stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-07
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 7: Merumuskan Strategi Korporat dan Bisnis
RPS minggu 7 · 2x50 menit

Merumuskan Strategi Korporat dan Bisnis

Strategi dan Penciptaan Nilai — Magister Manajemen FEB UNDIP

Peta Pertemuan Hari Ini

Jam ke-1 (50 menit)
  • Dua tingkat strategi: apa yang diputuskan di level korporat vs bisnis
  • Alat portofolio: BCG Matrix dan GE-McKinsey Nine-Box (hitung langsung)
  • Mini-kasus: keputusan portofolio Astra International
Jam ke-2 (50 menit)
  • Diversifikasi, integrasi vertikal, dan uji penciptaan nilai korporat
  • Strategi bisnis: positioning, generic strategy, strategic group mapping
  • Latihan kelompok: merumuskan strategi korporat & bisnis untuk kasus tertutup
Posisi dalam alur 14 pertemuan: hasil analisis eksternal (P5) & internal (P6) hari ini dikonversi menjadi pilihan strategi konkret — minggu depan (P8) kita bahas bagaimana pilihan ini diimplementasikan & dikendalikan.
Bagian 1
Dua Tingkat Strategi & Alat Portofolio
Diskusi kelas: di organisasi Anda, siapa yang sebenarnya memutuskan alokasi modal antar unit bisnis — dan apakah keputusan itu berbasis data portofolio atau politik internal?

Strategi Korporat vs Strategi Bisnis

Hitt, Ireland & Hoskisson (2020): strategi korporat menjawab "di arena mana kita bermain", strategi bisnis menjawab "bagaimana kita menang di arena itu".

STRATEGI KORPORATscope bisnis, alokasi sumber daya, parentingUNIT BISNIS Apositioning & keunggulan bersaingUNIT BISNIS Bpositioning & keunggulan bersaingUNIT BISNIS Cpositioning & keunggulan bersaing

Astra International: strategi korporat memutuskan tetap di otomotif + alat berat + agribisnis + jasa keuangan; strategi bisnis Astra Daihatsu Motor memutuskan bersaing lewat cost efficiency & jaringan distribusi terluas.

Apa yang Diputuskan di Level Korporat

Scope
Industri & pasar mana yang dimasuki atau ditinggalkan — logika portofolio, bukan preferensi pribadi CEO.
Alokasi Modal
Unit mana didanai untuk tumbuh (invest), mana di-"panen" (harvest), mana harus dilepas (divest).
Parenting
Nilai tambah apa yang holding berikan ke unit bisnis di luar dana — brand, talent, jaringan, teknologi.

Tiga keputusan ini yang akan kita hitung secara sistematis lewat dua alat portofolio berikut: BCG Matrix (sederhana, dua sumbu) dan GE-McKinsey Nine-Box (lebih kaya, multi-kriteria berbobot).

Hitung dari Nol: Klasifikasi BCG Matrix

Ilustrasi: Unit Bisnis Dompet Digital "NusaPay" dalam portofolio PT Nusantara Group — apakah masuk Star, Cash Cow, Question Mark, atau Dog?

LangkahPerhitunganNilai
1. Pangsa pasar NusaPayRp 2,4 T transaksi / Rp 12 T total pasar20%
2. Pangsa pasar pesaing terbesarRp 4,8 T / Rp 12 T total pasar40%
3. Pangsa pasar relatif20% ÷ 40%0,5x
4. Pertumbuhan pasar tahunan(Rp 12 T − Rp 9,6 T) ÷ Rp 9,6 T25%
5. Klasifikasi BCGgrowth 25% (tinggi, ambang >10%) + share relatif 0,5x (rendah, ambang <1x)Question Mark
Implikasi keputusan: NusaPay butuh investasi besar untuk merebut pangsa pasar (menuju Star) — bukan otomatis didanai, karena Question Mark berisiko menjadi Dog kalau kalah dalam perang bakar uang.

Coba Sendiri: Petakan Unit Bisnis di BCG Matrix

Geser pangsa pasar relatif dan pertumbuhan pasar untuk sebuah unit bisnis, lalu amati kuadran BCG (Star/Cash Cow/Question Mark/Dog) berubah secara langsung.

Hitung dari Nol: Skor GE-McKinsey Nine-Box

GE-McKinsey lebih kaya dari BCG karena memakai banyak kriteria berbobot, bukan hanya dua sumbu — ilustrasi: skor daya tarik industri untuk Unit Ritel Konvensional.

