stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-11
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 11: Studi Kasus: Strategi Internasional dan Ekspansi Pasar Global
RPS minggu 12 · 2x50 menit

Studi Kasus: Strategi Internasional dan Ekspansi Pasar Global

Pertemuan 11 — Strategi dan Penciptaan Nilai · Magister Manajemen FEB UNDIP

Bagian 1 dari 3
Mengapa dan Ke Mana: Rasionalitas Ekspansi Global

Diskusi kelas: Dari faktor pendorong berikut (skala, akses sumber daya, mengikuti klien, arbitrase biaya, diversifikasi risiko) — mana yang paling relevan untuk perusahaan tempat Anda bekerja saat ini, dan mengapa?

Peta Sesi: Dari Motif ke Mode Masuk

Bagian 1
  • Motif ekspansi global (Ghemawat, 2007)
  • CAGE Distance Framework
  • Jebakan semantic distance
Bagian 2
  • Integrasi-Responsivitas (Bartlett & Ghoshal, 1989)
  • Mode masuk: ekspor s.d. greenfield
  • Kalkulasi risiko-kendali
Bagian 3
  • Studi kasus: MM2100 & Semen Indonesia
  • Rubrik keputusan mode masuk
  • Sintesis & kesimpulan kelas

Motif Ekspansi: Bukan Sekadar "Ikut Tren"

Motif Ofensif
  • Skala & kurva pengalaman — pasar domestik jenuh, marginal cost turun via volume global
  • Akses sumber daya — bahan baku, talenta, teknologi tak tersedia di dalam negeri
  • Arbitrase biaya — selisih upah/regulasi antarnegara (offshoring)
Motif Defensif
  • Mengikuti klien — bank/logistik ikut korporasi domestik yang ekspansi (client-following)
  • Diversifikasi risiko — mitigasi siklus ekonomi & regulasi satu negara
  • Menghindari proteksionisme — tarif/kuota memaksa investasi lokal (mis. tarif otomotif ASEAN)
Keputusan manajerial nyata: motif yang salah diidentifikasi → alokasi modal keliru. Bank BRI membuka unit di Timor Leste (client-following TKI/UMKM lintas batas) berbeda logika investasi dengan Semen Indonesia akuisisi Thang Long Cement Vietnam (akses pasar & kapasitas, ilustrasi).

CAGE Distance Framework (Ghemawat, 2001)

Empat dimensi jarak yang menentukan tingkat kesulitan integrasi pasar — bukan hanya jarak fisik.

Cultural
  • Bahasa, agama, norma bisnis, hirarki sosial
  • Ilustrasi: negosiasi B2B Indonesia (relationship-first) vs Jerman (contract-first)
Administrative
  • Regulasi, tarif, mata uang, hubungan bilateral, kolonial
  • Ilustrasi: TKDN, DNI, dan syarat kepemilikan asing OSS-RBA
Geographic
  • Jarak fisik, zona waktu, iklim, infrastruktur logistik
  • Ilustrasi: biaya kirim ekspor Indonesia–Afrika vs Indonesia–ASEAN
Economic
  • Kesenjangan daya beli, biaya tenaga kerja, infrastruktur finansial
  • Ilustrasi: GDP per kapita Vietnam vs Indonesia mempengaruhi strategi harga

Jebakan Semantic Distance: "Mirip" Bukan Berarti "Sama"

Kesalahan strategis paling umum: perusahaan Indonesia berasumsi ASEAN "mudah" karena kedekatan geografis dan budaya serumpun — lalu meremehkan administrative distance (regulasi investasi Vietnam/Myanmar jauh lebih ketat dari perkiraan awal).
Kasus Ilustrasi: Ekspansi Ritel ke Filipina
  • Asumsi awal manajemen: budaya konsumen mirip Indonesia (nilai keluarga, gotong royong)
  • Realitas: struktur retail Filipina didominasi konglomerasi lokal (SM, Ayala) dengan barrier distribusi tinggi
  • Hasil (ilustrasi): entry mode ekspor gagal, perlu joint venture untuk akses jaringan distribusi
Implikasi Keputusan
  • CAGE audit WAJIB sebelum menentukan mode masuk, bukan sesudah
  • Semantic distance terendah ≠ execution distance terendah
  • Due diligence regulasi lokal harus melibatkan penasihat hukum setempat, bukan asumsi kantor pusat

