porsi Horizon 3 saat ini
Target Skor ESG Investor
Naik 1 Tingkat
dalam 3 tahun — syarat implisit sebagian dana institusional (ilustrasi)
Pertanyaan analisis: dengan alokasi Horizon 3 saat ini hanya ~10%, apakah itu cukup untuk membangun posisi kompetitif nyata di ekosistem EV sebelum jendela peluang tertutup oleh pemain yang bergerak lebih cepat?

Rubrik Analisis Kapstone: Langkah demi Langkah

Gunakan rubrik ini untuk menstrukturkan analisis kelompok Anda sebelum menyusun rekomendasi final.

LangkahFokus AnalisisOutput yang Diminta
1. Diagnosis posisi ambidexterityPetakan organisasi pada matriks eksploitasi–eksplorasiKuadran + bukti pendukung
2. Uji resource orchestrationIdentifikasi tahap mana (structuring/bundling/leveraging) yang lemahTahap kritis + alasan
3. Uji kelayakan finansial venture baruEstimasi NPV/payback investasi inovasi berkelanjutanAngka + asumsi eksplisit
4. Uji tata kelolaApakah mekanisme pengawasan (dewan/komite ESG) memadai?Gap tata kelola teridentifikasi
5. Rumuskan rekomendasi alokasi modalProporsi Horizon 1/2/3 yang diusulkan & jangka waktu transisiRekomendasi angka + justifikasi
Rubrik ini adalah kerangka penilaian presentasi kelompok — kedalaman tiap langkah dinilai secara eksplisit, bukan hanya kesimpulan akhir.

Tugas Presentasi Kapstone: Instruksi & Kriteria Penilaian

Format & Tenggat
  • Kelompok memilih 1 kasus nyata (organisasi sendiri atau perusahaan publik Indonesia)
  • Terapkan rubrik 5 langkah pada slide sebelumnya secara eksplisit
  • Presentasi 15 menit + 10 menit tanya-jawab, minggu depan
Kriteria Penilaian
  • Kedalaman diagnosis (langkah 1–4) — bobot terbesar, bukan kreativitas rekomendasi semata
  • Kekuatan asumsi & angka pendukung rekomendasi finansial
  • Kejelasan trade-off tata kelola & alokasi modal yang diusulkan
Peringatan umum: kelompok yang gagal biasanya melompat langsung ke rekomendasi kreatif tanpa diagnosis memadai — nilai akan dipotong signifikan meski idenya menarik.

Penutup: Sintesis Mata Kuliah Strategi dan Penciptaan Nilai

Dari proses manajemen strategis hingga kewirausahaan strategis & inovasi berkelanjutan — satu benang merah yang menyatukan seluruh semester.

Strategi bukan dokumen statis — ia adalah kapasitas organisasi untuk terus-menerus menyeimbangkan disiplin eksekusi (bisnis inti) dengan keberanian eksplorasi (peluang baru), sambil memastikan nilai yang tercipta bertahan secara finansial, sosial, dan lingkungan.
Fondasi (P1–P8)
Proses manajemen strategis, tata kelola, visi-misi, analisis lingkungan, formulasi & implementasi
Aplikasi (P9–P13)
Studi kasus: bersaing & Blue Ocean, M&A, ekspansi global, struktur organisasi, kepemimpinan & budaya
Sintesis (P14)
Kewirausahaan strategis & inovasi berkelanjutan — mengikat semua kerangka dalam satu keputusan nyata

📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.