stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-01
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 1: Taksonomi Risiko Perusahaan & Mengapa Perlu Dimodelkan
RPS minggu 1 · 2x50 menit

Taksonomi Risiko Perusahaan

Permodelan Risiko — Magister Manajemen FEB UNDIP

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 1: mengklasifikasikan jenis risiko perusahaan dan kebutuhan permodelannya. Empat indikator capaian yang harus Anda kuasai sebelum meninggalkan kelas.

Jam ke-1 (50 menit)
  • Definisi risiko sebagai distribusi (Hull) & bukan sekadar kerugian
  • Lima kelas risiko perusahaan: pasar, kredit, operasional, likuiditas, strategis
  • Pemetaan frekuensi × severity — fat tail op-risk
Jam ke-2 (50 menit)
  • Spektrum keterukuran: kuantitatif penuh → semi → kualitatif
  • Kapan cukup kontrol vs perlu model formal (kriteria)
  • Konteks POJK 17/2014 & Basel III; persiapan P2 (statistika dasar)
Posisi dalam alur 14 pertemuan: fondasi konseptual sebelum kita membahas statistika (P2), ukuran risiko (P3), VaR (P4), hingga studi kasus terintegrasi (P14).

Mengapa Bank & Perusahaan Memodelkan Risiko

Tanpa model, keputusan alokasi modal, harga produk, dan kepatuhan regulasi hanyalah tebakan. Model mengubah intuisi menjadi keputusan yang dapat diaudit.

Kerugian Global Krisis 2008
~US$ 15 T
estimasi kerugian agregat sektor finansial (IMF/BCBS, dihedge)
Kerugian Op Single Event RI
~Rp 1,7 T
fraud letter of credit BNI 2003 (publikasi umum, dihedge)
Pertanyaan pemantik: bank mana yang selamat dari krisis 2008 — yang punya model kuat atau yang modalnya tebal? Jawabannya: keduanya, tetapi model yang lemah menghancurkan bank bahkan yang kelihatannya tebal modal (mis. Lehman).
Bagian 1 · 1/4
Definisi Risiko & Mengapa Memodelkan
Diskusi kelas: apakah "kesempatan" dan "risiko" benar-benar dua sisi mata uang yang sama? Berikan satu contoh dari portofolio Anda di mana upside dan downside tidak simetris.

Definisi Risiko: Distribusi, Bukan Kerugian (Hull, 2018)

Risiko adalah distribusi probabilitas atas outcome masa depan — mencakup upside maupun downside. Yang biasa kita "kelola" hanyalah ekor kiri distribusi tersebut. (adaptasi Hull, Risk Management and Financial Institutions, bab 1)
Probabilitas
Seberapa mungkin suatu outcome terjadi (0–1)
Magnitude
Berapa besar dampak dalam rupiah/unit
Horizon
Jangka waktu di atasnya risiko diukur

Kesalahan paling umum: menyamakan risiko dengan kerugian realized — padahal kerugian hanyalah satu realisasi dari distribusi yang jauh lebih luas.

Mengapa Risiko Perlu "Dimodelkan"

Tiga tujuan strategis permodelanan risiko — semuanya berakar pada kebutuhan keputusan, bukan sekadar compliance.

TujuanPertanyaan KeputusanOutput Model
Alokasi modalBerapa modal yang cukup untuk menyerap kerugian?VaR/ES → capital charge
Pricing produkBerapa spread bunga yang adil untuk PD 5%?Expected loss → margin
Kepatuhan & laporanBagaimana meyakinkan regulator/OJK?Basel/POJK report
Limit & kontrolBerapa maksimum eksposur per counterparty?Limit berbasis VaR
Strategi & performaRisk-adjusted return: proyek mana yang dipilih?RAROC, Sharpe

Tiga Tujuan Inti Permodelanan Risiko

PENGUKURANkuantifikasi VaR/ESALOKASImodal & limitKOMUNIKASIlaporan & diskusi direksi
Pengukuran → Alokasi → Komunikasi