LangkahPerhitunganNilai
1. Ukuran pasar (bobot 0,3)0,3 × rating 4/51,2
2. Pertumbuhan pasar (bobot 0,3)0,3 × rating 2/50,6
3. Intensitas persaingan (bobot 0,2)0,2 × rating 3/50,6
4. Profitabilitas rata-rata industri (bobot 0,2)0,2 × rating 3/50,6
5. Total skor daya tarik industri1,2 + 0,6 + 0,6 + 0,6 (skala 1-5)3,0 = Sedang
Skor 3,0 (Sedang) pada daya tarik industri, dikombinasikan dengan skor kekuatan bisnis, menentukan posisi kotak: jika kekuatan bisnis juga Sedang → unit masuk "zona kuning" (invest selektif), bukan zona hijau (invest agresif) maupun merah (harvest/divest).

Coba Sendiri: Skoring GE-McKinsey Nine-Box

Ubah bobot dan rating tiap kriteria daya tarik industri serta kekuatan bisnis, lalu amati unit bisnis berpindah kotak (invest agresif/selektif/harvest).

Mini-Kasus: Portofolio Astra International

Astra mengelola empat pilar bisnis — otomotif, alat berat & pertambangan, agribisnis, jasa keuangan & infrastruktur — sebagai keputusan portofolio korporat yang eksplisit (angka ilustrasi untuk diskusi).

Star / Invest Agresif
  • Alat berat & pertambangan (United Tractors) — pangsa pasar tinggi, siklus komoditas sedang naik
  • Jasa keuangan digital — pertumbuhan tinggi, posisi bersaing menguat
Cash Cow / Perah Selektif
  • Otomotif konvensional (Astra Daihatsu Motor, Astra Honda Motor) — pangsa pasar dominan, pertumbuhan melambat
  • Kas dari sini mendanai ekspansi ke jasa keuangan & energi baru
Bagian 2
Diversifikasi, Integrasi Vertikal & Penciptaan Nilai Korporat
Diskusi kelas: apakah diversifikasi organisasi Anda benar-benar menciptakan nilai tambah, atau justru menambah biaya koordinasi tanpa sinergi nyata?

Related vs Unrelated Diversification

RELATEDberbagi kompetensi, brand, rantai pasokUNRELATEDhanya berbagi kas & kapabilitas manajerial umum

Rumelt (1974) & Resource-Based View (Barney, 1991): nilai diversifikasi datang dari sumber daya/kapabilitas yang bisa dipindah-tangankan lintas unit bisnis dengan biaya rendah — bukan sekadar niat "menyebar risiko".

Astra (otomotif → alat berat → agribisnis) = related lewat kompetensi manufaktur & jaringan distribusi. Konglomerasi yang melompat ke bisnis tak berkaitan sekadar mengejar peluang siklus komoditas = unrelated berisiko tinggi.

Corporate Parenting Advantage — Uji Nilai Tambah Holding

Goold, Campbell & Alexander (1994): holding harus membuktikan dirinya adalah "best parent", bukan sekadar pemegang saham pasif.

Langkah 1 — Identifikasi Faktor Sukses Kritis Unit

Apa yang benar-benar menentukan unit bisnis ini menang di pasarnya — biaya rendah, inovasi produk, akses distribusi, atau kecepatan regulasi?

Langkah 2 — Petakan Kapabilitas Parenting Holding

Apa yang holding punya untuk mendukung faktor sukses itu — brand nasional, jaringan regulator, kapital murah, talent pool?

Langkah 3 — Uji Kecocokan (Parenting Fit)

Jika kapabilitas holding TIDAK cocok dengan faktor sukses unit, holding berisiko merusak nilai (parenting drag), bukan menambah.

Langkah 4 — Putuskan: Pertahankan, Lepas, atau Ganti Parenting

Unit dengan parenting fit rendah = kandidat kuat untuk divestasi, spin-off, atau IPO mandiri.

Integrasi Vertikal: Make-or-Buy sebagai Keputusan Korporat

BAHAN BAKUPRODUKSIDISTRIBUSIRITELbatas integrasi vertikal Indofood (hulu → ritel modern via distribusi)

Transaction Cost Economics (Williamson, 1985): integrasi (make) masuk akal saat biaya transaksi pasar tinggi — aset spesifik, ketidakpastian pasokan, risiko oportunisme pemasok. Jika tidak, outsourcing (buy) lebih efisien.

Indofood mengintegrasikan dari perkebunan sawit (Indofood Agri) hingga distribusi (Indomarco) karena volatilitas harga bahan baku & ketergantungan rantai pasok terlalu berisiko untuk diserahkan ke pihak ketiga.

Uji Penciptaan Nilai Korporat — Sebelum Memutuskan Diversifikasi

Ownership Test — Apakah perusahaan ini akan bernilai lebih tinggi di bawah kepemilikan kita dibanding pemilik lain? Jika tidak, jangan akuisisi.
Better-off Test — Apakah unit bisnis ini benar-benar lebih baik karena berada dalam portofolio kita, dibanding berdiri sendiri atau di bawah induk lain?
Cost of Entry Test — Apakah biaya masuk (akuisisi/membangun) lebih rendah dari nilai sekarang arus kas masa depan yang akan diperoleh?