Latihan Cepat: Petakan CAGE Distance

Instruksi (10 menit, berpasangan): Pilih satu negara tujuan ekspansi untuk sektor industri Anda saat ini (bisa fiktif/ilustratif). Isi tabel: skor 1 (dekat/mudah) hingga 5 (jauh/sulit) untuk tiap dimensi CAGE, lalu tentukan mode masuk awal yang paling masuk akal berdasarkan skor tersebut.
Format Jawaban
  • Negara tujuan & sektor industri Anda
  • Skor C-A-G-E (1-5) + justifikasi singkat tiap dimensi
  • Rekomendasi mode masuk awal + alasan risiko-kendali
Bagian 2 dari 3
Strategi Integrasi-Responsivitas dan Pemilihan Mode Masuk

Diskusi kelas: Jika perusahaan Anda harus memilih antara kendali penuh (greenfield/akuisisi) dengan risiko modal tinggi, versus kendali terbatas (lisensi/joint venture) dengan risiko lebih rendah — faktor apa yang paling menentukan pilihan itu?

Model Integrasi-Responsivitas (Bartlett & Ghoshal, 1989)

Tekanan Integrasi Global — tinggiTekanan Integrasi Global — rendahResponsivitas Lokal — tinggiResponsivitas Lokal — rendahTRANSNASIONALintegrasi + adaptasi (Unilever)GLOBALstandardisasi penuh (Semen Indonesia)MULTIDOMESTIKadaptasi penuh per negara (ritel makanan)INTERNASIONALekspor produk inti minim adaptasi

Spektrum Mode Masuk: Kendali vs Risiko Modal

LangkahMode MasukKarakteristik Risiko-Kendali
1Ekspor (langsung/tak langsung)Modal terendah, kendali minimal, exposure risiko negara terendah
2Lisensi & WaralabaModal rendah, kendali rendah, risiko kebocoran IP/merek
3Joint VentureModal menengah, kendali dibagi, akses jaringan/regulasi mitra lokal
4Akuisisi (M&A lintas negara)Modal tinggi, kendali penuh cepat, risiko integrasi pasca-akuisisi
5Greenfield InvestmentModal tertinggi & waktu terlama, kendali penuh, risiko eksekusi tertinggi
Prinsip Keputusan
Kendali naik
seiring modal & risiko eksekusi meningkat — pilih berdasarkan skor CAGE + kuadran I-R, bukan preferensi manajemen semata

Hitung dari Nol: Menilai Skor Kesesuaian Mode Masuk

Ilustrasi: perusahaan consumer goods menimbang ekspansi ke Vietnam dengan bobot 3 kriteria manajerial.

LangkahPerhitunganNilai
1. Skor CAGE rata-rata (skala 1-5, makin tinggi makin jauh)(C=3 + A=4 + G=2 + E=3) / 43,0
2. Bobot toleransi risiko manajemen (skala 0-1, makin tinggi makin berani)Ditetapkan direksi (ilustrasi)0,4
3. Indeks kebutuhan kendali strategis (skala 1-5, kuadran Global tinggi)Perusahaan di kuadran Global (I-R)4
4. Skor komposit mode masuk(3,0 x (1-0,4)) + (4 x 0,4)3,4
5. Interpretasi skor (skala 1=ekspor, 5=greenfield)3,4 dibulatkan ke pita 3-4JV / Akuisisi minoritas
Kesimpulan Ilustrasi
3,4
skor komposit → mode masuk direkomendasikan: joint venture atau akuisisi minoritas dengan opsi buy-out bertahap

Mini-Kasus: Semen Indonesia Group — Akuisisi Thang Long Cement

Konteks Keputusan (ilustrasi berbasis pola nyata)
  • Pasar semen domestik jenuh, kapasitas berlebih pasca-2015
  • Vietnam: pertumbuhan konstruksi tinggi, tapi administrative distance signifikan (regulasi investasi asing sektor semen)
  • Opsi: ekspor klinker vs akuisisi pabrik eksisting
Keputusan & Rasionalitas
  • Akuisisi dipilih: kapasitas sudah beroperasi, lisensi lokal sudah ada, kurva pembelajaran regulasi dipercepat
  • Trade-off: harga akuisisi premium vs waktu greenfield 3-5 tahun
  • Kuadran I-R: global (standardisasi produksi semen tinggi) → mendukung kendali penuh via akuisisi
Pelajaran manajerial: saat kuadran strategi condong Global DAN administrative distance tinggi, akuisisi sering mengalahkan greenfield karena "membeli waktu & kepatuhan regulasi", bukan sekadar membeli aset fisik.
Bagian 3 dari 3
Sintesis: Kerangka Keputusan Ekspansi Global Terintegrasi

Diskusi kelas: Kalau Anda harus mempresentasikan rekomendasi ekspansi ke direksi minggu depan, urutan analisis apa yang akan Anda tunjukkan agar meyakinkan secara strategis maupun finansial?