Hitung dari Nol: Ekspektasi Kerugian dari Dua Skenario

Skenario: Portofolio mikro Rp 20 miliar terbagi dua. Skenario A: fasilitas Rp 10 miliar dengan PD 2%/tahun, LGD 50%. Skenario B: fasilitas Rp 10 miliar dengan PD 5%/tahun, LGD 40%. Hitung expected loss (EL) masing-masing dan gabungan.
LangkahPerhitunganNilai
1. EL Skenario APD × LGD × EAD = 2% × 50% × Rp 10 MRp 100.000.000
2. EL Skenario BPD × LGD × EAD = 5% × 40% × Rp 10 MRp 200.000.000
3. EL portofolio gabunganEL_A + EL_B = Rp 100 jt + Rp 200 jtRp 300.000.000
4. EL sebagai % portofolioEL ÷ total = Rp 300 jt ÷ Rp 20 M1,5%
Kesimpulan
~Rp 300 jt
Cadangan expected loss upfront — biaya modal yang harus dibebankan ke margin bunga portofolio
Bagian 2 · 2/4
Lima Kelas Risiko Perusahaan
Diskusi kelas: pada krisis pandemi 2020, kelas risiko mana yang paling cepat menghantam perbankan Indonesia — pasar, kredit, atau likuiditas? Mengapa?

Risiko Pasar & Risiko Kredit

Dua kelas risiko klasik yang paling matang permodelannya — keduanya menjadi pilar Basel.

Risiko Pasar
  • Pemicu: perubahan harga pasar (bunga, valas, saham, komoditas)
  • Horizon: intrahari hingga harian
  • Alat model: VaR, sensitivitas (delta/gamma), hedging derivatif
  • Contoh RI: rugi valas bank korporasi 1997; loss treasury 2013 (taper tantrum)
Risiko Kredit
  • Pemicu: gagal bayar / migrasi peringkat debitur
  • Horizon: bulanan hingga tahunan
  • Alat model: PD/LGD/EAD, scoring, agunan
  • Contoh RI: NPL KTA 2019; restrukturisasi pandemi 2020 (~Rp 845 T puncak, OJK)
Dua kelas ini menyerap mayoritas modal permodalan bank modern — dan menjadi fokus utama POJK 17/2014.

Risiko Operasional, Likuiditas, Strategis

Tiga kelas pelengkap — dua di antaranya (op & likuiditas) punya karakter fat tail yang membuatnya sulit tetapi krusial.

Op · Likuiditas
  • Operasional: kegagalan proses/sistem/orang/eksternal — fraud BNI 2003 (~Rp 1,7 T)
  • Likuiditas: tidak bisa memenuhi penarikan/pembayaran jatuh tempo — bank run
  • Karakter: frekuensi rendah, severity ekstrem (fat tail)
Strategis
  • Pemicu: keputusan strategis, perubahan industri, kompetisi
  • Contoh RI: kegagalan ekspansi Bank Bukopin/Pelindo; disrupsi fintech
  • Sulit dikuantifikasi — biasanya dikelola lewat governance & scenario
Risiko strategis sering luput dari model formal — tetapi justru di sinilah kegagalan terbesar biasanya muncul.

Pemetaan: Frekuensi × Severity

Dua dimensi ini menentukan pendekatan: asuransi/limit (frek tinggi-sev rendah) vs cadangan modal (frek rendah-sev tinggi).

Frekuensi Tinggi · Severity Rendah
  • Contoh: kesalahan teller, mismatch settlement kecil
  • Distribusi: ekspektasi stabil, hukum bilangan besar bekerja
  • Alat: kontrol proses, self-insurance, SLA
Frekuensi Rendah · Severity Tinggi (Fat Tail)
  • Contoh: fraud besar, krisis sistemik, cyber attack
  • Distribusi: ekspektasi tidak stabil, ekor tebal
  • Alat: cadangan modal ekstra, stress test, asuransi
Fat tail inilah yang membuat risiko operasional begitu mahal — ekspektasi kerugian didominasi oleh peristiwa yang "jarang" tetapi destruktif.

Hitung dari Nol: Alokasi Modal Berbasis EL

Skenario: Bank mempunyai modal Rp 100 miliar untuk alokasi risiko. Tiga segmen kredit dengan profil berbeda. Alokasikan modal proporsional terhadap expected loss masing-masing segmen.
LangkahPerhitunganNilai
1. EL KorporasiPD 3% × LGD 45% × Rp 200 MRp 2.700.000.000
2. EL RitelPD 4% × LGD 35% × Rp 150 MRp 2.100.000.000
3. EL UMKMPD 6% × LGD 30% × Rp 100 MRp 1.800.000.000
4. Total ELΣ EL ketiga segmenRp 6.600.000.000
5. Alokasi modal korporasi(EL_korp ÷ total EL) × Rp 100 M~Rp 40,9 M
Kesimpulan
~Rp 40,9 M
Alokasi modal korporasi berbasis EL — meski EAD-nya terbesar, proporsi EL bukan 50% karena LGD/PD relatif moderat
Bagian 3 · 3/4
Keterukuran: Kuantitatif vs Kualitatif
Diskusi kelas: apakah risiko reputasi dapat dimodelkan secara kuantitatif? Berikan argumen pro dan kontra dari pengalaman organisasi Anda.