Goold, Campbell & Alexander (1994): diversifikasi hanya rasional jika LOLOS KETIGA uji ini sekaligus — banyak akuisisi korporat gagal karena hanya lolos satu atau dua.

Mini-Kasus: Spin-off Digital Bank Mandiri & Telkom

Bank Mandiri (Livin', Kopra) dan Telkom (Mitratel, NeutraDC) menghadapi keputusan korporat serupa: kembangkan sebagai unit internal, atau lepas sebagai entitas mandiri untuk memaksimalkan valuasi?

Argumen Tetap Internal
  • Sinergi data nasabah & jaringan cabang (related diversification kuat)
  • Biaya modal lebih murah lewat neraca induk yang besar
Argumen Spin-off / IPO Mandiri
  • Faktor sukses kritis berbeda (kecepatan produk digital vs birokrasi bank/BUMN)
  • Valuasi pasar untuk aset digital/infrastruktur sering lebih tinggi berdiri sendiri (contoh: Mitratel IPO 2021)
Keputusan ini adalah aplikasi langsung uji parenting fit & better-off test — bukan sekadar tren "semua orang spin-off unit digital".
Bagian 3
Strategi Bisnis: Memenangkan Persaingan di Level Unit
Diskusi kelas: apakah unit bisnis Anda punya posisi bersaing yang jelas — atau terjebak "stuck in the middle" mencoba menyenangkan semua segmen sekaligus?

Strategi Generik & Risiko "Stuck in the Middle"

Cost Leadership
  • Efisiensi operasional radikal, skala besar, standardisasi
  • Citilink: armada tunggal, load factor tinggi, no-frills service
Differentiation
  • Nilai unik yang pelanggan mau bayar premium — layanan, jaringan rute, keandalan
  • Garuda Indonesia: full-service, jaringan internasional, layanan premium
Porter (1980): perusahaan yang mencoba keduanya sekaligus tanpa komitmen jelas jatuh ke "stuck in the middle" — biaya tidak serendah cost leader, diferensiasi tidak setinggi differentiator, margin tergerus dari dua sisi.

Strategic Group Mapping — Alat Positioning

Harga TinggiHarga RendahJaringan Rute Luas →CitilinkLion AirGarudaAirAsia

Peta kelompok strategis menunjukkan kesenjangan (white space) yang belum diisi — dan menandai siapa pesaing langsung (dalam satu kelompok) vs pesaing tidak langsung.

Mini-Kasus: Garuda vs Citilink — Keputusan Positioning Grup

Grup Garuda Indonesia sengaja menjalankan multi-brand strategy: dua maskapai, dua strategi generik, satu portofolio korporat.

Keputusan Korporat (Level Portofolio)
  • Segmentasi pasar penerbangan domestik terlalu luas untuk satu brand melayani semua segmen efektif
  • Citilink didirikan sebagai unit terpisah agar generic strategy-nya tidak "mengotori" positioning premium Garuda
Keputusan Bisnis (Level Unit)
  • Garuda: differentiation lewat layanan & jaringan internasional, harga premium dijustifikasi nilai tambah
  • Citilink: cost leadership lewat armada seragam & utilisasi pesawat tinggi, harga rendah dijustifikasi efisiensi

Latihan Kelompok: Merumuskan Strategi Korporat & Bisnis

Kerja kelompok (15 menit) — Kasus tertutup: "PT Kalbe Sehat Nusantara" (ilustrasi), grup farmasi dengan unit obat resep, consumer health, nutrisi, dan distribusi.

Instruksi
  • Klasifikasikan keempat unit bisnis ke BCG Matrix menggunakan data pangsa pasar & pertumbuhan yang diberikan di lembar kasus
  • Tentukan: unit mana di-invest, di-harvest, atau kandidat divestasi — jelaskan dengan uji better-off & parenting fit
  • Untuk unit distribusi: apakah tetap integrasi vertikal atau outsourcing? Gunakan logika transaction cost
  • Untuk unit consumer health: rumuskan strategi generik bisnisnya (cost leadership/differentiation) dan justifikasi positioning terhadap pesaing
Setiap kelompok presentasi 2 menit — siapkan satu slide keputusan portofolio + satu kalimat positioning bisnis per unit.

Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 8

Level Korporat
BCG & GE-McKinsey untuk alokasi modal; uji ownership/better-off/cost-of-entry sebelum diversifikasi; parenting fit sebelum akuisisi/spin-off.
Level Bisnis
Pilih generic strategy secara eksplisit & selaraskan rantai nilai; gunakan strategic group mapping untuk melihat white space kompetitif.
Minggu depan (P8): bagaimana strategi yang sudah dirumuskan hari ini diterjemahkan ke struktur organisasi, sistem insentif, dan mekanisme kontrol — strategi terbaik gagal tanpa implementasi disiplin.