Kerangka Keputusan Kasus: Rubrik Analisis Ekspansi Global

Non-numerik namun terstruktur — langkah analisis yang wajib ditempuh sebelum rekomendasi mode masuk diajukan ke direksi.

LangkahFokus AnalisisPertanyaan Kunci Manajerial
1Audit motif ekspansiOfensif atau defensif — apakah motif ini tahan diuji di rapat komite investasi?
2Pemetaan CAGE DistanceDimensi mana yang berisiko tertinggi, dan apakah sudah divalidasi dengan penasihat lokal?
3Penentuan kuadran I-RApakah produk/jasa butuh standardisasi global atau adaptasi lokal signifikan?
4Pemilihan mode masukTrade-off kendali-modal-kecepatan mana yang sesuai toleransi risiko direksi?
5Exit & kontinjensiBagaimana skenario keluar/evolusi mode jika asumsi pasar meleset dalam 2-3 tahun?
Kesimpulan: rekomendasi ekspansi yang kredibel ke direksi HARUS melalui kelima langkah ini secara eksplisit — melompat langsung ke "mode masuk" tanpa audit motif & CAGE adalah tanda due diligence dangkal.

Perangkap Umum: Mengapa Ekspansi Global Sering Gagal

Kesalahan Analitis
  • Meremehkan semantic distance (asumsi "ASEAN pasti mudah")
  • Analisis CAGE hanya di level kantor pusat, tanpa validasi lokal
  • Memilih mode masuk berdasarkan preseden internal, bukan konteks pasar baru
Kesalahan Eksekusi
  • Ekspatriasi tanpa transfer kendali ke talenta lokal (over-standardisasi)
  • Integrasi pasca-akuisisi terlalu lambat, sinergi janji tidak terealisasi
  • Tidak ada exit plan ketika asumsi regulasi/pasar berubah drastis
Ilustrasi kegagalan umum di sektor UMKM naik kelas: beberapa UMKM Indonesia yang mencoba ekspansi e-commerce ke Malaysia/Singapura tanpa audit administrative distance (perizinan, pajak lintas batas) menghadapi biaya kepatuhan tak terduga yang menggerus margin.

Latihan Aplikasi: Rekomendasi Ekspansi untuk Direksi

Instruksi (kelompok 3-4 orang, 15 menit): Pilih satu perusahaan Indonesia (nyata atau ilustratif) yang berencana ekspansi ke satu negara ASEAN pilihan Anda. Susun rekomendasi singkat mengikuti lima langkah rubrik: (1) motif, (2) skor CAGE kualitatif, (3) kuadran I-R, (4) mode masuk terpilih beserta alasan, (5) satu skenario kontinjensi jika asumsi meleset.
Kriteria Penilaian Kelompok
  • Konsistensi logis antar-langkah (motif → CAGE → I-R → mode masuk)
  • Kedalaman argumen administrative & cultural distance (bukan sekadar disebut)
  • Realisme skenario kontinjensi (bukan generik "jika gagal, keluar")

Ringkasan: Tiga Keputusan Kunci Strategi Internasional

Keputusan 1
Mengapa
Validasi motif ekspansi (ofensif/defensif) sebelum modal dialokasikan — motif keliru merusak seluruh analisis lanjutan.
Keputusan 2
Ke Mana
CAGE Distance menentukan tingkat kesulitan riil, bukan kedekatan geografis/budaya semu (jebakan semantic distance).
Keputusan 3
Bagaimana
Kuadran I-R + spektrum mode masuk menentukan keseimbangan kendali-modal-kecepatan yang paling rasional.
Bekal untuk pertemuan berikutnya: setelah mode masuk dipilih, struktur organisasi harus dirancang agar strategi bisa dieksekusi — ini yang akan dibahas pada Pertemuan 12: Desain Struktur Organisasi untuk Eksekusi Strategi.