Spektrum Keterukuran Risiko

Risiko tidak biner "terukur/tidak" — ada spektrum dari kuantitatif penuh hingga murni kualitatif.

KUANTITATIF PENUHVaR, EL, ES — data melimpahSEMI-KUANTITATIFskor RAG, matriks 5×5KUALITATIFgovernance, scenario narrativedata menipisdata langka
Pilihan pendekatan mengikuti ketersediaan data & jenis keputusan — bukan preferensi estetika.

Kapan Cukup Kontrol vs Perlu Model Formal

Empat kriteria praktis untuk memutuskan apakah suatu risiko perlu dimodelkan secara formal atau cukup dikelola lewat kontrol.

Kriteria 1 · Data
  • Ada data historis melimpah? → model kuantitatif layak
  • Peristiwa langka/unik? → cukup kontrol + scenario
Kriteria 2 · Frekuensi
  • Sering berulang? → ekspektasi stabil, model
  • Satu kali/dekade? → cadangan + stress test
Kriteria 3 · Regulasi
  • Wajib Basel/OJK? → model formal
  • Tidak diatur eksplisit? → fleksibel
Aturan praktis: jika keputusan keuangan besar bergantung pada angka (harga, modal, limit), model formal dibutuhkan; jika hanya governance, kontrol cukup.

Studi Kasus: Risiko yang Gagal Dimodelkan 2008

Krisis subprime mortgage 2007–2008 adalah pelajaran paling mahal tentang apa yang terjadi saat model risiko meleset.

PeriodePeristiwaDinamika Kegagalan Model
2000–2006Li Gaussian copula jadi standar korelasi default CDOAsumsi tail dependence rendah — underestimate clustering
2007Harga rumah AS turun; default subprime naik beruntunKorelasi default melonjak jauh di atas asumsi model
2008 Q3Lehman bangkrut; pasar kredit membekuVaR dijebol beruntun; likuiditas menguap
2008–2009Bailout TARP ~US$ 700 miliar; kerugian global ~US$ 15 TModel risiko direvisi total → FRTB, migrasi VaR→ES
Tiga pelajaran: (1) Asumsi distribusi mematikan jika salah; (2) Korelasi naik tajam di krisis; (3) Model harus divalidasi lewat stress test, bukan hanya backtesting.
Bagian 4 · 4/4
Konteks Regulasi Indonesia
Diskusi kelas: apakah standar internasional Basel III selalu cocok untuk struktur perbankan Indonesia yang didominasi UMKM/ritel?

POJK 17/2014 & Kerangka Basel III

OJK mewajibkan setiap bank punya kerangka manajemen risiko yang memenuhi POJK 17/2014 dan menerapkan permodalan Basel III.

POJK 17/2014 (Manajemen Risiko)
  • Bank wajib punya kebijakan, proses, sistem identifikasi–pengukuran–monitoring–pengendalian
  • Struktur risk management setingkat direksi (Risk Management Committee)
  • Chief Risk Officer melapor langsung ke direksi
Basel III (BCBS, 2010/2011)
  • CAR minimum 8% (Tier 1 ≥ 6%)
  • Capital conservation buffer 2,5% tambahan
  • Countercyclical buffer 0–2,5% di rezim normal
  • Indonesia (POJK) terapkan CAR industri ~25% per 2024 (OJK, dihedge)
CAR rata-rata industri Indonesia (~25%) jauh di atas minimum 8% — buffer kuat untuk shock berat seperti pandemi.

Ringkasan Kunci Pertemuan 1

Definisi Risiko
Distribusi probabilitas (up + down), bukan sekadar kerugian realized
Lima Kelas
Pasar · Kredit · Op · Likuiditas · Strategis — alat kelolaan berbeda
Tiga Tujuan Model
Pengukuran → Alokasi → Komunikasi

Bawa tiga lensa ini (definisi · lima kelas · tiga tujuan) sebagai peta rujukan sepanjang semester.

Persiapan P2: baca Hull bab 2 tentang distribusi probabilitas dan momen; bawa satu deret return historis (mis. saham LQ45) untuk kita hitung ekspektasi & varians bersama.